
Kaki Tara mengayun tegas, memburu langkahnya tat kala sang waktu telah mendesaknya untuk segera menggapai tujuannya.
Di tengah langkahnya, di atas anak tangga kediaman mertuanya, sang ibu mertua yang berpapasan dengannya menatapnya penuh janggalan.
"Mih, kenapa ga bangunin aku?" Rancu Tara menyapa sang mertua dengan pertanyaannya.
"Aku pikir kamu libur kerja." Sahut Celia menerka-nerka jika setelah menilik keadaan memilukan semalam tadi yang terlihat begitu mengenaskan dari menantunya, ia menerka tubuh sang menantu masih tidak mendapatkan semangat jiwanya.
"Hari jum'at aku libur ke kampus mih bukan libur kerja." Jelas Tara di sambut anggukan faham oleh mertuanya.
"Aihhh aku lupa itu." Kilah Celia seolah tidak melihat keadaan menantunya semalam tadi.
"Ya udahlah aku harus pergi sekarang." Tara berpamit tegas, segera ia meluncurkan kembali kakinya tanpa menunggu jawaban dari wanita yang memaparkan pandangannya pada punggungnya.
Keadaan ini membuatnya melupakan melirik layar alat medianya di mana di sana sebuah pesan tengah menanti balasan darinya.
Kini langkahnya sudah menepi di area parkir, namun ia tidak melihat sang kekasih hati seseorang yang akan menjemputnya berada di sekitarnya.
Tidak menjadikannya sebuah beban lantaran waktu kian menyeretnya untuk segera bergegas pergi, iapun meraih merci C class merahnya, menjadi pengemudi untuknya.
Hingga pada akhirnya ia berhasil menumpukan tubuhnya di atas kursi di balik meja kerjanya.
Tanpa menunggu perintah, ia segera melakukan tugas hariannya yang selalu menumpuk hingga memecah isi kepalanya.
Di tengah kegiatannya, Jackson datang menghampirinya tanpa mengetuk pintu sebelumnya.
"Aku kira kamu ga akan masuk hari ini." Sapa Jackson di sela langkah kakinya yang masih mengalun lamban membuat wanita di hadapannya menyela kegiatannya untuk melihat langkah gagahnya.
"Kamu jahat Jack, kamu sendiri yang ngasih banyak berkas, mana bisa aku ninggalin kerjaan." Sahut Tara menyindir halus membuat prianyang telah berhasil berdiri di sampingnya mengucek gemas helaian rambutndi atas tungkak kepalanya.
"Oke sorry, kepala kamu udah baikan kan?" Cemas Jackson terpapar dari tatapannya pada wajah yang telah mendongkak menatapnya membuat tangannya terlepas dari tungkak kepala itu.
"Masih pusing sih dikit." Balasnya di iringi senyuman simpul tak ayal mendapat balasan senyuman menawan dari pria itu.
"Kalau masih kurang enakan, kamu pulang aja." Tawar Jackson penuh rajukan tat kala menatap wajah anggun yang memucat itu.
"Oke nanti aku beresin satu berkas ini dulu." Tunjuk Tara dengan mengacungkan lembar kertas yang berada pada genggaman tangannya.
"Kalau mau mending sekarang aja, jadi aku bisa anter kamu mungpun ada waktu setengah jam lagi.” Ujar Jackson berusaha memaksa kehendak hati yang telah membuatbrasa cemasnya merangkak tanpa pelantara. "Bentar lagi aku harus pergi."
"Aku bawa mobil." Tolak Tara penuh kepastian jika saja pria yang melirih di hadapannya akan kembali memaksanya.
“Artt.” Panggil Jackson terpenggal kala wanita itu memaparkan senyum manis yang berbeda dari biasanya hingga ia mengunci tatapannya pada bibir yang terangkat pekat itu.
Hingga pada akhirnya, Jackson kehilangan kendari diri, keinginan hatinya untuk mengecup bibir itu di kabulkannya dengan segera.
