
Udara lembab menyeruak mengisi kehampaan ruang khusus pengacara yang terletak di lantai sepuluh. Suasana tak nampak seperti biasanya, hawa canggung menenelusup benak sepasang insan yang berada di dalam ruang. Situasi hening menjelma sejak saat mereka menginjakkan kaki di sana. Sudah tiga hari Triana tak datang untuk bekerja, sehingga hanya tersisa Hanson dengan Fiona saja di sana.
Letak meja kerja saling bersebrangan, mempermudah Fiona mencuri pandang ke arah pria yang duduk tertunduk di atas kursi kebangsaannya. Sepasang mata mencari celah untuk mencuri pandang diam-diam, melepas rasa rindu akan kisah masa lalu dengan hanya menatapnya saja.
Fiona memendam keinginan, tatkala menyadari jika pria yang masih menjadi tambatan hati kini telah memiliki pendamping resmi. Senyuman duka tersirat di balik wajah cantiknya, menyembunyikan ratapan hati yang tidak dapat terobati.
Serpihan luka menggores jiwa, membayang keinginan yang tak akan dapat diraihnya. Kini, cukup hanya dengan melihat wajah itu setiap hari, untuk meredakan rasa rindu yang sudah tidak tertahankan.
Hanson menjeda pekerjaannya, berpuas diri menatap rona wajah yang terlihatnya begitu menggemaskan. Tatapan kian melekat, ketika wajah itu tertunduk menyembunyikan rasa malu.
"Puas-puasin lihat, ga bayar ini, kok." Hanson gemas dibuatnya, sehingga batin tersentuh untuk mengoloknya.
Decakan keras terlontar dari Fiona, menyertai delikan tajam untuk membalas cibiran itu. Tidak di pungkiri, hati menginginkan ucapan itu terjadi.
"Suka 'kan?" ujar Hanson kian menggoda, berbalas kepergian dari sang empunya.
Fiona beranjak tanpa kata pamit, menanggapi ucapan yang telah berhasil membuat jantung bertalu-talu tanpa irama.
Begitu pula dengan Hanson, ia beranjak dari atas kursi penumpu tubuhnya. Langkah kaki kemudian membawa diri menepi di hadapan meja kerja Fiona. Sejak saat wanita itu berpusat pada satu lembar kertas, rasa penasaran menggugah jiwa. Sehingga di saat mendapat kesempatan, ia meraih benda itu yang sudah tergeletak di atas meja.
Seringai gemas terukir di balik wajah, mata menilik barisan kalimat di atas kertas yang menyatakan tentang tuduhan palsu terhadapnya.
"Jadi ini yang di selidikinya," ucapnya terabaikan, ketika tiada satu pun insan yang berada di sekitar.
Bayangan manis menghujam rasa, berbuah niat akan membiarkannya berseru di dalam batin. Hanson tidak akan mencegah ataupun membantu, ia ingin mengetahui sampai dimanakah kemampuan wanita itu menyelesaikan tugasnya.
Renungan tercabik begitu saja, di saat Fiona datang tiba-tiba merebut kertas itu dari genggaman.
"Ngapain lo lihat-lihat gawean gue?" ungkap Fiona berseru tegas, menyembunyikan kejutan di dalam angan.
Sudah dapat dipastikan, jika Hanson mengetahui penyidikan yang tengah di lakukannya. Kerancuan menyerbu angan, apabila Hanson mempertanyakan apa yang telah terjadi. Namun, rasa lega menggantikan, di saat pesona wajah dalam senyuman tersirat untuk dirinya.
Sesungguhnya, senyum menawan itu hanya untuk menutupi kepedihan. Barisan kalimat terlontar menembus angan, menghujam bagai ribuan panah menyakitkan batin. Mungkin karena wanita ini pernah dibencinya.
Hanson merindukan kelembutan dari sikap wanita itu, seperti dahulu kala, ketika mereka masih menjalin ikatan hati. Menyesal sudah ia kini, di saat sang hati bersiap menyambutnya, perasaan dari wanita itu telah sirna seluruhnya.
Tidak di ketahuinya, bahwa Fiona berlaku demikian hanya demi menjaga ikatan persahabat dengan Triana. Jika saja Hanson lebih memilih wanita lain, maka ia tidak akan kesulitan seperti sekarang ini.
“Gue tanya, ngapain lo lihat-lihat gawean gue?” Fiona mengulang ucapan, di kala mulut Hanson terbungkam dengan rapat.
“Biasa juga gitu kan, gue harus pantau gawean lo?”
“Iya sih, tapi ada yang ga bisa lo lihat,” ucap Fiona menimpali dengan pasti, berharap Hanson memberikan sedikit pengertian tanpa harus menjabarkan alasan.
Hanson hanya tersenyum menanggapinya, rasa kagum tercurah pada tatapan menuju punggung wanita yang telah melangkahkan kakinya. Pandangan tak kunjung berakhir, hingga Fiona duduk di atas kursi di balik meja kerjanya.
