
Pesona senja nampak ceria, cahaya jingga menembus dinding kaca ruang kantin yang terdapat di dalam perusahaan bernama ZhanaZ itu. Suasana nampak tak begitu ramai saat jam istirahat para pegawai belum tiba, hanya beberapa meja saja yang terisi oleh sekerumunan orang yang tengah melakukan perbincangannya. Adapun yang hanya duduk sendirian menikmati kopinya di sana.
Tara sengaja memilih kursi yang terdapat di sudut ruangan, agar bisa melihat keadaan ruang yang terpantul dari bayangan pada dinding kaca di sana. Sementara Jasmeen duduk berseberangan dengannya.
Tiada percakapan serius yang mengisi perbincangan mereka sebelum minuman yang mereka pesan tiba menjamunya. Hingga pada saat seorang pramusaji usai menghidangkan minuman di atas meja, Tara membuka mulutnya.
Belum sempat sepatah kata terucap darinya, rasa penasaran telah menyanggah suaranya hingga tertahan di dalam tenggorokannya tanpa terucap sedikitpun.
Di balik kaca dinding ruang itu, Tara menangkap bayangan sosok pria yang telah duduk di belakangnya pada jarak tiga meter. Seribu pertanyaan tertanam di dalam benaknya saat pikiran berburuk sangka pada pria itu bersemayam dalam angannya.
"Ra, kamu ga kangen sama Alev?" tanya Jasmeen membuat lamunan Tara tercabik begitu saja.
Sontak Tara menghentikan kegiatan otaknya yang sejak saat lalu mencari jawaban atas rasa penasaran pada jati diri pria itu.
"Ga pernah kah kamu penasaran sama kabar dia?" Jasmeen menambah kalimatnya karena Tara masih membungkam rapat mulutnya.
"Ibu mana yang akan tega ngebiarin anaknya?" ujar Tara berseru lirih. Helaan napas yang mendalam itu, terdengar Jasmeen begitu memilukan. Lenguhan tersembunyi di balik wajah yang tertunduk, membuat Jasmeen mengerti akan kerinduan mendalam yang telah tertanam di balik asmanya.
"Oke aku ngerti," balas Jasmeen bernada lembut, seolah menghibur kegundahan yang terpancar dari raut wajah Tara yang kini terangkat untuk menatapnya.
"Gimana keadaannya sekarang?" tanya Tara.
"Dia tambah pinter, para guru berlomba-lomba ngasih beasiswa buat dia. Makanya kegiatannya padat banget tiap harinya," sahut Jasmeen penuh pujian dan juga rasa kagum yang di wakilkan pada senyum manisnya.
Tara membalas senyum itu dengan rasa syukur, ia mencurahkan rasa terima kasih pada ibu angkat anaknya dengan seringai riang.
"Kapan kamu nemuin dia lagi? Dia bilang kamu udan kelamaan bersenang-senang sendiri tanpa mengingatnya," ucap Jasmeen.
Tara terpaku mendengar pernyataan itu, bibirnya terasa kelu untuk mengucap sesuatu. Batinnya membeku menerima ucapan yang begitu menusuk kalbu.
Sindiran halus yang terucap tajam itu berhasil mendobrak bendungan air matanya, penyesalan terasa tiada guna tanpa ia bertindak untuk segera mengabulkan keinginan sang buah hati.
"Sorry Jas-" balas Tara tercekat disela tenggorokannya, saat isak tangis mulai tertahan di dalamnya. "Bukannya aku ga mau ketemu sama dia, tapi-" Lagi dan lagi ucapannya terhentak. Akan tetapi kali ini bukan tertahan isak tangisnya, melainkan sebuah jawaban atas rasa penasaran itu seketika terbersit dalam ingatannya.
Jasmeen menunggu ucapan selanjutnya, sehingga ia menahan mulutnya untuk tidak berucap kembali.
Mendapat kesempatan dari bungkamnya mulut Jasmeen, Tara kembali melirik ke arah dinding kaca di hadapannya. Terlihat olehnya sosok pria yang telah mencuri perhatian pandangannya saat lalu kini telah menutup wajahnya dengan buku daftar menu makanan yang tersedia.
Keyakinan atas jawaban tanpa kesalahan telah di dapatkannya, bahwa kehadiran pria itu bersangkutan dengan keberadaannya kini.
"Kamu lihat di depanmu, cowo yang lagi nutup mukanya itu?" ujar Tara di balas Jasmeen dengan lirikan menuju pria itu hanya menggunakan ujung matanya saja.
"Kenapa dia?"
"Itulah alasan aku ga bisa ketemu Alev sementara waktu ini. Entah kiriman dari mana mereka, aku cuma bisa nebak dua kemungkinan. Antara suami aku atau Sonia."
Jasmeen mengangguk paham, sudah dapat di artikannya jika Tara tidak ingin memberikan celah jawaban sedikit pun pada mata-mata itu.
