Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 162


__ADS_3

Kelopak mata Tara terbelak nyalang mewakili keterkejutaan dirinya di tengah kegiatan itu.


'Ga mungkin!' Batin Tara merutuk tidak percaya membuat kepalanya menggeleng untuk menyangkalnya.


Fiona memicingkan matanya, menanggapi gerakan kepala itu. Rasa penasaran akan ekspresi Tara mendorongny sebuah tanya, "Kenapa?"


Bungkam ...


Tara menutup rapat mulutnya kala perhatiannya masih berpusat pada barisan kalimat yang tertera di atas kertas pada genggamannya. Ia belum dapat mencerna maksud dari perjanjian yang tertulis di sana.


"Ra ..." Fiona kian penasaran, ia menepuk lengan Tara sehingga pusat perhatian Tara terpecah begitu saja.


"Sejak kapan si Raymond kerjasama sama laki gue?" Tangan Tara mengacungkan kertas itu sebagai pertanda untuk memberitahukan bahwa dirinya mengetahuinya dari sana.


"Walah." Fiona merebut paksa lembar kertas itu dari tangan Tara, kemudian melihatnya untuk memastikan. "Si*lan, malah nyampe sama lo lagi. Laki lo minta masalah ini jangan sampai bocor sama lo," imbuhnya penuh penyesalan, akan tetapi di balas tatapan sebal dari sahabatnya.


“Si*lan punggung lo bolong, yang si*lan laki gue, masih aja dia bohongin gue.” Tara hanya mengumpat kesal tanpa berniat untuk memaki suaminya. Seandainya ia melakukan itu, maka dirinya lah yang akan mendapat kerugiannya.


“Cup ... cup ... cup ... ga usah emosi gitu deh. Semua dia lakuin buat kebaikan lo juga,” ujar Fiona menghibur agar wajah berengut itu kembali berseri seperti sedia kala.


“Alasan dia doang itu mah.” Tara belum merasa puas dengan pelampiasan amarahnya, sehingga ia bertutur di sertai nada jengahnya.


“Udah ga usah emosi-emosian dulu, tujuan lo ke sini bukan buat itu kan?” Seru Fiona berhasil membuat bibir yang mengerucut itu tersenyum penuh paksa.


Dalam lengkungan bibir yang terpaksa itu, Tara sudah tak ingin lagi melanjutkan pembicaraan yang membuat amarah di batinnya tersulut. Begitupun dengan Fiona yang membungkam mulutnya tak lagi berkata, ia pun bergegas melangkahkan kaki menuju di mana meja kerjanya berada.


Tara masih termenung di tempat duduknya, selagi Fiona mencari kembali apa yang akan ditunjukan padanya. Otaknya bekerja keras memikirkan sebuah cara agar dapat bertanya kepada suaminya tanpa mendapatkan petaka setelahnya.


Sebelum ia mendapat jalan keluar, Fiona telah kembali menghampirinya, membawakan selembar kertas yang langsung di serahkan kepadanya.


Tara meraih benda itu untuk kembali menjadi bahan bacaannya. Setelah ia usai mencerna kalimat-kalimat misteri yang begitu banyak teka-teki di baliknya, ia menyeringai penuh makna mewakili rasa lega atas kemenangannya.


“Udah gue duga, pasti bukan si Hans pelakunya, pasti itu tuduhan,” ucapnya dalam senyuman penuh semangat. “Lo dapet bukti lainnya ga?”


“Ada, tapi gue ga bisa kasih lihat sama lo. Yang jelas si Edwin ada kaitannya.”


“Edwin?” Tara mengulang ucapan itu di tengah ingatannya yang memutar.


Nama yang tidak asing dalam pendengarannya, ia mengingat jika nama itu selalu di sebut-sebutkan ibu tirinya sebagai mantan suami.


Di luar dugaannya jika Edwin berani melakukan hal menjijikan itu. Pasalnya, ia mengetahui jika Edwin adalah korban dari keserakahan Sonia (ibu tiri).


“Edwin Suwandi bukan?” tanya Tara di balas anggukan pekat oleh Fiona.

__ADS_1


“Bokapnya si Triana!” seru Fiona memperjelas hingga membuat Tara terkejut tanpa pelantara.


Tara tidak mengira jika seorang ayah begitu tega menuduh pria yang akan menjadi menantunya itu. Hanya dengan satu alasan, rasa benci telah menjadikannya ingin membalaskan dendam.


“Jadi lo mau apain tuh orang?” tanya Fiona.


Tara menyeringai di kala siasat busuk terbersit dalam ingatannya. Pembalasan dendam yang telah di rencanakan itu berlaku pula terhadap Hanson. “Lo simpan ini baik-baik sampai gue puas sama si Hans.” Ia menyerahkan kertas itu pada Fiona.


Dahi Fiona mengerut, mencari arti dari ucapan sahabatnya sebelum ia menerima benda yang di serahkan sahabatnya itu. “Apa maksud-“


“Ga usah nanya, serahin aja sama gue, lo tinggal terima aja hasilnya. Yang jelas, dendam lo sama mantan lo bakal terbalaskan.” Tara meraih tangan Fiona untuk memaksanya agar menerima benda yang di berikannya itu.


“Ah lo gila!” ujar Fiona tidak terima setelah memahami maksud dari ucapan Tara. “Gue ga mau ah! imbuhnya bertegas hati, setegas nada bicaranya.


“Kenapa? Lo ga tega?” Tara mencibir dengan senyuman meledek, matanya memutar seolah mempertegas olokannya.


