
Tara membuka pintu apartemennya, ia melangkahkan kakinya hingga menyenggalnya di dalam ruang tamunya yang menampakkan Sammuel duduk di sana berhadapan dengan alat media yang bertengger di atas meja.
"Udah beres?" Sammuel menatap Tara penuh pertanyaan.
"Udah." Singkatnya melenguh di sela langkah kakinya yang masih mengayun.
"Gimana? Lancar?"
"Tugas aku beres, dia udah mau jadiin aku pelampiasannya." Tara menghempas kasar tubuhnya di samping suaminya membuat sang suami menerka jika ucapan itu membuat batinnya teriris.
Sammuel terkekeh memberikan penghiburan seraya mendaratkan sebelah tangannya pada bahu istrinya. “Maksud lo, lo ga mau jadi pelampiasan hm?"
Tara mengarahkan pandangannya pada wajah Sammuel dengan tergesa. "Sembarang!"
Sammuel hanya terkekeh menyikapinya dengan melepas dekapannya untuk kembali mengarahkan jari-jari kedua tangannya pada alat medianya.
"Oh ya, kamu nyuruh aku deketin dia cuma pengen aku ngehibur dia ya?" Tanya Tara beringsut hingga menatap harap wajah suaminya.
"Jadi dia udah cerita?" Faham Sammuel, namun tidak melepas arah pandangnya pada alat media itu.
"Soal cewenya yang meninggal kan?"
"Hmmm." Lenguh Sammuel, entah mengapa batinnya terkoyak lirih menyambut perbincangannya.
Sejenak hening mengambil alih suasana lantaran Tara turut menatap layar alat media milik suaminya yang masih setia bertengger di atas meja itu.
"Kamu orang China ya?" Tara memperhatikan tulisan yang tersirat di balik layar itu. Seharusnya ia sudah mengetahuinya jika melihat garis wajah suaminya.
"Gue orang Indo, cuma bokap gue orang China, nyokap orang Spanyol." Meski menjawab, Sammuel masih tidak mengalihkan arah pandangnya.
"China-Spanyol bisa nyangkut di Indo." Ledek Tara terkekeh di akhir kalimatnya.
"Kenapa? Takut orang Indo kesaingin sama muka ganteng gue ini ya?"
"Narsis!" Cibir Tara di pertegas dengan memukul manja lengan suaminya.
Sammuel mengabaikan cibiran itu, namun tangannya berhasil mengusap lengannya tanpa mengalihkan arah pandangnya pada layar di hadapannya. "Lo ga suka gue ngomong jujur?"
Tara menepis tangan Sammuel yang masih mengelus lengannya sendiri. Ia menggantikannya dengan tangannya. "Aku ngaku deh kamu emang orang paling jujur."
__ADS_1
Sammuel hanya menyiratkan tawa kecilnya membalas pernyataan tanpa ketulusan itu.
"Sam."
"Hmm."
"Aku bisa nanya alesan buat si Jack ga?"
"Ga bisa! Lo cewe pinter, lo bisa nyari tau sendiri." Aneh, mengapa Sammuel merasa pedih hatinya kala memperbincangkan tentang ini.
"Sukur kamu ngakuin kalo aku pinter."
Sammuel melepas kegiatannya. Ia merebahkan punggungnya pada penyandar sofa. "Urusan renten udah kelar kan?"
Tara menatap wajah Sammuel yang terihat berbeda dari sebelumnya, kali ini wajah yang sebiasanya riang itu kini melirih. "Udah." Ia mencoba memberikan penghiburan, menyandarkan tempurung otaknya pada dada suaminya. "Sam."
"Apa lagi?" Runtuk Sammuel mengira istrinya akan memaksanya untuk memberikan jawaban dari pertanyaannya.
"Syarat ke 5 aku_" Wajahnya mendongkak, meluruskan pandangan pada mata suaminya, membuat Sammuel membalasnya penuh penasaran.
"Apa?"
"Boleh ga syarat ke 5 aku_ Bebasin aku buat cinta sama kamu?"
