
Beberapa kali Tara memukul keningnya, tumpukan kertas yang tersusun rapih di hadapannya membuat kepalanya seakan terpecah belah. Di sampingnya Nicky menahan tawanya melihat tingkahnya.
"Nick aku ga ngerti bagian ini." Ujar Tara menunjuk selembar kertas yang mendapat goresan tinta mengenai pekerjaan atasannya di sana.
Nicky menyondongkan tubuhnya, ia melihat kertas yang berada tepat di hadapan istri atasannya yang tergeletak di atas meja itu. "Oh yang ini kayanya nyonya ga usah mempelajarinya, ini kerjaan saya." Ucapnya sopan santun di balas Tara dengan menghempas kertas itu lantas mengambil yang lainnya.
"Ini jadwal yang harus aku atur kan Nick?" Kembali Tara menunjuk kertasnya, memperlihatkan kepada pria yang kembali menyondongkan tubuhnya hingga lengan mereka saling menyentuh.
"Iya nyonya, di bagian kolom ini nanti saya akan kasih penjelasan kalo nyonya udah baca semuanya." Jelas Nicky di sembut oleh tepukan keras pada lengannya yang berasal dsri tangan jenjang atasannya. Membuatnya menolehkan arah pandangnya ke mana asal pemilik tangan itu berada.
"Lo bisa kan ga usah nemplok-nemplok gitu?" Ucap Sammuel kesal hingga mendorong tubuh pria itu membuat sang pria tersingkir dari tempatnya.
"Sadis amat sih lo!" Sewot Nicky seraya merapihkan pakaiannya.
"Sam kamu cemburu apa?" Tanya Tara menyiratkan tawa kecilnya di akhir kalimatnya untuk ledekan pada suaminya.
"Pede banget lo! Gue cuma ga mau orang salah faham aja sama hubungan kalian." Tebas Sammuel enggan mengakuinya pada wanita yang telah duduk di sampingnya setelah ia berhasil mendaratkan bokongnya pada kursi bekas penopang bokong Nicky sebelumnya. "Lo sadar ga bahasa lo sama gue tadi udah ga sopan?" Imbuhnya mencubit manja pipi istrinya membuat sang istri berdesis sebal tak lantas menghapus jejak cubitan suaminya.
"Maafkan saya tuan Nate." Balas Tara dengan nada yang di buat-buat.
Sammuel mengabaikan ucapan itu, ia
merebut paksa kertas yang berada di hadapan istrinya. "Bagian mana yang ga ngerti?" Tanyanya menawarkan diri namun membuat sang istri kembali berdesis ngeri.
"Tuan, anda masih banyak tugas menanti, biar Nicky aja yang ajarin saya." Cibirnya seraya merebut paksa kertas itu membuat Sammuel menatap sinis wajah istrinya mendapat penolakan itu, setelahnya ia mendekatkan bibirnya pada telinga istrinya.
"Lo ga lupa kan kalo gue suami lo?" Bisiknya mengancam enggan terdengar orang lain. Padahal memang di sana tidak ada siapapun selain mereka bertiga.
Tara terkekeh, ia mengubah posisi kepalanya, mendekatkan bibirnya pada telinga suaminya dengan sebelah tangan menutupinya untuk membalas perlakuan suaminya. "Kamu juga ga lupa kan kalo di sini kita bukan suami istri?" Balasnya pada pria yang telah memaparkan wajah kesalnya di sana.
Sammuel jengah, ia beranjak lantas melangkahkan kakinya berlalu dari hadapan istrinya. Tara hanya membuarkan kepergian suaminya yang di rasanya cukup melegakan baginya. Jika pria itu berada di sampingnya, ia sudah dapat menebak jika ia tidak akan mampu berpusat pada pekerjaannya.
"Nicky maaf, atasan kamu kayanya lagi esmosi. Kamu mending samperin dia dulu deh." Usir Tara mendorong manja lengan Nicky yang sudah duduk di atas kursi bekas penopang Sammuel saat lalu. "Kalo ada yang ga ngerti nanti aku tanyainnya kalo kamu senggang." Imbuhnya di balas anggukan ringan oleh Nicky.
"Baiklah." Pasrah Nicky hingga bangkit, merengkuhkan tubuhnya meminta pamit pada istri atasannya.
Merasa melega, Tarapun melanjutkan pekerjaannya, menela'ah setiap barisan kata yang tergores pada puluhan lembar kertas di hadapannya. Mempelajari seluruh isinya meski sebelumnya telah di pelajarinya namun hingga kini belum seluruhnya dapat di fahaminya.
