
Di depan pintu masuk ruang presiden direktur, Tara berpapasan dengan Kelvin. Niat awal ia ingin memperbincangkan urusan pekerjaan dengan sang pemilik ruang, akan tetapi ....
"Kelvin, Jack ada di dalam?" tanyanya kepada pria yang terlihat sedang terburu-buru.
Nampak dari gelagat Kelvin yang berjalan hampir saja menabrak dirinya, jua lembaran kertas berada di dalam genggaman. Tara menebak jika pria itu mendapat titah untuk mengantarkan sejumlah berkas itu.
"Tuan Jordan lagi ada meeting, mungkin ... sebentar lagi selesai," jawab Kelvin disambut anggukan oleh wanita yang tersenyum di sana.
"Bolehkah aku tunggu dia di dalam?" pinta Tara merajuk dengan nada manjanya.
"Silahkan." Disertai senyuman, Kelvin melentangkan tangan. Memberi restu kepada wanita yang lagi tersenyum kepadanya.
"Terima kasih."
Tanpa ada kata kembali terucap, Tara lekas membawa diri ke dalam ruang. Ketika kaki berhenti melangkah dihadapan meja kebangsaan, lembaran kertas telah menarik perhatiannya. Kemudian ia meraih salah satu penyebab mata tidak dapat berpaling. Menilik seluruh kalimat yang tertulis di dalamnya, bahkan melirik gambar-gambar wajah di sana. Salah satunya terdapat wajah diri serta anaknya.
Waktu pun berlalu, ia baru menyadari ada sesuatu yang tersembunyi di sana. Kisah yang tertera dibalik rangkaian kalimat pada lembaran kertas itu, telah mendobrak bendungan air matanya. Disertai usapan pada dada, ia membawa tubuh menumpu di atas kursi yang terletak besebrangan dengan kursi kebangsaan pemilik ruang.
Batin bergejolak ingin segera mengungkap apa yang telah menjadi benturan hatinya. Sepertinya ... kemujuran mendukung diri, saat Jackson datang menghampiri.
"Udah lama nunggu?" Jackson menyapa setelah ia berdiri di samping Tara.
Sebelum melepas suara, Tara mendongkak melirik wajah tanpa dosa itu, melemaskan ketegangan hati lantaran amarah terpendam di baliknya.
"Jack." Kemudian memaksakan mempersembahkan sebuah senyuman, meskipun duka tertanam di dalam angan. "Ini semua kerjaan kamu?" Tangan kanannya bergerak, menunjuk seluruh kertas yang berada di atas meja.
"Hmm." Dibalik jawaban hanya dengan dengungan, Jackson merasakan ada kejanggalan. Sebelum ia mendapat jawaban, wanita di sampingnya telah kembali membuka suara.
"Apa semua udah bikin kamh puas?" kata Tara.
Sedikit pun Jackson tidak memahami arti dari emosi yang terpampang jelas dari nada bicara wanita itu, ia hanya menerka jika sang wanita membicarakan hasil dari penyidikan pada orang-orang yang terdaftar dibalik kertas itu.
"Ini kah yang selama ini jadi beban batin kamu?" Tiada suara menyahut ucapan sebelumnya, Tara kembali menghujam Jackson dengan sebaris kalimat tanya.
"Apa maksudnya?" tanyanya terkesan begitu heran. Seringai miris dari bibir tipis wanita itu terlihat seolah mengolok dirinya, akan tetapi ia mengerti jika wanita itu memendam amarah terhadapnya.
"Maksudnya ... aku baru ngerti arti dari ungkapan hati kamu Jack. Aku bisa lihat kecintaanmu sama aku bukan karna ketulusan, tapi ... kamu cuma mengejar keberhasilan. Dari berkas-berkas ini terlihat jelas, kalau bukan karna musuhmu berkaitan sama aku, kamu ga akan kejar aku sampai sekarang ini."