Cup. Jackson mengecup sekilas bibir itu membuat sang empunya memaparkan wajah kejutannya. "Oke kalo gitu. Aku berangkat sekarang, kalau kamu ada masalah bisa panggil Jesslyn." Pamitnya setengah enggan.
__ADS_1
"Hmm." Sahut Tara berdengung dalam anggukan kepalanya hingga kembali menyiratkan senyum manisnya membuat sang pria segera beranjak dari hadapannya, enggan batinnya kembali terkoyak untuk tidak menyentuh bibir itu.
Tarapun kembali melanjutkan pekerjaannya setelah pria itu hilang sepenuhnya dari ruang milik General Manager itu.
Berjam kemudian, ia menyadari tidak dapat mencerna pekerjaannya hingga ia mencoba menyenggalnya sejenak.
Ia meraih alat medianya dari dalam tas selempangnya, matanya terbuka lebar tat kala melihat sebuah pesan tersirat dari suaminya di balik layar itu pada waktu yang menunjukan semalam tadi.
Ia menepuk keningnya dengan kasarnya, mengumpat bahkan menyumpah serapah dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia mengabaikan hal yang selalu di nantinya?
Tanpa berpikir lebih, ia kembali memasukkan alat medianya ke dalam tas nya, lantas di raihnya tas itu dalam genggamannya.
Selepasnya, ia beranjak setengah berlari memburu langkahnya membawa kerancuan batinnya.
Entah bahagia atau rasa takut yang lebih menonjol itu, namun hasratnya kini ingin menemui sang suami tercinta sesegera mungkin.
Setelah mengingat hari ini adalah ulang tahun sebuah universitas ternama yang di yakininya suaminya akan berada di sana, hasrat hatipun menggapai tujuan itu.
Sesampainya di tempat tujuan, ia segera menuju arah di mana sebuah panggung berdiri kokoh di sana.
Tatapan kagum terpancar dari mata indahnya kala melihat sang kekasih hati tengah berdiri gagah menyampaikan wejangannya di atas sana.
Lantas ia mencari kursi penonton yang tersedia untuk menopang tubuhnya. Senyuman kembali tersirat darinya tat kala ia melihat kursi itu tersedia di samping kiri adik iparnya.
"Udah dari tadi dia berdiri di sana?" Sapa Tara menepuk manja pundak adik iparnya membuat empunya mengalihkan pandangannya padanya.
"Udah mulai berani dia nunjukin jati dirinya di hadapan publik?" Ujar Tara di sertai senyuman puji nya di sela tatapan kagumnya pada pria yang masih berceloteh di hadapannya.
Devand kembali tersenyum menyikapinya. "Kamu ke sini buat lihat dia?"
"Aku juga mahasiswi di sini dodol." Tepis Tara memperjelas gemas hingga mencubit pipi oval pria yang telah meringis menahan sakit itu.
"Jadi kamu kuliah di sini? Kok aku ga pernah lihat?" Tanya Devand terheran-heran yang terabaikan oleh gerakan wanita yang duduk di samping kanannya.
"Mom, ga kangen aku kah?" Sapa Gea menginterupsi, ia menyondongkan tubuhnya hingga pandangannya tidak terhalang pria yang duduk di sampingnya.
"Anak nakal ini, mana hadiah jadiannya?" Balas Tara penuh ledekan.
"Apaan sih?" Gea tertawa geli membuat Devand belingsatan di sana.
"Dengerin dia ngomong bisa ga?" Devand mulai kikuk, ia menunjuk arah depannya dengan dagunya di mana sang kakak masih berceloteh di sana membuat dua wanita yang mengimpitnya tersenyum menyikapinya lantas mengarahkan pandangannya pada pria yang di tunjukannya saat lalu.
Namun rupanya, hanya sejenak, Tara mengingat kembali tujuan awalnya untuk mencari keberadaan suaminya di sana. Jika sang kekasih hati yang kini tengah berdiri di atas sana, maka di mana suaminya kini berada?
"Dev sorry aku masih ada urusan lain." Pamit Tara tergesa, tanpa menunggu persetujuan, ia bangkit dari duduknya membuat priandi sampingnya mendongkak menatap janggal wajahnya.
