
Hawa canggung menggenggam angan dua wanita di dalam ruang tamu bertajuk langit itu, akibat manik dari mata keriput di hadapannya tak henti menyorot pandangan.
Erick sengaja mengundang Tara serta Fiona untuk menyambut kedatangan mantan mertuanya yang datang dari negeri sebrang sana, tiada yang mampu menolak sehingga kedua wanita itu terpaksa menghadapi situasi tegang di sana.
Tara memaksakan diri mengangkat wajah, di kala ujung mata menangkap pandang wanita tua itu tiada lagi menatapnya. Sementara Fiona tak mampu mencegah pandang curian, hanya untuk sekedar mengingat-ngingat sosok yang sempat dijumpainya dahulu kala.
Esmerald mengakhiri pandangan pada kedua wanita yang duduk menghadap, memberi kesempatan terhadap keduanya agar dapat menenangkan batin sejenak. Terngiang curahan hati Jackson saat-saat lalu, Esmerald mendapat bahan untuk melerai situasi. Sehingga seringai kemenangan tergambar di balik tatap menuju wajah salah satu pria yang duduk di samping Tara.
"Bukankah wanitamu pandai memasak?" tutur Esmerald kepada Jackson, berbuah kernyitan alis dari pria itu. "Aku ingin mencicipinya untuk jamuan makan malam nanti."
Walau ungkapannya penuh dengan misteri, akan tetapi Fiona cepat menanggapi. Maka ia berdiri dengan pasti, menyambut ucapan hanya dengan wajah berseri.
Hanson mengira wanita itu akan pergi lantaran diri tiada bisa mengendalikan situasi. Lantas, ia meraih pergelangan tangan Fiona, tak ayal tatapan janggal pun menyertainya.
"Mau ke mana?" tanya Hanson.
"Masak." Fiona menjawab singkat sebab merasa kesal akan pertanyaan itu. Ia mengira Hanson tidak ingin neneknya mengakui diri sebagai pasangan.
Kekeliruan akan pikiran itu disambut Jackson dengan tawa kecilnya. Setelah beberapa saat ia memahami jika ungkapan Esmerald tertuju untuknya. Namun, Fiona sepertinya menganggap lain.
"A–aku juga ikut." Tara pun mendapat kesempatan untuk segera menghindari suasana di sana. Lantas, ia membungkukkan tubuh, meminta pamit terhadap nenek dari suaminya dengan gerakan itu.
Tanpa ingin memperdalam ketegangan, Tara menyeret pergelangan tangan Fiona. Membawanya dalam langkah menuju tempat untuk memasak.
Erick menggelengkan kepala serah tertawa kecil menyikapi tingkah itu. Tiada diduga olehnya, jika kedua menantunya dapat bertingkah menggemaskan. Kemudian ia hanya membiarkan saja hingga mereka hilang dari pandangan mata.
"Pertahankan keinginan kalian," tutur Erick berimbuh misteri, tatkala sukma tak lain menanggapi ucapan tertuju untuk dirinya sendiri. Ia pun menginginkan kedekatan mereka bertahan untuk selamanya, bahkan mengharap lebih dari hanya sekedar saling mencintai saja.
"Aku setuju dengan pilihanmu Erick." Esmerald mengumbar seringai manis, berbalas senyum kemenangan dari dua cucunya.
"Baiklah, aku akan memulai sekarang." Tanpa ingin mendapat pencegahan, Jackson berlalu dari hadapan ayah dan neneknya.
Begitupun dengan Hanson, membuntuti langkah Jackson hingga menepi di dalam sebuah ruang. Ketika kaki terhenti melangkah, Jackson menyapa salah satu wanita yang berada di sana dengan senyum memesona. Namun, tatapan penuh emosi menyambut kehadiran mereka.
"Ngapain kalian ke sini?" tanya Tara setelah melihat dua pria berdiri di sekitar. Ia yakin jika kehadiran mereka hanya akan mengacau saja. Sejujurnya, batin bergemuruh ingin mengungkapkan beberapa kalimat untuk mengusir mereka. Namun, melihat senyum riang tercipta dari wanita di sampingnya, maka ia menahan sekuat hati agar bibirnya tetap terbungkam.
