
Senin yang berarti bunga, seharusnya Jackson menerima kenyataan hatinya yang berbunga-bunga saat mendapat kembali tugasnya untuk mengantar jemput kekasihnya.
Namun kini ia tidak mendapatkannya kala ia tidak mendapat kehadiran kekasihnya di rumah orang tuanya bahkan kediaman kekasihnya itu sendiri.
Pagi yang masih terlihat bersemi, waktu menunjukkan pukul 08:00, Jackson tengah memburu langkahnya menuju lantai 59 di dalam bangunan gedung pencahar langit itu.
Kini Jackson telah membuka kasar pintu ruang milik General Manager sebuah perusahaan yang di pimpinnya.
"Cewe gue ke mana Nick?" Di sela langkah kakinya ia berucap seraya melihat Nicky yang sudah bergelut dengan alat medianya yang bertengger di atas meja tamu ruang itu.
"Dia ke Garut ngurus tender Villa." Nicky membalas tatapan atasannya tak lantas bangkit berdiri untuk memberikan sapaannya dengan rengkuhan tubuhnya.
Sementara Jackson menjanggal dengan ucapan itu hingga ia menatap tajam wajah tampan yang berada di hadapannya. "Tender Villa yang mana?" ucapnya setelah ia berhasil menghentikan langkah kakinya di hadapan pria itu.
"Tender baru dia."
"What, kok ga ngomong sama gue?"
"Mana gue tau," sahut Nicky di pertegas dengan menggidigkan bahunya.
Jackson hanya mampu menghembuskan napas kasarnya untuk menyikapi perlakuan kekasihnya yang sudah pergi tanpa berpamit kepadanya.
"Terus ade gue ikut ke sana?" tanya Jackson.
Nicky terperangah dalam kejutannya mendapat pertanyaan itu, ia menerka jika dirinya telah mengucap kata yang seharusnya tidak di ketahui pria di hadapannya yang telah menatapnya penuh janggalan.
"A-ade lo ke tempat pe-peleburan." Nicky berdalih tanpa berpikir hingga ia berucap terbata-bata.
Jackson mengangguk penuh makna, dari gerakan kikuk itu ia menyibak bahwa adiknya masih belum mengungkap hatinya terhadap kekasihnya hingga mereka pergi secara terpisah.
Kini ia tersenyum penuh kemenangan meyakini bahwa dirinya masih mendapat kesempatan untuk merebut wanitanya kembali.
"Oke lah." Setelah puas mendapat jawabannya, Jackson mengayunkan kakinya menuju pintu masuk terdapat di sana.
Langkah Jackson rupanya menepi dalam ruang kebesarannya di mana di dalam sana sudah berpenghuni sang assistant pribadinya yang tengah berdiri di hadapan dispenser air.
"Vin si kembar ga ngasih info ke mana cewe gue pergi?" tanya Jackson di sela langkahnya yang masih belum teehenti untuk menuju sofa yang terdapat di tengah ruang tersebut.
"Si kembar udah di tarik si Hans buat jagain nyokap si Triana," balas Kelvin menyahut di sambut tatapan kejut dari atasannya meski ia tidak dapat melihatnya lantaran tubuhnya membelakangi sang atasan.
"Hah, apa-apaan ini, banyak info nyenggol gini?" ujar Jackson bersungut-sungut di sertai nada bicaranya yang memekik membuat sang asisstant tertawa kecil menyikapinya.
"Nyenggol apaan?" tanya Kelvin.
Kelvin yang telah usai membuat hidangan dua cangkir kopi itu segera membawanya menuju atasannya.
"Soal tender villa si Tara, soal si kembar," balas Jackson mulai frustasi.
"Tender villa si Tara itu dari si Raymond," sahut Kelvin.
Setelah Kelvin berhasil menaruh dua cangkir kopi di atas meja yang tersedia di hadapan atasannya, dengan mudahnya ia melihat wajah frustasi sang atasan yang telah memerah itu.
"Mau juga dia jadi bapak tirinya si Tara?" sahut Jackson di sela tawa kecilnya sebagai ledekan untuk objek yang berada dalam kalimatnya.
