Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 80


__ADS_3

Kini bukan hanya Tara yang mendapat kejutan, Sammuelpun terperangah hingga membelalakan matanya. "Mami!! Kamu ngapain ke sini?" Sapanya pada ibu tirinya yang telah menepikan langkah kakinya di hadapannya. Meski ucapannya tertuju pada ibu tirinya, namun tatapannya mengarah lirih pada istrinya yang sudah tertunduk di sampingnya.


"Kamu berani pulang ga kasih kabar?" Celia faham dengan kerancuan yang terpampang dari sepasang insan di hadapannya. Dengan polosnya ia melangkahkan kakinya hingga mendaratkan bokongnya pada sofa yang terdapat di ruang tamu itu.


"Sejak kapan kamu jadi ga sabaran gini?" Sambut Sammuel, lantas duduk tepat di samping kiri ibu tirinya yang sudah tersenyum kepadanya.


"Aku penasaran kenapa kamu lama banget di sana?" Balas Celia di sambut kekehan oleh anak tirinya.


Sementara Tara masih tertunduk kaku dalam keadaan berdiri di sekitar mereka. Celia yang mulai menelusup perasaan menantunya, segera ia menatap arah menantunya, menyiratkan senyuman pemghibur untuk wajah yang tertunduk itu.


Sammuel menjanggal dengan tatapan Celia hingga menolehkan arah pandangnya pada arah pandang Celia. "Tara kenalin__"


"Dia sahabatku." Potong Celia membuat wanita selain dirinya yang berada di sana mengangkat wajahnya tergesa.


Tara menghela napas kasarnya. Melega, namun sekaligus merancu atas panggilan mertuanya yang selalu menjadi penolakan hatinya.


Sesungguhnya ia ingin sekali mendengar Celia memperkenalkan diri sebagai mertuanya. Namun, Tarapun sadar diri dengan status pernikahan yang di inginkan suaminya hingga ia tidak akan lagi memikirkan sang hati.


“Cel, aku buatin teh dulu." Tawar Tara setengah memaksa hingga melangkahkan kakinya, menghindari situasi canggungnya.


"Sweaty, bawain kaos gue sekalian." Perintah Sammuel dalam pekikannya akibat Tara sudah agak menjauh darinya. Namun, panggilan itu membuat istrinya tersenyum riang di sana tanpa ia dapat melihatnya karna tubuh sang istri telah membelakanginya.


Tidak hanya Tara, Celiapun menatap tajam wajah anak tirinya dalam senyuman leganya. "Udah berani kamu panggil dia sama sapaan manis gitu?" Tuturnya untuk memancing hati sang anak tiri.


Sontak Sammuel membalas tatapan Celia dalam kejutannya. Ia melupakannya, jika status hubungannya dalam metode rahasia. "Sesuai yang kamu liat, cuma bantu bayarin utangnya apa itu ga boleh?" Kilahnya. Tubuhnya menyandar pada sandaran sofa melerai keterkejutannya. "Atau dia cerita sesuatu yang lain?" Imbuhnya menatap kosong arah atasnya, membayang mencari alasan lain yang lebih masuk akal untuk bahasan perbincangan selanjutnya.


"Kamu bilang gitu malah bikin aku jadi penasaran lho." Ungkap Celia memicingkan kedua matanya, kembali memancing anak tirinya agar berucap sejujurnya.


Sammuel melenguh, ia meraih bungkusan rokok yang tergeletak di atas meja seraya mencari-cari alasan yang belum di dapatinya sedari tadi. "Ga tau harus mulai dari mana aku bilangnya?" Kilahnya melengos miris. Ia memandang lirih arah depannya untuk menghindari tatapan picingan dari wanita yang duduk di sebelahnya. "Sejak kapan kamu jadi sahabatnya?"


"Seminggu setelah dia jadi istri kamu." Jawab Celia sedatar mungkin namun berhasil membuat Sammuel tercengang, menampakkannya pada wajahnya yang terlihat Celia dengan jelasnya. "Kalo itu mau kamu, aku cuma bisa ikut permainan kalian. Selama antara kalian ga akan ada yang terluka." Putusnya tak bersarat hingga menghembuskan napas kasarnya, melega di sana mengungkap apa yang selama ini di pendamnya.

__ADS_1


Sammuel kian melengus, menghisap keras rokoknya, lantas menghembuskan asapnya menjauhi Celia sebagai wakil lirihannya. "Sikap inilah yang bikin aku tertarik sama cewe ini."


Celia terkekeh menyikapi pujian dari anak tirinya yang baru pertama kali di dengarnya. "Aku cuma heran, kenapa dia ga jual dirinya sama kakak kamu, malah milih cowo playboy ini?" Ungkapnya membuat anak tirinya menatapnya penuh ledekan.


Sesungguhnya, Sammuel memendam rasa enggannya jika saja apa yang di katakan ibu tirinya itu terjadi pada istrinya.


"Kalo nunggu si Jack bertindak, kamu ga akan jadi sahabatnya secepat ini." Balas Sammuel dalam tawa kecilnya.