"Maafkan aku sayang ... aku ga bisa pisah sama kamu." Jackson menyahut dalam nada cibiran, meski sesungguhnya ia merasakan batin begitu menggebu.
Decakan keras menusuk gendang telinga Jackson, mendapat balasan dari wanita yang kini menjadi sasaran tangannya. Untuk meredakan emosi itu, ia mengusap puncak kepala Tara. Namun, tidaklah mereda melainkan kian membara di sana. Dan, Tara menepis tangan dari atas puncak kepalanya.
Di sana ....
Pada jarak dua meter dari sepasang insan yang tengah bertengkar manis itu, Fiona melepas pandang haru. Lengkungan bibir memberi kesan lega terhadapnya, melepas restu akan kegiatan romantis di hadapannya. Rupa-rupanya Hanson keliru menanggapi, ketika mata tak sengaja memandang wajah lirih di dari wanita di sampingnya.
"Ga usah cemburu, kan ada gue." Hanson segera memberi penghiburan, lantas kedua tangan mendekap tubuh mematung di sana.
Emosi tersulut akan rasa malu yang merangkak tanpa bisa dicegahnya, membuat Fiona tiada mampu melakukan apapun selain berdiam diri saja. Sesungguhnya batin bersorak kegirangan menyambut tingkah Hanson yang selalu diinginkan.
Tingkah laku pembawa kebahagiaan itu berakhir ketika sepasang insan di sana telah memulai aksinya, meraih benda-benda yang akan di gunakan untuk menciptakan sebuah hidangan.
Di tengah kegiatan tangan yang sedang memotong sayuran, bayangan Tara mengingat akan sesuatu.
"Jack, soal pernikahan kamu ... aku dapat ide baru." Tara mengungkap isi kepala, berbalas dengusan kasar dari pria yang duduk di tepi meja. "Gimana kalau kamu bikin persembahan musik? Kamu kan bisa nge-Dj."
"Aku mau ngelakuin itu kalau pengantin cewenya kamu," sahut Jackson menimpali ungkapan yang telah membuat batin terkoyak emosi, seolah membalas perlakuan. Kini Tara melebarkan kelopak mata mewakilkan amarah pada pelototan matanya.
Sepasang telinga dari wanita yang sedang sibuk di hadapan kompor itu menangkap samar perbincangan mengenaskan tersebut. Sehingga ia memutar tubuh menyemburkan lirihan pedih melalui tatapan sendu.
"Udahlah Ra, aku harap kamu ga repotin dia." Dagu Fiona bergerak maju, menunjuk ke arah Jackson yang telah berpangku tangan di sana.
Terdengar nada bicara Hanson begitu lirih seakan mewakilkan keprihatinannya. Pria ini terkesan iba dan membuat tangan tidak bisa membiarkan. Lantas, ia mengusap pundak Fiona, membubuhkan kasih sayang di baliknya.
Fiona mengembangkan rasa lega, menatap wajah dari pemilik tangan yang masih setia berada di balik pundaknya. Senyum menawan tersirat sebagai balasan, membuatnya tak bisa jika tidak membalas dengan senyum ceria.
__ADS_1
Sementara di sana, emosi seketika meredup. Sudut bibir Tara pun tertarik ceria, melihat pasangan yang di akuinya telah mendapat hati dari masing-masingnya.
"Kalau gitu aku repotin kamu aja, Hans." Tara melepas pandang pada Hanson, di sambut anggukan dari sang empunya.
"Dengan senang hati. Asal ..." Cup, tanpa perintah Hanson mengecup pipi Fiona. Sontak Fiona terperangah dalam kejutan, bahkan belah bibir terbuka lebar.
Hanson tak ingin mendapat amukan dari wanita yang menatapnya dalam amarah di sampingnya, sehingga ia menepis pandangan dari wajah itu. Mengarah ke depan di mana Jackson menyeringai miris di sana.
"Aku iri sama mereka, Art." Meski ungkap kata Jackson tertuju kepada Tara, akan tetapi tatap murka tersorot pada wajah pria di hadapannya.
