
Malam nan sendu, berteman nuansa sunyi di tengah kehampaan hati Sammuel. Kunang-kunang bertaburan, memperlihatkan cahaya samar-samar menyinari wajah gelisah. Di atas hamparan rumput hijau yang menjadi saksi kegalauan yang di rasakan, Sammuel membaringkan tubuhnya.
Semilir angin berhembus syahdu, menerpa mata yang terpejam. Seolah menikmati dinginnya malam, sebelah tangannya menumpu kepala. Pada kenyataannya, ia meresapi lamunan kelam yang tak kunjung enyah dari bayangan.
Suara langkah kaki menyentuh indra pendengaran, membuat lamunan tercabik tanpa pelantara. Sammuel mengarahkan tatapan pada asal suara langkah itu berada, hingga memberikan sambutan dengan senyum mempesona.
"Ngapain kamu di sini?" Di sela kaki yang masih melangkah, Triana menyapa dalam kejanggalan.
"Lagi ngelonin nyamuk," sahut Sammuel bersenda gurau, membuat pasang telinganya mendengar gelak tawa yang begitu ceria.
"Ga dingin?"
Sammuel menggelengkan kepala, menyahut pertanyaan tanpa ingin kembali bersuara. Lantas, enggan menyambut sapaan basa-basi itu, ia kembali menarik wajahnya. Menatap bintang yang bertaburan di atas sana.
"Tri ...." Sammuel ragu mengungkap kata, membuat ucapan tak usai di lontarkan.
Triana tidak menyahut, di saat ia berpusat diri pada pergerakan. Ia duduk dengan manisnya di samping tubuh yang masih terbaring di sana.
"Lo bisa ga bujuk sahabat lo biar mau terima hati si Jack?" Sammuel memaksakan diri, mengungkap titah yang tak pernah di restui sang hati.
Triana tersenyum simpul sebelum menyahut dengan suara, tatapan menuju wajah rupawan, mencari makna dari lusuhnya wajah itu. "Yang harusnya di bujuk itu aku, biar aku lepasin Hanson. Dengan begitu Fiona bisa lepasin Jackson."
Mendengar jawaban sebagai jalan keluar, Sammuel mengumbar senyum di sela gelengan kepala. Tidak pernah terpikirkan sebelumnya, jika Triana akan dengan mudah memberikan jawaban itu. Lega di rasakannya, ia bangkit hingga duduk mensejajarkan tubuh dengan Fiona.
"Lo pinter juga." Sammuel mengungkap pujian, di sertai elusan pada puncak kepala Triana sebagai pelengkap rasa kagumnya.
Senyum manis terlontar sebagai balasan, tak ayal tatap kekaguman menyertainya.
"Aku yakin kalau Fiona lepasin si Jack, istri kamu pasti mau terima dia. Karena yang aku tau, istri kamu punya rasa sama dia," ujar Triana mejabarkan alasan, di sambut dengan angguk kepahaman.
Tanpa Triana memberitahukan, Sammuel telah mengetahui, sehingga selama ini ia berbesar hati menerima kenyataan. Namun, ia tidak ingin mendengar pengakuan itu dari mulut orang lain.
Rasa kecewa menggerogoti hati, membuat Sammuel tidak mampu berucap untuk menyahut ungkapan itu. Hanya lenguhan duka berseru dalam derita, menjadikan Triana tidak enak hati menanggapinya.
"Tapi, dia punya rasa sama si Jack karena wajahnya mirip seseorang, dan orang itu di anggap istri kamu sebagai orang penting dalam hidupnya."
Lagi dan lagi, penjabaran alasan itu menusuk batinnya. Namun, sebisa mungkin Sammuel menahan kepedihan dengan lontaran senyuman.
"Jadi maksud lo, bini gue suka sama si Jack bukan karna cinta?" tanya Sammuel begitu penasaran, sehingga picingan mata terukir menyertainya.
"Entahlah, aku ga pernah dengar kisah selanjutnya. Cuma yang aku baru tau, kalau cowo yang dia bilang itu adalah kakak kamu."
Ungkapan itu, membuat Sammuel membatu kaku. Tidak dapat mencerna dengan seksama, di saat sukma bergejolak kecewa. Ia menerka, jika cinta kasih yang di sebutkan sang istri untuk dirinya tiada pernah ada ketulusan di baliknya. Anggapan buruk menelusup batin, menyatakan jika Tara mengejarnya hanya untuk mencari bahan pelampiasan semata.
"Dan lagi, yang aku tau dia memang sayang sama cowo itu, dia sering banding-bandingin si Jack sama cowo yang dia bilang special itu, dia juga bilang kalau dia ga akan pernah bisa dapat ganti orang sebaik si Jack." Tiada sahutan dari Sammuel, Triana kembali berceloteh.
