
Tara sudah berada di tempat tujuannya, ia berdiri di hadapan sebuah rumah yang terdapat di tengah pusat kota Bandung.
Langkahnya mengayun ragu dalam kejanggalannya. Pasalnya sofa yang biasanya berada di dalam ruang tamu rumah tersebut, kini menumpuk di halaman rumah itu. Hingga ia membuka pintu itu, ia mengeratkan rahangnya dalam memendam emosinya.
Ruang tamu itu sudah berhias, nampak di sudut ruangan meja parasmanan berdiri melengkung di sana. Berbagai hidangan kudapan sudah tersusun rapih di atasnya.
"Ada apa ini Key?" Tanya nya seraya menatap adik pertamanya yang duduk bersila di tengah ruang yang sudah bertikar itu. Dalam pangkuannya, anak wanita berusia 3 tahun tengah tertidur pulas di sana.
"Acara lamaran mama kamu!" Sahut Calista ketus yang di maksudkan bukan untuk kakaknya, melainkan ia jengah terhadap ibunya. Meski demikian, ia menghampiri kakaknya untuk mencium tangan kakaknya.
Tara menepuk keningnya dengan kasarnya setelah ciuman tangan itu terlepas. "Siapa yang jadi tunangannya? Pasti si berondong itu kan? Makanya ga ngomong sebelumnya sama kakak?" Curiga Tara dalam terkaannya di sambut anggukan keras oleh adiknya yang sudah berada di sampingnya.
Setelah Calista, Keyla adik pertamanya menyodorkan tangannya untuk meraih tangan Tara lantas menciumnya. "Ya gitu lah, aku ga bisa larang dia soalnya dia ancem kalo ngelarang dia nikah, dia minta uang ganti rugi tiap bulannya 3 juta." Sahutnya menginterupsi tak kalah ketusnya dari adiknya.
Lantaran sang ibu tidak berada di sekitar, mereka dengan leluasa membicarakan ibunya.
Kini Aldi sang adik ipar yang mengambil bagian itu, mencium tangan kakak iparnya.
"Apa hubungannya sama uang tiga juta?" Tanya Tara kian jengah di sela menyambut uluran tangan itu.
"Katanya, cowonya mau ngasih uang perbulan tiga juta, terus ngasih uang sewa rumah juga." Jawab Keyla membuat kakaknya kian murka atas tindakan itu.
Tara yakin jika pengutaraan dari apa yang di berikan pria itu hanyalah dusta belaka dari sang ibu agar dirinya tidak mencegahnya.
__ADS_1
"Sama ngasih mobil." Sambung Calista.
"Tapi mobilnya belum ada." Aldi meledek dalam tawa kecilnya membuat Tara merasa malu jika adik iparnya mengetahui bagaimana busuknya kelakuan ibunya.
"Pinter!" Umpat Tara menyiratkan senyum iblisnya dalam kepalan tangannya.
"Kenapa? Kamu ga mau mama kamu bahagia?" Suara sang ibu menginterupsi di belakang anak-anaknya yang sudah duduk bersila di tengah ruang itu, membuat anak-anaknya mengarahkan pandangan kejutnya padanya.
"Mama pasti ngomongnya gitu deh." Penggal Keyla merasa jika ucapan sang ibu akan membuat kakaknya kian murka, segera ia meraih pelepas dahaga yang terjangkau tangannya untuk kakaknya, berharap minuman itu dapat meredakan amarah yang sudah terpampang nyata dari rahang kakaknya yang mengerat.
Benar adanya, Tara menaparkan wajah sengitnya dalam tatapan kejam menuju wajah ibunya. "Baguslah kalau dia bisa ngasih uang, jadi aku ga usah ngasih lagi kan?" Dengan napasnya yang memburu, ia meneguk kasar minuman yang telah terhidang untuknya di hadapannya.
"Ga bisa gitu dong Ra, itu kan udah ada perjanjiannya." Sungut Sang ibu yang sudah berdiri di samping Tara. Ia menegaskan nada bicaranya sebagai ancaman agar anak sulungnya tidak mencegah kelakuannya.
"Tidak juga buat ade ipar kamu kan? Atau ponakan kamu?" Sindir sang ibu menatap cibir wajah anak sulungnya dari sampingnya setelah ia berhasil mendaratkan bokongnya di sampingnya.
Jengah sudah Tara menyikapinya, bagaimana ibunya bisa berlaku sedemikian menjijikan hingga ia enggan menyambut perbincangan itu. Lantas dengan penuh keteguhan hati ia bangkit berdiri menghindari sorotan tajam dari mata ibunya yang kian membuatnya ingin lekas bergegas pergi dari sana.
"Caca, Keyla, Aldi, kalian pindah rumah dari sini biar mama kalian bisa bebas tinggal sama suaminya." Cibir Tara menyindir ibunya. Tanpa menunggu jawaban ia bangkit berdiri dan berlalu begitu saja dari hadapan ibunya.
Calista, Keyla serta Aldi membuntuti langkah Tara hingga menepi pada halaman rumah itu.
"Kak, kalo kita pindah dia makin bebas." Protes Keyla dalam lirihannya.
__ADS_1
"Biarin dia bebas, yang penting Caca selamat dulu." Ucap Tara menatap lirih wajah adik keduanya penuh kekhawatiran jika saja ibunya menjadikan tumbal adik bungsunya.
"Maksudnya apa kak?" Senggal Aldi tidak mengerti.
"Turutin aja apa kata kakak, nanti kalian juga tau." Balas Tara mendapat anggukan dari ketiga lawan bicaranya. "Kakak ga bisa lama di sini, harus cepet nyari solusi buat rumah baru kalian." Ia mengecup pipi gadis mungil yang masih tertidur pulas dalam pangkuan ayahnya itu untuk mengucap perpisahannya.
"Apa kita ga boleh bantu?" Tanya Calista ragu-ragu.
"Kamu belajar aja yang rajin, taun depan udah mulai kuliah, kamu harus dapet beasiswa." Jawab Tara mengucek gemas kepala adiknya. Sesungguhnya ia enggan berpisah secepat itu dengan kedua adik serta sato ponakannya yang selalu di rindukannya. Namun sang ibu telah menyincang keinginannya itu. Lantas atas emosinya ia ingin segera menghindar dari tempat yang selalu menbuatnya jengah itu.
"Kak maaf kita ngerepotin kakak terus." Ujar Aldi tidak enak hati setelah empat tahun berumah tangga selalu mendapat bantuan biaya hidup dari kakak iparnya.
"Emang iya ngerepotin, tapi kakak ga ngerasa di repotin." Tara tersenyum melerai kegelisahan ketiga adiknya. "Oke kalian urus aja acaranya, kakak ogah liatnya juga." Ia kembali melangkahkan kakinya menuju di mana merci C class merahnya terparkir di sana.
Kedua adiknya serta satu iparnya hanya mampu membiarkan kepergian kakaknya yang berlalu membawa beban emosi dalam benaknya. Mereka turut merasakan apa yang menjadi kerancuan batin wanita yang selalu terlihat tegar itu.
•
•
•
Tbc
__ADS_1