Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 142


__ADS_3

Seorang President Direktur perusahaan bernama PT.ZhanaZ Group telah di kunjungi seorang tamu wanita yang akan membuat kejutan menghampirinya, terlihat dari kelopak matanya yang melebar saat menatap wanita itu yang masih berjalan lamban dari ujung pintu untuk menghampirinya.


Jackson menghentikan pekerjaannya seketika untuk menyapa wanita itu dengan tatapan kejut serta senyuman tidak percayanya di iringi gelengan kepalanya yang terlihat menolak kehadiran wanita itu oleh assistant serta sekertaris wanitanya.


Tidak lain dengan Jackson, Jesslyn serta Kelvin pun terperangah mendapat kejutan dari kehadiran wanita yang kini telah berdiri di hadapan sang pemilik ruang yang telah duduk di atas kursi kebangsaannya.


"Natalie.." sambut Jackson sebagai sapaannya berbalas senyuman ledek dari wanita yang memiliki nama Natalie itu.


"Sorry Jack, apa aku ngagetin kamu?" sahut Natalie berseru gemas kala pasang matanya menatap wajah pria di hadapannya yang masih memaparkan aura kejutannya.


"Yup!" Jackson menyeringai penuh lelucon saat tawa kecilnya mengiringi kalimatnya bahkan kedua matanya menilik tubuh Natalie dari ujung kepala hingga batas pahanya. "Ga mau duduk?"


Jackson segera memalingkan arah pandangnya kala wanita di hadapannya tertegun untuk memahami dari tatapan genitnya, Jackson mengakui jika kini ia mengagumi tubuh ramping yang berbalut busana casualnya itu.


Natalie tidak menyahut dengan ucapannya, ia segera mendaratkan tubuhnya di atas kursi yang terletak besebrangan dengan sang pemilik ruang.


"Kamu pulang ke sini apa itu maksudnya kamu udah berhasil?" tanya Jackson kepada Natalie membuat dua orang yang berada satu ruang di sana memasang telinganya untuk menguping perbincangan yang membuat rasa penasaran mereka merangkak tanpa bisa di cegahnya.


"Ga usah basa-basi Jack, aku tau pasti kamu juga selidiki apa yang aku lakuin selama ini." Natalie berseru menerka yang berbalas anggukan ringan dari lawan bicaranya.


Jackson tidak memungkiri jika mantan istrinya  telah memahami bagaimana dirinya termasuk sipat penguntitnya yang tidak pernah luput dari kesehariannya itu jelas di fahami sang mantan istri.


Natalie adalah ibu kandung dari Aleya Queenza Natalia anak yang selama ini hidup bersama Jackson, setelah dua tahun menghilang kini ia kembali menemui mantan suaminya untuk membuktikan bahwa dirinya telah menepati janjinya.


Pasca bercerai dengan sang suami, Natalie mendapat bekal harta dari Jackson yang di gunakannya untuk membuka sebuah klinik kecantikan yang akan menopang kehidupan selanjutnya.


Kini ia telah mencapai mimpinya, meraih keinginannya dengan kedua tangannya sendiri hingga membuatnya melupakan anak semata wayangnya selama dua tahun ke belakang itu.


"Hebat juga kamu Nat, cuma di kasih modal dua milyard udah bisa sesukses ini," puji Jackson penuh kesungguhan kala sang hati melihatnya dari penampilan wanita itu.


"Semua juga berkat kamu." Natalie membalas pujian itu yang membuat pria di hadapannya bergerak kaku.


Jackson canggung dengan keadaannya, setelah lama berpisah dengan mantan istrinya membuatnya terlupa untuk apa yang harus di perbuatnya terhadapnya.


Memang dahulu kalapun saat ia hidup satu atap bersama mantan istrinya tidak memiliki kedekatan lebih, bahkan tidurpun terpisah kamar.


"Jack.." seru Natalie terpenggal saat Jackson pun mengucap sesuatu.


"Mau minum apa?"


"Ah i-itu terserah." Tidak lain dengan Jackson, rasa canggung itu pun menggugah hati Natalie.


"Jess bikinin teh," titah Jackson berseru melenting lantaran sang penerima perintah berada agak menjauh darinya.