Sammuel kian memahami situasi, rupanya sang istri tidak pernah mencintai dirinya ataupun kakaknya. Terbesit ucapan Jackson saat lalu, menyatakan jika Tara menghendaki cinta kasihnya lantaran rasa nyaman saja.
"Jadi begitu," ujar Sammuel menyahut pikirannya sendiri, nada lemah mengikuti baris kata yang terucap, sehingga ucapan itu terdengar samar oleh lawan bicaranya.
"Kamu ... ga sakit hati?" tanya Triana di sertai picingan mata, pertanda ucapannya tertuju untuk pancingan semata.
__ADS_1
"Gue harus relain dia kalau mau si Jack bahagia."
"Semudah itu kamu relain dia? Atau mungkin kamu ga cinta sama dia?" Tidak mendapat kepuasan atas jawaban itu, Triana kian memancing isi hati dari pria yang sempat di kaguminya dahulu kala.
Senyum miris terukir di balik wajah rupawan, mewakili jeritan hati yang selalu ingin di sembunyikan.
"Gue sendiri masih belum tau soal perasaan gue sama dia," sahut Sammuel berseru pahit, membuat pasang telinganya mendengar tawa cibiran.
Triana menganggukan kepala, setelah memahami maksud hati yang terucap dari bibir pria itu. Kekecewaan terukir di balik wajah Sammuel, dengan mudahnya Triana menerka jika ungkapan itu penuh dengan dusta.
"Aku tanya sama kamu, apa kamu pernah ngalah sama istri kamu?" tanya Triana penuh kesungguhan, menyerukan dengan tatapan tegas pada wajah yang tertunduk di sampingnya.
Bibir Sammuel terbungkam rapat, ia kesulitan mengucap kata, hanya gelengan kepala mewakilkan jawaban.
"Apa kamu pernah merasakan sakit hati waktu dia sama cowo lain?" Bak polisi, Triana menghujam Sammuel dengan kalimat pertanyaan. Sebelum ia dapat memuaskan hati Sammuel, pancingan itu tidak akan di akhiri.
"Sakit hati?" tanya Sammuel mengulang ucapan, di kala sang hati memendam kejanggalan.
"Iya, sakit hati! Aku tegasin, sakit hati bukan emosi!" sahut Triana berseru tegas, menekankan kalimat yang terucap. Berharap Sammuel mengerti dengan maksud yang di tujunya.
Ingatan Sammuel melayang, mengulang bayangan pada setiap kejadian yang di lakukan bersama sang istri. Membuat belah bibirnya merapat sempurna, hanya lenguhan berseru sebagai rasa penyesalan.
"Kamu ga jawab berarti kamu ga pernah ngerasain itu Sam. Kamu ga cinta atau sayang sama dia, kamu cuma anggap dia barang milik kamu. Kamu ga mau barang itu di sentuh orang tanpa mikirin perasaan dia. Atau, kamu pertahankan dia karna kamu ga mau kalah bersaing. Kalau kamu cinta sama dia, kamu bisa relain dia bahagia, pastinya kamu bisa buang sikap egois kamu."
Sammuel membeku, setelah meresapi barisan penjabaran panjang lebar itu. Hati merancu, mendapat jawaban tidak memuaskan. Semua yang di katakan Triana ia benarkan, yang ingin di sangkalnya hanyalah perasaan dirinya.
"Benar kan tebakan aku?" tanya Triana memastikan.
"Kayanya-" ucap Sammuel tertahan tawa miris yang tak dapat di cegahnya. Gelengan kepala mengakhiri olokan pada dirinya sendiri. "Gue cuma suka badannya aja."
Usai mengolok dengan senyuman, Sammuel menggoda wanita di sampingnya dengan rangkulan pada pinggangnya. Berharap pelampiasan di dapati, hanya untuk sekedar menghibur hati. Triana memahami arti tangan itu, sehingga ia menyambutnya dengan hanya berdiam diri.
"Sejak kapan lo jadi pinter gini?" ujar Sammuel di akhiri dengan senyum di atas duka, membuat wanita di sampingnya menggelengkan kepala.
"Kamu ga usah menghibur diri, Sam." Triana mulai prihatin, menyerukan dengan kelengkapan tatapan ibanya.
Tiada mampu menimpali, Sammuel melenguh frustasi. Tangannya turut terprovokasi, sehingga dengan mudahnya mengusap wajahnya sendiri.
"Sam-" Triana berusaha meredam amarah itu, tangannya terulur, menyingkirkan tangan Sammuel dari wajahnya sendiri.
Sammuel menyambut dengan tatapan, menyerukan rasa terimakasih dengan helaan napas leganya.
"Ga ada yang larang kamu marah, tapi kamu harus terima apa yang jadi keputusan hati kamu."
