Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 128


__ADS_3

Tara sudah berselonjor kaki di atas kasur yang terdapat di dalam ruang kamar hotel tempat penginapannya, matanya tak henti menatap layar alat medianya untuk mencari hiburan di sana kala samg suami pergi entah ke mana dan belum kembali setelah satu jam lamanya.


Sesungguhnya ia menunggu balasan pesan yang di kirimnya melalui alat panggilan itu kepada suaminya, namun hingga rasa jenuh mulai menyebar dari angannya, suaminya tak kunjung jua menampakkan batang hidungnya.


Lelah sudah ia menunggu, pada akhirnya ia bergerak berniat beranjak dari atas tempat tidur itu. Namun belum ia melakukannya, suara pintu terbuka terngiang di telinganya yang sudah dapat di pastikannya jika sang suami telah kembali.


Benar adanya, Sammuel datang membawa sebuah tas hitam di tangannya.


Tanpa menghiraukan sambutan senyuman daei istrinya, Sammuel melempar tas itu ke atas kasur yang mendarat tepat di samping kiri istrinya.


"Nyantai banget ya hidup lo,” ujar Sammuel meledek kala melihat sang istri meraih tas yang terlempar di tempat itu.


Melihat tingkah istrinya, Sammuel segera merebahkan tubuhnya di samping istrinya di mana tempat kosong tersedia di sana.


Sementara Tara membuka penutup tas itu tak lantas melirik isi di baliknya setelah rasa penasaran bergejolak dari dalam asa nya.


"Berkas apa ini?" tanya Tara penuh janggalan dalam picingan matanya menatap wajah suaminya.


"Prospek tender premium sama ultranium,” balas Sammuel.


Tara kian menjanggal dengan apa yang di katakan suaminya, ia tidak mengira jika saat berlibur mengharuskannya mengurus pekerjaannya.


Bibir Tara mengerucut sebal dalam tatapan kesalnya menuju wajah suaminya, sedang sang suami tersenyum gemas menanggapinya.


"Sebanyak ini?" Tara memekik tidak percaya melihat lembaran kertas di dalam tas itu berjumlah ratusan.


"Sayang waktu kan, dari pada lo maen-maen sama HP lo," jawab Sammuel dengan santainya mengabaikan tatapan mata istrinya yang kian mendendam.


Merasa gemas dengan tingkah istrinya, Sammuel mendaratkan tangannya di atas dada istrinya, mempermainkannya dengan lembutnya.


"Aku liat HP juga ngurusin kerjaan, pengen liat hasil naskah aku, nyari kandidat buat karya selanjutnya.” Tara menimpal tidak karuan saat dirinya menikmati sentuhan tangan suaminya yang kian nakal hingga menjalar menyusuri setiap lekuk tubuhnya.


"Lo pikir gue ga tau apa, lo aktif banget di IG?"


Kini Sammuel beringsut, meletakkan wajahnya pada ceruk leher istrinya untuk mempermudahnya memberikan sesuatu yang di yakininya akan di sukai istrinya.


"Ya itu buat liat kabar dari selebritis, bantuin mami kamu juga." Meski berprotes, Tara meraih lembaran kertas itu untuk segera di cermati isinya.

__ADS_1


"Selebritis, mana ada selebritis yang lo follow, Yang ada cowo semua."


Tangan Sammuel kian nakal hingga berusaha menyingkapkan kaos ketat istrinya hingga batas dadanya. Namun,


Plak!


Tara memukul keras tangan suaminya yang tengah menyingkap kaosnya itu membuat sang suami menatapnya penuh geram.


Namun Tara mendapat kesempatannya untuk menggoda suaminya hingga ia membalas tatapan itu dengan tatapan kejinya.


"Aku harus pelajari prospek ini biar cepet kelar." Lantas menyingkirkan tangan itu, berlanjut menurunkan kembali kaosnya dengan gaya kasarnya.


Sammuel mendelik tidak suka dalam helaan napas kasarnya berusaha berprotes terhadap istrinya yang telah berani menolak keinginannya.


"Tar juga bisa kan?" ujar Sammuel merajuk tat kala tangannya kembali meluncur ke atas permukaan dada istrinya.


"Udah jam delapan, mau nyuruh aku begadang apa?" Kembali Tara menepis tangan jenjang suaminya itu.


Sammuel mendengus frustasi, menyesali atas apa yang lakukannya terhadap istrinya. Kini semua terlanjur sudah, akhirnya ia berniat untuk memaksakan kehendak hatinya.


