Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 166


__ADS_3

Akhirnya, Tara memberanikan diri mengangkat wajah seraya memberikan senyuman duka sebelum mengucap kalimat.


“Dia anak–"


Kriettt ... Pintu ruang terbuka perlahan, mengumandangkan suara decitan, membuat tiga insan yang tengah saling menatap tegang di sana berpaling menuju ke arah dimana dua orang yang berada di balik pintu itu berada.


Di tengah pasang mata yang menatapnya penuh murka, Erick serta Celia tak acuh melangkahkan kaki, menghampiri kedua anak serta menantunya di sana.


Kedatangan mereka berdua disambut senyum manis dari Tara. Napasnya melenguh rapuh, walau secara bersamaan rasa lega telah menghampiri. Ini bukanlah saat tepat bagi Sammuel dan Jackson untuk mengetahui jati diri mengenai anaknya. Alasan dibaliknya tiada lain, kedua orang yang tengah bertandang ini.


Celia kemudian membalas senyuman itu tak kalah manis, kakinya melangkah kian mengikis jarak dengan sang menantu.


“Mami, ada apa datang ke sini?” tanya Tara kepada Celia, tepat saat mertuanya berdiri di samping.


Celia mengabaikan pertanyaan itu, ia menggelengkan kepala ketika melihat ukiran merah tersirat di balik wajah menantunya, ia menerka jika itu adalah hasil karya tangan Sammuel.


“Apa bisa kamu antar mami ke suatu tempat?” ajak Celia penuh waspada, tanpa basa-basi ia mengutarakan tujuannya. Terlihat sepasang bola mata dari kedua anaknya menyoroti wajah cantiknya penuh amarah. Tak ayal, hal tersebut membuat batin menggerutu, ia yakin jika Sammuel akan menepis ajakan itu.


Namun, “Pergi aja, gue ada urusan sama dia,” ucap Sammuel memberikan keputusan kepada istrinya. Dagunya menunjuk ke arah di mana ayahnya duduk di atas sofa yang tersedia. Kendati demikian, nada ketus menggiringi ucapannya.


Di dalam benak Celia maupun Tara, rasa lega terasa semakin meluas, sebagai tanda terima kasih maka sebuah lengkungan bibir tercipta. Walau di balik lontaran ucapan itu sama sekali tiada ketulusan tersirat. Mereka lantas bergegas meninggalkan ruangan yang telah menorehkan pertikaian saat tadi.


Tertinggal tiga pria saja, Sammuel serta Jackson menghampiri ayahnya, duduk pada sofa bersebrangan dengannya.


Erick mengolok Sammuel dengan tatapan tajam, seringai ledekan tersirat di balik wajah tampannya. Batinnya bergemuruh murka setelah melihat keadaan memilukan beberapa saat lalu, tepatnya ketika langkah kaki sudah memasuki ruangan ini.


Erick sengaja menjumpai anaknya, setelah mendapat kabar berita dari Nicky tentang perselisihan yang telah terjadi pada tiga insan itu. Sesungguhnya, Nicky hanya menerka-nerka. Namun, semua terjadi sesuai apa yang telah terpikirkan olehnya.


“Apa yang terjadi dengan ruanganmu?” Tatapan Erick menuju arah Sammuel, pertanda kalimat itu terlontar untuknya.


Sebelum ia mengunjungi ruang kebangsaan President Direktur, Erick datang terlebih dahulu menuju ruang General Manager. Kala itu, keadaan ruang yang masih berantakan membuat Erick mendapat jawaban. Yakni, Sammuel tengah bersitegang dengan istrinya.


Tak ada satu pun kata terlontar dari bibir Sammuel untuk menyahut pertanyaan ayahnya, hanya senyuman miris tersirat di balik wajah. Jackson lantas merangkul adik di sampingnya seraya menepuk pundak. Namun, ia tak lupa dengan tawa kecil yang merupakan bentuk dari sebuah olokan.


Kebungkaman mulut Sammuel memberikan arti mendalam bagi Erick. Sudah dapat di pastikan jika Sammuel berat hati untuk mengatakan kejujuran. Begitu pun, sesuatu telah terjadi kepada menantunya.


“Kamu menyakitinya?” tanya Erick kembali disertai tatapan tajam tertuju kepada Sammuel.


Sammuel melenguh, napas rancunya berembus lantang, membuat Erick bergeleng kepala menanggapinya. “Kau ga usah ikut campur masalah kita,” ujarnya membela diri.


Erick kian mengoloknya, senyuman cibiran itu membuat Jackson menatap janggal ke arah Sammuel. Sadar akan tatapan yang menyimpan pertanyaan di baliknya, Sammuel membalasnya dengan anggukan.


