
Tujuh puluh dua jam telah berlalu, pada hari sebelumnya Tara kehilangan kesempatan untuk berlibur. Akibat ulah wanita tua pemilik nama Esmerald Kyth Charington, ia terpaksa menjadi pemandu wisata.
Saat ini ia telah menjalani rutinitas seperti sedia kala, sejak hari memulai pagi baru. Ruang kebangsaan milik general manager adalah tempat yang selalu menjadi persinggahan setiap pagi hingga menuju sore hari. Pagi ini pun ia telah menumpukan tubuh di atas kursi yang selalu setia menemani saat bekerja.
Meski hal serupa dilakukan setiap saat, kali ini kerancuan hadir memberi suasana berbeda. Beberapa paras tergambar menjadi bayangan semu dalam ingatan, membuatnya merindu hingga kesulitan berfokus menjalani kegiatan. Terlampau banyak orang yang ingin sekali ditemui, membuat batin teriris emosi. Amarah terlampiaskan pada lembaran kertas dalam gengaman, memberi umpatan pada setiap waktu yang dilalui.
Tiada dapat ia berpusat pada barisan kalimat yang tertera di balik kertas-kertas itu, sehingga ia menjeda kegiatan hanya untuk sekedar melerai rasa frustasi.
Puing-puing udara berserakan dari dalam paru-parunya, melepas kegelisahan dengan hentakan napas dalam. Tubuh melunglai di atas meja, tak ayal membuat kepala turut tersandar.
Ketika diri kehilangan kesabaran, kehadiran seseorang menepis risau yang di rasakan. Hendaklah bibir melengkung tajam untuk memberi sambutan dengan wajah berbinar. Tak kuasa ia menahan perasaan, kaki memburu langkahnya menghampiri seorang pria yang berdiri di balik pintu.
Di hadapan pria itu kaki menepikan langkah, lantas manik mata meresapi tatapan pada wajah yang paling dirindukan sang hati. Kendati demikian kejanggalan hadir menjemput diri, menilik wajah layu seolah tiada gairah itu.
"Kapan kamu pulang? Kenapa ga bilang-bilang?" Rasa janggal terlupakan ketika batin tersentuh rasa bahagia. Tara melepas rindu dengan bagian tubuhnya, merangkulkan kedua tangan pada tubuh pria itu.
"Semalam," jawab sang pria untuk pertanyaan pertama Tara. "Lo ga tidur di rumah, gue kira lo lagi asik sama cowo lo," imbuh kata terungkap mencibir, berbalas delikan dari wajah yang mendongkak menatapnya.
"Cowo aku yang mana?" ucap kata tiada bermakna, ketika batin hanya berpusat pada curahan asanya. Tatap kerinduan terpancar lekat, membuatnya mendapat balasan tatap prihatin.
Wajah ceria tanpa mengenal dendam itu, membuat batin Sammuel dirundung rasa bersalah. Ia merasa sudah terlambat untuk mengungkap maaf, menjadikan diri terpaksa mengalah untuk kali ini hingga seterusnya.
"Si Jack lah, siapa lagi," sahutan ia berikan di balik kepiluan yang mendalam. Sesungguhnya Sammuel berusaha untuk mempersatukan sang istri dengan pria yang lebih baik darinya.
Alih-alih berat hati ia rasakan, akan tetapi demi membalas cinta kasih ia mengikrar sumpah untuk selalu memberikan yang terbaik bagi sang istri.
Satu pekan terpisah dengan istrinya, mendapat kesempatan merenungkan nasib tanpa ada gangguan. Keputusan akan jawaban ia dapatkan ketika kaki berpijak di dalam ruang kebangsaannya. Yakni, ia bertekad diri melepas seseorang yang begitu di cintai.
Ketika ia baru tiba di dalam negeri tercinta kemarin hari, sang hati mengakui jika diri telah menyayangi istrinya. Sehingga, ia membiarkan kehendak menyusuri jalannya kehidupan.
Keadaan masih seperti semula, dekapan itu tidak enyah sedetik pun dari tubuhnya. Bahkan wajah jelita selalu menjadi sasaran pandangan. Keinginan bergemuruh di dalam angan, tidak lain seperti istrinya, rasa rindu itu pun telah menerjang jiwa.
