
Letusan kekecewaan menyembur di dalam batin, ada perasaan iri tertanam di baliknya. Ingin sekali Tara mengakhiri tatapan pada rancangan pernikahan yang tertulis di balik kertas dalam genggamannya, akan tetapi terpaksa ia melanjutkan ketika harus meninjau kembali ulasan yang telah ia tulis di balik kertas itu.
Tugas ini begitu melelahkan hati, ketika diri tidak pernah mengalami. Namun, demi memenuhi keinginan ayah si buah hati, ia memaksakan diri untuk menyanggupi.
Di balik meja kerja, ia berdiri menyandarkan tubuh. Seolah mencermati barisan kata di atas kertas tak bergaris itu, tatapan tajam tersorot ke sana. Pada kenyataannya, kekosongan menyertai bayangan. Pikiran menelusup ilusi, membayangkan jika ia yang menjadi pengantin pada saat itu.
Lamunan buyar ketika pintu ruang terbuka tanpa ada suara ketukan sebelumnya. Lantas, tubuh memutar, menghadap Jackson yang masih melangkah menghampiri.
"Jack." Tara menyapa disertai senyum paksaan, di sambut tatapan heran dari pria yang sudah menarik kursi hingga menaruh di sampingnya.
"Serius amat. Lagi mempelajari tender premium, bukan?" tanya Jackson hanya untuk sekedar berbasa-basi. Sesungguhnya, ia datang menghadap lantaran rindu menjadi pemicu.
Tidak cukup puas baginya melepas kebahagiaan bersama bocah remaja itu kemarin hari, ia kembali meraih puing-puing keceriaan dari ibu si bocah berwajah serupa dengannya itu. Sekaligus, ia berusaha mencari celah untuk segera mengungkap rahasia.
"Bukan, aku lagi urus rancangan pernikahan kamu." Sambutan Tara berikan, di kala tubuh tertumpu di atas kursi yang tersedia.
Jawaban itu berhasil mendongkrak kerancuan Jackson. Ia melupakan jika diri akan mengikat hubungan dengan wanita yang tidak diinginkan sang hati. Lantas, ia kebingungan mengingat telah mengikrar janji pada bocah itu untuk segera membawa berkumpul dengan ibunya.
Situasi mengenaskan tercabik oleh getaran ponsel milik Jackson, segera ia menjawab panggilan setelah melihat siapa yang tengah menghubunginya.
"Ya, Sam?"
Batin Tara terhujam kepedihan saat mendengar nama yang diucapkan Jackson. Sudah tiga hari ia kehilangan komunikasi dengan sang suami. Ia mengira jika suaminya tidak berada di dalam negeri tercinta, maka panggilan dengan alat jarak jauh itu tidak akan bisa di lakukan. Tapi kini, perbincangan yang hanya terdengar dari sebelah pihak itu, memberikan sebuah jawaban. Yakni, ia menganggap Sammuel tidak ingin mendapat gangguan darinya.
Pedih ....
Mengingat perlakuan suami terhadapnya terkesan begitu menyakitkan hati. Tiada mampu menahan, wajah hanya tertunduk untuk sekedar menyembunyikan. Batin kian terkoyak luka, mendengar perbincangan yang sengaja memakai pengeras suara di sana.
Jackson sengaja melakukan itu, berharap suara lawan bicaranya mampu mengobati kerinduan pada wanita di sampingnya. Namun, gelagat kaku menusuk penglihatan, dahi Jackson mengernyit mewakilkan kejanggalan. Baris pertanyaan terungkap di dalam batin menyikapi tubuh membatu di sana. Melihat keadaan begitu memilukan, ia mengakhiri panggilan tanpa memberi alasan pada lawan bicara.
"Art." Jackson menghentak lamunan tepat ketika ponselnya diletakkan di atas meja. Ia berharap mendapat balasan sebuah senyuman mengembang dari bibir lawan bicaranya.
Bak semesta mengabulkan keinginannya, wanita di hadapan pun mengangkat wajah serah mengembangkan senyum. Namun, kekosongan dalam tatapan berbuah kejanggalan kian mendalam.
"Apa ... dia sering menghubungi saat di luar negri?" Tara mengungkap isi hati setelah sekian lama menjadi kejanggalan yang terpendam.
"Hmm." Hanya dengungan terlontar sebagai jawaban ketika batin belum dapat mencerna makna di baliknya.
"Aku kira, kalau dia di luar ga akan bisa dihubungi." Tara tetap memaksakan bibirnya merekah meski kepedihan belum enyah dari dalam jiwa.
Ungkap dalam jawaban itu, sedikit banyak memberi makna bagi Jackson. Sudah dapat di pastikan ketika pasangan itu terpisah, sang pria tidak pernah menghubungi sama sekali. Terlihat dari kekecewaan yang terpampang di balik tatapan kosong wanita di sampingnya, membuatnya tak kuasa jika hanya membiarkan.
