Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 127


__ADS_3

Ting.. tong.. ting.. tong..


Suara bel kediaman Triana berkumandang nyaring membuat sang pemiliknya segera menyambut tamunya.


Di bukanya pintu itu tanpa curiga siapa yang akan datang karna ia tepah mengetahuinya selain Hanson tiada lagi yang akan berkunjung ke rumahnya.


Benar adanya, Triana tersenyum manis kala melihat seorang pria di balik pintu kediamannya yang berdiri di sana dengan tangan menggenggam sebuah plastik putih.


"Pizza pesenan kamu," sapa Hanson seraya mengangkat palstik berisikan santapan yang di sebutkannya untuk memperlihatkannya kepada pemilik rumah.


"Kapan aku pesen?" sahut Triana meledek pekat di iringi tawa kecil yang menggemaskan.


"Oh aku lupa basa-basinya kuno ya?" ujar Hanson terbengkalai kala Triana hanya tertawa kecil menyikapinya.


Hanson menutup pintu itu lantas melangkahkan kakinya menuju ruang tamu yang tersedia, di belakangnya sang wanita membuntuti langkah panjangnya.


Tepat kala Triana berhasil duduk di atas sofa yang terdapat di dalam ruang tamu kediaman sederhananya, Hanson segera membukakan plastik yang telah di bawanya sebelumnya.


"Ngapain kamu ke sini?" ucap Triana membuat pria yang duduk di sampingnya menghentikan kegiatan tangannya sejenak untuk menatap wajahnya.


"Aku lagi kangen," sahut Hanson penuh rayuan tat kala sudut bibirnya terangkat manis menyiratkan senyuman andalannya.


Triana belingsatan tanpa karuan menanggapi ucapan pria itu yang di rasanya tertuju bukan untuk dirinya, namun senyum itu membuat tatapannya enggan berpaling darinya.


"Ya tinggal kamu temuin dia malah nemuin aku," ujarnya berseru ledek hingga menyemburkan tawa kecilnya.


"Sayangnya dia kalo libur pergi ke Bandung,” balas Hanson tanpa ingin di timpali hingga pada akhirnya ia melakukan kegiatannya kembali.


Setelah bungkusan makanan itu terbuka, Hanson segera meraihnya satu potong, di berikannya kepada wanita di sampingnya yang masih terlihat menyiratkan senyuman manis olehnya.


"Ga bisa nunggu dia balik apa?" ujar Triana bersungut-sungut sebal kala mendapat perlakuan manis yang tidak pernah di ingikan hatinya.


Percayalah, hingga kini Triana masih memiliki rasa trauma mendalam untuk urusan lelaki setelah sebelas tahun silam mendapat penolakan keras dari adik lelaki yang kini telah sibuk menyantap makanannya.


"Kalo dia balik pasti di serobot si Jack duluan,” ujar Hanson saat sesuap makanannya masuk ke dalam tenggorokannya.


"Sengklek juga ya kamu, mau-maunya rebutan cewe sama abang kamu." Triana mencibir keras dengan nada bicaranya yang memekik.


"Oke gue becanda, gue ke sini bawa kabar bagus," sahut Hanson berbalas picingan mata menjanggal dari Triana.


"Soal si Fiona?"


"Soal kamu lah, ngapain mikirin dia?" potong Hanson memekik lantang kala membayang pada emosinya saat bertemu dengan mantan kekasihnya beberapa saat lalu.


Triana hanya terkekeh menanggapinya, sudah tidak asing lagi baginya jika pria di sampingnya selalu menolak membahas tentang wanita yang bernama Fiona itu.


“So, apa itu?” tanya Triana.


"Kamu bakal aku kasih saham 3% dari ZhanaZ, tapi syaratnya kamu harus tinggal di rumah aku bareng mama kamu."


"Kamu gila Hans, Mana enak aku repotin kamu lagi?" ujar Triana berseru kejut mendengar pernyataan itu.


Ia tidak mengira jika pria di sampingnya yang masih sibuk menikmati santapan siangnya akan dengan mudah memberikan kepercayaan terhadapnya.


Setelah tiga bulan menjalin kerjasama tanpa di sengaja, ia baru menyadari kelembutan hati pria itu. Kini rasa kagum mulai terpancar dari angannya hingga melepasnya melalui sorotan matanya pada wajah tampan itu.


Hanson menyadarinya meski ia hanya menangkap bayangan wajah oleh sudut matanya saja, bahkan ia sengaja membiarkan wanita itu menikmati tatapannya pada wajahnya.


"Kamu pikirin dulu Tri sebelum nolak, cuma di rumah aku mama kamu bisa aman dari niat busuknya si Edwin." Hanson berdesis kesal mendengar nama seseorang yang ingin sekali ia lenyapkan dari muka bumi ini jika saja ia tidak mengingat akan dosa.