Ingin rasanya Sammuel membalas dekapan itu, akan tetapi ia memendam keinginan sedalam-dalamnya. Mengetahui jika ia melakukan hal itu, maka penyesalan hendak tumbuh kian menjalar menyusuri perasaannya.
Suara tidak lagi terdengar menghiasi telinga, mereka saling membungkam diri agar dapat meresapi kenyataan. Namun, Sammuel enggan memperdalam penyesalan. Lantas ....
"Benar kan lo tidur di rumah dia?" ujar Sammuel seolah mengumbar rasa cemburu, pada kenyataannya ia hanya ingin memperlihatkan amarah agar diri tidak di curigai jika ia melepas dekap kehangatan itu.
"Aku tidur di rumah mami kamu, soalnya Madam Esmerald yang minta." Tara terkesan emosi ketika mendapat tepisan pada dekapannya. Seandainya ia mendapat restu dari sang pemilik tubuh, enggan sekali ia mengakhiri kegiatan itu.
Tiada daya yang bisa dilakukan, Tara membuka hati menerima kekalahan. Masih ada jalan lain untuknya, ia membuntuti langkah panjang suaminya hingga menepi di balik meja kebangsaan sang pemilik ruang.
Jelas, Sammuel melenguh frustasi sebab tidak mampu menghindari situasi yang akan membuat sang hati terjatuh kembali.
Biarkanlah ....
Sammuel berpasrah diri menerima tubuh yang duduk di atas pangkuan. Membiarkan asa mencipta kisah kasih, sebelum kepergian sang istri itu terjadi. Wajah saling bertukar senyum ceria, tak ayal dekapan tercipta mencurah kerinduan.
"Kenapa?" tanya Sammuel bernada lembut, disambut lawan bicara dengan kerjapan matanya.
Tidak pernah sekalipun sikap itu terlihat pasang matanya, batin Tara bersorak riang mengira jika sang suami telah berubah sikap.
"A–aku ...." Sulit mengungkap perasaan, menyendat kata di balik rasa tidak percaya.
__ADS_1
"Kangen, hmm?" Hujaman kelembutan tak henti Sammuel berikan, bahkan kini telapak tangan telah hinggap di atas puncak kepala istrinya.
Malu akan perasaan yang mudah diterka itu, Tara menyahut dengan dengungan. Kemudian wajah menelusup ke dalam dada suaminya, menyembunyikan rona kemarahan dari balik wajahnya.
Nuansa romansa itu membuat Sammuel kian frustasi, tatkala kesalahan diri terhadap pengkhianatan sang istri membayang dalam ingatan. Ungkap permintaan maaf tersalurkan pada pejaman pasang mata, tak lantas kecupan tertanam pada tepi kening istrinya.
Kemujuran membuahkan rasa syukur dan kelegaan menghampiri batin Sammuel ketika tubuh itu enyah dari atas pangkuan.
Bukan karena rindu telah sepenuhnya tercurahkan, Tara melupakan jika deretan pekerjaan telah menanti di depan mata. Maka ia kembali membawa tubuh pada kursi yang tersedia untuknya, tak lantas meraih lembar kertas di sana.
Umpat kekesalan tiada lagi terungkap pada benda mati dalam genggaman, ketenangan telah menyebar di dalam jiwa membuat senyum ceria sulit enyah darinya.
Sammuel turut merasakan apa yang menjadi bahan keceriaan wanita yang berada di samping kanannya, akan tetapi tingkah itu membawa derita bagi batinnya.
Waktu kian bergulir menempuh perjalanan hari yang terasa sulit di hadapi Sammuel. Penyesalan semakin menjadi-jadi akibat ujung mata tak henti mencuri pandang ke arah istrinya. Tak kuasa menahan perih, ia melepas diri dari dalam ruang tanpa mengungkap pamit kepada seseorang yang berada di sana.
Kejanggalan tercurah pada tatapan tanpa henti mengikuti arah ke mana orang itu pergi, hingga Tara baru mengakhirinya saat sosok itu hilang dari hadapan.
