Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 191


__ADS_3

Rancangan pencarian masih Jackson pikirkan, hal itu membuat hari yang di lalui terasa sulit di hadapi. Seperti sekarang ini, dua jam sudah ia hanya termenung di atas kursi kebesaran.


Kelvin cemas dengan keadaan prihatin itu, akan tetapi tiada yang dapat ia lakukan selain menuruti segala perintah sang atasan. Kali ini, celah jawaban ia dapatkan dalam pikiran, bergegaslah ia mengemukakan pendapat setelah duduk di atas kursi besebrangan dengan atasannya.


"Jack, ga mau nunggu sampai nyokapnya dia nikah?" tanya Kelvin berbuah kernyitan dahi dari lawan bicara.


"Apa hubungannya?"


"Hubungannya ... gue yakin cewe lo datang ke acara itu." Kelvin menyahut percaya diri, sesaat mendapat seringai kemenangan penuh siasat.


Tidak terpikirkan sebelumnya, Jackson merasa puas akan solusi yang di dapati. Namun, lengkung bibir seketika enyah, mengingat waktu yang akan di tempuh masih begitu lama. Ia tidak ingin Tara melakukan sesuatu di luar batas kendali diri sebelum hari itu tiba.


"Moga aja bisa bertahan," ujar Jackson bermaksud hanya untuk diri sendiri. Namun,


"Lo yang ga tahan?" Kelvin mencibir sekaligus memberi penghibur hati, meski tidak mendapat balasan lantaran lawan bicara kembali termenung di sana.


Cukup! Batin Jackson sudah tak mampu membendung kepiluan, sehingga ia berniat mencari penenang jiwa.


"Bawa kerjaan gue ke ruang rahasia." Titah Jackson berseru tegas. Tidak ingin mendapat pencegahan, ia berlalu tanpa pamit pada pria yang menatap heran di sana.


Nasib diri yang menimpanya kali ini, membawa beban terberat dalam kehidupan. Ia tidak sanggup menerima kenyataan jika harus kehilangan sosok kasih dalam genggaman. Begitu pula kabar yang baru di dapati, ingin sekali ia segera mempertanyakan kepada sang empunya. Mengingat-ingat akan hal itu, tubuh kian merapuh.


Beban tersalurkan pada sebotol minuman keras, ketika kaki menepikan langkah di dalam ruang paling atas bangunan pencahar langit itu. Ia bergegas meraih pelepas penat yang tersedia di sana. Tanpa keraguan ia menegak separuh isi dari botol dalam genggamannya.


Larut ....


Semakin memikirkan tentang wanita itu, ia kian terhanyut dalam kepedihan. Hingga setelah beberapa menit berlalu, tubuh itu terkapar di atas sofa. Kelopak mata terpejam lekat, menahan jeritan batin tanpa melontarkan suaranya.


Sesaat indra pendengaran menangkap suara pintu terbuka, ia pun menoleh pada asal suara itu berada. Terlihat oleh mata yang sisa separuhnya terbuka, Kelvin memburu langkah menghampirinya.


"Lo yakin dengan begini bisa beresin semua masalah?" Nada bicara nyaring dari Kelvin menusuk gendang telinga lawan bicara, ia sengaja mengumpat kesal agar pria yang terbaring di sampingnya mendapat kesadaran diri.


"Gue ... ga bisa." Lirihan batin terungkap di sela nada bicara, Jackson meringis menahan nyeri di hatinya.


Kelvin melenguh rapuh, turut merasakan penderitaan sahabatnya. Hanya itulah yang ia lakukan kini, tanpa ada niat untuk menghentikan aksi itu.


Tidak di ketahui mereka, objek yang telah mengobrak-abrik batin dua pria kini malah sedang bercanda ria.


Di dalam bangunan mewah milik wanita bernama Jasmeen Shanaya, Tara melepas kerinduan bersama si buah hati. Meski terkurung di dalam sana, akan tetapi mereka menyambut hari yang di lalui dengan gelak tawa ceria setiap menitnya.


Tidak dengan menit kali ini, ketika Alev berjalan mengendap-endap menuju sebuah lemari yang terletak di dalam ruang tidurnya.