"Bener ternyata kamu ga cinta sama dia sedikitpun." Ujar Celia dalam gelengan kepalanya, tidak mempercayai jika anak tirinya yang masih menatapnya penuh cibiran itu tidak memiliki ketertarikan sedikitpun pada sosok menantunya yang di akuinya bak bidadari dari syurga itu.


Sammuel tertawa sinis memendam lirihannya di dalam batinnya, haruskah ia memaksakan diri untuk menyukai istrinya yang hanya di jadikan kambing hitan saja pada awalnya? Dan. "Soal cinta no dua, toh sahabat kamu lebih suka sama si Jack."


Kini Celia yang melirih, pasalnya ia tau cerita sesungguhnya. Namun kini bukan hanya dari cerita, ia melihat bahwa anak tirinya tidak memiliki ketertarikan sama sekali terhadap Tara yang membuat dirinya merasa iba terhadap menantunya yang di ketahuinya begitu mencintai anak tirinya yang kini telah menggelisah di sampingnya.


"Aku ga mau terjebak sama hubungan kalian, mending kalian anggap aku ga pernah tau cerita kalian. Kalo ada masalah kalian beresin sendiri." Putus Celia penuh tekanan. Bukan maksud hati ia mengabaikan ikatan cinta mereka, namun inilah keputusan yang menurutnya sudah benar sepenuhnya.


"Emang awalnya gitu, kamu aja yang tiba-tiba nimbrung." Balas Sammuel meledek, namun batinnya kembali melega di dalam sana.


Sammuel kembali menghempas asap rokoknya dengan kasarnya lantas memadamkan baranya di atas asbak seolah memendam keraguannya. Benar kata Celia, dirinya yang telah membuat hati istrinya menjadi korban. "Maksudmu, kamu lebih pro sama aku?"


"Ga sama dua-dua nya, tapi sama dia." Sahut


Celia dagunya bergerak menunjuk Tara yang telah berdiri dengan secangkir teh serta kaos putih polos di genggamannya.


Kini kemeja andalannya telah membalut tubuh semampainya. Tanpa menyambut ucapan mertuanya, Tara menaruh cangkir teh itu pada meja yang berhadapan dengan mertuanya, lalu menyerahkan kaos putih polos kepada suaminya. Di daratkannya bokongnya pada sofa sebelah sofa yang berada Celia duduk di sana, sedang Sammuel segera mengenakan kaosnya.


"Tara, udah ada suami kamu di sini, ke rumah sakit sore nanti bisa kan sama dia?" Celia mengungkap tujuan awalnya untuk kembali memancing hati anak tirinya. Jika dia perduli, dapat di pastikannya jika Sammuel menyembunyikan rasa cintanya karna gengsinya yang tinggi.


"Ah ia aku lupa itu, Cel kamu udah janji mau anter aku lho." Balas Tara menolak secara halus tawaran mertuanya.


"Panggil mami baru aku mau anter kamu."

__ADS_1


Tara terkekeh dalam kebahagiaannya yang terpendam di dalam palung hatinya.


Ucapan kedua wanita itu rupanya membuat Sammuel menjanggal. "Lo ke rumah sakit mau ngapain?" Tanya menatap heran wajah istrinya yang telah menyambut tatapannya.


"Oprasi." Singkat Tara namun membuat Sammuel terkejut.


"Oprasi?!!" Sammuel memekik terheran-heran. Tidak pernah sedikitpun ia mengetahui tentang penyakit istrinya. Atau bisa di katakan ia terlalu acuh dengan itu.


"Kamu ga tau penyakit lambungnya udah parah? Empedunya membengkak." Jelas Celia yang kembali membuat Sammuel terperangah dalam kejutannya.


Sammuel melepas napas kasarnya mewakili lirihannya. Tidak di sangkanya jika ia telah mengabaikan keadaan istrinya. Apakah ia melakukannya atas pengertian dari ketulusannya? Tidak! Begitu keras hati ia menyenggalnya, ia hanya berpikir akan mengurus istrinya yang akan di serahkan pada kakaknya agar sang kakak tidak bersusah diri di kemudian hari.


"Jam berapa jadwalnya?" Ungkap Sammuel dengan nada datarnya, namun berhasil membuat istrinya kembali tersenyum riang.


"Jam 4 sore ini." Jawab Tara penuh harapan jika sang suami sudi mengantarnya.


"Lo siap-siap dulu gih." Perintah Sammuel sarat di balas anggukan keras oleh istrinya yang memang sudah sangat mengharapnya.


Tanpa membuang waktu, Tara bergegas melangkahkan kakinya menuju tempat untuknya membersihkan diri.


Sedang Celia tersenyum lebar, yakin sudah ia terhadap perasaan anak tirinya yang telah menatap istrinya penuh lirihan itu.


Ia melega lantaran enggan membuat Tara yang sudah menjadi sahabatnya terluka. Begitupula ia enggan melihat penyesalan dari kedua anak tirinya di kemudian hari.





Tbc

__ADS_1


__ADS_2