"Apa kamu yakin semua yang kamu lakukan itu bisa menghindari musibah buat Alev?" Jasmeen memancing dengan ucapannya, di pertegas dengan sorotan mata yang mengunci pandangan pada mata Tara yang menatap kosong ke arah depannya.
__ADS_1
Tara menggelengkan kepalanya, menyangkal batinnya yang berkata tidak yakin untuk hal yang telah di lakukannya kini. Hal itu membuat Jasmeen tersenyum membalasnya.
"Mungkin memang benar apa yang kamu lakukan itu, tapi apa kamu lupa kalau Alev juga butuh kamu dan ayahnya?"
Serasa petir menyambar tanpa adanya hujan, batin Tara tersentuh begitu tajamnya.
"Kamu pikir aku ga pikirin soal itu? Aku juga mau Alev bahagia, aku juga mau ketemu Alev tiap saat, aku juga mau Alev punya ayah," Tara menyahut penuh emosi yang terpicu dari rasa sesal atas perlakuannya terhadap Alev selama ini. "Tapi-"
Sudah tidak mampu ia menjelaskan alasannya, yang di yakini bahwa Jasmeen tidak akan mengerti dengan niat hatinya. Sesungguhnya, batinnya tersiksa memikirkan nasib sang buah hati. Setiap malam menjelang, saat alam mimpi akan menyambut sukmanya, bayangan-bayangan tentang anaknya selalu menjadi lamunan di akhir penghujung kesadaran.
Namun, tiada yang bisa di lakukannya selain bertegas hati untuk mempertahankan apa yang sudah di rencanakan sebelumnya. Bahwa, ia akan tetap merahasiakan Alev hingga dirinya mencapai cita-citanya.
Ia berpikir jika dirinya telah mendapat kemajuan hidup, maka tidak akan ada yang mampu mengusik ketenangan hidupnya sekalipun ibu tiri yang kini berkuasa atas perusahaan ayahnya.
Kekuasaan yang didapatkan ibu tirinya telah menjadikan kehidupan miliknya mengalami nasib sial. Lalu, ketakutan kemudian bersarang dalam benak, saat mengingat kelicikan wanita iblis itu dahulu kala. Dengan kekuasaan yang dimilikinya, ia berhasil membuat jebakan berbentuk kenikmatan sesaat. Kini, kehadiran Alev di dunia merupakan bukti atas kejadian di masa lalu itu.
"Kamu ga mau coba ketemu dia sekali aja?" Jasmeen masih berusaha membujuk Tara, membuat Tara mendengus di sana.
"Aku ga mau ambil resiko, kali aja mereka lagi nunggu kesempatan itu." Tara menolak begitu tegasnya, membuat emosi kian terpacu mengguncang detakan jantungnya.
"Kamu masih aja keras kepala." Jasmeen tersenyum mengolok sahabatnya, mengungkap rasa gemas akan ketidak berhasilan membujuk wanita itu dengan hanya mencibir saja.
"Bukan keras kepala, aku harus nyari cara dulu biar selamat semuanya." Bisik Tara lembut, ia tidak ingin perbincangannya terdengar jelas oleh pria yang telah dicurigainya.
Pasrah yang membuatnya gundah, Jasmeen terpaksa mengalah. Baru kali ini ia melenguh menggundam emosinya atas ketidak berhasilan membujuk wanita bersifat keras kepala ini.
"Art Tara ... alasan apa lagi yang harus aku bilang sama Alev?" Nada sebal berseru disela kalimat yang terlontar dari mulut Jasmeen. "Kalau terus ngasih alasan, Alev pasti curiga. Dia itu cerdas Art, pasti nyari tau sendiri alasan kenapa kamu menutup keberadaannya. Kalau itu terjadi, dia pasti tau siapa Sonia, dan pasti tau siapa Sammuel."
"Ga akan!" seru Tara membuat Jasmeen kian melenguh frustasi. "Percaya sama aku," imbuhnya di sertai seringai liciknya.
Jasmeen tidak enak hati melihat seringai penuh siasat itu, sedikit banyak ia telah memahami sifat Tara yang selalu bertindak sendiri. Meski sudah begitu matang dipikirkannya, akan tetapi seluruh rencana selalu membuahkan penyesalan pada akhirnya.
"Aku percaya, suatu hari nanti kamu pasti menyesal!" Tidak mampu menahan rasa frustasinya, Jasmeen mengingatkan akan seluruh tindakan ceroboh yang pernah dilakukan Tara dahulu kala.
Salah satu bukti tentang kejadian nahas dua belas tahun silam, di mana Tara menolak tawaran Jackson untuk mempertanggung jawabkan kelakuan busuknya. Tara menolak dengan keras, hingga saat ia mengetahui telah tumbuh benih cinta di dalam rahimnya, Tara baru menyadari akan penyesalan yang telah menolak niat baik pria itu.