"Alev." Tara menegur dengan sapaan, sepertinya ia telah mengetahui niat dari pria yang sudah berdiri menghadapnya. "Mama udah bilang jangan buka HP dulu."


Sejak saat mereka menginjakan kaki di dalam rumah itu, Tara mewanti-wanti agar sang anak tidak sekalipun menggunakan ponselnya. Agar keberadaan diri tidak dapat dengan mudah di ketahui seseorang di sana.

__ADS_1


"Mama, mama curang ... kenapa Al ga boleh mainkan Hp sedangkan mama sendiri melakukannya." Tidak patah semangat, Alev mengumbar rayuan agar sang ibu menuruti keinginannya. Sehingga kerucutan bibir ia siratkan di balik wajah kecewa.


"Kapan mama melakukannya?"


"Bukankah yang mama pegang itu HP?" Alev menunjuk objek dalam kata dengan lentingan telunjuk tangan kanannya.


Tara melenguh frustasi, ia kewalahan menghadapi anak cerdas yang kini mengumbar olokan dalam senyumannya.


"HP ini baru di beli, ga akan ada yang bisa menguntit kita dari sini." Tara menyahut tegas, memberitahukan alasan agar sang anak tidak lagi merengek meminta sesuatu yang menjadi larangannya. "Atau kamu pakai aja HP ini." Kemudian menyodorkan benda itu pada anaknya.


"Ga mau, aku mau HP aku." Alev bersikeras pada keinginan, mengingat tersimpan siasat di baliknya. Sehingga uluran tangan itu tidak di sambut sedikitpun.


"Mama ganti deh HP-nya sama jalan-jalan, gimana?" Tara merajuk, akan tetapi nada kesal menggiring setiap baris kata yang terucap.


"Ga mau." Tak kalah merajuk, Alev kian mengerucutkan bibirnya.


"Yang lain aja deh, apapun itu asal jangan barang itu." Agar rajukan terlihat meyakinkan, Tara merangkul tubuh anaknya.


"Ganti sama papa gimana?" Alev tidak ingin membebani pikiran ibunya yang terlihat kurang baik itu, maka ia menghibur dengan lelucon ringan yang membuat sorot mata sang ibu memancarkan aura kelamnya.


"Anak ini ... mama akan berikan papa buatmu. Tapi, buat sekarang kamu cari yang lain dulu, oke?"


"Baiklah, aku mau makan masakan mama."


Mendengar keinginan itu, senyuman restu tersirat di balik wajah Tara. Beruntung sekali sang anak tidak memperpanjang perdebatan, membuat batin merasa lega.


Kesunyian malam menggiring batin Sammuel yang sedang kesepian, hampa ia rasakan ketika rasa rindu pada sang istri tidak dapat ia curahkan. Renungan akan penyesalah berderet menghantam perasaan, di atas tempat tidur ia membaringkan tubuh menyambut lamunan.


Sesungguhnya, ia ingin bertanya perkembangan akan pencarian sang istri kepada kakak keduanya. Namun, mengingat kesalahan diri yang telah menyanggupi untuk berdiam saja mengurungkan niatnya.


"Maaf." Hanya satu kata itu saja yang mampu ia ucapkan pada langit-langit di sana.


Seusai puas meresapi tatapan kosong, ia melirik ke samping kanannya. Di mana sang istri sebiasanya akan terbaring bersama kala alam mimpi akan menjemputnya. Kini, hanya tinggal kenangan, tidak pernah tau apakah keadaan itu akan di dapati kembali.


Tangan mengulur, mengusap sprei putih pembalut tempat tidur itu. Mencari aroma sang istri yang tertinggal di sana. Bayangan manis terbesit dalam ingatan, ketika ia melakukan kegiatan panas bersama istrinya di sana. Membawa keceriaan terpapar dari senyuman gemas.


Ia mengakhiri lamunan pedih itu, tubuh beranjak meninggalkan ruang untuk menuju di mana penawar duka tersedia di sana.


Di tengah perjalanan, ketika tubuh melintasi ruang tamu utama. Ia melihat sepasang insan telah duduk saling berdampingan di atas sofa berwarna putih itu.


"Hans, Tri." Ia menyapa di sela ayunan kaki yang belum terhenti. Arah tujuan beralih, ia menghampiri kedua tamunya hingga duduk di samping kanan Triana.


