Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 115


__ADS_3

Ting.. tong.. ting.. tong..


Sudah berkali-kali Jackson menekan bel pintu masuk rumah mewah yang terletak di tengah kota Bogor di hari yang baru saja kehilangan sinar ultravioletnya itu.


Untuk yang ke sekian kalinya setelah ia merasa frustasi yang membuat emosi merangkak dari jiwanya akibat terlalu lama ia menunggu seseorang menyambutnya, akhirnya pintu itupun terbuka.


Nampak di baliknya Fiona dalam keadaan kusut semberaut menyambutnya dengan kerucutan bibirnya terpampang nyata menusuk penglihatannya.


"Ngapain lo ke sini?" sapa Fiona bersungut sebal hingga menatap kesal wajah tampan yang telah menyiratkan tawa kecilnya.


Entah mengapa, Fiona enggan sekali menyambut tamunya hingga ia menahan gerakannya, memegang gagang pintu yang hanya terbuka setengahnya itu.


"Lo nyerah sama si Hans?" sahut Jackson berseru rajuk kala melihat bibir tipis itu yang kian mengerucut.


"Udahlah Jack ga ada harapan lagi, dia udah ngakuin perasaannya sama cewe lo." Fiona geram yang terpampang dari wajahnya yang memberengut.


Ia menyeret pintu itu agar tertutup, namun dengan gerakan gesitnya, Jackson menahannya dengan sebelah tangannya.


"Fi lo kaya gini gue yang bahaya!" ujar Jackson berseru tegas. "Kelarin dulu tugas lo bisa ga?" imbuhnya memaksa hingga nada bicara itu melenting membuat wanita di hadapannya melepas tangannya dari gaitan pintu yang masih di genggamnya hingga pintu itu terbuka selebar-lebarnya.


"Lo mau bikin hati gue tambah ancur apa?" balas Fiona tidak mau kalah hingga mengancam dengan mengungkap keadaan hatinya.


Pada hari ini, Fiona sengaja meliburkan diri tanpa berpamit kepada atasannya atas dasar hati yang telah terluka membuat api semangat hidupnya padam begitu saja.


Sementara Jackson menghembuskan napas kasarnya sebagai rasa bersalahnya. Memang benar semua kisah memilukan wanita di hadapannya bermula dari dirinya.


"Sekali lagi!" seru Jackson bertegas diri agar wanita yang kini mendelik itu sudi menerima permintaannya. "Kalo sekali lagi ini masih gagal, lo bebas mau lari juga." Lantas ia menatap harap wajah jelita itu yang berbalas dari sang empunya dengan tatapan kagumnya.


Sejenak Fiona mengunci tatapan pada wajah tampan yang kini menyiratkan senyum menawannya membuat matanya sulit berpaling dari pusat pandangannya.


Namun, Fiona mendelik tajam berpura merasa jengah terhadap tingkah paksaan pria yang kini berhasil mengunci pergelangan tangan kirinya dengan genggamannya.


"Jack gue udah__"


"Kalopun ga berhasil, apapun yang lo minta pasti gue kasih!" Jackson berpasrah diri, mencoba merayu wanita keras hati itu.


Baru kali ini Jackson sudi melakukan tindakan yang menggelikan menurutnya pada seorang wanita selain kekasih hatinya hingga ia menyeret paksa tubuh semampai itu agar menyingkir dari hadapannya.


Tujuannya, ia hanya ingin masuk secara paksa ke dalam rumah mewah milik seorang pengusaha bernama Dwiki Widjaya itu.


"Oke, lo janji apapun itu kan?" sahut Fiona melenting kala sang pria telah mengayunkan kakinya menjauh darinya. Dengan terpaksa iapun menyusul langkah panjang itu. "Apapun?" ulangnya memastikan membuat langkah pria yang berjalan di depannya seketika menghentikan langkahnya hingga memutar tubuhnya untuk dapat menghadapnya.


"Hmmm," balas Jackson ragu-ragu. Pasalnya, ia mulai menjanggal dengan makna dari pertanyaan singkat itu.


