
"Papa ..." Tanpa di sadari, Alev menyambut kehadiran ayahnya dengan sapaan yang akan membuat ibunya murka.
Jackson melenguh pilu, mengira sapaan itu bukan untuk dirinya. Batin terkoyak duka, mengingat kembali pria yang di sebutkan Tara, kini terucap kembali dari mulut anaknya.
Kerancuan terpampang di balik helaan napas dalam, membuat si cerdas bernama Alev memicingkan mata. Ada sesuatu di balik tindak tanduk ayahnya, melihat tiada respon dari sapaan yang di sebutkan tanpa sengaja darinya.
"Aku bukan ayahmu." Meski berat bibir berucap, Jackson terpaksa mengungkap isi hati. Lirihan terukir di atas nada bicara, membuat Alev mengernyitkan dahinya.
"O–om si–" ujar Alev terpenggal oleh tatapan Jackson yang menilik tajamnya rasa janggal.
"Semirip itu kah wajahku sama ayahmu?" tanya Jackson.
Alev menyeringai dalam anggukan, sedikit banyak mendapat jawaban akan kejanggalan yang di rasa. Namun, ia salah mengartikan. Yakni, mengira jika ibunya memberitahukan kepada Jackson bahwa ada pria lain yang di sebutkan sebagai ayahnya. Lantas, Alev mengangguk sebagai jawaban, tiada mengungkap kata agar sang ayah tidak mengorek keadaan lebih dalam.
Jawaban kejujuran itu berbuah rasa cemburu kembali menggores batin Jackson. Namun, tidak menjadikan diri membenci pada buah cinta kasih yang berada di hadapannya. Ia mengumbar senyum ceria, berharap diri dapat menjadi pengganti bagi si buah hati.
Pasang mata berpusat pada wajah yang mendongkak di sana, entah mengapa kasih cinta menyentuh sanubarinya. Tangan Jackson mengulur, mengusap puncak kepala pria remaja yang di anggapnya sebagai saingan. Di sela kegiatan, batin bergejolak riang, meresapi kehangatan yang sedang terjadi.
Lirihan tak lagi menyembur di dalam asa, ketika rindu datang menyerbu kalbu. Entah dari mana itu berasal, Jackson tidak mengetahui sedikit pun. Hanya saja, rasa kian bergejolak, membuat tangan itu sulit terhempas dari atas tempurung otak anak remaja itu.
"Om, ada apa kau mencariku?" ujar Alev memecah suasana haru yang tercipta dari rasa rindu itu.
"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat," jawab Jackson menyambut ucap kesungguhan, sehingga tangannya terpaksa ia singkirkan dari sana.
Tiada kata terucap dari mulut Alev, ia memandangi pria tua yang berdiri di sampingnya. Sambutan di dapati saat Rudi menganggukkan kepala, memberi restu dari permintaan izin yang hanya terlontar dari isyarat tubuh itu saja.
Namun, "Ke mana kau akan membawaku? Jika ada sesuatu, ga bisa kah kau mengatakannya di sini saja?" Alev menerka ibu angkatnya merencanakan sesuatu, sehingga membuat ayahnya dengan mudah mempertemukan diri.
Ia menggeleng keras, tidak ingin mengingkari janji terhadap ibu kandungnya. Ia lebih memilih menanggung beban kerinduan, di bandingkan menerima hukuman dari ibu kandungnya.
"Apa mamiku yang menyuruhmu untuk membawaku dari sini?" imbuh Alev mengungkap terkaan, di saat lawan bicaranya hanya membungkam diri saja. Tidak dapat diketahui, Jackson tengah menyimpan rasa kejut atas tingkahnya.
Jackson tercengang melihat kecerdasan seorang anak yang kini memicingkan matanya, ia tidak yakin anak seusia Alev memiliki kemampuan menilik keadaan dengan begitu cermatnya.
"Bocah ini ... kalau aku punya rencana busuk, aku ga akan mungkin minta izin sama beliau dulu." Tatapan Jackson mengarah kepada Rudi yang berdiri di sampingnya, pertanda tunjukan tertuju pada objek yang di sebutkan.
Seringai kaku tersirat di balik wajah Alev, ia pun mengetahui jika ayahnya tidak akan menyembunyikan siasat busuk terhadap dirinya.
"Baiklah, aku akan ikut denganmu." Alev memberi keputusan, tanpa ingin memikirkan hal lainnya. Rasa rindu sudah tak mampu terbendung lagi, sehingga ia memberi persetujuan dengan begitu mudahnya.
Mendapat persetujuan, senyum kemenangan terukir di balik wajah Jackson.
"Om, aku pinjam dia dulu, aku jamin dia akan aku kembalikan dengan selamat," ucap Jackson kepada Rudi, berbalas anggukan disertai senyum.