Tidak ingin membuang kesempatan, Hanson beranjak hingga menghadap Fiona. Rasa janggal dirasa Fiona dari sikap tersebut, sehingga menimbulkan tatapan tajam sebagai bentuk ungkapan.
Lenguhan sesal menyembur dari mulut Hanson, membuat batin Fiona meronta ingin mempertanyakan penyebabnya. Akan tetapi, ia memendam dengan sengaja, agar pria yang kini menyandarkan tubuhnya pada meja di hadapannya tidak mengetahui jika rasa sayang masih tersisa untuknya.
__ADS_1
“Gue udah tau itu, kasus tuduhan palsu buat gue ‘kan?” seru Hanson mengutarakan kejujuran dengan lirihan, akan tetapi berbalas tatapan kejut dari lawan bicaranya.
“L–lo tau dari mana?”
“Dari tingkah tunangan gue sejak kemarin,” jawab Hanson tanpa dosa, melontarkan senyum penggoda yang selalu berhasil membuat Fiona terpesona.
Demikian adanya, Fiona terpaku pada pusat pandangan. Menatap senyum itu dengan penuh rasa kekaguman, membuat bilah bibirnya saling melekat rapat tanpa ingin terbuka sedikit pun.
“Lo kalau lihat pasti puas,” imbuh Hanson berseru tegas, akan tetapi kalimat berakhir dengan tawa kecil.
Jantung Fiona berdetak tanpa aturan, menanggapi ucap kejutan untuk kesekian kalinya. Teringat akan ucapan Tara saat lalu, bahwa pembalasan dendam telah dilakukan demi dirinya.
“Bu–bukan gue kok yang ngerencanain itu, sumpah itu bukan ide gue!” Fiona menyerukan kesungguhan, disambut senyum penghibur di sana.
“Mau ide siapa pun gue pasti terima?” balas Hanson penuh kelembutan, dikala sang hati berlapang menerima kesalahan diri.
Fiona kembali membisu, hanya dengusan rancu yang didengar Hanson sebagai jawaban. Sesungguhnya, ia meresapi nada lembut itu, untuk kali pertama ia mendapat ungkapan manja dari pria itu, membuat jiwa menghangat seketika.
Rasa haru menelusup batin, menanggapi perubahan sikap dari seseorang yang sangat ia cintai. Namun, seketika rasa itu sirna mengingat sang pria telah menjadi milik orang lain.
“Sorry Fi, dulu gue udah jahatin lo.” Penyesalan menjelma, menyerukan dengan nada bicara lirihan. Wajah Hanson tertunduk, meresapi kesalahan diri yang tak dapat di hindari.
Fiona mendongkak, mengunci tatapan pada wajah pria yang masih berdiri di hadapannya. Rasa kagum kian menggelegar di dalam jiwa, menanggapi sikap sadar diri dari sejatinya sifat pria.
“Udah telat kali ah.” Fiona menghibur diri, tak ayal menghibur wajah yang meratap di sana. Lengkungan bibir menyertai di akhir kalimat, menggugah batin Hanson hingga menatapnya lekat-lekat.
“Daripada engga sama sekali,” sahut Hanson membalas senda gurau penghibur itu. Senyum manis di balaskan dengan sorotan tatapan wibawanya. “Mulai besok, lo mau ga temenin gue makan siang?”
Kegiatan itu yang selalu dinantinya sejak dulu, akan tetapi terkabulkan di saat yang tidak tepat. Risau menjemput diri, menggiring dilema tanpa akan mendapat jawaban pasti. Tiada pilihan tanpa buah beban, sehingga ia memantapkan hati untuk menolak dengan kerasnya.
“Ga akan bisa ngamuk, dia ga ada di sini,” ungkap Hanson berseru sebagai penjelasan.
Seringai manis terukir di balik wajah Fiona, mendapat jawaban untuk menggapai kesempatan. Demi mendapat kepuasan hati, ia berniat untuk menyetujui ajakan itu. Urusan sahabatnya ia kesampingkan terlebih dahulu, sebelum kesempatan penggapaian keinginan terhempas kembali.
“Ke mana dia?” tanya Fiona seolah khawatir, nyatanya ia hanya ingin memastikan keadaan aman.
“Ke luar negri sama si Sam.”
Fiona menggangguk sebagai balasan mengerti, seringai kemenangan tertuju untuk arti yang lain. Yakni, keamanan penuh akan didapatkan.
“Kalau pun dia ga ke luar negri, dia ga akan ngamuk juga. Toh, dia ga cinta sama gue,” imbuh Hanson berbalas senyum kemenangan di sana.
Fiona kembali membungkam diri, ia sudah tidak mampu mengendalikan hasrat hati. Rasa kagum kian menggugah angan, menyerukan keinginan untuk kembali meraih hati pria itu. Tidak terpikirkan sedikit pun dengan status sang pria, yang ia ketahui jika kesempatan untuknya kembali telah datang menghampiri, maka niscaya ia tidak akan menyia-nyiakannya.
