Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 77


__ADS_3

Bulan memudar dalam cahaya pantulannya, awan kelam menyelimuti langit pagi itu. Meski di hari sabtu sebelumnya Tara akan mendapat jadwal yang padat untuk selalu memanjakan seseorang, jika bukan mertuanya maka kedua adiknya lah yang mendapat waktu pertemuan dengannya pada hari itu.


Namun untuk hari sabtu pada minggu ke 12 dari kepergian suaminya ini, rupanya kerinduan tengah menghantui setiap jengkal waktunya hingga membuatnya enggan untuk melakukan kegiatan seperti biasanya.


Beruntung sang mertua kini tidak mengajaknya menjelajah pusat perbelanjaan hingga ia dapat dengan leluasa meresapi kerinduannya di atas tempat tidurnya.


Gelisah kian menjalar pada setiap urat nadinya lantaran tidak kunjung mampu menepis rasa rindunya dalam kekhawatiran yang lebih menonjol menampakkan dirinya dari dalam asanya.


Hingga gagasan di dapatinya, ia segera menekan layar alat media yang sejak ia teebangun dsri tidurnya berada pada genggaman tangannya, menyiratkan sebuah tulisan pesan kepada seseorang nun jauh di sana.


"Sibuk?" Satu kata tulisan dari Tara ini mampu membuat sang penerima pesan tersenyum riang di sebrang sana.


"Engga, kenapa?" Balasnya secepat cahaya.


Tara menekan tombol pada layar alat media itu untuk melakukan panggilan bergambar pada seseorang yang di yakininya mampu mengobati rasa rindunya. Begitu cepat panggilannya terjawab hingga menampakkan wajah Devand dari balik layar alat media itu.


Itulah gagasannya, agar dapat melihat wajah serta mendengar suara suaminya, ia melampiaskan kerinduannya kepada Devand yang memiliki suara serta wajah yang serupa dengan suaminya.


"Tumben kamu video call?" Sapa Devand dinsertai senyuman riangnya membuat Tara membisu memikirkan alasan yang tepat agar tidak menimbulkan kesalahfaham bagi sang pria.


“Cuma pengen tau aja perkembangan kamu di sana kaya gimana." Kilahnya mendapat alasannya tanpa pelantara membuat Devand menyiratkan tawa kecilnya menyertai ketidak percayaan atas ucapan itu.


Tidak sebiasanya wanita incaran hatinya mempertanyakan keadaan dirinya hingga ia menerka jika sang wanita telah menyambut hatinya. "Cewe aku aja bukan, ngapain peduli?"


"Jangan mancing Devand." Jengah Tara ragu-ragu. Bagaimana bisa saat kerancuan melanda angannya, pria itu dengan mudahnya kian menyulut rasa perih di hatinya.

__ADS_1


"Aku ga mancing!" Ucap Devand tegas, namun wajahnya terlihat kikuk oleh lawan bicaranya. "Aku juga kangen kamu."


"Kamu pikir aku kangen kamu apa?" Kian jengah hingga Tara ingin mengakhiri panggilannya sesegera mungkin. Sebisa mungkin ia mencegah agar hatinya tidak berpaling pada adik iparnya meski memiliki wajah yanh begitu persis dengan suaminya.


Namun,


Pemandangan dari layar phone cell nya yang menampakkan seseorang di belakang lawan bicaranya membuatnya terkejut hingga nengurungkan niatnya untuk mengakhiri panggilannitu. "Triana?! Kenapa bisa di sana?"


Di sebrang sana, Triana mendengar namanya terpanggil hingga ia menampakkan dirinya pada balik layar alat media itu. "Tara!" Sang Bendapun beralih padanya.


"Tri kenapa bisa lo di sana?"


"Cowo itu ngirim nyokap gue ke sini jadi gue nemenin di sini." Terlihat Tara dari balik layar selullernya jika Triana menyiratkan senyum lebarnya.


"Tapi kenapa bisa bareng si Devand?" Heran Tara seraya merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya, melega sejenak dengan kehadiran sahabatnya yang telah melerai situasi canggungnya sesaat lalu.


"Ikut pertukaran pelajar juga dia?"


"Ya gitu lah."


"Syukurlah kalo gitu berarti si Devand ada temen di sana." Ungkap Tara menyiratkan senyum leganya membuat seorang pria di sebrang sana menyambut senyumannya dengan batinnya yang gembira.


Rekaman dari balik layar alat media Tara bergoyang lantaran di sebrang sana Devand merebut paksa benda itu kembali pada genggamannya. "Mom kamu beneran ga kangen aku?"


"Narsis amat, aku cuma mau tau aja keadaan kamu kaya gimana." Tebasnya di sambut tawa kecil oleh lawan bicaranya jika alasan itu begitu terasa aneh.

__ADS_1


"Sama aja kali." Devand mengedipkan genit matanya berusaha menggoda wanita yang sudah menampakkan wajah emosinya di balik layar selullernya.


"Vand, tugasnya udah beres tinggal lo chek." Suara Gea dari arah belakang Devand yang terdengar Tara dari balik alat medianya membuat Tara ingin mengakhiri panggilannya.


"Kamu beresin dulu tugas kamu aja gih." Usir Tara tegas.


"Yakin udah ga kangen lagi?"


"Devand!” Sontak Tara terperangah kala mendengar ucapan itu yang begitu mirip dengan apa yang selalu di lontarkan suaminya. “Kamu kalau gini terus nanti-nanti aku males deh nanyain kabar kamu lagi."


"Nah lho, kamu yang nganggap serius."


Tara jengah dengan jantungnya yang sudah berdenyut riang di dalam sana hingga memutuskan panggilannya secara sepihak.


Seusainya, Tara kembali merenung, pasalnya kerinduan itu tidak mampu terlerai meski ia tengah mendapat penggantinya beberapa saat lalu.


Hingga akhirnya ia meraih bingkai foto suaminya yang di dapatinya dari kediaman mertuanya beberapa bulan lalu. Di dekapnya bingkai itu dalam pelukannya, mencurahkan rasa rindunya hanya pada sebuah kertas bergambar yang di dekap erat oleh kedua tangannya.


Rasa rindu kian menjalar merangkak hingga menyentuh ubun-ubunnya membuat air payau tak lantas mengiringi rasa rindunya.


Lelah mata yang berasal dari deraian air matanya, mwmbuat mata indah itu sulit terbuka hingga ia terlelap menuju alam mimpinya tanpa berpamit pada raganya.



__ADS_1



Tbc


__ADS_2