
"Engga juga, kamu jahat sama aku Art." Jackson merajuk, ia menepis pandangannya hingga menatap arah sampingnya menyembunyikan lirihan batinnya. “Kamu nolak terus cinta aku,” imbuhnya, ia mengambil kesempatan emasnya untuk kembali mengutarakan rasa kasihnya.
Tara terkekeh pelan saat menanggapi sikap konyol lelaki di hadapannya. "Jack." Ia ragu sesaat, bingung dengan apa yang harus dikatakan selanjutnya, hingga ia mencari bahan obrolannya. "Aku penasaran soal anak ini, kamu cuma cerita soal ibunya yang kabur bawa uang 2 miliar. Apa cuma itu alasan dia ninggalin kamu?" Ia melontarkan pertanyaan yang rupanya berhasil membuat pria itu menatapnya penuh kejutan.
Tara agak menyesal saat mendapati reaksi semacam itu, ia takut dan ragu apabila dirinya telah salah bicara dan mengajukan pertanyaan, bagaimana juga, itu merupakan hal pribadi, tak ada hak dan kewajiban baginya untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
"Anggap aja dia itu cewe jahat." Jackson menyahut dengan ketuas tanpa menghiraukan dengusan keras yang berasal dari wanita di hadapannya.
Tidak cukup dengan dengusan, Tara berdecak melengkapi rasa jengahnya. Kini ia menyuapi dirinya dengan es krim yang terhidang dengan gaya kasarnya. "Jack, bisa ga sekali aja kamu ngomong serius?" tanyanya dengan penuh emosi. Namun, itu membuat sang pria kembali terkekeh gemas.
"Emang jahat 'kan?"
"Ihh .... Serius dikit, bisa ga sih?" Tara jadi kesal dibuatnya, hingga membungkam mulut pria itu dengan sebuah sendok berisikan es krim di atasnya.
Jackson segera menelan es krim yang tersuap dari uluran tangan itu, meski denyutan nadinya terasa linu lantaran mendapat kejutan dari tingkah yang selalu dinantinya itu.
Sebuah suapan dari sendok yang terpakai wanita itu sebelumnya menandakan sebuah ciuman tanpa kesengajaan terjadi padanya. Anggap saja itu adalah ciuman tak langsung yang benar-benar tak disadari Tara.
"Jadian dulu sama aku, baru aku mau cerita," goda Jackson, ia segera menggunakan kesempatan emasnya yang masih tak gentar menggait hati wanita itu dengan gurauannya.
Sejenak hening melanda, saat sang wanita menggumamkan kembali isi kepalanya dalam benaknya. Tidak dimungkirinya jika ia menginginkan pria --yang menatap penuh harap-- di hadapannya. Namun, bukan untuk menjadi kekasihnya melainkan menjadi istrinya.
Ia percaya jika pria itu akan setuju tanpa syarat untuk menikahinya. Hanya saja, dirinya belum mempersiapkan untuk menerima segala risikonya, jika saja sang pria mengetahui bahwa ia hidup untuk menanggung biaya seluruh keluarganya, bahkan kini bertambah dua orang dari pasangan daun muda, ibunya serta suami dari adik pertamanya.
Ia yakin jika saja pria --yang telah menatap lekat wajahnya-- di hadapannya itu mengetahui sifat serakah ibunya, maka sang pria akan dengan mudah menghindar darinya.
Sejenak, angan Tara meronta tatkala berpikir jika sang pria akan menerima syarat pernikahannya yang diharuskan menanggung beban keluarganya. Hanya saja ia enggan jika sang pria berlaku demikian, karena itu pasti dan jelas akan merusak hubungannya di kemudian hari.
Maka dari itu, cukup hanya dengan hubungan tanpa kepastian itu saja agar ia bisa mencurahkan isi hatinya, tanpa harus ada seseorang yang menjadi korban hingga tersakiti di baliknya.
__ADS_1
"Art Tara!" panggil Jackson untuk ketiga kalinya berusaha memecah renungan wanita itu. "Ngelamunin apa?" tuturnya setelah berhasil membuat wanita itu menatap wajahnya.
"Aku ngambek kalau kamu ga mau cerita soal ibunya Queena." Tara berdalih, bentuk sikap yang dianggap oleh pria di hadapannya sebagai kesungguhannya.
"Ya udah, ngambek aja kalau ga mau jadian sama aku!" sahut Jackson penuh godaan, hingga ia terkekeh di akhir kalimatnya membuat sang wanita mendengus keras di sana.
"Aku pulang aja kalau kamu masih gini terus." Tara mempertegas keninginannya untuk mendapat sebuah jawaban dengan ancaman, ka bahkan mengacungkan sendok di hadapan pria yang sudah mengembuskan napas rancunya.
Jackson mengembuskan napas kasarnya bertubi, melihat kesungguhan tatapan harapan wanita itu yang tengah menanti jawaban darinya.
Lantas ia mendengus lirih yang tidak akan mampu menolak ancaman wanita yang dicintainya itu. "Tujuan utama dia emang uang itu, sayangnya dia ga tau kalau aku bisa kasih lebih dari itu, seandainya dia bertahan setaun lagi!" serunya menjelaskan, itu membuat sendok itu enyah dari hadapannya.
