Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 165


__ADS_3

Harus bagaimana ia melerai langkah kaki itu selain bergegas melajukan kendaraan. Perlahan dan pasti, Jackson kian mendekati membuat Jasmeen bertingkah tidak karuan. Ia mencoba mengulang kembali menyalakan mesin kendaraan itu.


Lampu lalu lintas telah berubah warna menjadi hijau, seketika membuat langkah Jackson terhenti tanpa jeda. Ia mencari tau alasan suara-suara yang memekik telinga itu dengan pandangannya.


Suara nyaring dari klakson kendaraan yang berbaris rapi di sepanjang jalanan itu disambut Jackson dengan anggukan paham. Setelah mengetahui amarah yang di wakilkan pada suara itu, tak acuh Jackson mengabaikannya. Ia kembali melangkahkan kaki untuk segera mencari jawaban dari kejanggalan itu.


Kendala dari mesin kendaraan itu sirna seketika tatkala Jackson berdiri di samping kanan. Tiba-tiba saja mobil itu berguncang tanda menyala setelah beberapa kali usaha untuk menyalakan. Tanpa ragu Jasmeen segera menginjak pedal gas, meskipun beberapa kendaraan lain membuatnya kesulitan sehingga harus pandai menyalipnya.


Desir suara kendaraan berlalu-lalang menghiasi kebungkaman mulut dari dua insan yang berada di dalam kendaraan itu. Alev terpaku dalam renungan, meratapi keinginan yang belum tersampaikan. Batinnya bertanya-tanya, tidak kah ada kesempatan untuknya membuka jati diri pada sang ayah meski tanpa kesengajaan.


Tatapan kosong menatap ke luar kaca jendela dengan pangkuan dagu di tangan. Harapan beberapa saat lalu telah sirna tatkala takdir tak mengabulkan keinginan. Bayang dari impian selama ini seketika bertebaran bagaikan pecahan debu terkikis udara. Parasnya luruh menggambarkan perasaan rancu antara kesedihan dan kekecewaan.


Dari ujung pandangan matanya, Jasmeen bisa menerka cepat bagaimana perasaan Alev kini. Hingga tangan mulai membelai lembut puncak kepalanya dengan penuh kasih sayang.


“Al, maafin mami.” Jasmeen melenguh, memendam penyesalan atas tindakannya saat lalu. Hanya sesaat, belaian itu enyah dari atas tempurung otak Alev.


Bukan tanpa alasan ia melakukan itu, Jasmeen hanya ingin Jackson mengetahui keberadaan Alev dari pengakuan Tara sendiri. Selain itu, ia ingin menjaga amanat dari sahabatnya.


Rasa kecewa membungkam mulut Alev, sehingga tak ada sepatah katapun terucap untuk menyambut lontaran kalimat dari ibu angkatnya itu. Hanya lenguhan dalam embusan napas kasar yang terdengar oleh Jasmeen di sana.


Rasa sesal kian menggerogoti angan Jasmeen, seharusnya ia tidak mencegah pertemuan ayah dengan anaknya itu. Namun, semua telah terjadi, tiada bisa terulang kembali. Hanya saja, ia berpikir jika suatu saat nanti tragedi serupa kembali terulang, maka ia tidak akan mencegahnya sedikit pun.


Di tempat tadi telah tertinggal Jackson dengan segala kebingungan. Ia berdiri mematung meresapi sebuah lamunan yang bersumber dari tindak-tanduk Jasmeen. Meskipun keberadaan wanita itu telah hilang dari pandangan, akan tetapi kecurigaan justru hinggap di benaknya.


Seorang petugas lalu lintas kemudian menghampiri, lamunan akan kerancuan pikirannya seketika terhentak. Jackson lantas bergegas memasuki kendaraan mewah yang telah tergores bagian belakangnya itu, ia segera melaju menerobos padatnya lalu lintas tanpa ingin mengejar kepergian Jasmeen.


Rasa penasaran semakin membuncah tiada tandingannya, membuat ia mengurungkan niat awalnya. Jackson segera memutar kembali kendaraannya pada lajur balik menuju perusahaan mikiknya.