"Iya oke! Gue paksain terima, ga tau kenapa gue prihatin sama dia."
Mendengar keputusan itu, Triana mengukir senyum lelucon di balik wajahnya.
"Harusnya kamu prihatin sama aku atau Fiona, si Tara masih mending dia di perjuangkan banyak cowo. Aku sama Fiona malah kebalik, aku yang banyak berkorban buat cowo tanpa terima balasannya," ucap Triana melirih perih, wajahnya tertunduk menyembunyikan genangan air payau dari sudut matanya.
Tanpa melihat, Sammuel mengetahui apa yang telah menimpa wanita itu. Rasa iba menyentuh sanubari, membuatnya kehilangan kendali. Ia menarik wajah itu, agar dapat melihat lirihan dengan jelas.
__ADS_1
"Lo benar," ungkap Sammuel.
Triana membisu, di saat tatapan meresapi balasan senyuman. Batin tersentuh asa, mengumbar cinta kasih dari pasang mata. Namun, segera ia menyadarkan diri, mengingat jika diri tidak layak bersanding dengan pria hebat seperti Sammuel.
"Kalau merasa aku benar, kamu buang sikap egois kamu. Kamu tanya sama hati kamu siapa yang kamu mau." Triana mengungkap harapan jawaban yang akan di dengar adalah keinginannya.
"Triana ... lo mau bikin gue jatuh hati sama lo?" sahut Sammuel untuk lelucon semata, akan tetapi berbalas gerakan kikuk dari wanita yang masih berada dalam dekapannya.
"Ka-kamu mending introspeksi diri, tanya hati kamu, pikirkan apa yang aku bilang tadi."
"Udah gue pikirin, gue pengen lepas sama dia setelah dia benci sama gue," sahut Sammuel berbuah tatapan kejut dari sampingnya.
"Jangan ngaco deh, Sam."
Bungkam ....
Sammuel merapatkan belah bibirnya, memusatkan pandangan pada senyum penghibur di sana. Tak kuasa menepis rasa kagum, ia mencumbu bibir itu.
Triana tidak terima dengan perlakuan tiba-tiba itu, ia mendorong keras tubuh Sammuel, sehingga cumbuan terlepas dengan mudahnya.
"Lo gila!" Pekikan suara Triana, menyayat indra pendengaran Sammuel. Namun, tanpa acuh Sammuel mengabaikan.
"Ya, gue gila kalau lo terus kaya gitu!"
"Kaya gitu apanya?"
"Sikap lo, bikin gue jatuh hati." Tanpa keraguan, Sammuel mengungkap perasaan. Kesungguhan terpancar dari sorotan mata, berbalas tatapan kejut dari lawan bicaranya.
Triana mematung, meresapi ungkapan cinta tanpa ketulusan itu. Meski demikian, dengan mudah sang hati menerima. Namun, terpaksa ia menolak mengingat kembali jika Sammuel telah menjadi milik orang lain.
"Kamu jangan lupa, aku kakak ipar kamu," ucap Triana menolak secara halus.
Sammuel tertawa sinis, menanggapi ucapan yang di yakininya bertolak dengan hati sang empunya.
"Kamu yakin terima dia dengan tulus?"
Triana membungkam diri, tidak ingin menjawab pertanyaan itu meski hanya dengan isyarat tubuh.
Menilik keadaan itu, Sammuel meyakini terkaannya. Yakni, ada sesuatu di balik jalinan hubungan wanita itu dengan kakaknya. Kepercayaan diri hadir menjelma, ia meyakini akan dengan mudah menelusup masuk ke dalam hati wanita itu.
Rayuan dalam tindakan kembali ia lakukan, menarik tubuh itu hingga larut dalam dekapan. Tiada ingin memberikan celah, Sammuel kembali menghujam bibir itu.
Malam kian mencekam, mengiringi batin sepasang insan yang telah melakukan kegiatan romantis dalam paksaan.
•
•
•
Tbc
__ADS_1
Karya tulis adalah hal fiksi yang tercipta dari imajinasi. Begitu banyak rangkaian kata tertulis indah dalam gugusan kalimat penuh angan. Namun, tiada kata indah selain maaf, meski tangan tak berjabat. Semoga tersampai walau hanya satu kata. Sebab ramadhan tahun ini, bulan mulia dengan keistimewaan berbeda. Tiada terawih, menghabiskan sore untuk menunggu maghrib, bahkan berkumpul bersama sanak saudara esok lebaran. Ied tetaplah hari kemenangan untuk kita semua yang telah berhasil melewati semua tantangan itu.
Dear readers, surat terbuka dari author. Semoga semua kesalahan dan kekhilafan author dalam tulisan yang menemani kalian selama ini dimaafkan dengan lapang. Minal aidzin wal faizin, Mohon maaf lahir dan batin. Selamat lebaran.