Dua jam kemudian, Nicky kembali datang menghampirinya, merengkuhkan tubuh sebagai sapaannya. "Nyonya, tuan Nate meminta anda ke ruangannya."
"Oke, bisa tunggu bentar?" Tepis Tara menyenggal secara halus lantaran merasa tanggung pada barisan kalimat yang masih mebjadi pusat pandangannya hingga tidak teralih sedikitpun darinya.
"Baik nyonya." Lantas Nickypun bergegas meninggalkan istrinatasannya seorang.
Kembali Tara menelusupkan ke dalam kepalanya barisan-barisan kata pada berkas itu. Menit berlalu, rupanya Tara melupakan tugasnya hingga sebuah dering alat media yang terletak pada meja kerjanya menyerukan panggilannya. Iapun meraih gagang itu, di rekatkannya pada telinganya.
__ADS_1
"Tara di sini." Sapanya terpenggal suara berat yang begitu tidak asing di telinganya.
"Berani lo lupa sama perintah atasan?"
Tara merancu hingga menghembuskan napas kasarnya setelah mendengar suara suaminya di balik panggilannya. Ia menyadarinya telah melupakan hal itu.
"Maaf boss saya lupa."
"Cepet ke sini sekarang!" Titahnya tidak menerima penolakan sedikitpun hingga tanpa jawaban ia menutup panggilannya.
Tarapun bergegas merapihkan lembar kertas yang berserakan di atas mejanya, lantas melangkahkan kakinya menuju ruang kebangsaan suaminya yang terletak di samping kiri ruangannya saat ini.
Pintu ruang tujuan Tarapun terbuka, nampak di baliknya Sammuel telah berdiri gagah menyilangkan kedua tangannya di dadanya seolah menyambut kedatangannya.
"Sam ma, maaf pak saya lupa." Ujar Tara takut-takut setelah menatap wajah yang memerah itu. Ia mengalihkannya dengan bergegas menutup pintu itu.
Sammuel gemas hingga menyentil kening istrinya. "Baru kerja sehari bareng gue udah kaya gini, jangan pikir karna gue sua__" Ehem, dia berdehem menyenggal kalimatnya. "Jangan pikir lo kenal gue lo bisa seenaknya." Ujarnya membuat sang istri berdesis kesal dalam bola matanya yang memutar.
"Maaf tuan berkas terakhir yang anda kasih sangat menumpuk, saya harus mengingatnya sebelum jam pulang." Jelasnya terabaikan oleh suaminya yang membisu tanpa mengeluarkan sepatah katapun, namun tangannya menyeret tangan istrinya hingga menepi pada sebuah meja yang terletak di samping meja kebangsaannya.
"Apa ini Sam? Eh tuan?" Tanya Tara seraya melirikan pandangannya menuju meja itu.
Sammuel terkekeh geli memndengar panggilan istrinya terhadapnya. "Meja lo sekarang di sini." Ucapnya tidak masuk akal. Bukankah sebelumnya ia menolak itu pada kakaknya? Bahkan ia menunggu alasan dari kakaknya agar ia tidak terlihat merendahkan gengsinya.
Lantas, apa yang di pikirkannya untuk memberikan tempat pada istrinya di dalam ruangannya? Iapun masih mencari alasannya untuk itu.
"Tar sama Nicky aja, lo duduk manis aja pijitin gue nih pegel." Pintanya sarat, di pertegas dengan menepuk-nepuk pundaknya.
"Tuan ini di kantor." Tolak Tara meronta, ia mencoba menepis genggaman itu namun tidak membuahkan hasil sedikitpun.
"Ga ada siapa-siapa ini, ga akan ada juga yang berani nyelonong ke sini." Tutur Sammuel melengos tak acuh menyeret tangan itu menuju sofa yang terletak di tengah ruangnya.
Genggaman tanganpun terlepas setelah Tara duduk bersampingan dengannya. "Cepetan pijitin gue." Pintanya keras memunggungi istrinya serta memunggungi pintu masuk ruangannya.
"Tuan__"
"Jangan pake panggilan itu kalo lagi berudaan di sini, jijik gue dengernya." Pinta Sammuel terungkap dengan nada sebalnya membuat sang istri yang sudah duduk di belakangnya mendengus ringan, namun kedua tangannya mengulur memijat pundak suaminya, bahkan ia menyiratkan senyumannya, merasa jika suaminya menyambut statusnya.
"Di sini kan yang harus di pijit?" Tara sengaja mengencangkan pijitannya meluapkan rasa gemasnya pada pundak yang lebar itu.