Jalan keluar untuk tindakannya terbesit dalam pikiran ketika ia mencapai setengah perjalanan. Ia pun meraih ponselnya, kemudian melakukan panggilan kepada asisstant-nya.


“Ya bos,” sahut Kelvin saat panggilan telah terhubung.


“Kirim orang buat buntutin cewenya si Max, terutama anak cowo yang jalan bareng dia hari ini,” sahut Jackson menyerukan titahnya dengan nada tegas.


Sebelum terdengar jawaban dari balik ponselnya, ia memutus panggilan tanpa berpamitan.


*******


Tara terkejut melihat keadaan ruang kebangsaan suaminya yang begitu berantakan. Lembaran kertas berserakan di atas lantai, serpihan-serpihan kaca yang berhamburan di sana menjadi pusat pandangan.

__ADS_1


Setelah puas menatap kekacauan di sekitar, ia mengedarkan pandangan dan berakhir pada seorang pria yang sedang menyibukkan diri dengan laptopnya.


Saat kedatangannya, Nicky mempertahankan posisinya yang duduk tertunduk menatap laptop di hadapannya. Ia tidak menyambut kedatangan Tara, sekalipun hanya dengan senyuman saja. Ia bimbang untuk menentukan jawaban jika saja Tara bertanya pada keadaan itu.


Seperti yang telah di duganya, Tara berjalan menghampirinya. Lekas, Nicky mendongkak menatap wanita yang sudah berdiri di sampingnya, memberikan senyuman sapaan di saat pasang mata itu menyorot telik wajah tampannya.


“Ada apa ini Nick?” tanya Tara penasaran, nada bicara yang begitu tegas itu menggambarkan emosi yang terpendam di dalam asmanya. Telunjuknya melenting ke arah sampingnya di mana sisa-sisa dari amukan suaminya berada di sana.


Sudut bibir Nicky terangkat jauh, menyiratkan senyuman olokan di baliknya. “Sebaiknya nyonya ga menemui suamimu dulu.”


Tara melenguh membalasnya, sudah dapat di pastikan jika Sammuel melampiaskan amarah pada benda-benda yang berhamburan di atas lantai itu.


“Di mana dia sekarang?” Seolah mengabaikan wejangan Nicky, Tara bertanya penuh ketegasan hati.


“Di ruang Dirut,” jawab Nicky.


Tanpa berpikir lebih jauh, Tara bergegas melangkahkan kaki menuju tempat yang di sebutkan Nicky. Ketika ia menggapai tujuannya, tatapan murka dari sang suami telah menyambutnya.


Sammuel beranjak dari sofa yang terletak di tengah ruang kebangsaan President Direktur itu. Langkah kakinya memburu, membawa amarah yang terpendam sejak beberapa jam yang lalu.


Plak! Tiada alasan yang terucap, setelah berdiri di hadapan Tara, Sammuel menampar pipi kiri istrinya.


“Jadi yang lo temuin di parkiran tadi, dia itu Alev?” tanya Sammuel dengan datar, tanpa acuh ia mengabaikan ratapan berbentuk air mata yang kian luruh semakin deras bak hujan di musim gersang.


Tara melenguh pasrah, sudah dapat di pastikan jika pertemuan itu akan tertankap mata seseorang. Keraguan menahan dirinya untuk memberikan penjelasan, Tara hanya mampu mengangguk memberikan jawaban.


Sammuel menyeringai keji, membalas pengakuan tanpa dosa itu. Kendati demikian, sebelah tangannya mengulur, mengusap air mata yang masih mengalir membasahi pipi melebam itu.


Sejenak tatapan terkunci pada pipi yang kini telah berubah warna karena ukiran tangan atas kemarahan sesaatnya. Sudah pasti tindakan itu tak hanya melukai bagian luarnya saja. Sammuel tahu betul hal tersebut tak sengaja telah melukai hatinya pula. Hingga rasa sesal kemudian muncul beriringan dengan rasa iba di dalamnya.


“Sejak kapan kalian saling mengenal?” tanya Sammuel berseru dengan nada lembutnya, seolah mewakilkan permintaan maafnya di sana. Namun, rupanya perubahan dari sikap itu menyentuh rasa haru dari Tara.