“Gue nampar dia,” ucap Sammuel tanpa dosa. Namun, berhasil membuat Erick sekali lagi menggelengkan kepalanya.


“Gila lo!” Nada melengking nyaring itu mewakilkan rasa kejutnya. Jackson tidak mengira jika adiknya akan tega melakukan hal memalukan itu. Pembalasan dilakukannya, ia memukul keras tempurung otak Sammuel.

__ADS_1


Sammuel hanya melenguh pasrah, membiarkan rasa sakit yang tidak seberapa itu menetap pada kepala tanpa ingin menghapusnya.


“Sudah ... sudah ...” ujar Erick melerai perseteruan itu, membuahkan hasil ketika kedua anaknya menatap ke arahnya. “Kenapa bisa kamu nampar dia?”


“Dia nyembunyiin sesuatu,” jawab Sammuel penuh kejujuran, akan tetapi ungkapan tak berdosa masih didengar oleh Erick.


“Kalian paksa dia buat mengungkapnya?” tanya Erick hanya untuk sekedar memastikan, sesungguhnya ia telah memahami keadaan.


Jackson serta Sammuel mengangguk membenarkan, akan tetapi terbalas decakan dari ayahnya.


“Kapan kah kalian akan jadi dewasa?” Erick mencibir dengan ucapan dalam nada tegasnya, membuat kedua anaknya tertunduk tak berkutik. Pesona wibawa terpancar dari sorotan matanya, disambut kedua anaknya dengan rasa kagum yang tersembunyi di balik angan.


“Setiap orang punya rahasia masing-masing, kalian tidak berhak memaksanya untuk mengatakan pada kalian.” Kian tegas Erick bertutur kata, akan tetapi kali ini terabaikan kedua anaknya.


Jackson serta Sammuel saling memandang, mendesis dalam senyuman penuh misteri. Diam-diam mereka saling mengungkap siasat hanya dari tatapan isyarat.


Dahi Erick mengernyit, mencari makna dari tindakan kedua anaknya. Seringai halus terpampang dari wajah tampannya ketika terbesit sebuah jawaban di dalam ingatan.


“Aku rasa kalian akan melakukan sesuatu.” Terka Erick penuh percaya diri, meyakini tidak ada kesalahan sedikitpun.


“Pih, kita–" lirihan dari nada bicara Sammuel terpengal begitu saja, saat Erick menatapnya penuh dendam.


“Silahkan! Jika kamu mau dia menghindarimu!” tutur Erick berteguh hati yang dirasa kedua anaknya seperti ancaman. “Semakin kalian mengoreknya, maka akan semakin membuat kalian jauh dengannya.”


Pasrah sudah Sammuel dibuatnya, sehingga ia mengumpat frustasi di dalam batinnya. Perasaan sama didapati Jackson, ia hanya mampu melenguh gundah menanggapi ucapan yang tiada salahnya sedikitpun itu.


Tidak! Sammuel tidak pernah sedikit pun menyerah akan sesuatu yang ingin sekali dicapainya, sehingga ia merencanakan sesuatu tanpa ingin di ketahui kedua pria yang kini telah saling merenung itu.


Suasana tegang beriring dari kebungkaman mulut kedua anak seorang pengusaha itu, Erik menyambut dengan senyuman paham. Lantas, ia melerai dengan perbincangan mengenai pekerjaan.


Sambutan hangat didapatkannya, ketika kedua anaknya menyahut bergantian. Tidak dipungkiri Sammuel, jika perbincangannya kali ini sedikit menepis rasa gundah. Namun, lain dengan Jackson, ia masih berpusat pikiran agar mendapat cara untuk segera mengungkap rahasia yang tersembunyi begitu rapatnya.


*******


“Lagi-lagi masalahnya dari anak itu!” Maxson mengumpat kesal, terwakilkan melalui pekikan nada suaranya.


Sesaat setelah Jasmeen tiba di dalam kediamannya, Maxson telah menyambutnya dengan gembira di sana. Namun, sebuah obrolan kecil menimbulkan pendapat tak selaras berbuah pertikaian. Tepatnya setelah Jasmeen membuka mulut untuk menceritakan tentang kejadian saat lalu di jalanan. Sehingga, membuat Jasmeen terlupa untuk duduk pada sofa yang tersedia di ruang tamu itu, di mana Maxson sudah duduk gagah di sana.


“Max, dia ponakan kamu. Apa pantas kamu bilang begitu?” ujar Jasmeen berusaha meredamkan amarah yang terpendam di balik embusan napas kasar kekasihnya.