"Si Raymond sekarang jadi mata-matanya si Sam buat ngurus si Guo Ming Shen," balas Kelvin kian membuat rasa frustasi atasannya merangkak dari dalam angannya.
Jackson tidak mengira jika adik keduanya akan turut bertindak untuk melakukan suatu pembalasan dendam terhadap musuhnya.
__ADS_1
Ia tertawa kecil penuh cibiran untuk dirinya sendiri, kali ini ia kurang gesit mengambil langkahnya hingga sang adiknya telah mendahuluinya.
Jika demikian, kesempatan baginya untuk kembali mengambil hati wanita pujaannya telah terancam kepunahan.
"Lo kenapa baru ngomong?" tanya Jackson.
"Lah lo nya sibuk sama si Fiona." Kelvin mencibir di sertai tawa ledek di akhir kalimatnya.
Jelas Kelvin akan mengetahui segala sesuatu yang di lakukan atasannya jika dirinya selalu mendapat perintah untuk menyelidiki orang-orang yang berada dalam daftar incaran atasannya.
Salah satunya adalah wanita bernama Fiona, dari sini lah ia mengetahui apa yang telah di lakukan atasannya terhadap wanita itu.
"Lo kasih si Damar sama si Rian aja buat si Hans, si kembar tarik lagi buat si Tara, gue yakin si Sam pasti ngamuk kalo tau."
"Lah terus buat lo siapa?" Kelvin menjanggal, tidak biasanya atasannya sudi mengalah terhadap seseorang sekalipun orang tuanya.
"Ga penting lah buat gue mah, lo tau si Sam kemana sekarang?"
"Pasti sama bininya lah!” ujar Kelvin membungkam janggalan atasannya.
Jackson mengangguk faham untuk kali ini, ia mengetahui jika pria yang sudah di temuinya saat lalu telah mengelabuinya dengan mengatakan perbedaan tujuan adik serta adik iparnya.
"Bangke juga si Nicky, dia bilang si Sam di tempat peleburan."
"Dia di kubu si Sam ya pasti belain majikannya lah."
Jackson menyiratkan senyum iblisnya, memahami maksud semua yang di lakukan adiknya.
Kemungkinan besar yang di fahaminya jika adiknya masih ingin menyembunyikan status pernikahannya hingga mereka masih harus selalu berpura-pura di hadapannya.
"Oke gue dukung kalo mereka maunya gitu,” ucap Jackson.
"Liat aja entar, gue bakal bikin nyesel si bangke Sam,” ucap Jackson penuh keteguhan hati jika ia akan membalaskan dendam kesumatnya terhadap adiknya.
Kelvin hanya mampu menggelengkan kepalanya menyikapinya, jikapun ia berusaha untuk mencegahnya, ia merasa akan sia-sia saja.
"Jess jadwal gue hari ini apa aja?" tanya Jackson kepada sekertarisnya yang sejak tadi menyimak perbincangannya di balik meja kerjanya.
Jesslyn segera meraih map yang tersusun rapih di atas meja kerjanya, salah satunya adalah map yang berisikan lembar kertas jadwal harian sang atasan.
Lantas, setelah beberapa menit kemudian, tepat saat ia mendapat jawaban dari pertanyaan atasannya, iapun menjabarkannya melalui ucapannya.
"Jam sembilan pagi meeting platinum, jam satu siang ke tempat Tuan Erick,” ujar Jesslyn di sela tatapannya menuju elmbar kertas di hadapannya.
"Jam satu batalin, ganti ke Bogor," putus Jackson berucap tegas di balas anggukan keras sekertarisnya.
Tok.. tok.. tok..
Suara panggilan yang di wakilkan pada benda tidak bernyawa itu terdengar nyaring oleh para insan yang berada di dalamnya, Jesslyn sebiasanya yang akan menyambut tamu atasannya.
Tananpa perintah, iapun bangkit berdiri tak lantas mengayunkan kakinya menuju pintu ruang tersebut.
Sambutan dari senyuman manisnya terpapar daei wajahnya kala melihat Fiona berdiri di balik pintu itu.
Setelah mendapat izin masuk, tanpa meminta tuntunan Fiona mengayunkan kakinya hingga menepi di hadapan Jackson.