“Gue dapet karma dari lo, Fi.” Hanson menggelengkan kepala, tawa cibiran terhadap diri sendiri terlontar di akhir kalimat.
Sedikit pun tidak pernah terpikirkan, jika ia telah merenggut kebahagiaan wanita yang begitu tulus mencintainya. Sehingga, ia berpasrah diri, menerima hukuman.
“Mungkin,” sahut Fiona mengolok lembut.
__ADS_1
Sesungguhnya, ia tidak pernah tega untuk melakukan pembalasan. Namun, ia bersyukur jika itu terjadi tanpa di sengaja.
Suasana romansa yang tercipta tanpa sengaja itu tercabik dengan suara pintu terbuka. Serempak membuat sepasang insan itu menatap ke arah pintu.
Tara menyapa dengan senyuman, sebelum langkah kakinya tiba di hadapan mereka.
“Kenapa Ra?” tanya Fiona.
“Bener lo pengen gue yang atur acara pernikahan lo, Fi?” sahut Tara dengan polosnya berucap, tanpa mengetahui seseorang memendam rasa cemburu di sana.
“Bukan gue, tapi si Jack.” Fiona menyahut tak kalah datarnya.
Kali ini, rasa cemburu itu bergejolak di saat kalimat itu terucap dari mulut wanita yang menjadi incaran hatinya. Hanson menyadari, kepergian calon istrinya dengan pria sadis selama beberapa hari ke depan itu akan membuahkan kepunahan status hubungannya. Sehingga tanpa ragu, pintu hati terbuka untuk wanita yang lainnya.
“Aihhhh ... tadi si Jack bilang lo yang minta, gimana sih kalian, ga kompak banget,” sahut Tara kian mencibir. Tepukan ringan pada pundak Fiona berhasil mendarat tanpa kesulitan, ketika ia telah berdiri di sampingnya.
Kali ini, senyum kemenangan terlukis di balik wajah pria yang masih berdiri di sana. Fiona tidak ingin melepas kesempatan, ia menatap senyum itu tanpa ingin berpaling sedikit pun. Namun, keadaan memaksa pusat pandangan terpecah begitu saja, di saat terpikirkan jika perbincangannya kali ini telah menggugah rasa cemburu seseorang.
“Lo tanyain sama si Jack aja kalau gitu.” Fiona memberi keputusan, bermaksud mengusir perbincangan dengan hanya isyarat saja.
“Oke deh,” sahut Tara.
“Kamu ga sibuk apa, sampai terima kerjaan gitu?” Hanson membuka suara, membuat Fiona melenguh di sana.
Bersusah payah ia menghentikan bahasan itu, akan tetapi Hanson tak acuh menyambutnya.
“Lumayan sih ... tapi ga apa-apa, aku yang mau, kok.” Tara menyeringai gemas di akhir kalimatnya.
Terbesit bayangan silam, di saat belum memiliki ikatan resmi dengan Sammuel, tak henti ia meminta bantuan kepada Jackson agar mendukung keinginan untuk membangun sebuah agensi kepengurusan itu. Namun, belum sempat terkabulkan, Sammuel telah mengambil alih dirinya. Terpaksa, keinginan itu terkubur tanpa ingin menggalinya kembali.
“Ya udah lah kalau gitu, aku ke ruang bapak Presdir dulu.” Tara melambaikan tangan, mempertegas ucapan pamitnya. Setelah mendapat anggukan dari sang pemilik ruang, ia bergegas melangkahkan kakinya.
Pintu ruang tertutup kembali, Tara telah hilang di hadapan mereka. Hanson menghela napas rancu, membubuhkan kepedihan di baliknya. Ratapan terukir di balik wajah, dalam tatapan menyorot wajah jelita yang tak kalah melirihnya.
Pembahasan yang di bawa Tara saat lalu, mengundang rasa pilu bagi sepasang insan itu. Tiada yang bisa dilakukan untuk mencegah nasib yang sudah terlanjur di sepakati, Hanson terpaksa menyerah, menutup pintu hatinya kembali.
“Semoga bahagia.” Usai mengucap kalimat singkat, Hanson beranjak keluar ruangan, meninggalkan Fiona dalam kegalauan.
Dua kata yang terucap, beribu makna di sibak Fiona. Wajah lirihan yang terlihat terakhir kali, sebelum pria itu mengangkat kaki, diartikan olehnya jika sang pria memendam rasa kecewa dari ungkapan yang di sebutkannya.
Kepercayaan diri hinggap di dalam sanubari, mengetahui jika pria itu telah membuka hati. Lantas, dilema memacu keraguan. Harus bagaimanakah ia menanggapi, menyambut ataukah mengabaikannya?
Fiona mendongkak, mengucap permintaan di dalam benak, seolah berseru terhadap langit-langit bangunan. Nyatanya, ia mengharap kepada yang Esa, agar keinginan yang akan terkabulkan ini tidak di renggut-Nya kembali.
Lantas, ia mencari ketenangan dengan keputusan bulat, untuk menyambut segala yang terjadi, jika saja author menghendaki.
•
•
__ADS_1
•
Tbc