Sedang Triana tertegun menyikapinya, benar apa yang di katakan Hanson, semuanya akan membaik jika ia sudi menerima tawaran itu.


Ayahnya yang bernama Edwin itu tidak akan kembali mengusik kehidupannya jika di sampingnya terdapat seorang pria yang di kenal hebat dalam dunia politik.


"Cuma ini satu-satunya cara yang bisa bikin kamu lepas dari dia," imbuh Hanson meminta dengan lirihannya hingga ia menatap harap wajah Triana.

__ADS_1


"Oke aku setuju, tapi soal saham_"


"Cuma itu juga cara ngembaliin kebebasan kamu."


Benar, hanya dengan menjadikannya seorang yang memiliki keuatan maka akan dengan mudah menyingkirkan seluruh musuh yang menekan kehidupannya.


Senyum janggal tersirat dari wajah Triana, sementara kegiatan santap menyantap makan siangnya telah berakhir begitu saja. "Kamu ga takut aku ambil alih saham itu?"


"Ga, karna aku mau bikin kamu ga bisa lari dari aku,” seru Hanson penuh kesungguhan hati membuat wanita di sampingnya berpikir lebih untuk menerima tawarannya.


"Mau jadiin aku simpenan apa?" ujar Triana bersenda gurau dalam tatapan ledekannya menuju wajah Hanson.


"Simpenan apaan, istri aja aku ga punya."


"Kamu punya tunangan Hans."


"Udah putus tadi!" sahut Hanson secepat angin.


Namun rupanya, Hanson masih merasa bingung mengingat akan hal itu. Hingga kini batinnya belum mampu menerima jika status hubungannya telah terlepas secara paksaan.


Terkadang ia memikirkan jika ia masih membutuhkan wanita itu untuk bekerjasama dalam membangun sebuah pekerjaan.


Sementara Triana menggunakan waktunya untuk mempertimbangkan tawaran itu ketika sang pemberi termenung saat lalu. "Oke kalo gitu aku ga ragu, tapi_"


"Kamu dulu kuliah jurusan hukum kan?" ujar Hanson memotong di sela uluran tangannya meraih gelas minuman yang tersedia.


Ia menyerahkan gelas minumannya kepada Triana, masih saja ia berusaha mendekatkan diri kepada wanita itu dengan memberikan gelas yang menyiratkan bekas bibirnya di sana.


Seolah tau niat Hanson, Triana menepisnya dengan mengambil gelas minuman miliknya. "Yup, cuma ga sampe wisuda S3 keburu ga ada biaya."


"Tapi kamu wisuda S2 kan?"


Tiara membalasnya dengan hanya mengangguk ringan kala mulutnya terbungkam gelas minumannya.


"Masih bisa kamu jadi asisstant khusus aku."


Hanson terkekeh gemas menanggapinya, kini tangannya terulur mengucek puncak kepala Triana. "Andai dia kaya kamu."


"Siapa, si Tara?"


Hanson bungkam, ia menghembuskan napas kasarnya seraya menghempas tangannya dari atas puncak kepala wanita di sampingnya.


Mungkin ia ingin mengucap kata menyesal, namun emosinya mengatakan jika ia seharusnya merasa lega atas keputusan yang sudah terlanjur di ambilnya.


Jalinan hubungan asmara itu tandas sudah, kini ia berpikir jika mantan kekasihnya lah yang akan membenci dirinya.


Namun hanya sejenak saja rasa sesal menggoda batinnya itu, dengan mudahnya ia menghempasnya kala menatap sorot mata indah yang telah menatapnya dalam picingannya.


"Mulai kapan aku tinggal di rumah kamu?" kata Triana.


Ucapan Triana membuat Hanson menyiratkan tawa lebarnya mewakili kemenangannya, itu adalah tanda persetujuan yang terucap tanpa di sengaja.


"Selasa, besok aku urus dulu si Fiona, aku masih ada tugas mending sekarang kamu siap-siap mindahin barang kamu ke rumah aku." putus Hanson memaksa.


Triana mengerucutkan bibirnya namun hatinya berkata riang melihat api semangat dari pria itu.


Hanson berpamit di sertai gerakan tubuhnya yang bangkit berdiri tanpa menunggu jawaban lawan bicaranya.


"Aku paling bawa baju doang, besok juga bisa beresinnya, masih keburu kan?" Triana pun bangkit menghadap pria itu, niatnya untuk mengantar kepergian tamunya.


Namun rupanya Hanson menanggapinya lain hingga tanpa tau rasa malu ia mengecup pipi wanita itu.


Triana sontak terkejut hingga membuat kelopak matanya terbuka lebar, namun hanya sesaat terlerai kala Hanson tertawa kecil menyikapi sikap konyolnya.