Raut wajah lusuh menbuat Hanson tidak tahan memberikan olokan dengan tawa cibiran. "Nyesel lo?"


Ungkap kata tertuju kepada Sammuel, akan tetapi menyentuh rasa perempuan satu-satunya yang yang berada di sana. Kemudian,

__ADS_1


"aku yang salah, Hans." Triana mengungkap kejujuran yang membuat harga dirinya terjatuh, namun tidak menjadikan beban untuknya. Malah ia merasa lega setelah mengungkap kebenaran dari kisahnya.


"Ngapain kalian ke sini?" Sammuel melera perbincangan sebelumnya, meyakini akan membuahkan pertikaian dengan sang kakak.


"Mau nyerahin cewe lo," jawab Hanson berbalas decakan dari Sammuel.


Sammuel terkesan geli mendengar ungkapan itu, ia tidak menduga sang kakak akan dengan mudah melepas kekasihnya kepada pria lain. Hal serupa di rasakan Triana, seolah takdir mengolok dirinya, ia mencibir nasib diri dengan rasa tidak percaya.


"Gue udah ga bisa maksa dia lagi, mending dia tinggal di sini." Dagu Hanson bergerak ke samping kirinya, di mana Triana berada.


Triana tidak enak hati menerima keputusan seolah mengusir dirinya, membuat batin agak meringis menanggapi. "Sam, maaf ... bukannya aku mau rebut kamu dari sahabat aku. Aku cuma mau kamu lepasin istri kamu buat kakak kamu."


"Gue setuju kalau tunangan lo tinggal bareng si Fiona," ucap kata berduri Sammuel kemukakan, membuat wanita yang duduk di apit dua pria itu tertunduk meresapi kesalahan.


"Makanya gue bawa dia ke sini, gue mau bawa mantan gue tinggal bareng gue," ujar Hanson menyahut.


Sammuel tidak lagi ingin mempedulikan permintaan mengerikan itu, yang ia pikirkan hanyalah mengungkap kejujuran hati. Maka,


"Sorry Tri, gue terima lo karna-"


"Aku tau." Secepat kilat Triana menyahut, enggan mendengar kalimat yang sudah dapat di terka akan menyakitkan. Meski demikian, ia tidak mampu menyembunyikan kepedihan meski usaha dalam senyuman ia paparkan.


Sammuel menyadari akan hal itu, barulah ia sudi mengulurkan tangan, mengusap puncak kepala wanita ini. Tak kantas Triana membalas dengan senyum ceria.


"Maafin gue." Ketulusan terpancar pada sorotan mata Sammuel, berbaur ratapan akan penyesalan.


Serah terima telah mendapat kesepakatan, kemudian Hanson undur diri meninggalkan sepasang insan di sana. Setelah Hanson menghilang dari jangkau pandangan mereka, Sammuel baru mendapat kesadaran diri.


Tubuh ramping di sampingnya membawa ingatan terjerumus dalam ilusi, ia mendamba jika seorang wanita yang berada di sampingnya adalah sang istri. Penampilan Triana mendukung bayangannya, ia melihat wanita itu nampak serupa seperti istrinya.


Rambut hitam panjang sepinggang menjadi sasaran tatapan, setelah menilik tajam tubuh yang duduk membelakanginya nampak begitu serupa dengan milik istrinya.


Tanpa memikirkan hal lain, rasa rindu yang sudah menggunung itu ia curahkan pada dekapan dari belakang tubuh itu. Meresapi aroma tubuh, masih nampak tiada lain dengan sang istri.


Maka, tak lagi mempertimbangkan yang lainnya, Sammuel menghujam bibir tipis itu dengan mulutnya. Katup mata tertutup rapat, mencari sosok istrinya dalam bayangan. Meresapi jika kini yang di cumbunya adalah wanita yang sangat d rindukannya.


Sementara lawan main hanya terdiam tanpa perlawanan, Triana memahami akan arti tindak paksaan itu. Terbukti dari linangan air mata yang membasahi pipinya, mungkin pria ini sedang kesulitan mengatur jiwa.


Begitulah kegiatan itu terselenggara, tiada buah kenikmatan sebab dari masing-masing menendam sejuta duka.




__ADS_1


Tbc


__ADS_2