
"Sammmm" Tara mengejar langkah Sammuel yang memburu itu. "Aku putusin si Jack sekarang juga asal kamu pulang ya please."
Di tengah guyuran hujan lebat di siang bolong itu, Tara merengkuh menggenggam sebelah tangan suaminya dengan kedua tangannya. Isak tangisnya begitu menyayat hati, mengalahkan suara hujan di sana hingga terdengar ke ujung langit.
"Tinggalin dia!" Maudy tertawa sarkas seraya menghempas keras setengah paksa tangan Tara yang menggenggam erat tangan suaminya.
"Sammuel please! Jangan tinggalin aku." Tara masih merengkuh mengumandangkan tangisannya yang di abaikan Sammuel dengan berjalan membelakanginya.
"Sammm."
Sammuel berjalan semakin menjauhinya tanpa meliriknya barang sedikitpun.
"Sammmmm," seru Tara kian melirih kala tubuh suaminya tidak terlihat lagi di hadapannya.
Akhirnya Sammuel hilang dari hadapan istrinya.
"SAMMUEL!!!!" teriak Tara memekik nyaring hingga membuka rekatan kelopak matanya tanpa jeda membuat sang suami yang berada di sampingnya turut terkejut. Ia kembali dari alam mimpi buruknya.
"Lo mimpiin gue?" sapa Sammuel menyahut, membuat sang istri memutar tubuhnya hingga menyamping menghadapnya.
"Kamu_" Tara memenggal katanya, mengatur napasnya yang tersenggal seolah biji kedondong tersangkut di dalam tenggorokannya menahan rasa perih yang masih menyeruak akibat mimpi buruk yang di alaminya. "Kamu di sini Sam?" Lantas, ia merangkul erat tubuh itu dengan sebelah tangannya, di telusupkannya wajahnya pada dada suaminya.
Sammuel tersenyum riang mendapat perlakuan manis itu, lantas mengecup puncak kepala istrinya. "Lo mimpi di tinggal gue hmm?"
Tara hanya mengangguk tanpa menarik wajahnya yang masih terbenam di atas dada suaminya tat kala napasnya masih merancu di sana. "Jangan tinggalin aku." Entah mengapa air payau itu berhasil menetes dari sudut matanya.
"Makanya lo nurut sama gue kalo ga mau di tinggalin," sahut Sammuel memperingati di balas sang istri hanya dengan anggukannya kembali.
Melihat hal itu, Sammuel berempatik, rasa iba yang membuatnya berbinar itu berhasil menuntun tangannya mengulur untuk menarik wajah itu agar menatapnya lantas menghapus air mata yang berhasil meluncur deras dari sudut mata indah istrinya. Entah mengapa air mata kepedihan dari istrinya membuat hatinya kian berbunga-bunga.
Sementara Tara, ia mengedarkan pandangannya setelah tangan suaminya terhempas dari pipinya. "Ini di rumah mami kan? Kamu ngapain tidur di sini?" Dengan tergesa ia melepaskan dekapannya.
Namun Sammuel tak acuh mengabaikan wajah cemas di sampingnya. Ia merebahkan tubuhnya menatap langit-langit di atas sana. "Tenang aja, semalem si Jack hubungin gue buat anter lo ke kampus," imbuhnya bersahut menghibur hingga ia kembali memiringkan tubuhnya menatap wajah sang istri yang sudah melega dengan senyumannya. "Dia ke luar kota tadi malem."
"Baguslah!" Tara menghembuskan napas leganya seraya beringsut duduk di tepi kasur itu.
Sammuel terkekeh yang pasti di dengar Tara meski wanita itu kini membelakanginya. "Lucu juga ya? Jadi kaya gue selingkuhan lo."
__ADS_1
Tara melirikkan wajahnya menatap garang wajah suaminya. "Salah kamu sendiri yang bikin kaya gini," ucapnya bersungut sebal membuat sang suami mendengus tidak terima.
Sammuel beranjak hingga berdiri di hadapan istrinya, bertolak pinggang di sana. "Gue siapin air dulu buat berendem." Dan melangkahkan kakinya tanpa keraguan.
"Nanti aku telat ngantor lagi Sam!" protes Tara tegas. Lantas ia beranjak membuntuti langkah suaminya yang masih mengayun menggapai tujuan awalnya.
"Lo udah jadi sekertaris gue, ga usah takut," balas Sammuel bersahut lembut membuat sang istri tertawa simpul menyikapinya.
Tara melupakan jabatan sang suami kala ia hanya mengingat kejadian silam saja. "Aku yang siapin airnya kalo gitu." Akhirnya ia berjalan sejajar dengan suaminya.
"Lo mandinya lama oneng!" ucap Sammuel bersungut gemas hingga ia membawa istrinya dalam pangkuannya membuat kaki istrinya melingkar pada pinggangnya. Hal itu jelas di sambut senyum riang oleh istrinya bahkan mengalungkan kedua tangannya pada lehernya.