Sammuel hanya tersenyum membalasnya, namun senyuman itu untuk menyembunyikan keterkejutannya. Bagaimana bisa wanita yang akan di jodohkan dengan kakaknya malah terperosok ke dalam rayuannya.
Tara salah faham dengan senyuman itu yang terlihatnya melirih. "Kamu emang ga cinta sama aku, tapi boleh kan aku cinta sama kamu?" Sepasang mata berwarna hitam itu masih saling bertatapan, menyemburkan rasa iba pada masing-masingnya.
"Kalo lo suka sama gue, gimana lo beresin tugas lo sama si Jack?" Gemas Sammuel yang sudah enggan membuat keadaan kian rumit, ia menjepit dagu istrinya dengan dua jarinya. “Makanya gue ga mau lo cinta sama gue."
Tara melenguh, benar adanya apa yang di katakan suaminya. Seharusnya, ia tidak terperosok dalam permainan suaminya. "Sam."
"Hmmm?"
"Kamu tau? Yang aku bilang itu bohong?" Tara terbahak di akhir kalimatnya membuat Sammuel kembali terperangah dalam kejutannya.
"Lo nakal juga ya." Sammuel gemas, menggeleng tidak percaya jika ucapan penyenggal itu sungguh tertutur dari hatinya.
"Nakal juga sama suami sendiri." Ledeknya, namun berhasil membuat Sammuel kembali melirih.
__ADS_1
"Gue cium lo ga berhenti baru tau lo." Goda Sammuel merekatkan dekapannya hanya untuk melampiaskan rasa gemas pada istrinya.
Tara meronta mencoba melepas dekapannya, namun tidak membuahkan hasil sedikitpun. "Oke aku ngaku, aku cuma mancing kamu biar ngomong alasan soal si Jack."
"Sekarang lo udah tau kan?" Sammuel kian mengeratkan dekapannya membuat rasa suka dalam asanya menyebar ke seluruh sanubarinya. Baru kali ini ia mengeluh akan hatinya yang terguncang oleh tingkah seorang wanita. Namun kembali pada tujuan awalnya, sebisa mungkin ia memendam bahkan ingin menghempas perasaan itu.
"Sam sakit gila!" Tubuh Tara memanas, bahkan di rasanya asap telah mengepul dari atas tungkak kepalanya. Ia meronta, mencoba melepas dekapan itu untuk menyembunyikan perasaan bergejolak yang entah dari mana datangnya.
Sammuel yang terlanjur gemas dengan tingkah istrinya, ia membungkam mulut istinya dengan bibirnya. Cumbuan yang sempat hilang beberapa saat itu, kini Tara merasakannya kembali. Mendapati kembali sikap Sammuel saat pertama kali mereka bertemu.
Sammuel kini mencumbunya dengan mesranya, membuat Tara menikmatinya. Rasa menginginkan lebih dari itu menyeruak dari asma Tara, namun kekecewaan yang di dapatinya kala Sammuel menghentikannya begitu saja.
Sammuel menahan gejolak itu dengan rekatan dekapan pada tubuh istrinya, bahkan matanya mengunci tatapannya pada wajah yang sudah berpeluh kecil itu.
"Iblis cabul." Goda Tara, ia tersenyum membalas tatapan lekat itu.
Cup. Sammuel mengecup bibir istrinya, membuat sang empunya mendetakkan jantungnya penuh semangat.
"Setan mesum."
Cup. Kembali Sammuel mengecup bibir istrinya. Dapat di rasakannya detakan jantung itu yang semakin mengencang, namun tidak di ketahuinya bahwa detak jantungnyalah yang lebih kencang berkumandang.
"Buaya licik."
Cup. Lagi Sammuel melakukannya.
"Sayangnya dia suami aku, dosa apa aku dulu sampe dapet suami model gini?" Akhirnya Tara terkekeh penuh cibiran.
"Lo sengaja ya biar gue nyium lo terus?" Dekapan itu semakin erat, membuat hatinya menghangat memilukan.
"Sam, narsis kamu ga ketulungan deh."
•
•
•
Tbc
__ADS_1