"Ya udah tinggal cium aja dia, calon istri kamu ini!" Tara jengah, hawa nafsu terumbar di balik nada tegasnya, berbuah seringai halus dari pria di sampingnya.
"Bukan itu sayang, tapi ini." Jackson melakukan hal yang sama dengan adiknya, mengecup pipi Tara tanpa meminta izin pada sang empunya.
Seolah kehilangan kendali atas diri, pisau dalam genggaman Tara mengiris jemarinya sendiri. Melihat itu, Jackson melakukan tindakan sesegera mungkin, membawa jemari itu hingga masuk ke dalam mulutnya.
"Jack, jangan." Tara meronta, menarik jemari dari sana meski tiada membuahkan hasil sedikit pun.
Tingkah laku manis itu, membuat Fiona mendapat makna di baliknya. Mengingat saat lalu ketika diri mendapat petaka serupa, pria itu hanya membiarkannya saja. Berbeda dengan kali ini, Jackson terlihat cemas sehingga melakukan sesuatu tanpa keraguan. Fiona merasa, Jackson mampu melakukan apapun hanya demi seseorang yang ia sayangi.
Situasi tak terkendali itu terpenggal dengan adanya suara dering ponsel dari dalam kantung celana Tara. Hal yang terjadi membuatnya mendapat kesempatan untuk menyingkirkan tangan dari mulut pria itu.
Kemudian mata memicing menatap benda yang telah di raihnya itu, melihat deretan angka tak pernah ia kenali sebelumnya. Meski demikian ia tetap menjawab panggilan hanya untuk melepas rasa penasaran.
"Siapa?" sapa Tara kepada seseorang di sebrang sana.
"Mama."
Suara itu, Tara tau betul siapa pemiliknya. Di saat keadaan genting seperti sekarang ini, ia tidak mengharap Alev akan memperpanjang perbincangan. Namun, demi dapat melepas kerinduan, ia segera mencari cara.
Setelah mendapatkannya, wajah mengarah kepada Jackson. "Bentar, aku–"
"Di sini aja telponnya, bukan selingkuhan kan?" Jackson mencegah dengan ucapan, setelah pasang telinga mendengar samar pemilik suara di balik benda milik Tara itu.
"Mama, apa kau baik-baik aja?" tanya Alev ketika tiada lagi mendengar suara merdu dari balik ponselnya.
"Kamu, ada apa cari ... a–aku." Tara menyahut terbata-bata, ketika batin ragu untuk memberikan panggilan terhadap diri.
"Simpan nomor baruku yang ini."
"Kamu punya HP baru? Dari mana itu?" Kecemasan Tara terungkap di balik mimik wajah khawatir, akan tetapi bebuah senyuman gemas tercipta dari pria yang telah memasang telinga di sampingnya.
"Om yang sering menemuiku," balas Alev tanpa acuh, seolah mengabaikan dengus kekhawatiran di balik ponselnya.
"Om yang mana?" Kian cemas, pekikan nada bicara terlontar begitu menggelegar.
"Mama ga usah tau."
"Alev, jangan terima barang dari sembarang orang. Lagian kamu juga udah punya kan?"
"Dia orang baik."
"Dari mana kamu tau dia orang baik?" Pertanyaan ini, membuat Jackson menerka jika ucapan yang tak terdengar olehnya telah menyudut kepada dirinya.
Lantas, senyuman riang tergambar di balik wajah berbinar, menyambut pengakuan yang tak terdengar itu. Sementara sepasang insan di sana saling membungkam diri, sengaja memasang telinga agar dapat memahami percakapan yang telah menarik perhatiannya.
"Mama ga usah khawatir, aku pastikan dia orang terbaik di dunia."
Tara sudah tidak mampu menimpali si cerdik itu, sehingga hanya lenguhan terlontar tanpa ada kata kembali terucap.
"Minggu depan aku akan pergi ke luar negri." Hingga pada akhirnya, Alev mengungkap tujuan awal.
"Sendiri?" Sahutan singkat yang terlontar itu sesungguhnya bukan karena tidak ingin berbincang. Tara kesulitan menghadapi keheningan di dalam ruang, ia meyakini mereka menguping segala apa yang terucap dari mulutnya.