"Ga mau nunggu sampai beres?" Rajuk Devand enggan terpisah begitu saja dengan wanita yang telah melirik alat pengukur waktu yang melingkar pada pergelangan tangan kirinya untuk menimang waktunya.
__ADS_1
"Kayanya ga bisa, masih ada tugas dari mami kamu juga." Tolak Tara di sambut tawa kecil oleh adik iparnya.
"Oke lah menantu yang baik ga akan ngecewain mertuanya." Putus Devand berpasrah diri meski sang hati ingin sekali mencegah kepergian itu.
Tara mengabaikan perkataan adik iparnya, ia segera bergegas meninggalkan waktu setempat tanpa melirik kembali pada pria di atas panggung yang selalu memperhatikan tingkahnya dengan ujung matanya.
Tepat kala ia menepikan tujuannya dindepan pintu kediaman lamanya bernama Apartement Laseason, kelopak matanya terbuka lebar melihat asisstant suaminya telah bersibuk ria membersihkan lembaran kelopak bunga mawar merah yang berserakan di atas lantai dalam ruang di balik pintu itu membuatnya tidak enak hati jika tidak membantunya, hinga ia turut bersimpuh meraih kepingan kelopak bunga itu.
"Nicky ada apa ini?"
"Semalam tuan menunggumu di sini nyonya." Sahut Nicky di sela kegiatannya yang tidak terhenti sama sekali namun sang wanita menghentikan tangannya seketika mendengar sahutan itu.
"Apa dia tau aku ulang tahun semalam?" Tanyanya melirih kala sang hati bersesal diri dari kesempatan emas yang telah terhindar darinya.
"Sepertinya begitu nyonya." Sahut Nicky penuh waspada melihat wajah anggun itu tertunduk di hadapannya membuatnya menghindarinya dengan tidak menghentikan kegiatannya sama sekali.
"Di mana dia sekarang?" Tanya Tara memastikan sang hati agar tidak selalu menggundam asa ingin menemui sang suami.
"Beliau sedang mengurus pekerjaan pertambangan." Sahut Nicky di balas anggukan lega oleh wanita yang kini kembali menyibukan diri membantunya.
"Apa dia akan kembali ke sini malam ini?"
"Saya kurang tau nyonya." Sejenak Nicky menatap wanita itu menyiratkan senyum manisnya sebagai penghibur meski tidak mendapat balasan sedikitpun.
"Jangan formal kaya gitu sama aku." Protes Tara menyerukan keinginannya dengan lembutnya tak lantas senyuman tersirat pelengkap rasa segannya terhadap pria yang telah membalas senyumannya di hadapannya. "Kerjaan ini biar aku yang beresin, kamu boleh nyusul atasan kamu." Usirnya membuat pria itu tidak enak hati.
"Bolehkah begitu?"
"Nanti aku yang jelasin sama dia." Tutur Tara memastikan kegundahan pria itu dengan alasannya. "Kalau ketemu dia itu juga." Imbuhnya kala tubuhnya berhasil bangkit berdiri di tempat membuat pria itupun berdiri menghadapnya.
"Baiklah, nyonya maafkan saya sudah merepotkanmu." Pamitnya di tepis keras oleh lirikan tajam dari istri atasannya.
"Udah bilang jangan formal."
"Oke, aku pergi sekarang. Emang kebetulan dia butuh bantuanku." Ujar Nicky menyahut permintaan wanita di hadapannya dengan bahasa santainya.
"Bener kan dugaanku dia pasti butuh bantuanmu?" Tutur Tara di balas anggukan faham dalam senyuman oleh pria itu.
Tanpa kata kembali terucap, Nicky merengkuhkan tubuhnya meminta pamit dengan gaya formalnya pada wanita itu yang di sambutnya dengan lambaian tangannya.
Berjam kemudian, akhirnya Tara usai membersihkan kediaman suaminya yang tidak di ketahuinya telah menjadi miliknya itu.
•
•
•
__ADS_1
Tbc