"Aku pamit." Alev melambaikan tangan, setelahnya meraih tangan Rudi, mengecup punggung tangan itu sebagai tanda penghormatan kepada seorang yang ia hargai.
Melihat tingkah itu, rasa kagum terpampang di balik senyum indah Jackson. Membuat batin bergejolak asa, menginginkan jika tetesan darahnya mengalir dalam nadi anak itu.
Usai Alev berpamitan, tanpa ingin membuang waktu, Jackson merangkul bahu anaknya, membawa dalam tuntunan langkah kaki hingga menepi di samping kendaraan mewah.
Kendaraan melaju setelah mereka mendapat posisi masing-masing. Jackson bertugas sebagai pengendara, sementara Alev duduk pada jok penumpang di samping kiri Jackson.
__ADS_1
Arah laju kendaraan itu menunjukan ke tempat di mana Tara berada. Alev menyadari hal itu, sehingga kejutan datang menghampirinya. Gelisah menerjang angan mengira bahwa ayahnya akan membawa diri ke hadapan sang ibu. Jika demikian, sudah dapat di pastikan, pertikaian akan terjadi antara kedua orang tuanya.
"Om, ke mana kau akan membawaku?" Nyaring nada bicara, menunjukan rasa takut itu. Namun, senyum cibiran di dapatinya, membuat batin sedikit merasa lega.
"Tenanglah bocah, aku ga akan menculikmu." Jackson mengumpat gemas, menerka jika anak itu ketakutan akan dirinya berbuat sesuatu terhadapnya. Sungguh di sayangkan, mata tidak dapat melihat wajah gelisah itu saat harus berpusat pada jalanan. Jika saja ia melihatnya, maka dengan pasti ia akan mendapat jawaban akan kegelisahan itu justru bukan berasal dari apa yang di pikirkannya.
"Bukan begitu ... Aku yakin om bukan orang yang butuh uang, makanya ga akan berani menculikku." Alev berdalih, membuat pasang telinganya mendengar tawa kecil dari lawan bicaranya.
"Dari mana kamu tau itu?"
"Mobil ini bukan mobil murah, om pasti orang kaya."
"Oh, kaya banget. Kalau kamu tertarik, mobil ini bisa jadi milikmu, tapi aku harus jadi ayahmu dulu," ujar Jackson menyerukan keinginan yang menjadi tujuan awalnya.
Alev terhentak geli, bukan harus jadi ayahnya, melainkan memang sungguh ayahnya. Ia meringis mengumandangkan rasa gemasnya itu. "Jangan sembarangan mau jadi ayahku, mama pasti marah."
"Kenapa, apa mama kamu ga mau kamu punya ayah?"
"Aku udah punya mami dan papi."
"Oke kalo gitu aku jadi papamu," pinta Jackson setengah memaksa, membubuhkan rayuan dengan senyum manis yang hanya terlihat separuhnya saja oleh pria yang duduk di samping kirinya.
Sejenak Alev membisu, meresapi tatapan wajah yang begitu serupa dengannya itu. "Kau tidak bermaksud buruk kan?"
Rasa kagum hadir kembali menghampiri angan Jackson, menanggapi sikap waspada dari anak itu. Terbesit sesuatu dalam ingatan, memberitahukan jika sikap itu begitu serupa dengannya. Namun, tiada pernah ia merasa curiga, ketika batin tertusuk duri kecemburuan. Lagi dan lagi ia mengira, Tara mengagumi dirinya lantaran mencari bahan pelampiasan dari hilangnya sosok pria yang di sebutkan sebagai ayah Alev.
"Om, apa kau merencanakan sesuatu?" Alev menyerukan pikiran buruknya, di saat belah bibir itu merapat.
"Kalau aku bermaksud buruk, kamu udah aku ikat dari tadi," balas Jackson menggiring rasa gemas, sehingga lontaran kata tak luput dari nada ledekannya.
"Apa maksudnya kau ingin menjadi papaku?" Setelah tawa itu enyah, Alev mengingatkan perbincangan yang selalu ingin disambutnya.
"Karena aku mencintai ibumu," sahut Jackson mengungkap kejujuran, akan tetapi membuat Alev mengumbar tatap dendamnya.
"Kau mencintainya bukan mencintaiku, kenapa harus bersusah payah mencariku?" Nada kesal mengiringi setiap kata yang terucap. Alev kecewa jika sang ayah menginginkannya hanya demi orang lain.
"Karna buat mengambil hatinya, aku harus mengambil hatimu dulu." Untuk kedua kalinya, ucapan Jackson menggiring emosi dari sampingnya.
Tatapan murka kali ini terlihat oleh ujung mata Jackson. Namun, ia membalas dengan tawa cibiran. Hanya sejenak, sorot mata itu terhenti saat berganti menjadi tatap curahan kerinduan.