"Kamu atur aja, aku pulang dulu." Sekali lagi Hanson berpamit, namun kini di sertai usapan pada puncak kepala Triana.

__ADS_1


Kali ini Triana memnyemburkan rasa tidak keberatannya dengan hanya mengangguk mewakili jawabannya.


"Ga ada ucapan makasih apa?" seru Hanson menyindir di swlela tawa kecilnya yang terdengar Triana seperti ledekan.


"Oh ya, thanks,” balas Triana dalam senyuman kikuknya.


"Cuma itu?" Hanson memicingkan kedua matanya, seolah memancing lawan bicaranya.


Namun rupanya Triana membalasnya dengan picingan yang tak kalah menjanggalnya hingga Hanson menunjuk pipinya sendiri tak lantas menyodorkannya pada wanita itu.


"Ampun deh, emang aku harus sujud depan kamu apa?" Triana mengelak hingga mendorong kasar tubuh pria itu agar permintaan sang pria terlupakan begitu saja.


Sudah tidak dapat di tahannya lagi, Hanson gemas di buatnya. Tanpa pamit ia menarik tubuh sang wanita hingga larut dalam dekapannya. "Sekali ini aja, please." Lantas ia membenamkan bibirnya pada bibir tipis wanita itu.


Triana memang terkejut, terlihat dari tubuhnya yang mematung di sana, namun matanya terpejam meresapi kegiatannya.


Hanson yang menyadari pembuka itu, iapun memejamkan matanya dan mulai meresapi bibir tipis itu.


Memberikan cumbuan mesranya, bahkan kini sebelah tangannya berhasil merangkul pinggang cantik itu, sebelah yang lainnya menekan tungkak kepala sang wanita.


Sementara Hanson berusaha keras memberikan pelayanannya, Triana hanya berdiam pasrah tanpa ingin mencegah ataupun berontak.


Cumbuan yang selalu ingin di lakukan dengan lelaki yang di cintainya, kini Triana mendapatnya dari pria lain. Meski demikian ia ingin mengucap rasa terimakasihnya kepada pria yang tengah mencumbunya dengan mesranya itu.


Hingga pada akhirnya Triana membiarkan lidah itu menelusuri bibirnya, memberikan permainan untuknya.


Sedang Hanson sebisa mungkin meresapi kegiatannya, baru kali ini ia melepas cumbuannya kepada wanita yang di inginkan sang hati.


Meski sebelumnya selalu mendapatkannya dari tunangannya yang sudah di putuskannya belum lama itu, namun perbedaan nampak di baliknya, kini dalam cumbuan itu menebar benih kasih.


Cinta?


Entahlah, Hanson belum dapat memastikan itu jika saja ia masih menganggap wanita itu sebagai pelampiasan semata. Namun bisa di katakan ia telah menyukai wanita yang kini tengah mendorong keras tubuhnya hingga membuat cumbuan itu terlepas begitu saja.


"Sorry," ujar Hanson penuh penyesalan tak lantas menghapus jejak cumbuannya pada bibir sang wanita dengan ibu jarinya.


Triana segera menepis ibu jari itu yang membuat rasa canggung menebar ke segala arah tubuhny. "Udah ga kangen dia lagi kan?"


Triana malu sendiri dengan tingkahnya, ia meyakini jika sang pria telah menerka keinginan hatinya saat lalu.


"Hmmm, udah ketemu ga akan kangen lagi," sahut Hanson di sela tawa kecilnya kala ia menatap gemas wajah belingsatan itu.


"Apaan sih?"


"Yang aku kangenin itu kamu, bukan Tara tapi Triana." Hanson gemas hingga menyentil manja kening sang wanita.


Triana segera menghapus jejak sentilan itu setelah tangan pria itu menjauh dari keningnya. "Oke thanks aku kehibur."


Hanson terkekeh melihat wajah yang memerah akibat gerakan kikuknya itu. "Oke aku pamit."


Tergesa Triana melambaikan tangannya untuk segera mengakhiri pertemuan yang membuatnya canggung itu. Ia menyiratkan senyum manisnya yang di balas dengan Hanson oleh langkah kakinya yang menjauhinya hingga hilang di balik pintu.


Percayalah, kini Triana tengah duduk dengan gelisahnya. Mencoba mengatur napasnya yang tercabik-cabik, bahkan ia harus mengatur jantungnya yang berdentum tanpa irama, mengusapnya dengan telapak tangannya.


Kejadian romantis saat lalu telah terkunci di dalam ingatannya, bahkan bayangannya selalu melesat di hadapan kedua mata batinnya.


Tidak terima dengan kenyataan yang di inginkan sang hati, Triana menggeleng menyenggal jika dirinya telah jatuh hati kepada pria itu.


"Hans, kamu yakin mau aku repotin?" ujarnya meruntuk hanya untuk dirinya sendiri.




__ADS_1


Tbc


__ADS_2