Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 68


__ADS_3

Hari senin itu, nampaknya Tara bekerja tanpa risalahnya lantaran sang mertua yang tidak menyita waktunya di hari liburnya kemarin lusa akibat adanya sang cucu bersama dirinya hingga ia mampu menepati keinginan kedua adiknya untuk bertemu dengannya.


Meski ia tidak memergoki tingkah ibunya yang selalu menghabiskan waktu dengan kekasih barunya, seolah sudah dalam aturan skenario hidupnya sang ibu dapat menghindarinya.


Tujuan perjalanannya pulang ke rumah ibunya untuk memberikan penjelasan tentang status pernikahannya kepada adik pertamanya.


Hanya kepada adik pertamanyalah Tara mengungkap status itu dan ia memaksa adiknya agar tidak memberitahukan kepada siapapun lagi.


Lain dengan perasaan Tara, Hanson kini meredam seluruh emosinya lantaran pertengkarannya dengan sang tunangan akibat perlakuannya terhadap Tara yang menjadikan sang tunangan mengingkari tekadnya untuk selalu kuat menahan api cemburunya.


Fiona merasa riskan dengan keadaannya hingga ia melakukan sesuatu untuk dapat mengembalikan keceriaan lelaki pujaannya. Dengan sengaja ia membiarkan sang tunangan mendapati waktunya saat makan siang bersama Tara.


Meski api cemburu akan kian menyulut dalam benaknya, demi mencari simpati terhadap lelaki yang sudah lama di inginkan sang hati, ia rela mengorbankan hatinya itu.


Dengan demikian, kini Hanson tengah duduk gagah di atas kursi yang terdapat pada sebuah restauran bergengsi di luar perusahaannya. Di dampingi Tara yang duduk gelisah di sebrangnya.


Hanson menatap wajah Tara yang tertunduk sejak menginjakan kaki di tempat itu. Namun aksinya terlerai kala seorang pelayan wanita menyerahkan dua piring santapan yang tengah di pesan Hanson sesaat lalu. Akhirnya, masih dalam keadaan gelisahnya Tara menyuapi dirinya.


"Ada yang bilang kamu suka bebek panggang, jadi aku bawa kamu ke sini, ga keberatan kan?" Tanya Hanson berbasa-basi di sela suapan makan siangnya.


Tara menoleh ragu ke arah Hanson. "Hans, Fiona__"


"Jangan bahas dia oke!" Potong Hanson enggan waktu berharganya di kacaukan dengan perbincangan yang tidak bermutu itu.


Tara kembali tertunduk, namun kali ini ia memusatkan pandangannya pada santapannya. Seraya menelan sesuap demi sesuap santapannya, Tara bergumam dalam benaknya. Ia faham betul apa yang di rasakan Fiona lantaran kini iapun tengah merasakannya.


"Bebek di sini paling enak bukan?" Celoteh Hanson melerai wajah yang masih tertunduk itu.


Tara masih membungkam mulutnya dalam gumaman benaknya yang belum di akhirinya. Ia masih memikirkan nasib sahabat kecilnya, harus bagaimana ia membantunya agar pria yang telah menatapnya penuh lirihan itu sudi menyerahkan hatinya kepada sahabatnya.


"Kita bisa sering ke sini, lain kali ajak Fiona sama Jackson." Kembali Hanson berceloteh ringan mendapati sang wanita hanya berdiam diri.


Tara masih membungkam mulutnya dengan santapan yang masih menelusup masuk ke dalam tenggorokannya sesuap demi sesuap.


"Tara." Hanson menepuk keras tangan Tara hingga sumpit yang berada dalam genggaman Tara terjatuh begitu saja. Hal ini membuat Tara menolehkan pandangannya pada wajah Hanson.

__ADS_1


Atas tingkahnya, Hansonpun mendapat kejutannya hingga aura dingin terpancar dari wajah tampannya. "Masih mikirin Fiona?"


"Bukan, a-aku cuma__" Aura dingin itu berhasil membuat jantung Tara berdegup dalam rasa takutnya.


"Ngerasain perasaan dia?" Penggal Hanson menerka yang sudah pasti jawabannya tidak meleset sama sekali.