Sesungguhnya ia menyadari gelagat gelisah dari suaminya sejak saat mereka bertemu, akan tetapi ia enggan mempertanyakan. Ia menerka jika hal itu ia lakukan, maka akan membawa keadaan semakin memburuk. Hingga pada akhirnya, ia kembali berpusat diri pada lembaran kertas yang berada di hadapan tanpa menghiraukan sosok yang masih mengintip kegiatan di balik pintu.
Sesaat Sammuel menghentikan langkah di luar ruangan, hanya untuk menilik wajah jelita dari arah kejauhan agar sang empunya tidak menyadari jika diri mengharap wanita itu masih menyayangi.
Setelah berpuas diri pada sorot pandangan, Sammuel melangkah pergi. Membawa beban diri untuknya hempaskan pada seseorang yang berada di dalam ruang milik pengacara setempat.
Sesuai keinginan hati, ketika tujuan tergapai ia melihat di dalam ruang hanya berada Triana di sana.
"Ke mana mereka?" tanya Sammuel bermaksud mempertanyakan keamanan diri.
"Kerja di lapangan." Triana menyahut risau, melihat wajah lusuh dari pria yang telah menyandarkan tubuh pada meja kerjanya. "Ada perlu apa sama mereka?" imbuh kata terucap sebagai sapaan, tak luput tubuh turut berdiri seolah menyambut tamunya.
"Terus, ngapain ke sini?"
"Gue males kerja di ruangan gue," ungkap Sammuel menggiring kerancuan dalam helaan napas pada akhir kalimatnya.
Lirihan frustasi itu di balas Triana dengan tawa cibiran. Sudah terduga olehnya, jika pengkhianatan yang ia berikan akan memperumit hubungan suami istri itu. Tidak lain dengan Sammuel, penyesalan telah menggerogoti jiwanya. Sebab, bukan salah si pria jika tubuhnya telah ternodai, melainkan diri yang merengek meminta obat penawar terhadap pria itu.
"Kamu nyesel?" Triana mengungkap terkaan, setelah menilik tatapan kosong dalam bungkaman mulut pria yang menyandarkan tubuh pada meja di sana.
Tiada ingin menyahut dengan ucapan, hanya dengungan mewakilkan jawaban. Gengsi yang selalu terjaga, kini dengan mudahnya terjatuh hanya karena seorang wanita. Sulit untuk mengakui jika hati telah terjatuh dalam lembah cinta istrinya, membuat rasa frustasi kian menyerbu angannya.
"Lo si*lan juga, bikin gue tau apa itu namanya rasa bersalah." Sammuel mengungkap kejujuran, berbalas senyum kemenangan dari lawan bicaranya.
"Baguslah, itu artinya hati kamu udah sedikit luntur."
Sammuel mencibir diri, mendengar pernyataan tiada salahnya itu. Mendapat olokan tatap keji dari wajah yang mendongkak di sana, membuat lidah terasa kelu.
"Bukannya kamu mau lepasin dia buat abang kamu?" Triana mengingatkan janji yang terucap saat lalu dari mulut pria itu, membuat pasang telinga tertusuk dengusan rancu.
"Belum rela." Singkat, akan tetapi tersirat banyak makna. Hanya kepada wanita di sampingnya Sammuel berani mengungkap isi hati.
Triana memahami itu, siapa pun tak akan mampu melepas orang yang begitu disayangi dengan mudahnya. Begitupun dengan apa yang dirasakan diri terhadap pria pujaan hatinya.
"Aku tau itu, mau gimana pun kamu udah lama hidup bersamanya," ujar Triana berseru prihatin.
__ADS_1
"Lagi manis-manisnya pula, lo malah nyelonong masuk." Sammuel bersenda gurau, menepis kerancuan yang tak kunjung enyah darinya.
"Aku yang nyelonong?" Pekikan nada suara terlontar mewakilkan emosi. Triana tidak terima jika diri menjadi kambing hitam atas kesalahan yang di lakukan.
Sammuel mengabaikan amarah itu di saat ujung mata melihat sosok istri di balik jendela ruang, ia menerka jika Tara akan menghampirinya ke dalam ruang. Melihat keadaan itu, siasat busuk terbesit tanpa disengaja.
Kemudian tanpa keraguan ia mengabulkan keinginan hati, menarik tubuh dari sampingnya hingga larut dalam dekapan. Tindakan tanpa aba-aba merusak amarah Triana, kejutan hadir menjemput diri membuatnya kesulitan untuk menepis tangan dari tubuhnya.