Namun, Sammuel mendesah seolah menikmati gerakan tangan istrinya. Nyatanya, ia meledek gerakan tangan kuat itu yang di rasanya tidak begitu menyakitkan.
Plak! Tara memukul kasar punggung suaminya menyenggal desahan itu. "Ngapain sih kamu kaya gitu? Nanti orang nyangka apaan lagi." Ujarnya sebal dengan tingkah suaminya.
Sammuel terkekeh meski tidak terlihat istrinya yang masih setia duduk di belakangnya, bahkan tangannya kembali memijat pundaknya. "Lo belajar mijit dari mana?"
__ADS_1
"Dari hati." Jawab Tara datar membuat Sammuel kembali terkekeh.
Hening sejenak melanda kala dari kedua belah pihak saling menikmati sentuhannya.
"Yaahhh di sana." Kembali Sammuel menggoda istrinya, meluncurkan desahan kuatnya dengan ledekannya yang bermakna cibiran angkuh membuat seorang pria yang telah berhasil memasuki ruangnya membawa ratusan lembar kertas di tangannya menghempas kasar barisan kertas itu ke atas meja sekertaris Generar Manager itu membuat sepasang insan yang telah mengumbar kemesraannya melirik ke arahnya.
"Sejak kapan sekertaris jadi tukang pijit?" Ujar Nicky menyeleneh di sambut Tara dengan wajahnya yang merona.
"Sejak sekertarisnya bininya." Polos Sammuel yang membuat sang istri yang telah kikuk itu tersenyum penuh ceria lantaran Sammuel telah sudi mengakui status hubungannya. "Jangan diem dong, lanjutin lagi." Pintanya seraya melirik ke arah belakangnya di mana istrinya masih belingsatan di sana.
"Iya baik tuan." Ucap Tara berteguh hati menyambut titah tak bersarat itu.
"Kerjaan dia masih banyak Sam, lo kalo mau di pijit di rumah aja biar dapet plus-plus." Penggal Nicky mengingatkan pria yang masih meresapi sentuhan tangan istrinya.
"Dia udah dapet upahnya masa ga mau kerjanya." Balas Sammuel membuat istrinya mengingat sesuatu tentang apa yang akan di berikannya.
"Upah?" Teg, Tara mengingat bonus yang akan di berikan suaminya kepadanya. "Kamu udah transfer uangnya?"
"Belom."
"Lah terus tadi bilang dapet upahnya?"
"Semalem, lo puas kan?" Ujar Sammuel penuh godaan hingga memutar tubuhnya menghadap istrinya membuat tangan istrinya terhempas dari pundaknya. Lantas menaikkan sebelah alisnya ketika melihat wajah anggun itu yang tengah merona.
Tara menunduk menyembunyikan rasa malunya. Ia yakin wajahnya kini sudah seperti tomat busuk. "Kamu bre****k Sam."
"Emang gue bre****k." Lengos Sammuel meraih wajah itu agar menatapnya. "Udah gue transfer, lo tinggal chek aja." Baru kali ini nada lembut itu terdengar oleh istrinya membuat angannya melayang menembus langit ke tujuh. "Cukup puas nyonya Nate?" Imbuhnya membuat sang istri kehilangan jiwanya mendengar panggilan yang di sebutkannya itu.
Tara memaparkan senyum penuh cerianya dalam wajahnya yang kian merona. "Thanks." Tanpa di sadarinya ia mengecup bibir suaminya di hadapan seorang prianyang sudah duduk di atas kursi tamu pemilik ruangan itu.
"Gue ga bisa cuci mulut gue nih." Gurau Sammuel, namun berhasil membuat istrinya belingsatan di sana.
Belum berhasil Tara meraih jiwanya kembali dalam raganya, ia sudah mendapat perkataan rayuan dari suaminya hingga ia mencari cara agar segera dapat menepis gerakan kikuknya. "Kamu pengen kecupan itu nempel terus biar inget aku terus ya?" Guraunya membuat pria di sampingnya terkekeh geli.
"Ga juga!" Balasnya setegas mungkin. "Cuma_ kecupan ini paling mahal, bisa nyampe ratusan juta." Imbuhnya tertawa kecil di akhir kalimatnya sebagai pelengkap rayuannya.
Tara terjatuh dari tebing yang tinggi mendapat ucapan sindiran itu, ia menepuk keras lengan suaminya membuat pemiliknya meringis.
Akhirnya Tara melangkahkan kakinya menuju meja kerjanya, kembali ia melanjutkan kegiatannya yang sempat tersenggal beberapa saat itu akibat ulah suaminya.
•
•
•
__ADS_1
Tbc