Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 21


__ADS_3

Tara mengayunkan langkah dalam renungannya. Batinnya masih merancu, takut-takut jika pria itu membuka keberadaan anaknya.


Di tengah langkahnya, tangannya terseret lembut oleh seseorang. Ia pun mengarahkan pandangannya ke belakang, di mana asal pemilik tangan itu berada.


Baru ia akan membuka mulutnya untuk memanggil nama orang itu, ucapannya di segera disela oleh panggilan orang itu.


"Mom, please tolongin aku." Ucapanya penuh lirihan dalam tatapan harapan. Tentu saja dia tahu dan kenal pasti siapa dia, siapa yang memanggilnya dengan sapaan itu.


Tara membisu, ia menatap seorang wanita yang berada di balik tubuh orang itu.


"Kalo lo ga percaya tanya dia gue siapa." Sang pria mempertegas hingga melentingkan telunjuknya ke arah Tara.


"Paulin." Tara bergumam pelan. Tak kuasa ia menahan tawanya setelah menilik apa yang terjadi di sekitarnya hingga ia menghentikan ucapannya untuk melepas tawanya. "Dia bukan orang yang lo cari, dia Devand."


"Nah kan gue bilang juga apa? Gue Devand, mahasiswa." Devand berterus terang, untuk meyakinkan wanita yang telah mengerucutkan bibirnya --di hadapannya-- agar percaya dengan apa yang diucapkannya.


Paulin membatu, ia pun merasa begitu, namun telanjur ia berlaku yang membuatnya malu, ia melanjutkan sandiwaranya dengan berpura tidak mengetahuinya. "Awas aja kalo lo boong." Ia mengucapkan ancaman keras, Devan yang tak tahu apa-apa hanya menanggapinya dengan heran, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa dia bisa terlibat?


"Lagian si Sam udah ngapain lo sih? Sampe dikejar-kejar kaya gitu." Devand yang penasaran tak bisa untuk tak mengeluarkan kalimat itu dari kepalanya, tentu saja pertanyaan itu membuat Tara kembali terkekeh. Tampaknya Devand tak akan mendapat jawaban yang sesuai dengan harapannya.


Paulin geram, enggan menangggung malu hingga berlalu begitu saja dari hadapan mereka.


Barulah Tara mengempas keras tangan Devand yang masih menggenggam pergelangan tangannya. "Lagian ini bocah ngapain ke tempat begini?" tanyanya gemas hingga menepuk lengan pria itu.


"Aku nyari Dj di sini." Devand menyahut dengan jujur, nada bicara dan ekspresinya tampak jujur.


"Si Jack? Apa si Andre?"


"Jack." Devand menjawab dengan singkat, yang membuat Tara menatapnya penuh heran dan tanda tanya. Namun,


"Dia cuti sebulan. Ada urusan apa kamu sama dia?" tanya Tara penuh heran hingga menatap lekat wajah tampan yang serupa dengan seseorang itu.


Devand menepis itu, ia enggan menyebutkan alasannya yang akan menyebabkan wanita itu mengetahui siapa sebenarnya seorang Jackson bagi dirinya. "Mom, temenin aku dululah di room." Ia segera mengalihkan topik dan memohon hal lain pasa Tara.


"Ogah ah, aku mau nyari duit." Tara menolak begitu saja, ia melengos membuat Devand kembali menyeret tangannya.


"Bentaran doang." Devand memandang penuh harapan yang terpampang dari wajahnya yang memelas.


"Ogah!" tolak Tara berteguh diri hingga berseru tegas, seraya berusaha melepas tangannya dari genggaman itu, namun nihil, tidak membuahkan hasil sedikitpun.


"Aku lagi ada masalah, sejam doang, aku janji bayar kamu." Devand merajuk terpampang dari wajahnya yang memelas. Namun,


Tak! Tara menepuk kening adik angkatnya dengan tangannya yang senggang membuat sang empunya segera menghapus jejaknya. "Kamu mau ngabisin duit orangtua kamu buat yang ga berguna apa?" sewotnya hanya untuk menasehati semata.


"Berguna kok, nyari hiburan dari kamu." Devand menyahut manja, itu membuat wanita di hadapannya menatapnya penuh murka.


Devand sadar dengan tatapan itu, ia pun terkekeh menyambutnya. "Dari pada aku nyari cewe lain, mending duit aku dipake sama kamu kan?" ujarnya disahut lenguhan keras oleh wanita yang masih tergenggam pergelangan tangannya oleh tangannya.


"Oke sejam doang ya!" Tara berpasrah diri namun disambut anggukan semangat oleh pria yang kini melepas pergelangan tangannya.