"Pak, suratnya_"
__ADS_1
"Pak pak pak, pala lo oleng, jijik tau." sahut Jackson memotong ucaoan Fiona.
Namun rupanya Fiona membalasnya dengan tawa kecilnya tak lantas mencaei posisinya untuk mendaratkan tubuhnya, di samping Jackson lah ia memilih untuk duduk.
"Suratnya udah jadi?" tanya Fiona.
"Vin?" Jackson menjawabnya dengan menatap ke arah Kelvin.
"Udah, Nyonya Jordan duduk aja dulu,” sahut Kelvin berseru manis seolah merayu wanita yang kini mulai bergerak kikuk di hadapannya.
Ucapan Kelvin membuat Fiona belingsatan lantaran panggilan Nyonya Jordan telah membuat batinnya bergeming riang.
Percayalah wajahnya kini tengah memerah menahan rasa malunya.
Namun lain dengan Jackson yang berdecak sebal menyikapi ucapan asisstantnya, ia masih enggan mengakui wanita itu sebagai kekasih hatinya.
"Lo jangan sembarangan manggil orang deh, gue panggil bini lo Nyonya Steve baru tau,” ucap Jackson di balas tawa geli oleh tiga orang yang berada di dalam ruang kebesarannya itu.
Meski Jesslyn berada agak menjauh dari tiga orang yang masih setia duduk di atas sofa di tengah ruang itu, namun ucapan mereka terdengar jelas mengisi telinganya.
"Jess bikinin kopi si boss sama nyonya boss__" Kelvin menyenggal ucapannya kala ia menatap ledek wajah samg atasan yang sudah memelototinya penuh murka. "Boss pengacara."
"Udah putus!” ucap Fiona menyenggalnya secepat air terjun mengalir dari atas pegunungan.
"Ah ia maaf,” ujar Kelvin tak tulus kala nada bicaranya meledek wanita yang mendengus itu.
Sejenak suasana hening menginterupsi kala mereka berpusat pada ingatan masing-masingnya.
Sementara Fiona mengingat akan status hubungannya yang telah terputus tanpa hormat, Jackson sendiri mengingat rencananya dahulu kala yang menhuat wanita di sampingnya di benci oleh adik pertamanya.
"Sorry Jack gue ga bisa ke ruang gue dulu kalo suratnya belom kelar." Fiona berucap memecah suasana hening sesaat.
Tiba-tiba saja Jesslyn menghampirinya menyerahkan selembar kertas pada Fiona. "Lo chek dulu Fi, biar ga ada kesalahan."
Tanpa kata Fionapun meraihnya lantas membacanya dengan cermat, begitu nemilukan baginya kala isi di balik kertas tidak bergaris itu menyiratkan kalimat yang membuat hatinya meringis pedih.
"Prihatin juga gue sama dia." Kelvin yang telah menyadari wajah anggun yang tertunduk di hadapannya, ia menggelengkan kepalanya dalam tatapan matanya menuju wajah itu.
Jackson membalas ucapan sahabatnya dengan tatapan lirihnya menuju wajah Fiona yang masih tertunduk membaca barisan kalimat yang tertera di atas kertas itu.
"Oke udah gini aja,” ucap Fiona setelah usai membaca seluruh isi di balik kertas itu. “Thanks Jess.” Lantas ia tersenyum menyembunyikan lirihan asmanya.
"Good luck," ujar Kelvin memberi semangat untuk Fiona namun di rasa empunya seolah ledekan pekat.
Fiona hanya tersenyum membalasnya lantas mulai bangkit berdiri untuk memberikan ucapan perpisahannya melalui gerakan tubuhnya yang merengkuh di hadapan atasannya.
“Gue lanjut kerja,” putus Fiona dalam lambaian tangannya.
Jackson hanya mampu membiarkan tubuh itu menghindarinya kala kakinya mengayun cepat menuju pintu keluar.
Sesungguhnya ingin sekali ia memberikan penghiburan pada wanita itu, namun apalah dayanya jika ia masih ingin mempertahankan hatinya kepada wanita lain.
Tidak lagi terdengar suara celotehan para insan itu hingga tubuh Fiona hilang di balik pintu tersebut.
•
•
__ADS_1
•
Tbc