Penjabaran alasan dari gelagat murka yang tidak dapat diterka lawan bicara, membawa ingatan Jackson menuju kejadian semalam tadi. Sebuah obsesi terucap dari mulut adiknya, kini kalimat itu memojokan diri pada arti yang serupa.
__ADS_1
"Kamu mau bilang kalau aku menginginkanmu karena obsesi?"
"Ya!" Hanya satu kata terucap, akan tetapi berhasil membuat rasa sesal seseorang menampakan dirinya.
Lenguhan pilu terasa jelas menusuk indra pendengaran Tara, begitu pula usapan pada wajah mewakilkan rasa frustasi nampak terlihat mengenaskan dimata Tara.
"Kenapa kamu baru menyadarinya sekarang?" sahut Jackson bernada lirih.
"Ga usah salahkan aku, seharusnya kamu bisa buka mata hati kamu sedari dulu. Ga lihat kah mereka-mereka yang ga berdosa harus menanggung kepedihan akibat ulahmu?" Tegas dan lugas, kalimat itu berhasil membuat lawan bicara kesulitan mengungkap kata.
Benar apa yang dikatakan wanita itu, seharusnya ia menyadarinya lebih awal. Kini semua telah terjadi, kata menyesal pun sudah tiada arti. Hendaklah rasa frustasi menggelitik jiwa, Jackson melenguh seraya menatap duka wajah yang masih mendongkak di sampingnya.
"Triana ... dia kehilangan kehormatan karena kamu berusaha menyatukan sama suami aku saat pergi ke luar negri waktu itu. Fiona ... terlihat menjijikan dimata Hanson, itu juga karena rencana-rencana kamu. Dan lebih parahnya, aku dan suamiku merelakan hati cuma karna berbelas kasih sama kamu," kata Tara berhasil membuat rasa sesal kian menghujam angan Jackson.
"Cukup!" Sudah tidak mampu Jackson mendengar kalimat berduri itu, batin terluka akibat kesalahannya sendiri. Hantaman keras datang bertubi. Bak luka tersiram air garam, belum pulih dari pedihnya ucapan sang adik semalam tadi. Pernyataan wanita ini pun tak kalah menggores luka lebih dalam. Namun, tiada ingin ia mengelak, semua itu ia jadikan bahan untuk menyadarkan diri.
"Aku sadari itu, semua yang aku lakukan karena aku ingin mencapai keberhasilan. Tapi, aku melupakan perasaan kalian," sahut Jackson berseru prihatin.
"Itu benar! Dan ... apakah kamu sadar kalau sebenarnya kamu ga mencintaiku?"
"Mungkin—" ucap kata tertahan di sela tenggorokan, Jackson tidak sanggup meluncurkan alasan.
"Dan lagi, di sini kamu lah yang lebih banyak kesalahan. Triana dan suami aku berkhianat karena tanpa kesengajaan, sedangkan kamu degan sengaja merenggut kebahagiaan pasangan suami istri."
Duar! Serasa petir menyambar, kalimat Tara saat lalu begitu tepat untuk menyatakan kesalahan diri. Besarnya harapan untuk mencapai keberhasilan, kini perlahan mengikis akibat barisan kalimat dari wanita yang telah berdiri dihadapan.
"Akan lebih baik kalau kamu memperbaikinya." Melihat gelagat prihatin dari Jackson, Tara merangkul tubuh itu.
Tiada mampu Jackson mengucap kata, yang ia lakukan hanya meresapi bayangan akan segala kelakuan nakalnya dahulu kala. Ingatan mengenai hasutan kepada wanita bernama Triana datang terlebih dahulu, membuat renungan tiada kunjung berakhir.
Akibat ulahnya membiarkan Triana bepergian dengan pria yang telah beristri, kesalahan fatal telah terjadi hingga membuat mereka terlihat seperti pengkhianat. Seandainya ia tidak berusaha mempersatukan mereka, mungkin saja Tara tidak akan bersedih hati karena harus berpisah dengan tambatan hati. Sepasang suami istri terpaksa terpisah atap, demi menjaga hati pria yang belum jelas menyayangi seperti dirinya.