"Gimana sama rancangannya?" Jackson memaksakan hati mempertanyakan sesuatu yang enggan sekali di bahasnya. Berusaha menghibur lirihan itu, tak ayal senyum mempesona tergambar di balik wajahnya.
"Udah aku atur semuanya, kecuali yang ini–" ucap kata tertahan tanpa pelantara, ketika tangan Tara meraih lembaran kertas di atas meja. Setelah mendapat apa yang dicarinya, ia segera memperlihatkan kepada Jackson tanpa menyerahkannya.
"Apa ini?" tanya Jackson terheran-heran, tiada dapat mencerna percakapan lantaran batin masih berpusat pada usaha penghiburan. Namun kini, dirinya lah yang membutuhkan itu semua. Menilik perbincangan yang mencipta rasa dilema.
__ADS_1
"Buat cincin pernikahan. Apa model ini cocok buat kamu?" Tangan yang menggenggam kertas bergambar itu mengacung, memberi petunjuk akan apa yang menjadi pertanyaan.
"Lumayan." Jackson sama sekali tidak mendaratkan tatapan pada gambar itu. Sepasang bola matanya berpusat pada wajah cantik yang terlihat lusuh di sana.
Tara mengerti akan hal itu sehingga ia segera menghempas kertas dari genggaman. Ia meyakini jika sang pria enggan memperbincangkan pembahasan itu.
Tindak tanduk tanpa mempertimbangkan sesuatu, di pahami Jackson sebagai kekecewaan. Sehingga, pikiran kembali mencari bahan penghiburan.
"Untuk pestanya, kamu rasa sebaiknya gimana?" tanya Jackson.
Sejenak Tara terdiam membisu, mencari-cari jawaban akan kejujuran. "Garden party, mungkin."
Jackson hanya mengangguk untuk sahutan sebelum melontarkan kata untuk jawaban.
"Kaya di laut gitu?" tanya Jackson.
"Pengen kebawa ombak apa?" Tara melepas cibiran menyahut ungkapan tanpa berpikir terlebih dahulu itu disertai nada sebalnya.
Jackson tertawa gemas, meyakini jika lawan bicara tidak sepenuhnya memahami arti dari ungkapannya. "Ya jangan di tengah laut lah, di pantainya kan bisa?"
"Terlalu panas," jawab Tara bernada sebal, melampiaskan amarah terpendam pada apapun yang menyahutnya.
"Atau mungkin di hutan?"
"Nanti yang datangnya tarzan semua." Kian frustasi, nada jengah selalu mengikuti baris kalimat. Sesungguhnya, kini Tara yang merasa gundah lantaran keinginan tidak dapat dengan mudah di capainya.
Tatapan keji tersirat emosi dibalas Jackson dengan senyum menggemaskan. Sudah tiada cara lain menurutnya selain membawa tubuh itu dalam dekapan. Namun, telapak tangan mendorong keras tubuh itu hingga membuatnya melepas lenguhan frustasi.
"Kamu yang mau nikah, kenapa malah tanya kemauan aku?" Melihat si pria tergelak emosi, Tara menghangatkan kembali suasana.
"Art Tara ..." Tak kuasa batin memendam lirihan, Jackson melepas jepitan pada dagu wanita di sampingnya. Kelopak mata terbuka lebar ketika melihat pasang mata bergenang air payau. Keprihatinan menyembur begitu saja, menilik sang wanita hanya berdiam diri tanpa meronta sedikit pun.
"Jack–" Baris kata tercekat di dalam kerongkongan, menahan isak tangis yang tak ingin terdengar siapapun.
"Maksudku, seandainya kamu yang jadi pengantin suami kamu, apa yang kamu inginkan?"
Tiada mampu bibir mengucap kata mendengar pertanyaan berduri itu. Hanya gelengan kepala ia berikan sebagai jawaban tidak memungkinkan untuk hal itu terjadi. Derai air mata mengalir membasahi pipi, bahkan tetesan menyentuh jemari tangan yang masih menjepit dagunya.
Jackson tidak tega melihatnya sehingga tangan beralih menarik tungkak kepala ke dalam dadanya.
"Teriaklah, kalau itu bisa ngobatin luka kamu."
Seolah mendapat restu, tiada ragu Tara mengumbar jeritan batin dalam isak tangis memilukan.
Waktu kian terpangkas keadaan, akan tetapi tangisan itu tiada terhenti sedikit pun. Jackson cemas jika saja wanita itu kehilangan kesadaran akibat terlampau meluapkan emosi, sehingga tanpa meminta pamit ia menarik wajah itu dari balik dadanya.
Senyum penggoda terukir di balik wajah sebelum menghujam bibir dengan penghiburan. Tatapan tak dapat berpaling menyorot lekat mata sembab itu. Sudah tidak mampu ia menahan, kemudian bergegas melepas keinginan pada sentuhan bibirnya.