Tidak menyahut dengan ucapan, Jesslyn segera beranjak dari tempat duduknya untuk melakukan perintah pekat sang atasan hingga meninggalkan pekerjaannya sejenak.


"So, kamu mau bilang apa tadi?" tanya Jackson kepada Natalie.


"A-aku ke sini mau ambil anak aku," jawab Natalie ragu-ragu membuat pria di hadapannya kembali memaparkan wajah kejutnya.


Sejenak Jackson menghela napas dalamnya untuk menepis lirihannya, namun ia tidak bisa berbuat apapun jika sang ibu dari anak itu yang memintanya.


"Apa bapaknya udah mau terima anak itu?" tanya Jackson memastikan, sesungguhnya hatinya lah yang belum dapat memastikan perasaannya kini.


Jackson enggan menyerahkan seorang gadis cilik yang telah menjadi belahan jiwanya selama dua tahun ke belakang itu, rasa cinta kasih dan sayangnya telah mengunci keinginannya untuk selalu bersama dengan si gadis cilik itu.


Natalie mengangguk antusias menyikapinya. "Maaf udah ngerepotin kamu selama dua tahun ini," ujar Natalie penuh penyesalan tat kala matanya melirik sejenak wajah tampan yang merancu di hadapannya.


Natalie menerka jika pria itu tidak akan mengabulkan keinginannya, ia pun sangat memahami perasaan itu, rasa enggan berpisah dengan seseorang yang begitu di sayanginya.


"Kamu jahat Nat, aku udah sayang sama anak itu, tega banget kamu mau pisahin aku sama dia."


Natalie membeku mendengar ucapan yang sebelumnya sudah menjadi tebakannya, namun hanya sesaat ia menepisnya dengan tawa kecil untuk gurauannya.

__ADS_1


"Kakeknya pemegang saham di sini Jack, malah ayahnya sekarang yang ngurusnya, jadi kamu ga usah khawatir, kamu masih bisa ketemu sama Queena."


Kembali Jackson menghela napas dalamnya seolah melampiaskan kerancuannya. "Aku masih butuh anak itu Nat."


"Jack.. aku yang berhutang sama kamu, kamu ga usah libatin anak aku!" Secepat kilat Natalie memenggal ucapan itu bahkan matanya menilik tidak suka wajah yang telah tertunduk di hadapannya.


"Oke bukan karna itu, tapi karna aku belum rela pisah sama dia!" ujar Jackson penuh kesungguhan dalam ketegasan nada bicaranya membuat emosi dari wanita di hadapannya terpapar dengan tatapan sebalnya.


"Udah aku bilang kamu masih bisa ketemu sama dia!" Natalie murka hingga membalas nada bicara tegas itu dengan nada nyalangnya.


Jackson tidak percaya jika wanita yang dahulu kala begitu lembut terhadapnya kini berani menimpali ucapannya hingga ia frustasi yang terpapar dari dengusan keras serta paparan wajah keji dalam aura sengitnya. “Terserah kamu deh.”


Natalie membatu saat atmosfer kelam itu menyentuh rasa takutnya, baru kali ini ia melihat hawa keji itu hingga membuat bibirnya kelu bahkan jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat.


Beruntung suasana tegang itu terlerai kala Jesslyn menghampiri mereka untuk menyajikan dua cangkir teh yang telah berhasil di buatnya saat lalu.


Natalie segera menyambut jamuannya dengan meraihnya tak lantas menyeruput isinya untuk menenangkan batinnya yang masih bergejolak takut.


“Makasih Jess,” ucap Natalie setelah usai menelan separuh isi dari gelas yang berada pada genggamannya.


Jesslyn hanya tersenyum membalasnya lalu tanpa perintah ia kembali mengundurkan diri untuk melanjutkan pekerjaannya.


“Maaf Jack aku udah ga tau diri, mau bagaimanapun anak itu butuh tanggung jawab dari ayahnya.”


Ucapan Natalie rupanya membuat seorang pria yang duduk di atas sofa yang terletak di tengah ruang itu mendapat kejutan hebatnya hingga ia kembali memasang tajam telinganya untuk mendengar penjelasan selanjutnya.


