
Tara sudah merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya di dampingi sang suami di sampingnya yang mendekapnya.
"Sam kamu yakin mau nyuruh aku tinggal di rumah mami?" Tara melengus, merayu suaminya dengan mengelus dada bidang itu.
"Buat hindarin kecurigaan si Jack dulu." Jawab Sammuel berpasrah diri, sesungguhnya ia enggan melakukannya. Namun, demi kebaikan keluarganya iapun harus mempertaruhkan keinginan sang hati.
"Aku rasa kamu terlalu berlebihan deh, dia ga akan curiga kok." Sahut Tara menyambut tatapan suaminya yang telah menyorot pasang matanya, menatapnya lekat-lekat.
"Art Tara, lo harus tau kalau matanya si Jack sama kaki tangannya ada di mana-mana." Balas Sammuel gemas hingga melepas dekapannya untuk menjepit hidung istrinya membuat empunya memejamkan matanya menahan rasa sakit yang tidak begitu itu.
“Yah kita harus lebih pinter dari kaki tangannya berarti." Sahut Tara di sambut suaminya dengan melepas jemarinya dari hidungnya.
"Kaki tangannya sih gampang, tapi lo yakin bisa lebih pinter dari orang yang dapet juara umum mulai kelas 1 SD sampai jadi profesor kaya si Jack?" Jabar Sammuel membuat Tara kembali melenguh, menghembuskan napas lirihnya lantas memutar tubuhnya hingga membentang menatap langit-langit ruang itu.
"Aku takut dia nyari-nyari kesempatan." Ungkap Tara penuh kerancuan.
Sammuel tersenyum mendapat pernyataan itu yang di maksudkan bahwa istrinya masih setia terhadapnya, lantas menyembunyikan wajah cerianya ke dalam ceruk leher beraroma rose istrinya. "Dia ga bre****k kaya gue." Ujarnya tak acuh dengan tatapan cibiran istrinya hingga ia melepas endusan hidungnya di atas permukaan kulit leher istrinya.
"Bener juga, kenapa aku malah ngebelain ******** ini?" Cibir Tara pada pria yang telah berhasil mempermainkan lehernya dengan lidahnya.
Sammuel terkekeh tanpa menghindarkan bibirnya dari leher itu. "Lo mending atur waktu buat ngurus semua. Mulai dari kostan, kuliah, sama kerja."
"Kamu sadis Sam, bikin waktu aku jadi berharga." Sindir Tara namun ia tersenyum riang mengingat seluruh pemberian suaminya tak lantas memberikan rasa terimakasinya dengan mengelus puncak kepala suaminya.
"Salah lo bisa cinta sama gue, untung aja gue engga." Sammuel berkilah dengan kata dustanya di akhir kalimatnya membuat istrinya tertawa kecil di sana.
__ADS_1
"Tapi suka kan?" Sindir Tara di sambut tatapan nyalang oleh suaminya.
"Hmmm, suka sama dia." Balas Sammuel di iringi uluran tangannya, menunjuk dada istrinya.
"A-aku tau itu." Ucap Tara terbata-bata kala meresapi tatapan nikmat suaminya yang berhasil wajahnya merona seketika.
"Yakin tubuh lo ga akan di sentuh orang lain selain gue?" Ungkap Sammuel ragu-ragu enggan sang istri keliru menyikapinya.
"Yakin, selama dalam status resmi." Balas Tara teguh hati penuh kepercayaan diri jika memang sejujurnya batinnya mengatakan demikian.
"Baguslah." Lega Sammuel membuat hasratnya tidak dapat terbendung lagi untuk tidak menyentuh tubuh istrinya. “Gue harap dia ga berubah." Ucapnya dengan suara paraunya membuat istrinya terjerat gairahnya yang meluap.
"Aku takut hati kamu yang berubah duluan sebelum dia" Tara meresapi tatapan yang begitu memancarkan cintanya itu, hingga ia menyatukan jemari tangannya dengan jemari tangan suaminya.
-Hati gue berubah jadi cinta sama lo. Imbuhnya membatin lirih.
"Apa yang harus kamu takutin Sam? Semua udah tertulis di atas kertas." Tepis Tara tat kala ia menepis jemarinya dari genggaman jemari suaminya.
Ringisan terpampang dari wajah Tara membuat Sammuel keliru menanggapinya hingga menghentikan gerakannya seketika.
"Sakit?" Tanya Sammuel penuh lirihan, lantas ia mengelus puncak kepala istrinya penuh penyesalan.
"Sakit ini ga seberapa di banding sakitnya mengharap hati seseorang." Sahut Tara berimbuh mengecup bibir tipis itu membungkam keterkejutannya yang sudah membuka lebar kelopak matanya.
"Lo bisa dapetin kepuasan lo kalau lo berhenti ngarep gue." Lepas sudah kendali diri Sammuel hingga ia menyerukan nada lirihannya.
__ADS_1
Namun,
"Lo kalah lagi Art." Ujar Sammuel di sambut sang istri oleh rona wajahnya yang begitu kasat mata. “Curang!" Dan, ia menghempas tubuhnya di samping istrinya. Membawa istrinya dalam dekapan sebelah tangannya di sambut istrinya dengan kecupan mesra pada pipinya.
"Thanks." Tutur Tara menyiratkan senyum manisnya seraya meraih buih-buih napasnya yang masih berserakan.
"Lo pelacur sadis Art__" Sammuelpun menjeda kalimatnya untuk mengisi pasokan udara pada paru-parunya. "Berani beraninya bikin gue ga bisa ngerasain kepuasan dari cewe lain." Ia membalas kecupan itu 10 kali lipat dari istrinya, mengecup setiap objek pada wajah istrinya. Mulai dari kening, mata, hidung, pipi hingga berakhir pada bibirnya.
"Aku siap__ lagi." Tawar Tara malu-malu membuat suaminya terkekeh gemas.
"Lo siap tapi itu lo yang ga siap." Balas Sammuel tanpa tau rasa malu. Lantas ia terkekeh di akhir kalimatnya membuat istrinya menelusupkan wajahnya pada dadanya. “Besok lo ga usah ke kampus dulu, lo beresin barang lo dari sini, bawa ke rumah mertua lo."
"Harus gitu cepet-cepet?"
"Jangan buang waktu." Ucap Sammuel di sambut anggukan ragu dari istrinya.
Tiada suara terdengar kembali di telinganya, Sammuel menarik selimut, membalutkan pada tubuhnya serta tubuh istrinya, membawanya pada satu ruang di dalam sana. Akhirnya merekapun melepas lelahnya di dalam alam mimpinya.
•
•
•
Tbc
__ADS_1