Perlahan Jackson melepas dekapan pada tubuhnya, sejenak ia menatap wajah jelita yang terlihat layu itu. Melihat wajah polos tanpa tersirat dendam di sana, sungguh ia meyesali atas segala yang dilakukan.
"Apa selama ini aku udah keterlaluan?" tanya Jackson seraya kedua tangan menyentuh belah pipi Tara.
"Sebaiknya kamu tanya pada dirimu sendiri."
Sudah jelas, Jackson tidak ingin menyangkalnya lagi. Wanita itu tidak pernah mencintainya sedikit pun, sekali pun mereka hidup dalam satu atap yang sama akan tetapi semua karna paksaan saja.
__ADS_1
"Oh ya, aku lupa menanyakan tujuan kamu ke sini," ujar Jackson mengalihkan bahan percakapan. Seraya berkata, kedua tangan terlepas dari wajah wanita itu. Bersamaan melepas rasa cinta yang tak pernah mendapat balasan.
"Aku mau antar surat cerai aku." Wajah Tara mengarah ke atas meja, dimana selembar kertas telah tergeletak di sana. Itu adalah surat cerainya dengan Sammuel yang dibawanya saat lalu.
Belum saja Jackson menyahut ucapan itu, kehadiran Kelvin memenggal suasana haru di sana.
"Bos, perwakilan ke luar kota udah ditetapkan, Triana dan Sammuel yang akan pergi ke sana," ujar Kelvin ketika berdiri di hadapan atasannya.
"Batalkan!"
Setelah memberi keputusan, Jackson melangkahkan kaki. Meninggalkan ruang entah ke mana ia akan membawa tubuhnya.
Sisa penghuni ruang menatap punggung pria yang berjalan semakin menjauh. Tara membiarkan hal itu terjadi, mengetahui jika pria itu ingin menangkan diri. Begitu pula dengan Kelvin, meskipun tidak mengetahui penyebab kepergian tanpa berpamitan itu, ia meyakini jika sang atasan telah mendapat risalah hati.
***
Renungan berbahan duka, Jackson melepas air mata kepedihan jua penyesalan. Di dalam ruang yang terdapat pada lantai paling atas bangunan perusahaan miliknya, ia menenangkan diri dengan segelas minuman beralkohol tinggi.
Langit nampak mendukung keadaan, awan kelam menghadang sinar mentari. Di balik jendela berukuran lima meter itu, tubuhnya berdiri lemah seraya menatap mendungnya alam. Sedikit demi sedikit minuman masuk ke dalam mulut, perlahan jua kebahagiaan sirna.
Terlepas dari kesalahan terbesar, ia mencari cara untuk segera menyelesaikannya. Harus bagaimana kah mempertanggung jawabkan? Teringat beban seorang wanita bernama Triana, ia akan memulai dari sana.
Rintik hujan membasahi bumi, menggantikan derai air mata menetes dari sudut matanya. Terhentinya tangisan, karena ia melakukan panggilan jarak jauh kepada Sammuel.
"Gimana keadaan Triana sekarang?" Tanpa mengucap sapa, Jackson berkata menuju inti permasalahan.
"Masih murung," jawaban dari sebrang sana membawa kesempatan datang menghampiri Jackson.
Ia menegaskan keputusan, berteguh pada keyakinan untuk segera memulai aksinya. Sebelum kembali mengucap kata, ia meneguk minuman pada gelas dalam genggaman tanpa menyisakan setetes pun.
"Oke, thanks."
Tanpa ingin melanjutkan perbincangan, ia mengakhiri panggilan. Meskipun wajah terlihat semberaut, penampilan terlihat kusut. Ia beranjak keluar ruangan. Berniat menemui seorang wanita yang dikatakan Sammuel sedang bersedih hati.
Maka, ia segera menggapai tujuan ...
•
•
__ADS_1
•
Tbc