"Apaan sih maksudnya?" tanya Tara melenting tatkala sang kepala tidak mampu mencerna perkataan dari pria itu, pria yang kini menatapnya penuh lirihan.
"Aku nikahin dia karena kehadiran Queena di dalam rahimnya, ternyata itu udah ada dalam skenarionya yang mau meres aku." Jackson menyahut, perasaannya tercabik, napasnya yang merancu seolah kematian telah menanti di hadapannya.
Enggan sudah Jackson melanjutkan perbincangannya yang akan membuat sebuah penyesalan menyeruak dari dalam asmanya.
"Waktu Queena baru umur 5 bulan, aku pergoki dia lagi tidur sama cowo lain. Aku ga marah, malah dia yang kabur bawa ATM yang isinya 2 miliar. Uang hasil yang dia kumpulin selama hidup sama aku." Jakson bercerita dengan lirih, sesuatu hal yang baru pertama kali dilihat oleh Tara, ini benar-benar hal yang baru, belum pernah rasanya ia mendapati sosok Jackson yanh seperti ini, terlihat rapuh dan menyedihkan.
Itulah sesuatu yang tersembunyi selama empat tahun, itu yang akan selalu membuatnya mendapat penyesalan hebat. Maka dari itu, ia benar-benar enggan untuk membahasnya dengan siapa pun, sekalipun itu dengan sang pujaan hati. Namun, kali ini lain ceritanya, ia tak bisa lagi lebih lama menyembunyikan semua ini.
"Kamu o'on, kenapa ga kamu blokir ATMnya?" cibir Tara dengan entengnya, hal itu dibalas seringai lugas oleh pria --yang masih menatapnya penuh picingan-- di hadapannya.
"Itulah kenapa aku tau kalo awalnya dia mau meres, soalnya pas aku blokir kartu ATMnya, uangnya udah ilang semua," jelas Jackson disambut anggukan paham wanita yang kini telah melepas dagunya dari tumpuan telapak tangannya.
"Masuk akal juga."
"Cukup puas?" tanya Jackson menyeleneh gurau diakhiri tawa kecil di akhir kalimatnya, pertanda sang hati telah lega. Namun hal tersebut membuat wanita itu memutar bola matanya, mewakili rasa jengah atas sikapnya yang selalu berhasil membuat suasana serius terlerai.
__ADS_1
"Jam berapa sekarang?" tanya Tara, pertamyaan itu dibalas sang pria dengan segera menatap alat pengukur waktu yang melekat pada pergelangan tangannya.
"Jam tujuh," jawab Jackson singkat, sesingkat waktu yang terasa cepat berlalu saat ia harus mengakhiri pertemuannya bersama sang pujaan hati.
"Oke, udah waktunya kita pulang!" ajak Tara sebagai ungkapan pamitnya.
"Baru jam 7 bukannya kamu mulai kerja jam 8?"
"Perjalanan dari sini setengah jam, belum aku harus dandan," sahut Tara memperjelas situasi di mana ia memerlukan waktu lebih untuk bersiap-siap sebelum melanjutkan aktivitas, itu segera disambut tawa geli oleh pria di hadapannya.
"Sejak kapan kamu suka dandan? Bukannya tiap hari kamu cuma pake bedak doang?" ujar Jackson, ia jelas melontarkan ledekan, Jackson telah mengetahui kebiasaan wanita itu. Seandainya tidak mengetahui pun, ia dapat melihatnya dari penampilan wanita itu setiap harinya yang terlihat cantik meski tanpa polesan.
"Aku harus mandi dulu oon!" Tara membela diri dengan rajukannya, membuat pria di hadapannya kian ingin menggodanya.
"Kirain cewe cakep ga pernah mandi." Jackson menyahut membuat wanita di hadapannya bergerak kikuk tanpa arahan, tak ayal mengalihkan pandangan, ia menyembunyikan wajahnya yang sudah bisa dipastikannya telah memerah.
"Apaan sih? Gombal banget." Tara menimpal, namun wajahnya tertunduk kikuk membuat pria di hadapannya tertawa gemas menyikapi wajahnya yang masih merona.
"Bener juga, cewe jelek kaya kamu kalau ga mandi mau jadi apa?" kini perkataan Jackson segera disahut tegas oleh sorotan mata indah yang telah kembali terangkat dari tundukannya.
"Sialan!"
"Mau jalan ga? Nanti ga keburu mandi lagi," ajak Jackson tak lantas bangkit berdiri mengambil alih si buah hati dari pangkuan wanita itu.
Tanpa bicara, hanya tawa kecil terlontar dari Tara serta penyerahan Queena pada Jackson, setelahnya mereka segera bergegas meninggalkan tempat tersebut menuju tempat masing-masing dengan kendaraan masing-masing jua, di mana Jackson mengantar buah hatinya menuju kediaman ayahnya, sementara Tara menuju kosannya.
•
•
__ADS_1
•
Tbc