Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 98


__ADS_3

Perbincangan hangat menanti Tara di dalam ruang tamu bertajuk langit itu. Penampilannya sudah tidak kusut lagi, namun batinnya masih merancu akibat tindakan suaminya saat lalu di dalam kamar mandi itu.


Sekeras mungkin ia berusaha menenangkan pikirannya namun tiada hasil sedikitpun kala sang kekasih hati yang duduk bersampingan dengannya mendekap erat pinggang indahnya.


Batinnya kian merancu kala mendapat tatapan tegas dari sang ayah mertua yang duduk pada sofa yang hanya menumpu satu orang itu di sampingnya.


Namun senyuman darinya tersirat kaku melihat sang suami bersama ibu mertuanya duduk di sebrangnya menatap tangan yang melingkar pada pinggangnya itu.


Pertemuan itu, adalah tujuan utama sang kepala keluarga memanggil menantunya untuk mengungkap tujuannya.


"Art, mulai besok kamu pergi ke kantor di jemput Jackson." Tutur Erick membuat Tara terperangah dalam kejutannya. Percayalah, hingga kini Erick masih membantu anak sulungnya agar segera mendapatkan hati wanita itu.


"Pih, aku harus ke kampus sepulang kerja." Tolak Tara takut-takut dalam lirihan nada bicaranya yang memelas namun terabaikan kala Erick dengan santainya meraih cangkir kopi nya.


“Ke kampus kamu bisa sama Sammuel, dia juga ada urusan di sana, jadi bisa sekalian." Sahut Erick di sambut senyum lega oleh menantunya mendapat waktu yang begitu adil untuknya.


Tara berpikir dengan cara itu ia akan mendapat waktunya berduaan dengan suaminya meski hanya sepenggal hari saja.


"A-aku takut mobil aku bertunas kalau ga di pakai." Ujar Tara berpura masih menolak keinginan ayah mertuanya agar sandiwaranya tidak terbongkar sedikitpun namun rupanya membuat seluruh penghuni menyiratkan tawanya menyikapi pernyataan lelucon wanita itu.


"Kamu pasti pakai mobil kamu kalau ke Bandung kan?" Tepis Jackson menyerukan keinginannya yang terasa wanita di sampingnya sebagai paksaan.


"Lagi, aku cuma bisa pasrah." Putus Tara sebagai pelengkap persetujuannya.


Sesungguhnya ia mengharap pemaksaan itu, ia hanya ingin mendapat waktunya kembali bersama suaminya yang akan terpisah atap entah berapa lama itu.


Perbincangan terlerai atas kehadiran Devand di sana yang langsung menyodorkan tangannya memberikan kecupan pada punggung tangan kanan seluruh insan yang berada di dalam ruang itu.


"Jam segini kamu baru pulang?" Tanya Tara kepada adik iparnya yang sudah berhasil duduk di samping ibunya.


"Banyak tugas dari kampus." Sahut Devand melengus lelah terdengar dari helaan napas rancunya membuat Tara mengangguk faham di sana.


Namun,


"Tugas dari kampus atau dari wanita yang ikut kamu ke Korea?" Cibir Celia gemas hingga ia menyentil manja kening anaknya yang telah menatapnya penuh kejutan.


"Akkhhhh mami." Protes Devand meringis dengan mengusap jejak sentilannya.


"Gea kah?" Terka Tara tersenyum penuh makna mendapat balasan dari adik iparnya dengan sebuah anggukan ragu.


"Dari pada nunggu yang ga pasti." Sindir Devand menatap wajah wanita yang telah tertawa geli di hadapannya itu.


Sedang Jackson kembali mengusap puncak kepala kekasihnya membuat Sammuel menahan emosinya di sana.


Bukan salah bunda mengandung jika istrinya bermesraan dengan pria lain di hadapan matanya, ia sendirilah yang membuat kesalahan itu menjadi sebuah penyesalan tak berujung baginya hingga ia tidak mampu berbuat apapun kala melihat adegan mesra di hadapannya.


"Ga enak kan di gantung?" Perkataan Jackson memang tertuju pada Devand, namun bermakna lain untuk Tara.


Rupanya bukan hanya Tara, Sammuelpun mendapat sindiran dari sana hingga ia menundukkan wajahnya dalam helaan napas lirihnya.


Celia yang faham dengan lirihan itu, ia segera mengusap punggung pria yang duduk tepat di samping kirinya membuat anak tirinya itu menatapnya dalam senyuman penghiburan dirinya.


Hening sejenak melanda hingga Erick usai menghisap rokok terakhirnya ia baru membuka tujuan lainnya.

__ADS_1


"Art Tara, aku lihat naskah dari ceritamu semuanya tentang bisnis." Tutur Erick tersenggal oleh anggukan keras menantunya. "Bagaimana kalau di praktekkan?" Pintanya merajuk yang tidak dapat di maknai oleh menantunya.


"Ma-maksudnya gimana?" Ujar Tara menyahut penuh kejanggalan.