Fiona terkekeh gemas menatap wajah tampan yang menjanggal di hadapannya. "Gue ga akan minta macem-macem kok. Tapi cuma satu macem." Lantas ia menyeret pergelangan tangan pria itu untuk kembali mengayunkan kakinya.


"Apa dulu itu? Lo jangan aneh-aneh deh!" tegur Jackson terungkap di balas senyuman ledek wanita yang masih menyeret tangannya.


"Lo harus jadi penghibur gue," sahut Fiona penuh ambisi kala sang hati ingin sekali mengerjai pria itu.


Bukan salah siapapun, Fiona hanya mengingat kejadian silam di mana kini ia telah di benci oleh sang pujaan hati atas persetujuan yang di terimanya dari pria yang kini telah duduk di atas sofa yang terdapat di dalam ruang tamu kediaman mewah orang tuanya.


"Jadi penghibur lo?" ulang Jackson menyeleneh kala wanita itu berhasil duduk di samping kirinya kini mengangguk membalas pertanyaannya. "Itu sih gampang, yang susah kalo lo malah jadi demen sama gue, tar gue yang repot," imbuhnya berseru lega kala tangannya berhasil merangkul pundak wanita di sampingnya dengan sebelah tangannya.


Ia melega di sana hingga melepas rasa terimakasihnya dengan rangkulan yang tidak di tepis sedikitpun oleh sang pemilik pundak itu.


"Lo harus tanggung resikonya, gue aja berani nanggung sakit gara-gara semua rencana sinting lo itu," balas Fiona mengingatkan akan kelakuan pria di sampingnya semenjak tiga tahun silam yang memberikan perintah kepadanya agar dirinya selalu merajuk kepada pria bernama Hanson Mike Charington.


"Oke lah gue setuju," balas Jackson berseru pasrah kala mengingat rasa bersalah terhadap wanita yang masih duduk di sampingnya.

__ADS_1


"So? Apa rencana lo sekarang?" tanya Fiona memastikan bahkan memberikan persetujuannya dengan meminta tugasnya kembali.


Fiona mengakui jika kini dirinya berbesar hati untuk kembali menjalin kerja sama dengan pria yang kini terpaku menatap senyuman manis penuh dustanya.


Sejenak Jackson terpaku, menatap wajah lugu itu. Tidak di pungkirinya jika hatinya mengatakan bahwa wanita di sampingnya memiliki paras yang berhasil menarik perhatiannya.


"Bawa cewe gue ke The Views malem minggu nanti, kalo bisa lo pancing si Sam biar ke sana juga." sahut Jackson berseru kaku kala tatapannya sengaja ia alihkan ke sampingnya agar jantungnya berhenti berdentum tanpa iramanya.


"Itu mah ga usah di pancing, kalo tau bininya di sana pasti dia nyusul, apa lagi tau lo nge Dj di sana," sahut Fiona berujar ketus namun berhasil membuat pria di sampingnya menatapnya bahkan tersenyum kepadanya.


"Lebih bagus sih gitu, gue ga usah susah-susah bujuk dia." Jackson mulai melirih mengingat kekasihnya yang di yakininya akan menolak permintaannya. "Tapi gue tetep minta lo bujuk dia!" imbuhnya bersahut tegas membuat lawan bicaranya tertunduk di sana.


Hening sesaat melanda kala Fiona memanggil pembantu rumah tangga melalui alat komunikasinya. Hingga pada saat seorang wanita paruh baya berhasil menghadapnya, Fiona tidak segan memerintah wanita itu untuk segera membawakan dua cangkir kopi untuk jamuannya.


"Soal si Triana udah kelar? Lo ga kasih bagian buat gue soal itu." Fiona menatap lekat wajah pria di sampingnya meski tidak mendapat balasan lantaran sang pria masih berpusat pada bayangannya tentang kekasihnya.


