Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 156


__ADS_3

Di tengah hari yang terasa gersang, mentari memancarkan sinarnya menyengat menembus ruang kendaraan mewah roda empat berwarna abu milik seorang pengacara bernama Hanson Mike Charington.


Roda kendaraan berputar pada batas rata-ratanya, menerobos padatnya lalu lintas di siang itu, membawa tubuh seorang wanita yang menjadi pengemudinya untuk menggapai tujuannya. Bukan Hanson yang menjadi pengemudi, melainkan Triana yang telah meminjam benda itu.


Dua jam yang lalu, Triana mendapat panggilan dari sang ayah agar dirinya menemui sang ayah di rumahnya. Kini kendaraan yang di kendalikannya telah mendarat di halaman luas kediaman ayahnya.


Setelah menghempaskan tubuhnya dari dalam kendaraan itu, Triana memburu langkahnya untuk segera menemui pria paruh baya di tempat yang sudah di janjikannya saat berbincang melalui alat panggilan jarak jauh sesaat lalu.


Triana tergelak emosi kala membuka pintu ruang yang selalu menjadi tempat sang ayah melakukan pekerjaannya, ia melihat sosok yang telah di hindarinya selama beberapa tahun ke belakang itu telah duduk di atas sebuah kursi yang terletak di balik meja kerja.


Tanpa ada sambutan salam sebagai sapaan dari sang pemilik tempat, Triana melanjutkan langkah kakinya hingga berdiri di hadapan sang pemilik ruang meski terhalang meja di sana.


"Tumben nyari aku, ada apa?" ucap Triana sebagai sapaan dengan nada ketusnya membuat pria di hadapannya tersenyum penuh arti.


"Duduk dulu jangan terburu-buru." Lembutnya nada bicara itu membuat Triana teringat masa kecilnya di mana ia mendapat kasih sayang tiada terkira dari sang pemilik suara.


"Sorry pap, aku sekarang kerja jadi ga bisa buang waktu." Triana mulai kehilangan kendali diri saat ia kebingungan dengan apa yang harus di lakukannya terhadap ayahnya.


Jika saja sang ayah memperlakukannya dengan baik, maka rasa kasih yang kini telah menembus angannya akan dengan mudah tercurah. Namun kala ia mengingat kepedihan yang berasal dari sikap ayahnya terhadap dirinya, rasa itu perlahan mengikis hingga hilang separuhnya.


Edwin berusaha menyenggal gerakan kaku yang terpampang jelas di hadapannya, sengaja ia menyeruput teh dengan gaya santainya untuk menghindarkan padangan mata pada wajah yang tertunduk di hadapannya. "Maafkan ayahmu ini sudah melupakan jika anakku ini sudah menjadi bagian keluarga Charington."


"Jangan basa-basi lah, sebenarnya apa yang mau papa omongin?" Triana mulai melipat tangannya di dadanya menyembunyikan lirihan batinnya di sana agar terlihat tegas oleh sang ayah.


"Baiklah," ucap Edwin menyambut keinginan anaknya. Ia meraih lembaran kertas bergambar yang sudah tersusun rapih di atas meja itu, kemudian melempar lembut ke hadapan anaknya.


Tanpa kata terucap dari mulutnya, Triana meraih benda itu hingga ia melupakan untuk duduk terlebih dahulu, di cermatinya gambar yang terdapat di balik kertas itu.


Baru saja ia melihat gambar yang pertama, ia sudah mendapat sebuah kejutan di mana sosok Hanson berada di balik kertas itu. Terlihat olehnya bahwa sang kekasih tengah membeli suatu obat dari apotek rumah sakit. Triana merasa janggal dengan itu hingga ia tidak dapat menerka maksud yang tersirat di baliknya.


Untuk selanjutnya, kembali ia terheran-heran kala melihat gambar kedua di mana Hanson menyuntikkan sesuatu pada infusan ibunya. Untuk mendapat sebuah jawaban dari rasa penasarannya, ia melanjutkan melihat kertas bergambar itu untuk ketiga kalinya.


Kali ini menampakkan sosok seorang bodyguard bernama Rian dengan sang dokter. Dan yang terakhir bahwa Hanson tengah berbincang dengan seorang bodyguard yang bernama Rian itu.

__ADS_1


"Apa ini maksudnya?" Tidak mampu menangkap maksud dari semua itu, Triana mempertanyakannya dengan nada jengahnya di sertai gerakan tubuhnya yang mengacungkan benda-benda itu ke hadapan ayahnya.


"Tunggulah, masih ada bukti lain, rekaman kegiatan dia." Edwin sudah dapat menerka jika sang anak tidak akan mampu menyibak makna dari apa yang telah di perlihatkannya hingga ia mempersiapkan bukti yang lain.


Edwin merogoh laci meja kerja itu, setelah mendapat apa yang ia cari, ia menyerahkan benda kecil itu kepada anaknya.


"Jelaskan!" sambut Triana penuh ketegasan diri. Tangannya mengepal di samping tubuhnya tanpa meraih benda yang telah di sodorkan sang ayah.