"Sam, kasih tender titanium untuk dia." Tak acuh Erick mengabaikan pertanyaan menantunya membuat Sammuel mendongkakkan pandangannya dalam sorotan tajamnya.


"Tender itu emang cocok buat dia yang tau masalah penjualan, tapi aku ga bisa percayain kerjaan aku sama dia." Tolak Sammuel di jabarkan dengan alasan dalihnya yang sesungguhnya enggan membuat beban lebih pada istrinya yang sudah memiliki bisnisnya sendiri.


"Itu tender paling rendah Sam, aku rasa dia ga akan kesulitan." Paksa Erick dengan datarnya tanpa menghiraukan alasan anaknya.


"Dia emang pengalaman jadi marketing, tapi aku masih ragu." Kembali Sammuel menepisnya kini berhasil membuat Jackson menyerukan pandangan lekatnya pada wajah tampannya.


Sejujurnya, Jackson menyetujui permintaan ayahnya. Hanya saja, ia merasa akan kesulitan merajuk pada adiknya yang keras kepala itu.


"Marketing ga sesulit acounting kan?" Tanya Erick mengingatkan Sammuel agar berbesar hati mengabulkan keinginannya.


"Ga bisa ya ga bisa!" Putus Sammuel tegas, lantas meraih cangkir teh nya untuk segera menepis emosinya yang bertubi-tubi menyerang jantungnya.


"Sam, kasih dia kesempatan buat kembangkan otaknya." Erick masih bersikukuh pada keteguhan diri jika menantunya mampu mengatasinya.


"Kalau meledak bikin ancur, aku yang rugi."


"Coba dulu baru kamu tau hasilnya."


"Ga ada kata coba-coba."


"Cuma berkorban sedikit sesulit itukah buatmu?"


"Sammuel_" Kesal Erick dalam nada lembutnya namun tatapannya begitu kasar terasa Sammuel hingga ia melirih di sana kehabisan cara menolak keinginan ayahnya.


"Pihhhhh." Sammuel melirih yang baru pertama terlihat ayahnya.


Perbincangan mereka rupanya membuat arah pandang Tara serta Jackson memandangi mereka bergantian. Sedang Celia hanya menikmati tiap tegukan teh nya, lain dengan Devand yang meresapi perasaannya atas sikap lain dari kakak ke empat nya itu, ia menjanggal hingga membungkam mulutnya dalam otaknya yang berpikir keras.


"Stop!" Penggal Tara melerai perdebatan itu dengan bentakannya. "Bisa ga kalian anggap aku ada di sini?" Imbuhnya membuat Jackson menyadari sesuatu.


Jackson merancu yang di sembunyikannya dalam senyuman manisnya melihat kepedulian adiknya terhadap kekasihnya. “Kamu bener sayang, mereka harusnya nanya kamu dulu." Ungkapnya menghibur di pertegas dengan mengusap puncak kepala kekasihnya membuat cemburu seorang pria di sebrangnya kian tersulut.


"Aku udah baca prosedurnya, udah aku pelajari juga dari dokumen Sammuel kemarin." Sahut Tara menghembuskan napas kasarnya menjeda kalimatnya dalam tubuhnya yang sudah bergetar. Bagaimana ia berani menginterupsi keinginan suaminya? Namun, "Dan_ aku tertarik." Putusnya pekat sepekat tatapan suaminya yang menyorot kelam mata indahnya.


"ART TARA!" Sammuel membentak di luar kendalinya membuat sang istri segera mengarahkan pandangannya padanya.


"Kalau aku gagal, aku siap nanggung semuanya." Rajuk Tara setengah memaksa menatap sarkas wajah Sammuel membalas bentakan itu membuat sang suami membisu menahan emosinya. Rahangnya mulai mengerat enggan mendapat penolakan dari siapapun.


Sesungguhnya Sammuel enggan jika istrinya mendapat pekerjaan yang akan membuat penghasilannya meningkat. Karna di balik semua itu, ia telah mempersiapkan yang lain untuknya.


Namun katakanlah untuk sekarang ini, ia enggan jika istrinya memiliki penghasilan lebih dengan hasil keringatnya sendiri. Jika itu terjadi, maka hubungannya akan terancam perpisahan lantaran sang istri tidak akan membutuhkan bantuannya lagi.


“Oke gue setuju, jangan lupa konpensasinya." Putus Sammuel tak bersarat ketia ia sudah tidak mampu menahan emosinya. Tanpa mau tau dengan tatapan seluruh penghuni terhadapnya, ia bangkit hingga beranjak tanpa pamit dari hadapan yang lainnya membuat Jackson kembali melirih melihat tingkah tidak biasanya itu.


“Kenapa dia jadi peduli gitu sih?" Ungkap Jackson membuat wanita di sampingnya terhentak dalam kejutannya.


Tara takut jika saja sang kekasih yang masih termenung mencari makna sikap suaminya akan mencari tau perbedaan sikap suaminya saat lalu.

__ADS_1


Lain dengan Tara, Celia melega mengira anak tirinya yang telah hilang dari hadapannya telah sedikit membuka hatinya untuk wanita yang kini telah menatap kekasihnya penuh pertimbangan.


