Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 69


__ADS_3

Dua minggu berlalu begitu saja, rupanya untuk hari rabu ini Tara tengah berada di dalam ruang tempat di mana para karyawan dari perusahaan PT ZhanaZ Group itu melakukan pertemuan bulanannya, kecuali Hanson serta Fiona yang tidak pernah menghadiri pertemuan itu.


Untuk kali ke dua nya Tara berada di sekitarnya meski ia baru bergabung dengan perusahaan tersebut selama 35 hari, namun naas pada hari kedua ia bergabung di sana rupanya pertemuan tersebut tengah terlaksana.


Suasana nampak berbeda pada kali ini dengan kali pertama Tara mengikuti kegiatan itu lantaran kini sosok Jackson menjadi sorotan pandangan matanya.


Ia menatap kagum tubuh Jackson yang terbalut setelan tuxedo berwarna hitamnya di lengkapi kemeja merah hati di balik tuxedo atasnya. Dasi panjang hitam bergaris merah hati menjadi pelengkap kesempurnaan penampilannya. Baru kali ini ia melihat Jackson mengenakan pakaian tempurnya.


Rambut berwarna coklat yang biasanya berantakan, kini tertata rapih dengan pelumasnya. Bahu lebar yang biasanya tertutup kaos longgar, kini nampak terlihat di balik tuxedo itu membuat Tara kian kagum menatapnya.


Lain dengan Tara, ke 1200 penghuni ruang tersebut menampakan keterkejutannya atas kehadiran Jackson yang tidak di ketahuinya sebelumnya siapakah lelaki tampan yang kini berdiri di hadapan mereka itu. Namun keadaan itu terlerai kala Kelvin mengucap tujuannya.


"Laporan menyatakan seorang receptionist yang baru bergabung dengan perusahaan ini melakukan kesalahan atas keterlambatan kehadiran dalam beberapa waktu." Ucap Kelvin yang berdiri di samping Jackson sebagai pembuka.


Sontak seluruh karyawan menatap arah Tara yang duduk di barisan paling depan berhadapan dengan Jackson. Bukan tanpa sengaja mereka melihat ke arah Tara, sebelumnya mereka sempat mendengar kabar bahwa wanita itu sering terlambat masuk kerja. Dan atas ucapan Kelvin yang menyatakan seorang receptionist baru, jelas mereka tau itu adalah Tara.


"Benarkah itu?" Tanya Jackson menatap janggal ke arah Tara.


"Benar." Sahut Tara berdiri seraya merengkuhkan tubuhnya.


Para penghuni yang saling berbisik menjadi sorotan ujung mata Tara serta Jackson. Namun tidak di ketahui keduanya bahwa para penghuni yang tengah berbisik itu menjanggal dengan ucapan Jackson.

__ADS_1


Siapa dia? Mengapa berani berucap dalam pertemuan internal perusahaan? Inilah sebagian ucapan bisikan dari mereka.


Sebagian lain, mereka membisikan tentang keburukan Tara, adapun yang membisikan tentang keberanian Tara yang sudi mengakui kesalahannya.


"Saya harap tuan Jackson Jordan Charington__" Ucapan Tara terpenggal dengan Suara bising dari ungkapan para penghuni setelah mendengar ucapan sebuah nama darinya bergeming hingga membuat suasana ricuh seketika melanda.


Jackson Jordan Charington adalah sebuah nama yang mereka ketahui memiliki kedudukan paling tinggi pada perusahaan tempat mereka mencari nafkahnya. Namun tidak ada yang pernah melihat bagaimana rupa dari pemilik nama tersebut.


Tara menyenggal ucapannya menunggu gemerisik suara itu meredam. Sedang Jackson mengedarkan pandangan sinisnya pada penghuni tiap kursi yang berbaris rapih di hadapannya. Bermenit kemudian, kericuhan itu meredam hingga hening melanda.


"Saya harap Tuan Jordan memberikan keringanan, saya berjanji tidak akan mengulanginya." Akhirnya Tara melanjutkan kalimatnya yang tersenggal sebelumnya.


"Bagus." Puji Jackson, ia melega atas jawaban itu, lantas mendaratkan bokongnya pada kursi yang tersedia di samping Maxson.


Acara pertemuan pembahasan mengenai penanggulangan kinerja para karyawanpun berjalan lancar hingga 90 menit ke depan.


Di akhir acara, Jackson segera menghampiri Tara ketika melihat pergerakan wanita itu yang akan meninggalkan waktu setempat.


"Art ke ruanganku sekarang!" Titah Jackson sarat dalam nada tegasnya membuat Tara mengangguk penuh rasa takut.


Baru kali ini Tara mendengar ucapan dalam nada tegas itu hingga membuat pori-porinya tertutup rapat.

__ADS_1


"Baik." Balas Tara tak kalah tegasnya.


Jackson tersenyum penuh makna, lantas kembali mengayunkan kakinya berlalu tanpa pamit dari hadapan Tara hingga ia menepi pada sebuah ruang yang terdapat di lantai 30 bangunan itu sebagai ruang kebangsaannya.


Beberapa saat kemudian, Tara hadir di hadapannya atas tuntunan langkah Jesslyn sang sekertaris pribadinya.


"Duduk!" Titah Jackson. Lagi dan lagi Tara mendapat tegasnya nada bicara itu setegas tatapan pria itu memandang pasang matanya.


Segera Tara mendaratkan bokongnya pada kursi yang besebrangan dengan atasannya. Di sampingnya, Kelvin tengah berdiri sopan menghadap atasannya.


"Dari mana kamu tau aku pemimpin di sini?" Tanya Jackson gelisah, mempertegas kegelisahannya dengan menangkup kedua tangannya di atas meja itu.


"Bukannya bapak udah tau? Ga sulit setelah mendapat penjelasan dari tante Celia." Jawab Tara sedatar mungkin berusaha menolak rasa takut itu agar tidak terlihat pria yang telah tersenyum lega di hadapannya.


Jackson menghembuskan napas leganya seraya menatap lekat wajah anggun yang berada di hadapannya namun berarti kian menakutkan bagi Tara. Dapat di ketahuinya dari cara bicaranya jika Tara memiliki kemampuan otak di atas rata-rata.


"Cukup pinter juga." Puji Jackson tersenyum di akhir kalimatnya. "Kelvin bawa dia ke bagian HRD, tulis surat kuasa pemindahan jabatan buat dia jadi sekertaris General Manager." Titahnya membuat Tara terhentak menahan gejolak kejutannya.



__ADS_1



Tbc


__ADS_2