"Kamu ga ada niat buat mencegahnya bukan?" ungkap Jackson mencabik kehangatan yang baru saja di dapati Alev.
Pertanyaan itu, memberikan peluang emas untuk Alev. Seringai manis terukir di balik wajah, mengundang siasat terbesit di dalam angan. Kesempatan baginya untuk dapat menghabiskan waktu bersama ayahnya. Sehingga,
"Selama kau bisa mengabulkan segala keinginanku," ujar Alev.
"Boleh, apapun itu, selama aku mampu memberikannya." Jackson menyahut secepat kilat, tidak ingin ucapan itu di tarik kembali oleh sang empunya.
"Kau pasti mampu, kau orang hebat, kau orang kaya, sekalipun aku minta pesawat terbang kau mampu memberinya jika kau mau."
Rasa penasaran menyentuh angan Jackson, mencari jawaban akan kejanggalan dengan memiringkan tubuhnya saat lampu lalu lintas berwarna merah, agar dapat menatap sepasang mata itu.
__ADS_1
"Kamu mau pesawat?" tanya Jackson memulai perbincangan serius yang terdengar Alev layaknya lelucon.
"Engga." Alev membalas tak kalah serius, membubuhkan nada pekikan sebagai ungkap ketegasan.
"Lalu?" Picingan mata Jackson terlihat lebih mengerikan.
Alev tak kuasa menyambutnya, sehingga dengan sangat terpaksa ia mengalihkan arah pandang meski batin belum merasa cukup puas memandangi wajah itu.
"A–aku cuma mau–" Batin mengumandangkan rasa tidak enak hati, membuat ucapan Alev terbata-bata. "Lupakanlah!"
"Atau ... memang benar kamu ga akan merestuiku?" ujar Jackson kian mengancam, mengundang tatapan itu kembali menyorot dendam wajah tampannya.
Alev menggerutu kesal, ribuan umpatan berbisik di dalam batin. Mengingat jika dirinyalah yang paling mengharapkan persatuan orang tuanya itu terjalin.
"Kau salah besar tuan," ucap Alev.
"Aku ... yang salah?" Telunjuk jenjang Jackson mengacung di hadapan hidungnya sendiri, menyerukan rasa tidak percaya agar terasa nyata bagi lawan bicaranya. "Jadi maksudmu, kamu merestuiku?"
"Aku juga tidak–" sahut Alev terpenggal oleh suara klakson dari belakang kendaraan yang ia tumpangi.
Jackson segera melakukan tugasnya kembali, melajukan kendaraan yang membuat tatapan itu berpaling.
"Alev." Seolah menyapa, Jackson memanggil nama itu, yang selalu di inginkan anaknya. "Apa yang harus aku lakukan biar kamu memberikan kesempatan untukku jadi ayahmu?" imbuhnya dalam lirihan.
Alev melenguh pasrah, sudah tak mampu ia bersandiwara lagi.
"Baiklah, kau kalahkan aku di lapangan basket, maka aku akan menentukan merestuimu atau tidak."
Jackson menyeringai puas, mendapat jawaban yang sudah bisa dipastikan. Kemenangan berada dalam genggaman, sehingga dengan percaya dirinya ia mengangguk, menerima tantangan itu.
"Anak pintar," ungkap Jackson seolah memuji, saat tangan kirinya mengulur untuk mengusap gemas puncak kepala calon anak tirinya.
Meski tidak berdasar dari dalam hati, Alev menyambut sentuhan itu. Kehangatan kembali ia dapati, membuatnya meresapi tanpa ingin ada yang mengganggunya. Namun, hanya sejenak usapan pada kepalanya telah berakhir. Rasa kecewa menggantikannya, menjajal kesabaran hingga menembus batas emosinya.
"Kembalikan aku ke sekolahanku!" Jengah sudah Alev dibuatnya, sehingga tanpa dosa ia menekankan nada bicara.
"Kamu ga mau ke tempat bermain?" Tawaran terucap dari sebuah rayuan rupanya kembali medobrak dinding emosi Alev.
"Kau pikir aku anak SD?" Pelototan begitu tajam tersirat di balik tatapan, membuat pria yang menatapnya dengan ujung mata menyemburkan rasa takut. "Kau udah mengganggu waktu belajarku tuan."
"Kamu menyuruhku atau memerintah budakmu?" ungkap Jackson mencibir di akhiri dengan tawa kecilnya.
"Kau mau aku restui atau engga?" Terpaksa Alev mengancam.
"Oke sir," sahut Jackson tanpa berpikir, setelah mendengar kata 'restu' yang telah dinantinya.
Tiada kata kembali terucap, Jackson memutar arah tujuan. Menggapai keinginan sebagai titah dari pria yang lebih muda darinya itu.
•
•
__ADS_1
•
Tbc