Benar adanya, keadaan itu membuat ingatan Tara kembali menuju pada dua belas tahun silam.
Flash back on.
Jasmeen menyeret paksa tangan Tara agar ia mau memasuki gedung bertingkat enam puluh itu, barang bukti telah dibawanya di dalam tas slempang.
Di tengah perjalanan saat akan tiba di hadapan receptionist, Tara menghentikan paksa langkahnya, membuat Jasmeen pun terpaksa mengikutinya.
"Kenapa?" tanya Jasmeen penuh emosi, terpancar dari sorotan matanya.
Atmosfer kelam itu berhasil menjangkau rasa takut Tara hingga keberaniannya menciut begitu saja.
"Aku takut kalau dia ga percaya Jas," sahut Tara penuh waspada saat sorotan mata itu kian tajam menatapnya.
__ADS_1
"Sekarang udah jamannya canggih Art, kamu bisa buktiin dengan test DNA."
Tara melenguh tidak percaya jika seluruh alasannya akan disangkal Jasmeen begitu mudahnya. Ia berpasrah diri, menerima segala keputusan yang di berikan oleh Jasmeen.
Hingga pada akhirnya, kaki Tara kembali melangkah meski keraguan masih tertanam di balik angannya.
Jasmeen tersenyum penuh kemenangan, menyikapi tindak yang menerima kekalahannya itu. Tanpa berpikir panjang, ia bergegas menghampiri pekerja bagian penyambut tamu di sana.
Namun, apa yang terjadi telah membuat amarah Jasmeen tertahan, sang pekerja menyatakan jika pria bernama Jackson Jordan Charington bukan bagian pekerja di sana.
Perdebatan Jasmeen dengan sang pekerja itu berlangsung cukup panjang. Jasmeen kemudian memberikan seluruh bukti bahwa Jackson bagian dari keluarga pemilik perusahaan tersebut. Ia yakin karena nama Charington hanya di miliki oleh keluarga begaris keturunan barat itu.
Namun, perdebatan ini hanyalah sebuah bualan belaka. Jasmeen bahkan kehabisan cara menghadapi pekerja itu. Sebab ia bersikukuh mengatakan bahwa Jackson bukan bagian dari keluarga Charington. Kesabaran kini sudah berakhir menjadi kekecewaan sehingga Jasmeen meninggalkan ruangan tersebut.
Perasaan berbeda justru hinggap di benak Tara. Ia justru merasa lega menerima keadaan dengan begitu lapang.
"Sudahlah Jas, aku bisa membesarkan dia dengan tanganku sendiri," ujar Tara menyemangati dirinya sendiri. Namun, perkataannya berhasil membuat Jasmeen tersenyum kagum di sana.
Tidak heran bagi Jasmeen, karena wanita yang kini tengah mengusap perutnya yang sedikit membuncit itu pasti akan mampu menerima nasib. Lengkungan bibir tertuju untuk jabang bayi dalam perutnya itu seketika disambut ratapan pedih oleh Jasmeen.
Ketegaran yang dipaksakan dengan senyum penghibur itu begitu menusuk batin Jasmeen. Bukan iba yang di rasakan, melainkan berjuta pujian terucap di dalam batinnya.
"Aku akan bantu kamu sampai titik darah penghabisan," ujar Jasmen bersemangat.
Tara hanya membalasnya dengan anggukan. Ia meyakini jika Jasmeen tidak akan mengingkari seperti sebuah janji yang sudah terikrar.
Flash back off.
"Art.." panggil Jasmeen disertai lambaian tangan di hadapan wajah Tara. Sudah tiga kali ia menyerukannya, akan tetapi tiada balasan dari Tara sedikit pun. "Art!" Pada akhirnya pekikan suaranya berhasil memecah lamunan Tara.
"Jas, mulai sekarang kita harus lebih waspada, sebisa mungkin kamu jangan terlalu sering pergi keluar sama Alev," ucap Tara tanpa berbasa-basi mengutarakan isi hati yang terpendam sejak lamunannya berlangsung.
"Sebenarnya kamu mau menghindari Sammuel atau dia?"
"Keduanya!"
"Aku rasa gampang aja menghindari dia, tapi buat Sammuel-" ucapan Jasmeen terpotong tanpa pelantara, kelopak matanya terbelalak nyalang.
Tara heran dengan tatapan kejutan itu, hingga ia memutar kepala menuju belakang untuk mengikuti arah pandang Jasmeen.
Perbincangan yang menguras lamunan dari keduanya, membuat mereka tidak dapat berpusat diri pada keadaan sekitar. Sehingga mereka tidak menyadari kedatangan Sammuel yang kini telah berdiri di belakang istrinya.
"Mau ngehindarin gue?" tanya Sammuel dengan nada datarnya. Tanpa acuh ia mengabaikan wajah kedua wanita yang masih terkejut menatapnya itu.
•
•
•
__ADS_1
Tbc