Tara terdiam membisu ketika tenggorokan berusaha menahan isak tangis, hanya tatapan duka terpancar menyoroti wajah yang telah melirih di hadapannya.


Bungkamnya mulut Tara, di sambut Sammuel dengan helaan napas frustasi. Tidak terduga olehnya, jika sang istri masih berusaha membungkam suaranya.


“Apa harus aku cari tau sendiri?” Sammuel geram, rahangnya mengerat setelah usai mengucap kalimat. Tatapan emosi menyebar membuat wanita di hadapannya menciut akan rasa takut untuk membalasnya.


“SIAPA ALEV ITU?!” Tak kuasa menahan amarah yang terpicu dari bungkamnya mulut sang istri, Sammuel melepas suara pekikannya.

__ADS_1


Tara tertegun kaku, batinnya meronta ingin mengatakan hal itu. Namun, bibirnya terasa kelu saat terlintas sebuah ingatan akan terjadinya sesuatu, jika saja ia mengatakan kisah sesungguhnya terhadap sang suami.


Samar-samar bayangan terbesit dalam ingatan, Tara tersenyum penuh kemenangan. Dapat diartikan jika Sammuel belum mengetahui siapa yang telah di temuinya saat lalu. Hanya saja, Sammuel mengira jika pria itu adalah kekasih gelapnya.


Lebih baik jika Sammuel mengira pria itu seingkuhannya, dari pada mengetahui jika ia adalah anak semata wayangnya. Pikiran buruk telah sirna kini, sehingga rasa takut seketika enyah darinya. Senyuman kemenangan pun tersirat untuk wajah yang telah memerah di hadapannya.


“Masih ga mau ngomong?” Sammuel kian geram, tangannya mengepal di samping tubuhnya. Sebisa mungkin ia menahan agar tidak kembali mendaratkan tamparan pada istrinya. “Gue anggap jawaban gue bener. Cowo itu Alev!” ucap Sammuel sebagai keputusan.


“Dia yang bareng si Jasmeen ke sini hari ini kan?” Di balik pintu ruang yang terbuka setengahnya itu, suara Jackson berseru nyaring.


Sejak saat Sammuel menampar istrinya, ia telah menguping perbincangan mereka di balik pintu itu. Kini, ia menampakkan diri di hadapan sepasang insan itu karena rasa penasaran telah menjadi pemicunya. Sontak membuat pandangan kedua insan itu berpaling ke arahnya.


Tara gundah, seribu pertanyaan terpendam di dalam angan. Getaran samar dari tubuhnya tidak dapat di sembunyikan, saat tasa takut akan terbongkarnya jati diri Alev terbesit dalam ingatan.


“Jack, kamu lihat mereka atau cuma dengar dari orang aja?” tanya Tara memastikan.


“Aku lihat anak itu!” ucap Jackson berseru teguh, meski batin bertolak dengan ucapannya. Ia belum dapat memastikan wajah anak remaja yang terlihat olehnya saat lalu itu.


Jackson melangkah kian mengikis jarak dengan Tara, sepasang matanya memicing untuk mencari jawaban atas kejanggalan pada wajah wanita yang kini menatapnya dengan keterkejutan.


“Lihat muka yang mirip banget sama aku,” imbuh Jackson hanya sekedar untuk memancing. Kepuasan hati menggiring senyum menawannya ketika melihat kelopak mata Tara yang membelalak di sana.


Kejutan menghujam angan Tara, ia sudah tidak dapat menepis kecurigaan dua pria yang berada di sekitarnya. Lantas, ia menatap bergantian wajah-wajah penasaran itu.


Picingan mata yang begitu tajam menyorot wajah gelisahnya, merenggut batas keteguhan sang hati. Sehingga ia berpasrah diri untuk segera mengatakan kejujuran yang lama terpendam itu.


Lenguhan begitu tajam, tersembunyi di balik wajah yang tertunduk kaku. Debaran jantung tak beraturan menyambutnya saat melihat kedua pasang kaki melangkah maju kian mendekat.


Akhirnya, Tara memberanikan diri mengangkat wajah seraya memberikan senyuman duka sebelum mengucap kalimatnya.


“Dia anak–“





Tbc

__ADS_1


__ADS_2