__ADS_1
"Sama mami."
"Oke."
"Mama sibuk?" Alev menerka situasi, mencoba memahami. Namun ia enggan mengakhiri perbincangan, sehingga mencari-cari cara agar tidak terasa membosankan.
"Iya."
"Sibuk apa di jam segini?"
"Masak."
"Masak untuk papa?"
Pertanyaan tanpa perasaan itu menggelitik emosi Tara. "Sudahlah Alev, mama sibuk–"
Belum usai kalimat terucap, kesadaran akan panggilan diri datang menghampiri.
"Mama?!" Sepasang insan di hadapan mengucap heran secara bersamaan.
Sudah sejak saat percakapan di balik alat itu dimulai, mereka mencipta suasana hening. Hingga tiba saat rasa penasaran itu terjawab, mereka segera mengungkap dengan pekikan nada bicara.
Tara mendapat kejutan hebat, tiada mampu memberi jawaban tepat. Peluh kecil bersarang di atas permukaan dahi mewakilkan kepanikan.
Kerancuan kian mendalam, saat tangan dari sampingnya terulur mengusap peluh di dahinya.
Kemudian ....
Tara mengakhiri panggilan, setelah itu mengedarkan pandangan menuju wajah-wajah janggal di sekitar.
"Apa salah kalau anakku panggil aku mama?" ucap Tara mengungkap kesungguhan.
Hentak kejutan terpapar dari wajah tiga insan di sekitar, akan tetapi lain dari maksud yang ditujukan Jackson. Ia tidak mengira akan dengan mudahnya Tara mengakui keadaan. Lain dengan Hanson serta Fiona, mereka mendapat kejutan melebihi yang di rasakan Jackson.
Mulut mereka terbuka, ingin segera meluncurkan suaranya. Tiada sempat kata terucap, wanita tua datang menyenggal suasana tegang.
"Madam." Jackson menyapa dengan senyuman, balasan ia dapatkan tetapi bukan dari wanita yang di panggil namanya. Melainkan Tara yang tersenyum lega di sana.
"Kenapa kau kemari?" tanya Hanson kepada Esmerald.
"Aku ingin menyampaikan sesuatu kepadanya." Dagu Esmerald bergerak menunjuk ke arah Tara, berabalas picingan mata dalam kejanggalan dari sang empunya. "Aku ingin mengajaknya pergi."
Imbuh kata dari Esmerald disambut Jackson dengan lenguhan layu. "Kau ga lihat dia sedang masak?"
"Bukan sekarang, tetapi esok hari." Esmerald berucap menyahut kepada Jackson, akan tetapi tatap mata menyorot wajah Tara. Ia belum puas melepas rindu kepada mendiang anaknya yang memiliki wajah serupa dengan Tara.
"Ke mana kau akan membawanya?" Jackson kian merasa janggal menilik tatapan yang begitu tajam menyorot wajah cantik di sana.
Rupa-rupanya, kejanggalan tersendat oleh tatapan yang berpaling menuju ke arahnya. Seringai lembut terukir di balik wajah Esmerald, menyikapi tingkah cemburu itu. Hanya sejenak, ia kembali memuaskan diri, menatap wajah Tara yang sudah tertunduk di sana.
"Aku akan membawanya membeli pakaian pengantinmu." Esmerald mengungkap harapan dalam ucap misteri. Sesungguhnya, batin menginginkan Tara lah yang bersanding di pelaminan bersama Jackson nanti.
Buah ucapan bersirat perasaan lega, Fiona mengira calon neneknya telah memberi restu terhadapnya. Hanson menyadari arti dari wajah berseri di sana, membuat hati tergores rasa cemburu.
Atmosfir kelam melebur begitu saja, tatkala wanita tua itu beranjak meninggalkan tempat. Tiada lagi sosok itu di dalam ruang, tertinggal hawa kelam berkeliaran menyusuri asma setiap insan.
Hingga pada akhirnya, hening mengambil alih suasana. Mereka bekerja tanpa mengeluarkan suara hingga hidangan tersedia di atas meja makan.
•
•
•
__ADS_1
Tbc