Maxson bangkit dari duduknya, menyambut ucapan yang membuatnya geram. Ia melangkahkan kaki, hingga berhadapan dengan Jasmeen. Hanya dengan jarak beberapa senti meter saja.


Seringai keji tersirat di balik wajah tampannya, tidak cukup hanya dengan itu, ia menyerukan amarah dengan mengulurkan jemari kedua tangan dan menjepit pipi kekasihnya.


“Kamu ga ingat, setiap kali kita berantem semuanya gara-gara anak itu.” Telunjuk Maxson melenting ke arah pintu ruang yang berada di belakangnya, seolah objek pembicaraan mereka berada di sana. Pada kenyataannya, Alev memang menguping di balik dinding.

__ADS_1


Jasmeen membisu, lidahnya terasa kelu saat atmosfer kejam itu berhasil menyentuh rasa takutnya. Namun, senyuman sadis terlukis setelahnya, saat ia merasa dirinya tidak bersalah sama sekali.


“Apa susahnya kamu pertemukan anak itu sama ayahnya?” Maxson kian geram, bukan kepada tindakan kekasihnya, melainkan pada kenyataan takdir hidup keponakannya.


Tak ada yang mengetahui, bahwa Maxson sendiri turut prihatin pada nasib diri yang menimpa Alev. Namun apalah dayanya, titah dari Jasmeen telah membuatnya dilema.


Hingga saat ini, semua amarah meluap hanya untuk pancingan semata. Ia yakin dengan cara yang di lakukannya, akan membuahkan hasil yang menggembirakan untuk Alev.


“Maafkan Al mami, gara-gara Al mami sama papi jadi bertengkar,” ucap Alev penuh lirihan, tepat saat ia berdiri di belakang Maxson.


Alev turut hadir tanpa disadari mereka, membuat tangan yang menjepit pipi Jasmeen terlepas begitu saja.


“Engga Al, kamu ga sal–"


“Ya! Kamu salah Al!” Tak kuasa menahan keinginannya, Maxson mengungkap kekesalan dengan pekikan nada bicaranya. Sepasang mata menyorot tajam pada wajah pria yang tertunduk di sana, aura kelam menyebar tanpa bisa di cegah. “Kamu salah besar Al, kenapa harus menanggung beban kepedihanmu sendiri? Seharusnya kamu ga usah ikuti keinginan mama kamu, itu bukan keinginan yang benar Al.”


“Al rasa mama ga salah,” sahut Alev menimpali, sebisa mungkin ia menutupi kesalahan ibunya.


“Diam!” Bentakan Maxson kian memekik nyaring, membuat Alev melenguh di sana.


“Max–" Jasmeen panik dengan bentakan itu, ia meraih pergelangan tangan kekasihnya, berusaha menenangkan amarah yang terpancar dari sorotan mata kelam itu.


Sengaja Maxson menghempas keras tangan Jasmeen, ia melangkah tergesa, menyeret pergelangan tangan Alev, membawanya keluar ruangan.


“Max, apa yang akan kamu lakukan?” Disela langkah kaki memburu langkah dua pria di depannya, Jasmeen mencoba mencegah dengan ucapan sebelum tanganya mampu meraih tubuh kekasihnya.


Sontak Maxson menghentikan langkahnya, lantas memutar tubuhnya agar dapat menatap wajah khawatir kekasihnya.


“Aku akan bawa dia menemui ayahnya!” ujar Maxson sebagai keputusan. Tidak ingin mendapat pencegahan, ia berucap penuh penekanan.


Alev bimbang menentukan pilihan, di samping ia menantikan pertemuan dengan sang ayah, ia pun mengingat keinginan ibu angkatnya. Bahwa, tidak seharusnya pertemuan itu terjadi tanpa adanya persetujuan dari ibu kandungnya.


Alev terpaksa mengalah, menyingkirkan tangan yang menggenggam pergelangan tangannya.


“Sekarang belum waktunya papi,” ucap Alev di iringi senyum paksaan.


Sikap bijaksana dari Alev itu, berhasil membuat Jasmeen menitikan air mata dalam senyuman. Lantas, Jasmeen merangkul tubuh Alev, mencurahkan rasa kagum serta harunya dengan sebuah dekapan.


Maxson tidak berkutik ketika angannya mengakui sikap yang tidak sebiasanya di miliki seorang anak remaja itu.


Hingga pada akhirnya, Maxson membawa kedua tubuh yang masih saling merangkul itu ke dalam dekapannya.



__ADS_1



Tbc


__ADS_2