Namun, Jackson menghempas napas rancunya, ia melupakan hal itu yang menyatakan bahwa ia tengah menarik Triana dari negara Korea untuk kembali ke negara Indonesia dan memberikan biaya pengobatan untuk ibunya, bahkan membuat Hanson menjadi pengacaranya untuk mengungkap kasus sesungguhnya. Dari sinilah awal mula Hanson serta Triana saling mengenal satu sama lain.


Dan hal itulah yang kini menjadikan Fiona mengungkap keinginannya. Ia menginginkan jika yang menjadi oengacara Triana adalah dirinya sendiri.


"Gue ga mau libatin cewe sama si Edwin, kali lo pegang kasus itu gue yakin si Edwin bakal ngincer lo," ujar Jackson mengutuk dirinya sendiri, ia enggan membalas tatapan lekat penuh harapan itu.


"Lo perhatian banget sama gue," sahut Fiona penuh ledekan.


Ia berusaha menghibur wajah yang tertunduk kaku di sampingnya, lantas ia meraih wajah itu dengan menjepit kedua pipinya agar menatapnya.


"Mau gimana juga lo tunangan si Hans, berarti ade ipar gue," jawab Jackson datar membuat jepitan itu terlepas dari wajahnya.


Fiona mendengus seraya menarik napas dalamnya mendengar status hubungan yang selalu membuat hatinya terluka. "Gara-gara lo status gue jadi ga nyebar, mereka taunya gue menantu Celia sama Erick, tapi mereka ga tau gue pasangan siapa?" ujar Fiona berseru pedih, kepalanya tersandar pada bahu pria di sampingnya, mencari pelepas rasa perihnya di sana.


"Kali aja lo jadi pasangan si Sam," ujar Jackson enggan, ia menolak tingkah wanita itu penuh keraguan hingga dengan rancunya ia menyingkirkan kepala itu dari bahunya.


"Ogah banget jadi cewe dia," sahut Fiona bersungut sebal bahkan berhasil mendelik tajam kala kepalanya terhempas dari atas bahu itu.


"Umur dia lebih muda dua taun dari gue dodol!" kesal Fiona hingga menjepit hidung Jackson membuat empunya teringat akan wanita idamannya yang selalu melakukan hal serupa dengan apa yang di lakukannya kini.


"Aihhh.. lo nyindir cewe gue sama si Sam dong." Melirihlah hati Jackson kala sang hati mengingat nasib wanita yang berada di hadapannya tak lain seperti kekasihnya.


"Dia demennya sama cewe yang lebih tua kali ya?" Senyuman manis penghipnotis itu terpampang kembali membuat Jackson meresapinya sejenak.


"Tau deh! Karma dari nyokapnya kali." Segera Jackson menepis pandangan itu ke sampingnya agar batinnya mampu meredam rasa iba yang akan menghancurkan gengsinya.


"Gendeng lo, nyokapnya nyokap lo juga kali?" Fiona gemas, kini ia meluapkan rasa itu dengan menjepit leher sang pria dengan sebelah tangannya membuat Jackson mengangkat kedua tangannya pertanda ia menyerah dengan sikapnya.


"Ya kenyataannya begitu," ujar Jackson bersusah payah kala ia meronta dari gaitan sebelah tangan wanita itu pada lehernya. "Lepasin bangke, leher gue sakit!" Dan terlepas sudah tanpa bersusah payah.


Perbincangan terlerai kala sang pembantu rumah tangga mengantar dua gelas es cappucino untuk jamuan mereka.


"Lo ga ada gawean apa? Mending lo balik gih!" usir Fiona mendorong lembut bahu Jackson yang di balas pelototan tajam pria itu.


"Sinting lo! Nih minuman terus buat siapa?" seru Jackson bersungut kesal.


Namun tetap saja, ia meraih gelas itu dengan gaya kasarnya membuat wanita di sampingnya kian menertawainya.


"Mau di take a way?" sahut Fiona meledek.


"Ogah!" balas Jackson singkat lantas meneguk jamuannya dalam satu kali tegukan. "Lo balik bareng gue sekarang!" ajaknya berseru tegas dalam nada bicaranya yang ketus membuat Fiona menatapnya penuh dendam.