"Dia membeli Potassium di rumah sakit itu, pembelian secara rahasia. Tapi ayahmu ini dapat mengetahuinya." Lembut nada itu kian menyulut emosi Triana yang di rasanya ucapan itu untuk sindiran semata.


Triana menyangkal keras penyataan sang ayah kala mengingat jika sang kekasih tidak akan melakukan hal keji seperti apa yang di katakan pria yang kini kian di bencinya.


"Lanjut, foto berikutnya?"


"Kamu lihat sendiri kekasihmu itu menyuntikkan sesuatu pada infusan ibumu? Tepat setelah dia membeli obat itu. Di kertas sana kamu bisa lihat waktu pembelian obatnya, dan juga izin untuk mendapatkan obat itu." Telunjuk Edwin mengacung tegas, menunjuk selembar kertas yang kini berada dalam genggaman Triana.


Hawa nafsu akan amarah Triana kian menggelegar tanpa arah hingga membuat akal sehatnya sirna sepenuhnya. Batinnya menggerutu untuk menyangkal keras perbuatan kekasihnya, namun seluruh bukti yang telah terlihat kedua matanya tidak mampu meredam rasa percaya jika itu telah terjadi.


"Soal bodyguard ga ada hubungannya kan?" tanya Triana berbalas gelengan lembut dari lawan bicaranya.


Sejenak Triana memutar ingatannya tentang kematian sang dokter yang di ungkap Hanson beberapa hari lalu, namun sayangnya emosinya membuatnya melupakan bahwa Hanson sendiri tengah menyelidikinya.


Seharusnya ia mendapat sebuah jawaban jika pikirannya menjadi jernih. Jika saja hanson sang pelaku, maka tidak akan ia menyelidiki perkara itu.


"Ga mungkin kan?" Triana tidak percaya hingga menggelengkan kepalanya untuk mempertegas penolakannya.


"Apa bukti-bukti itu kurang cukup?" Pasang mata Edwin mememicing, sudut bibirnya terangkat pekat menyiratkan senyum liciknya. "Triana.. kamu sudah jadi asisstant Jaksa, kamu bisa menyelidikinya sendiri."


Triana sudah tidak mampu menimpali ucapan sang ayah, ia meraih seluruh barang bukti yang tertera di sana, kemudian ia melangkahkan kakinya tergesa-gesa meninggalkan ayah kandungnya tanpa berpamitan terlebih dahulu.


Tiada tujuan lain yang menjadi arahannya selain kediaman sang tunangan yang kini tengah menjadi target kecurigaannya.


Sesampainya ia di dalam kediaman mewah sang tunangan, ia meringkuk menumpu kepalanya dengan lututnya di atas kasur yang terdapat di ruang tidur khusus untuknya.

__ADS_1


Ia menangis tersedu-sedu, tidak ingin menerima kenyataan yang baru saja di ketahuinya. Sejenak terpikirkan olehnya untuk mecurahkan isi hati kepada sahabat tercintanya. Ia pun meraih alat panggilan jarak jauh untuk memanggil sang sahabat melalui alat itu.


"Ra bisa ketemu ga?" Tanpa basa-basi, Triana mengungkap tujuannya saat panggilan telah terhubung.


Suara parau akibat meluapkan isak tangis histeris itu, membuat telinganya mendengar dengusan keras di balik alat medianya.


"Lo kenapa Ra?" tanya Tara penuh rasa cemas.


"Gue ga bisa, cerita di telpon, makanya kita harus ketemu."


"Ya udah mau ketemu di mana?"


"Gue juga ga tau, pengennya di tempat aman."


Suasana menjadi hening kala Tara memikirkan suatu tempat yang di inginkan sahabatnya, sedang Triana terdiam selama menunggu ucapan untuk jawaban dari sahabatnya.


"Ke apartement Laseason aja mau ga?" ucap Tara penuh keraguan yang terdengar Triana seperti bujukan.


Triana yang masih menggundam kepiluan tidak mampu memikirkan hal lain selain keamanan untuk pertemuannya nanti. Seandainya pikirannya tidak terpuruk seperti sekarang ini, maka ia akan mengingat kenangan dari tempat yang di sebutkan sahabatnya.


Tempat itu, tempat di mana ia terseret kehidupan kelam bersama seorang pria dua belas tahun silam. Saat dirinya menginjak usia dewasa, untuk pertama kalinya mengetahui kekejaman ayahnya.


"Jemput gue di rumah si Hans bisa ga?" Semangat Triana bergejolak saat mendapat jalan keluar yang begitu sempurna dari sang sahabat hingga ia menyetujuinya tanpa berpikir lebih.


"Oke bisa sepulang gue ngampus, tapi gue ga mau liat muka lo sembab, tar orang nyangka gue mukulin lo lagi," balas Tara mencoba menghibur wanita manja yang telah menjadi tangguh itu.


Triana hanya tertawa kecil menyikapinya kala ia mengakhiri perbincangannya.




__ADS_1


Tbc


__ADS_2