"Itulah, hati es kaya dia sejak kapan peduli sama urusan orang lain?" Devandpun menginterupsi dengan mengutarakan kejanggalannya yang terpendam sedari tadi.


"Dia cuma khawatir bisnisnya aku rusak kali." Tara mencoba menenangkan hati kekasihnya serta melerai kecurigaan adik iparnya yang di rasanya akan kian menyulut kecurigaan kekasihnya.


"Bener-bener keras kepala." Ujar Jackson menggelengkan kepalanya membuat Tara melega di sana. "Kayanya aku harus pulang, besok kamu harus bangun pagi juga kan?" Pamitnya hingga menatap wajah sang kekasih penuh kehangatan.


"Jangan pedulikan adik sialan kamu itu Jack, kamu pikirkan saja pacar kamu ini." Sambut Erick menunjuk dengan dagunya arah menantunya, mempertegas keinginan hatinya yang di sambut anak sulungnya dengan senyuman penuh semangat dirinya.


"Itu udah jelas!" Sahut Jackson berteguh hati penuh janji tidak akan pernah ia mengabaikan kasihnya terhadap wanita yang telah tersenyum lirih di sampingnya. "Oh ya mih, lusa aku ada urusan di Korea, aku pinjem rumah kamu di sana buat seminggu." Pintanya di balas tatapan ledek oleh ibu tirinya.


"Biasa juga kamu ga minta izin dulu." Cibir Celia di sertai tawa kecil di akhir kalimatnya mendapat balasan kekehan geli dari anak tirinya.


"Ayolah mih jangan bikin nama anakmu ini hancur depan menantu sadismu ini." Balas Jackson menunjuk sang kekasih dengan mengelus puncak kepala kekasihnya itu yang telah terkekeh mendengar ucapannya.


"Kamu mau pergi seminggu?" Percayalah ucapan Tara ini mengandung makna lain di mana ia akan terbebas dari sandiwaranya selama sang kekasih tidak berada di sisinya. Namun rupanya membuat sang kekasih keliru menanggapinya.


"Jangan khawatir sayang, kita masih bisa komunikasi dari telpon." Hibur Jackson penuh percaya diri dalam paparan senyum penghiburannya.


"Tapi beda." Tarapun sudah tidak mampu mencari alasan lainnya kala mendapat ucapan itu, ia kini hanya mampu melanjutkan sandiwaranya saja.


"Iya aku tau itu, kalau di telpon kamu ga bisa nyium aku. Tapi, kalau ga di telpon juga kapan aku dapet ciuman?" Ledek Jackson menyerengeh membuat samg kekasih menyembunyikan wajah malunya.


"Jangan bikin malu aku depan orang tuamu Jack." Tara menyahut ucapan itu meski rasa malu masih merangkak menembus wajahnya yang merona seketika membuat sang kekasih menertawainya. "Jadi aku bisa pergi sendiri ke kampus kan?" Imbuhnya di sambut sang kekasih dengan wajah lirihannya.


Jackson terlupa akan tugas barunya untuk kekasih hatinya itu. “Ada Hanson." Balasnya berat hati hingga menghindari tatapan mata tajam sang kekasih hati dengan bangkit berdiri dari duduknya.


"Gue aja." Tawar Devand membuat Tara serta Jackson menatapnya penuh dendam.


"Dev, dia kuliah jam 2, sedangkan lo jam segitu lagi sibuk-sibuknya." Tepis Jackson menolak secara halus membuat si bungsu menggaruk lehernya yang tidak gatal sama sekali.


"Aihhhhh, gue kira dia kuliah pagi." Lagi dan lagi Devand tidak mendapatkan kesempatannya untuk selalu berada di sekitar wanita yang masih di cintainya.


"Aku lebih percaya sama si Hans." Papar Jackson dalam gurauannya menepis kerutan dahi ayahnya. "Oke kalau gitu semuanya, aku harus pulang sekarang." Pamitnya berundur diri.


"Aku anter ke parkiran." Tawar Tara di sambut Jackson dengan anggukan kerasnya bahkan sudut bibirnya terangkat menyiratkan senyuman cerianya.


"Oke." Sahut Jackson menerima tawaran itu tanpa pelantara. "Mih, pih, aku pulang dulu. Jagain dua cewe kesayanganku." Sekali lagi ia berpamit, namun kini di pertegas dengan lambaian tangannya.


"Udah seharusnya bukan?" Sahut Celia yang di sambut senyuman oleh anak tirinya yang telah menatap ayahnya yang mengangguk di sana.


Usai berpamit, Jackson mengayunkan kakinya membawa kekasihnya membuntutinya dalam genggaman tangannya yang menautkan jemari tangannya pada jemari tangan wanita itu.


Hati Jackson menghangat meresapi kegiatan romantisnya yang berlangsung dengan keheningan tanpa suara yang terlontar dari keduanya hingga mereka menepi pada area di mana kendaraan roda empat berbaris rapih di sana.





Tbc

__ADS_1


__ADS_2