"Lo di sini bukan boss gue, ga bisa atur gue!" Fiona jengah hingga mendelik tajam. Selalu saja Jackson memerintahnya seenaknya.

__ADS_1


"Ya udah lah serah lo." Jackson berpasrah diri menerima kekalahannya. Lantas bangkit dari duduknya dalam kekecewaannya membuat Fiona tidak enak hati menatapnya.


"Siap-siap aja malem minggu nanti lo harus hibur gue,"  ujar Fiona menghibur kala ia berhasil bangkit berdiri menghadap lawan bicaranya.


"Awas aja kalo lo nyusahin gue!" Telunjuk jenjang itu mengacung di hadapan hidung Fiona, namun pemilik hidung terkekeh geli seraya menepis telunjuk itu.


"Keseringan juga lo yang nyusahin gue kali."


Jackson gemas mendengar pernyataan itu hingga ia menghempas napas dalamnya, menahan rasa itu agar tidak meluap pada wanita yang sama sekali tidak pernah di incar hatinya.


"Bukan buat gue ini, lo yang minta pendapat gue," ucap Jackson berdalih, lantas ia mulai mengayunkan kakinya di buntuti Fiona di belakangnya.


"Tapi mana hasilnya?"


"Ya salah lo berarti ga becus!" Jackson kehilangan kendali, melampiaskan rasa frustasi atas sang hati yang tidak mampu menepis rasa gemas itu dengan segera.


"Ya lah yang becus cuma lo bisa sampe dapetin si Tara," sahut Fiona mencibir dalam nadanya yang di buat-buat.


Jackson menghentikan langkahnya tiba-tiba, membuat Fiona menabrak punggungnya. "Gue cuma ngalah sama ade gue." Lantas, ia memutar tubuhnya menatap Fiona yang tengah sibuk mengusap hidungnya.


"Apa susahnya ngaku? Lagian cewe mana yang bisa tertarik sama cowo arogan begini?" balas Fiona memekik nyaring, membuat tangannya terlepas dari hidungnya ketika mendapati tangan sang pria yang menggantikannya.


Fiona terhanyut mendapat perlakuan manis yang telah menghangatkan hatinya, tidak di pungkirinya ia mendamba hal itu. Namun bukan dari pria yang kini telah melepas usapan dari hidungnya, melainkan dari pria yang selalu menjadi pengisi hatinya.


"Awas aja lo sampe kepincut sama gue." Kali ini, Jackson memberikan ucap penghiburnya untuk wanita yang menatapnya penuh dendam di hadapannya.


"Najis!"


"Sekarang lo ngomong kaya gini."


"Ga akan pernah nantinya juga."


"Mana tau?"


"Jangan ngarep."


"Lo yang ngarep."


"Lumayan." Fiona menyerengeh di akhir kalimatnya membuat Jackson melepas tawa bahaknya hingga menepuk manja keningnya.


"Udah ah lo sana balik, mual gue lama-lama liat lo." Fiona kembali mendorong punggung Jackson dengan kedua tangannya, mengusirnya secara halus.


"Nanti lo jangan nangis-nangis pengen ketemu gue," balas Jackson masih menghibur.


"Narsis!" Masih saja tangan itu mendorongnya hingga mereka berdiri di balik pintu keluar ruang tersebut.


"Malem minggu jangan lupa!" putus Jackson seraya berpamit dengan lambaian tangannya.


"Siap-siap aja." Fiona membalasnya dengan seringai iblisnya.


"Yap, siap-siap lo nangis nangis minta gue cium."


"Ga usah minta tinggal nyosor, cowo gampangan gini apa susahnya?" balas Fiona menyeleneh membuat Jackson kembali terkekeh lantas melangkahkan kakinya tanpa pamit.


Tanpa mereka sadari, sepasang mata berkeriput itu mengintip kegiatan mereka dari awal mereka bertemu.



__ADS_1



Tbc


__ADS_2