__ADS_1
Kedua pasang mata tak lagi terbuka, saling meresapi kenikmatan dunia. Namun, Jackson mengingat sesuatu di tengah kegiatan. Hingga membuat mata terbuka dengan segera.
Lampu merah berkedip-kedip di sudut ruangan, menjadi bahan sorot matanya kini. Ia melupakan jika seluruh kegiatan di sana akan terekam oleh alat yang melekat di samping lemari itu.
Sadar ... memang ia menyadarinya, semua yang terjadi kini akan terdengar oleh sang pemilik ruang. Namun, ia tidak dapat mengakhiri kegiatan yang akan memanas itu ketika sang wanita terhanyut dalam keadaan.
Hingga pada akhirnya, ia berpasrah diri menerima segala apa yang akan di lakukan Sammuel terhadapnya nanti. Asalkan wanita yang masih menikmati sentuhannya tiada lagi bermurung diri.
***
Seperti apa yang sudah menjadi dugaan Jackson, rekam kegiatan romantis itu hinggap di telinga Sammuel. Setelah mencermati rekam kegiatan yang terkirim melalui pesan dari asistent-nya, ia meresapi keadaan diri.
Merenung sekian lamanya, tak ayal umpatan terlontar untuk dirinya sendiri. Tiada pernah ia mengira, jika sang istri menginginkan sebuah pesta untuk pernikahannya. Tidak hanya itu, ia baru menyadari bahwa diri tiada pernah menghubungi sang istri selama tiga hari ke belakang ini.
Dan ....
Amarah tercurah dengan mudahnya, terlampiaskan pada benda yang berada di sekitar. Vas bunga di atas meja itu telah hancur berkeping-keping akibat ulah tangannya. Serpihan kaca berserakan di atas lantai ruang tamu di sana, alat media yang telah menyampaikan rekam kegiatan itu pun mengalami kehancuran.
Triana berusaha untuk menenangkan pria di sampingnya dengan merangkul erat tubuhnya, menyemburkan kasih hanya untuk menghiburnya saja. Ia bisa melihat jelas rahangnya mengerat sebab menahan amarah.
"Sam, kamu ga usah marah kaya gini. Kamu ingat siapa yang lebih dulu mengkhianati?" ungkap Triana mengingatkan Sammuel akan kejadian semalam tadi.
Tadi malam, sebuah tragedi telah terjadi kepada mereka. Akibat kecerobohan wanita itu, ia harus mengemban dosa. Segelas minuman beracun berhasil membawa mereka menuju lembah nista. Lantas, mengingat akan hal itu, Sammuel membatu kaku.
Dua wanita telah menjadi kekejaman cintanya, akan tetapi ia mengira tiada kesalahan yang ia lakukan terhadap keduanya. Di samping Triana membutuhkan penawar gairah, sang istri pun diketahui kerap membuat kesalahan terhadapnya. Sehingga ia menganggap pengkhianatan diri hanyalah untuk pembalasan semata.
Kali ini, dosa telah terbayarkan. Namun, penyesalan tumbuh menggerogoti angan. Tatap lirih tersirat di balik wajah, menyorot kecantikan dalam kepolosan di sampingnya. Melihat tiada kecurangan di balik wajah lugu itu, rasa iba merangkak menyentuh hati kecilnya.
Sammuel dilema, tiada mendapat pilihan menguntungkan, mengetahui kedua wanita pengisi hidupnya begitu membutuhkan balas cinta kasih darinya.
Neraca keinginan lebih berat terhadap istrinya, akan tetapi keadaan memaksa diri untuk melepas wanita yang di cintai. Lantas, demi mendapat penyangkalan hati, ia mencari-cari kelebihan dari wanita yang menatap wajah dalam kejanggalan.
"Maafin gue, Tri." Untuk pertama kali, Sammuel menjatuhkan harga diri. Memberanikan diri mengungkap penyesalan yang tak pernah dilakukan sebelumnya, setelah mendapat keputusan akan menjadikan wanita di sampingnya sebagai bahan pelampiasan.
"Buat?" tanya Triana tanpa mengetahui alasan sesungguhnya.
Tiada ingin memberi alasan, Sammuel membungkam mulut itu dengan bibirnya. Memberikan kehangatan untuk sementara, bahkan kelembutan tidak menyertai. Batin bergemuruh pedih, sehingga tanpa disadari air payau menetes di balik mata yang terpejam.
Triana menyadari keadaan, menyatakan jika cumbuan itu berdampingan dengan penyesalan. Tanpa ingin menyinggung perasaan lebih dalam, ia membiarkan pria yang telah menodainya semalam tadi berkehendak sesuka hati.
•
•
•
Tbc
__ADS_1