Fiona hanya mengangguk lemah, saat merasa jika apa yang telah diterka Tara akan membuatnya merasa malu.


“Lo ga inget apa yang dia lakuin dulu sama lo?”


Mendengar penjelasan itu, Fiona tersenyum simpul. Tidak di pungkirinya, jika sikap serta perlakuan Hanson saat dahulu kala terlalu menyakitkan, sehingga ia berpikiran untuk membalasnya.


Namun, ia tidak berani melakukan semua dengan tangannya sendiri. Tawaran dari Tara adalah kesempatan emas untuk mengabulkan keinginannya.


“Lo sadis juga Ra,” ucap Fiona sebagai isyarat bahwa ia menyetujui tawaran Tara.


“Gue tau kata sadis sejak hidup sama mereka, anggap aja harimau gigit tuannya.” Tara membalas senyuman itu dengan lenguhannya. Sesungguhnya ia tidak akan tega berbuat sekejam itu terhadap Hanson. Namun, demi mengobati luka Fiona, ia rela menjatuhkan harga dirinya.


Tok.. tok.. tok..


Suara ketukan pintu menyanggah perbincangan mereka. Fiona sang pemilik ruangan bergegas membuka pintu itu untuk menyambut tamunya.


“Hai Jas, tumben ke sini,” ucap Fiona saat melihat Jasmeen berdiri di balik pintu ruang itu.


“Tara di sini kan?” tanya Jasmeen kepada Fiona.


Tanpa menunggu jawaban dari Fiona, ia berjalan memasuki ruang itu, mencari keberadaan Tara di sana. Senyuman tersirat darinya kala melihat Tara yang telah menyambutnya dengan pesona wajah riangnya.


“Jasmeen.” Rasa bahagia bercampur rindu membuat Tara memburu langkahnya untuk menghampiri Jasmin.


Setelah ia berhadapan dengan Jasmin, ia merangkul tubuh itu, melepas rasa rindunya pada kegiatannya.


“Segitu kangennya kamu sama aku Art?” Jasmeen meledek membuat dekapan pada tubuhnya terlepas begitu saja.

__ADS_1


“Narsis!” Tara mencibir, dibalas tawa kecil oleh Jasmeen. “Gimana kabar Al-“ imbuhnya terpenggal kala menyadari Fiona telah berdiri di sampingnya.


Jasmeen memahami jika Tara berkata tanpa di sengaja, sehingga ia hanya tersenyum menanggapinya. Lain dengan Fiona, dahinya kembali mengerut mewakili rasa janggalnya.


“Al siapa?” tanya Fiona, ia menatap wajah Tara pertanda pertanyaan itu tertuju untuk Tara.


Akan tetapi Jasmeen yang selalu mampu menanggapi suasana canggung, dengan cepatnya ia melerai.


“Aku laper, mau nemenin aku makan di kantin ga?” Jasmeen mengedipkan matanya, mengisyaratkan sesuatu di baliknya.


Tara mengangguk antusias, bukan untuk menjawab pertanyaan itu, melainkan memahami maksud dari kedipan mata penuh misteri itu.


Beruntung, Fiona berdiri di samping Jasmeen, sehingga ia tidak melihat isyarat yang begitu tersembunyi itu.


“Gue banyak kerjaan, sorry ga bisa ikut,” ucap Fiona menolak penuh waspada. Ia mengira ajakan itu tertuju kepadanya.


Tara menghela napas dalamnya, mewakilian perasaan leganya di sana. “Oke, ga apa-apa.”


Rencana yang terungkap dari isyarat itu sesungguhnya untuk membicarakan tentang Alev, seandainya Fiona turut serta bersama mereka, maka bisa dipastikan jika perbincangan mereka akan terlerai.


Tiada suara kembali terdengar dari jawaban Fiona, Jasmeen merangkul tangan Tara, menyeret tubuhnya agar segera meninggalkan ruang itu.


Di tengah perjalanan mereka menuju kantin yang masih terdapat satu atap dengan bangunan itu, seorang pria terlihat bersandar pada pilar dengan pakaian serba tertutup telah mencuri perhatian mereka.


Suara samar dari langkah kaki Jasmeen serta Tara membuat sang pria melirik sejenak ke arahnya. Seolah menyadari sesuatu, setelah melihat dua wanita yang sedang menatapnya penuh kejanggalan, ia bergegas melangkahkan kakinya. Ia berjalan tertunduk, langkah kakinya memburu hingga terihat setengah berlari.


Wajah yang tertutup masker itu berhasil menyentuh kecurigaan Tara serta Jasmeen, sehingga mereka saling menatap setelah menghentikan langkahnya serentak.


Mereka tidak dapat menemukan hal lain dari wajah tertutup itu, hanya sepasang bola mata yang tampak asing saja. Kecurigaan hinggap di benak bahwa sosok pria itu menyimpan rahasia dibalik tindak-tanduknya.


Waktu tetap bergulir, beberapa menit sudah berlalu, mereka masih saling menatap. Namun, sebelah sudut bibir Tara terangkat keji, mendapat jawaban yang terbersit secara perlahan.


“Pasti mereka,” ucap Tara berakhir dengan anggukannya.


Jasmeen belum dapat menyimpukan makna dari kata yang terucap oleh Tara. Sehingga matanya menyoroti Tara dengan tatapan heran. Belum sempat bibirnya mengucapkan sepatah kata, Tara sudah kembali melangkahkan kakinya. Dengan terpaksa Jasmeen pun mengurungkan niatnya untuk bertanya.





Tbc

__ADS_1


__ADS_2