“Siapa sih ayahnya dia?” tanya Jackson penuh penekanan kala ia menginginkan sebuah jawaban dari pertanyaannya yang telah terucap untuk ke sekian ratus kalinya.


“Daniel Radit Atmawidjaya.”


“Hah!” Batin Jackson merasa terpukul dengan sebuah nama yang terdengar oleh telinganya itu hingga nada bicaranya begitu memekik lantang.


“Kamu pasti kenal dia,” ujar Natalie tak acuh mengabaikan wajah heran di depannya.


“Jadi, di mana Queena sekarang?”


“Kamu ga bisa ambil dia begitu aja Nat, kamu lupa dia di sayang banget sama kakek neneknya?”


Natalie mendengus pasrah, ia melupakan keneradaan orang tua mantan suaminya yang begitu menyayangi anaknya. “Ya udah aku kasih waktu aja, kira-kira bisanya kapan?”


“Aku harus ngomong pelan sama mereka,” sahut Jackson di iringi dengusan ringannya kala otaknya sibuk berpikir untuk mencari cara agar orang tuanya memberikan restunya.


“Tapi Jack, apa aku bisa ketemu dulu sama dia?” Natalie berucap penuh harapan hingga nada rajukannya begitu menusuk indra pendengaran pria di hadapannya.


Jackson memahami lirihan itu, ia pun turut merasakan jika rindu telah merundung jiwa seorang ibu kepada anaknya. “Besok aja, kita ketemu di mall Corinda jam sepuluh pagi.”


Sudut bibir Natalie terangkat jauh menyiratkan senyum riangnya mendengar ucapan yang membuat batinnya berbunga-bunga. “Oke.”


Sampai di sana, perbincangan itu rupanya tidak membuat Kelvin merasa puas lantaran rasa penasarannya masih bergejolak. Ia menginginkan jawaban lebih dari keadaan sahabatnya yang tidak pernah di ketahuinya sama sekali.


Namun sebisa mungkin ia menahan diri untuk tidak mempertanyakannya saat ini kala wanita itu kembali mengucap katanya.


“Maaf Jack gara-gara aku kamu jadi punya status duda,” tutur Natalie kembali melirih saat rasa sesal menembus angannya.


Seharusnya Jackson tidak mendapat status itu kala tubuhnya belum tersentuh sedikitpun oleh mantan istrinya, dahulu kala mereka menjalin ikatan pernikahan hanya untuk pertukaran bisnis semata.


Kala itu, Jackson membutuhkan kehadiran Natalie hanya untuk menarik penghasilan daei perusahaan yang di pimpinnya kini, sementara Natalie membutuhkan seorang ayah untuk anak yang di kandungnya di luar pernikahannya.


“Udahlah ga usah minta maaf terus, kita sama-sama membutuhkan kok,” ujar Jackson menepis rasa sesal daei wanita itu.


“Tapi status kamu lebih penting Jack, sekarang kamu pasti kesulitan nyari pasangan_”


“Emang iya gara-gara kamu aku jadi susah deketin si Tara,” potong Jackson menyeleneh yang sesungguhnya ia ingin menghibur mantan istrinya.

__ADS_1


Usaha Jackson mencapai keberhasilan kala Natalie melontarkan tawa gelinya di iringi gelengan kepalanya. “Ya udah aku pulang dulu, besok jangan lupa bawa anak aku.”


Jackson mengangguk antusias menyikapinya. “Sampe ketemu besok.” Lantas melambaikan tangannya kala wanita itu telah berdiri di tempat.


“Makasih buat semuanya Jack,” seru Natali penuh kesungguhan hati membuat Jackson mendengus sebal di sana.


“Emamgnya aku ngasih apa sih?”


Natalie tidak menimpal ucapan itu, ia hanya tersenyum manis penuh pesonanya membuat pria di hadapannya sejenak merasa kagum terhadap ketegaran hatinya.


Lantas Natalie melambaikan tangannya meminta pamit pada pria itu yang di balas hanya dengan anggukan ringannya, sesungguhnya Jackson membatin iba terhadap wanita yang memiliki nasib kurang beruntung itu hingga ia menatap punggung yang semakin menjauh dari hadapannya dengan sorotan kepedihannya.