Tara terhentak dengan tebakan itu hingga ia sesegera mungkin mencari alasannya. "Bukan, cuma Jackson__"


Hanson terkekeh geli seraya menundukan wajahnya. Telapak tangan kirinya berhasil mengusap kasar wajahnya. "Aku lupa kalo kamu cewe dia, tapi aku masih inget waktu kamu nolak dia terus."


Tara menghela napas lega untuk kalimat pertama Hanson, namun untuk kalimat keduanya ia bergerutu dalam benaknya.


"Tara apa kamu tau hati orang ga bisa bohong? Mau gimana juga aku sama Fiona ga saling cinta." Jelas Hanson seraya menyandarkan tubuhnya, kedua tangannya saling melipat di dadanya. Sudah hilang selera makannya, iapun hanya memperhatikan kegiatan makan Tara di hadapannya.


"Aku tau itu, tapi seengganya Fiona udah berusaha kan?" Umpat Tara di balas decakan jengah oleh pria yang di hadapannya.


"Berusaha bikin aku jengkel?"


Tara membisu dalam tatapan janggalannya. Mungkinkah suaminyapun merasakan hal serupa dengan pria yang telah berulang berdecak di hadapannya itu? Hanya sekilas, ia kembali menyuapi dirinya.


"Wajarlah namanya juga cewe, kalo kamu kasih jatah tiap bulannya dia ga akan gitu juga kan?"


"Oh jadi maksudnya kamu di kasih jatah bulanan sama si Jack jadi aku ga kaya si Jack gitu? Emang kamu pikir cuma cowo kamu yang kaya gitu?" Jabar Hanson meraih gelas minumannya, lantas meneguk isinya, meredakan nyeri di balik dadanya.


"Aihhhh keterlaluan namanya kalo udah di kasih jatah bulanan masih kaya gitu."


Trak! Dua jari tangan kanan Hanson menyentakkan suaranya. "Itulah yang bikin jengkel, kalo mau bersaing harusnya dia liatin kelakuan baiknya. Lah ini__"


"Susah juga sih sipat cewe kan beda-beda." Hibur Tara dengan senyuman mengiringinya, kini senyumannya mulai terlihat oleh Hanson melega. "Setau aku sih si Fiona orangnya baik, cuma ya itu." Ia mengernyit membayang kala dahulu saat bersama Fiona. "Kalo udah ada maunya ga bisa di larang. Tapi dia baik kok, cuma ya beda kali ya?"


"Makanya, dari perbedaan itu aku lebih suka sipat kamu." Rayu Hanson.


"Gombal."


"Asli."

__ADS_1


"Busuk."


"Tunangan aku tuh busuk."


"Tapi kamu masih ngakuin dia tunangan kamu."


"Kenyataannya begitu."


"Aku lupa kamu itu Jaksa agung, susah juga debat sama kamu."


"Makanya jangan ngajak debat."


Akhirnya sisa santapan itu terbengkalai lantaran mereka saling merendam kegundahannya.


"Hans aku harus pergi sekarang." Pamit Tara melihat alat pengukur waktu yang melingkar pada pergelangan tangannya.


"Perlu aku anter?"


"Aku bawa mobil."


Hanson menggeleng dalam kekehannya. "Aku lupa lagi kalo nona ini udah jadi nyonya Jordan."


Tara mengernyit, apa maksud dari nyonya Jordan itu harus ia terima? Sudahlah ia lupakan saja, iapun bangkit seraya menepuk bahu Hanson. "Lain kali bawa tunangan kamu makan bareng biar aku ga risih." Dan iapun mulai mengayunkan kakinya.


"Biar cowo kamu juga ga cemburu kan?" Kata Hanson seraya melambaikan tangannya.


Tara mengabaikan perkataan sindiran itu, ia berlalu begitu saja dari hadapan Hanson.


Seperginya Tara, Hanson menggumamkan lirihannya. Andai ia mampu menjadikan Tara seorang penurut bagi ucapannya, ia hanya ingin menghabiskan waktunya sebelum sang pesaing kembali dari kepergian sementaranya.




__ADS_1


Tbc


__ADS_2