"Ka-kamu bisa lembutan dikit ga?" ujar Tara malu-malu hingga menbuat ucapannya terbata-bata tat kala ia menyembunyikan rona pipinya pada ceruk leher suaminya
"Di mananya gue kasar?"
"Di sini!" Tara menunjuk dada sang suami di mana hatinya berada di baliknya.
"Lo aja yang nganggepnya gitu, lo terus ingkar janji sih." Akhirnya Sammuel menurunkan tubuh istrinya di dalam ruang berdinding kaca.
"Mana ada aku janji buat ga cinta sama kamu?" balas Tara bersahut sewot bahkan mengerucutkan bibirnya mempertegas amarahnya.
"Peringatan kamu bikin aku jadi ga punya harga diri tau ga?" Tara menyambut sahutan suaminya setelah menyadari sang suami melepas pembalut terakhir tubuhnya.
"Sejak kapan lo punya harga diri?" ujar Sammuel tidak mau kalah.
"Sejak hidup sama kamu."
Sammuel sudah enggan menyahut perbincangan istrinya, hawa nafsu yang terpicu dari gairahnya telah merangkak menembus angannya. Pada akhirnya ia tergesa menghantam tubuh istrinya, memberikan kenikmatan menuju surga dunianya.
Dan, kegiatan romantis yang memanas itu berlangsung tanpa hambatan. Kini, mereka saling merangkul di dalam tempat penampungan air hangat untuk merendam tubuh yang telah berpeluh akibat kegiatan panas mereka yang berlangsung selama satu jam ke belakang itu.
"Punya siapa dia Sam?" Tara melirih hingga menggetarkan suara dalam ucapannya tat kala menatap sebuah tanda merah di atas permukaan kulit leher suaminya begitu terlihat jelas dalam pandangannya.
"Cewe sadis yang udah bikin gue ga bisa main lama! Gara-gara cap ini gue jadi di putusin cewe gue semalem," ujar Sammuel penuh misteri.
Namun dengan mudahnya sang istri tersenyum kala ia mendapat jawabannya jika wanita sadis yang di katakan suaminya adalah dirinya.
__ADS_1
Tara membungkam mulutnya dalam senyuman leganya, binar-binar tersirat dalam matanya setelah menyadari mendapat penjelasan dari suaminya seolah suaminya takut kehilangannya.
Sudah tidak lagi ia mempedulikan hal itu, ia melanjutkan kisah asmara di dalam ruang mandinya yang akan membawanya menuju syurga dunianya. Tak lantas Sammuel menyambutnya, hingga beberapa saat ke depan mereka saling meluapkan nafsunya. Berakhir setelah mendapat kepuasannya.
Untuk pengakhir kegiatannya, Sammuel mencumbu bibir tipis itu, meluapkan kasih cintanya, memaparkan sambutan hatinya.
Sayang sungguh sayang, Tara yang sudah melelah ia tidak melihat kesungguhan cinta yang tercurah dalam cumbuan itu.
"Tara." Celia terkejut melihat posisi pasang insan di hadapannya meski ia berdiri di luar ruang itu, namun pintu yang terbuka tidak menghalangi pemandangan di hadapannya. "Kyaaa!!!" Ia memiringkan wajahnya seraya menutup matanya dengan sebelah telapak tangannya. "Aku lupa pasangan suami istri ini tidur di sini."
Tara serta Sammuel segera menghentikan kegiatan cumbuannya, mereka menatap Celia meski penyatuan masih terbenam di sana, begitupun tubuh Tara yang masih berada di atas suaminya, ia hanya menutup dadanya dengan melekatkannya pada dada suaminya.
"Lagian, mami ngapain ke sini?" ucap Tara terengah kala paru-parunya masih berusaha mengisi kekosongan udaranya.
"Aku takut ada orang ngamuk kalo kesiangan ga di bangunin." Celia membuka sedikit rekatan jarinya serta menggerakkan sedikit wajahnya untuk mengintip pemandangan di depannya. Namun,
"CELIA!!!!" Bentak Sammuel bersamaan dengan sang istri membuat Celia memutar tubuhnya kembali untuk menepis pandangannya.
"Aku juga lupa boss kamu ada di sini, ga usah khawatir kan kalo kamu kesiangan?" Dalam langkahnya Celia mengutarakan katanya.
Sammuel menggelengkan kepalanya menyikapi tingkah konyol ibu tirinya, lain dengan Tara yang menelusupkan wajahnya pada ceruk leher suaminya.
"Untung bukan si Devand yang ngeliat." Dalam napasnya yang kian tak beraturan Tara mencoba berucap sesuatu.
Sammuel tersenyum gemas melihat tingkah kikuk istrinya. "Puas ga puas gue ga bisa puasin." Lantas ia membawa tubuh istrinya dalam pangkuannya.
"Semalem kamu ga kunci pintu kamar apa?"
"Kebiasaan di apartement." Sammuel menurunkan istrinya di depan walk in closet untuk meraih pengering tubuhnya.
Merekapun melanjutkan kegiatannya untuk mempersiapkan dirinya dengan mengenakan busananya terlebih dahulu.
•
•
•
__ADS_1
Tbc