Akhirnya Natalie lenyap dari ruang itu, namun kerancuan datang menghampiri Jackson tat kala sang sahabat sudah berdiri tegak melipat kedua tangan di dadanya.


“Apaan ini Jack, lo udah tau dari awal kalo Queena bukan anak lo?” tanya Kelvin berseru gemas hingga ia bersungut dengan nada jengahnya.


“Kapan gue bilang ga tau?”


“Hebat juga lo nyimpen rahasia selama itu sampe gue aja ga tau!” Kelvin masih gemas dengan kelakuan sahabatnya hingga ia masih mengumpat di dalam batinnya.


Sesungguhnya ingin sekali ia menyumpal mulut sahabatnya dengan sepatunya jika saja ia tidak mengingat jika pria itu adalah atasannya yang berkuasa atas keuangannya.


"Ga usah tau lah, kasian mantan bini gue juga, dia yang udah gue paksa buat kawin sama gue demi warisan, untung aja dia hamil jadi gue punya alesan sama bokap gue,” sahut Jackson menjabarkan alasannya membuat Kelvin merenung di sana untuk menyibak makna dari ucapannya itu.


"Ga bisa nyari cewe yang lebih bener apa?" seru Kelvin setelah berhasil mendapat jawabannya hingga ia menyesalkan jika seorang pria hebat seperti sahabatnya di haruskan bersanding dengan seorang Natalie yang hanya pekerja kecil saat itu.


"Lo ga liat dia cewe hebat, gue bayar dia dulu dua milyard asal anaknya ga dia bawa kalo udah cerai sama gue, sekarang dia udah punya klinik kecantikan gede cuma dari duit segitu."


"Jadi lo juga yang nyerein dia?" Kelvin menyeringai dalam kejutannya, baru kini ia mengetahui kisah sesungguhnya dari rumah tangga rumit sahabatnya.


"Perjanjiannya cuma sampe Queena umur lima bulan gue jalan sama dia, alesannya yah itu lah gue bikin nama dia jadi jelek, gue bilang dia lari bawa duit."


Jackson berucap penuh lirihan pedih kala rasa sesal kembali menyentuh angannya, ia menghembuskan napas kasarnya mewakili rasa jengah terhadap dirinya yang telah tega menodai nama seorang wanita polos seperti mantan istrinya.


Akhrinya, penyesalan yang selalu terpendam selama dua tahun itu terlepas sudah setelah samg wanita kembali menemuinya pertanda seluruh rahasia yang menjadi dustanya selama ini telah terungkap sudah.


"Brengs*k juga lo Jack, pantes lo ga heran ngeliat kelakuan si Sam sama bininya, toh lo duluan yang bejat." Kelvin geram, namun ia tidak dapat melakukan hal lain selain mengumpat dengan kata pedasnya.


Namun ucapannya berhasil membuat Jackson tersadar akan kelakuan busuknya selama ini, rasa sesal yang selalu menggerogoti angannya ternyata berawal dari kelakuannya sendiri.


"Niat gue dulu bantu tuh cewe, nangis-nangis mau bunuh diri gara-gara hamil ga di akuin bapak anaknya."


"Oke gue akuin sikap penolong lo ini, tapi lo jangan lupain aja lo udah bikin nama dua cewe ancur."


"Dua?"


"Si Fiona."


Jackson terkekeh seraya membayangkan wajah Fiona dalam ingatannya. "Buat si Fiona gue pasti tanggung jawab makanya gue mau ngawinin dia."


Kini Kelvin yang menghembuskan napas kasarnya tat kala ia sudah kewalahan menanggapi perlakuan sinting sahabatnya yang tidak dapat di cegahnya sama sekali.


Akhirnya ia hanya melenguh tidak berdaya meski hati meronta ingin sekali memberikan petuah serta wejangan pada pria keras kepala yang kini tertegun di hadapannya.


Perbincanganpun usai kala waktu telah menunjukan untuk mereka melakukan pertemuan dengan rekan bisnisnya.





Tbc

__ADS_1


__ADS_2