Tiada ingin menghancurkan siasat yang telah tersusun rapih di dalam angan, Sammuel memberikan cumbu paksaan, berbuah pemberontakan dari sang empunya.
Sammuel bersikeras menahan cumbuan itu agar tidak terlepas. Rupa-rupanya siasat berhasil ia lakukan saat pendengaran tajam terusik suara langkah yang menepi di balik pintu ruang.
Sammuel meyakini, sang istri telah melihat kegiatan di balik pintu. Namun, kejanggalan hadir menerpa diri setelah beberapa menit berlalu. Sepasang telinga tiada mendengar suara pencegahan.
Isi kepala kembali mencari jalan sebelum keinginan ia dapatkan. Sammuel melepas cumbuan, akan tetapi tidak membiarkan mata Triana menatap ke arah depannya di mana sang istri berada di sana. Ia menekan keras tungkak kepala yang dibenamkan di balik dadanya.
"Gue memang ga cinta sama lo, tapi gue sayang sama lo, Tri." Sengaja Sammuel mengungkap dusta, agar sandiwara nampak begitu nyata.
Sementara wanita dalam dekapan itu tidak sedikit pun mencerna ucapan. Ia hanya berpusat pada pemberontakan yang tak kunjung mendapat hasil.
Dan ....
Amarah tertahan kepedihan batin, kepalan tangan mewakilkan emosi. Tara tidak berpikir sedikit pun untuk mencegah kegiatan itu. Mengingat akan hubungan rumit yang terjalin atas dasar paksaan dengan sang suami, jelas akan membuahkan petaka seperti apa yang terlihat di depan mata.
Urung sudah niat hati, ketika tubuh melunglai pasrah. Bagai di sayat sembilu, batin tergores luka. Pedih yang teramat perih, mencabik semangat jiwa begitu saja. Hanya deraian air mata mewakilkan goresan luka, mencegah tubuh untuk menghampiri sepasang insan yang masih saling berdekapan di sana.
"Jangan tinggalin gue ... gue rela tinggalin bini gue demi lo." Sammuel kembali menghujam batin sang istri akan ucap berduri, ia tidak akan menghentikan sebelum menggapai tujuan.
Rupa-rupanya ungkap dusta itu terucap untuk terakhir kalinya, di saat pasang telinga mendengar langkah menjauh dari sekitarnya.
Sudah tidak mampu mata melihat pemandangan menyakitkan, Tara beranjak membawa duka dalam langkah memburu. Jeritan batin mendobrak bendungan air mata, membuatnya berjalan tanpa melihat arah depannya di mana Hanson dengan Fiona telah berjalan dari arah berlawanan.
"Ra, kamu kena–" Kejanggalan tertanam di dalam angan, melihat gelagat lain dari yang dilakukan adik iparnya. Sehingga Hanson sengaja menyapa wanita itu, meski ungkap kata terpenggal akan tabrakan pada tubuhnya.
Fiona pun terkesan heran, akan tetapi ia hanya membiarkan wanita yang telah kembali membawa diri dalam langkah setengah berlari itu.
Rasa penasaran membawa Hanson segera menggapai tujuan, meyakini jika sesuatu telah terjadi di dalam ruang kebangsaannya. Seperti yang menjadi dugaan, kejanggalan terungkap oleh sepasang insan yang telah meninggalkan ruang dengan tergesa.
Tanpa ingin bertanya kepada pemeran kegaduhan, Hanson bergegas meraih laptop dari atas meja kebangsaan. Ia melihat rekam ulang kejadian dari balik layar benda itu.
Didapatinya kejadian memilukan hingga batin bergemuruh emosi. Lantas pikiran bergelut mencari jalan keluar, untuk membantu wanita yang telah menabrak tubuhnya saat lalu. Seringai keji tersirat menakutkan ketika siasat buruk telah ia dapatkan.
"Gue butuh bantuan lo," ungkap Hanson kepada wanita yang turut menyaksikan adegan dramatis di balik layar itu.
"Apa itu?"
Segera Hanson memberitahukan, disambut anggukan kepala oleh Fiona.
•
•
•
__ADS_1
Tbc