"Lo lupa ke sini lo mau kencan?" Sammuel mengalah dengan mudahnya menurunkan harga dirinya, ia menatap harap wajah istrinya di samping sana.


"Ngurus itu bisa berjam-jam, ngurusin adek gue setengah jam juga bisa." Tak kuasa menahannya, Sammuel segera meraih paksa leher istrinya dengan bibirnya.


Wajahnya kini berada di dalan ceruk leher istrinya, lantas melepas lidahnya dari sarangnya hingga memulai aksinya.


Sejenak Sammuel menjanggal, jika istrinya menolaknya namun tubuhnya berkata lain. Kini ia memahami jika sang istripun menginginkan apa yang di lakukannya.


Tanpa berpikir lebih, Sammuel memperbuas serangan lidahnya. Namun,


"Ga!" Tara menolak dengan tegasnya membuat kegiatan suaminya terhenti begitu saja. "Kamu tau lukanya aku kaya apa kan?" ujarnya memekik lantang tak ayal menghempas kepala suaminya dari lehernya.


Menyesal sudah Sammuel di buatnya, ia mengurungkan niat hati untuk memberikan sesuatu itu kepada istrinya.


Frustasi sudah melonjak beriringan dengan rasa sesal tiada terkira, akhirnya ia menghempas kasar tubuhnya di samping istrinya, menyampingkannya memunggungi tubuh istrinya.


Tara terkekeh yang di tahannya seraya menatap tubuh suaminya, sengaja memang ia melakukan hal itu hingga dengan tenangnya ia mengabaikan amarah yang telah mulap dari suaminya itu.

__ADS_1


Tanpa kata ia mulai meraih lembaran kertas itu, lantas mencerna seluruh kalimat yang tersirat di atas kertas itu.


Selembar demi selembar kertas itu berhasil di tela'ahnya tanpa menghiraukan keadaan suaminya yang hingga kini masih memunggunginya.


Sudah lebih dari separuh jumlah kertas itu yang masuk ke dalam kepalanya isi di baliknya itu, hingga waktu telah larut ia belum mengakhiri kegiatannya.


Rasa kantuk sudah tidak dapat di tahannya hingga ia menguap berkali-kalipun tidak kunjung jua ia menghentikan kegiatan membacanya.


Berausah payah ia menahan matanya agar tidak teepejam begitu saja, ia masih berniat ingin menggoda suaminya yang di ketahuinya belum menuju alam mimpinya.


Tepat saat ia menguap kembali untuk ke sekian kalinya, akhirnya Sammuel bangkit tak lantas merampas keras kertas yang berada dalam genggamannya.


"Ga ada waktu besok apa? Besok pagi lo harus gawe juga."


"Ya, ga ada waktu lain kali apa buat aku pelajari ini, harus gitu ganggu waktu kencan aku, lo sendirippppp,” ucapannya terpenggal kala mulutnya terbungkam rapat oleh bibir suaminya.


Sammuel sengaja mempermainkan cumbuannya hingga hanya sejenak saja ia telah mengakhirinya kembalia.


"Tidur!" ujar Sammuel memberi titah sarat dalam candaannya hingga ia menyentil manja kening istrinya.


"Ogah, aku marah." Manja Tara dalam kerucutan bibirnya tak lantas tangannya melipat di dadanya.


Sammuel beranjak lantas meraih tubuh iatrinya dengan kedua tangannya, di lentangkannya tubuh di atas tempat tidur itu.


"Gue bisa lebih emosi kalo lo ga nurut,” seru Sammuel memaksa.


Tara pun berpasrah diri untuk menyerah, memang samg matapun mendukungnya untuk segera menuju alam mimpinya.


Meski demikian, bola matanya memutar dalam decakan bibirnya, lantas ia menarik kasar selimut yang tersedia hingga batas dadanya, kemudian memiringkan tubuhnya menghadap suaminya, berlanjut menutup rekatan kelopak matanya seraya mendekap tubuh suaminya.


Hal ini membuat Sammuel tersenyum gemas hingga membalas dekapan itu tak kalah erat dari dekapan istrinya.


Ucapan selamat malam pun di lakukan Sammuel dengan membenamkan bibirnya di atas puncak kepala istrinya, memberikan sebuah kecupan mesra sebelum ia menutup kelopak matanya menyusul istrinya menuju alam mimpinya.



__ADS_1



Tbc


__ADS_2