Akhirnya mereka pun beranjak menuju tempat berbeda, di mana Tara memasuki ruang yang sudah dipesan oleh Devand sebelumnya, sedang Devand sendiri menuju suatu tempat yang tidak diketahui Tara ke mana ia pergi.


Saat Tara beranjak untuk mencari pria itu yang telah pergi selama 10 menit kebelakang, sang pria telah kembali menghampirinya. Ia pun mengurungkan niatnya, kembali duduk manis di atas sofa yang tersedia.


Pemandangan itu membuat Devand menahan tatapan kagumnya pada tubuh sang wanita yang mengenakan pakaian minim bahannya.


"Devand." Tara sengaja membuyarkan pandangan lekat dari pria yang menghentikan langkahnya sesaat.

__ADS_1


Devand menggeleng keras, menyadarkan dirinya dari imajinasi liarnya. Lantas ia mengambil posisinya duduk di samping wanita pujaannya.


"Kamu belum jawab, kenapa nyari si Jack?" tanya Tara penasaran, bahkan melekatkan tatapannya ke sampingnya di mana sang pria duduk di sana. Ia kembali membahas topik sebelumnya.


Devand membisu, tidak mampu mencari alasan untuk jawabannya. Ia meraih bungkusan rokoknya dari dalam saku celananya, lantas mengambilnya sebatang berlanjut menyulutnya.


Plak! Tara memukul keras tempurung kepala Devand membuat sang empunya menatapnya heran. “Kamu ngerokok?"


"Aku cowo, ga boleh emangnya?"


Tara menggeleng tidak percaya, baru kali ini Devand membantah ucapannya. "Ada yang aneh, kamu kenapa sih?"


"Aku pusing! Pusing banget!" sahut Devand, nadanya memekik tegas, ia meluapkan amarah pada orang yang tidak bersalah.


Tara kembali menggeleng, sudahlah ia enggan menambah beban. Justru seharusnya tugasnya di sini untuk menghiburnya.


Perbincangan telerai kala seorang pelayan mengantar pesanan yang sudah di pesan Devand sesaat lalu.


Satu botol Tequilla, satu peacther spr**e, dua bungkus rokok Marl**ro putih terhidang di sana. Tara terperangah dalam kejutannya melihat topingan itu yang disertai dengan irisan lemon, garam dalam piring kecil serta alas gelas yang kini tertata rapi di sana. Ia masih mengingatnya, jika racikan minuman itu ciri khas keluarga seseorang yang memiliki wajah serupa dengan pria yang duduk gelisah di sampingnya itu.


Kini Tara menatap wajah tampan itu penuh janggalan. Ia menerka jika pria di sampingnya adik dari lelaki yang di panggil Sam itu. “Minuman …."


"Racikak ciri khas keluarga aku," sela Devand menyahut dengan santainya, setelahnya menaruh rokoknya di sela jepitan bibirnya. Lantas ia beringsut untuk memulai aksinya.


Tara mengerjapkan matanya, mulutnya setengah terbuka. Sudah dapat dipastikan olehnya jika lelaki yang duduk di sampingnya memiliki hubungan keluarga dengan seorang pria yang selalu membuat emosinya berseru itu.


Sejenak Devand melirik ke arah wanita yang masih menganga di sana. "Aku tau aku ganteng, ga usah bikin baper kaya gitu deh." Lantas menjepit hidung mungil itu yang membuat kelopak mata sang wanita kian melebar.


Serupa, begitu serupa tidak ada celah perbedaan sedikit pun di sana hingga membuatnya mengingat kembali sosok lain dari itu. "Kamu kenal .…" Ucapannya tertahan kala melihat sang pria sudah bergerak meracik minumannya.


"Kenapa?" tanya Devand menyambung heran tanpa menghentikan kegiatannya yang membuatnya tidak mampu melihat wajah kikuk di sampingnya.


"Apaan sih? Kalo kenal ga mungkin tuh cewe salah ngenalin aku." Devand melengos membuat wanita di sampingnya terkujur kaku.


Tara hanya tergagu-gagu dalam tawa kecilnya sebagai balasan untuk ucapan lawan bicaranya.


Hening, hingga Devand dengan leluasa melakukan aksinya tanpa ada hambatan sedikitpun meski sang rokok masih bertengger di sela jepitan bibirnya.


Sesungguhnya, Tara ingin sekali memberikan pelayanannya pada adik angkatnya dengan menyupai rokok itu. Namun ia enggan mengingat kejadian lalu bersama orang itu, yang akan membuat jantungnya melompat-lompat di dalam sana.


Trak! Tahap akhir dari pencapaian racikan itu pun sudah berhasil dilakukan oleh Devand. Segera ia menyerahkannya pada wanita --yang masih tertegun-- di sampingnya. Tanpa ragu Tara meraihnya lantas meneguk isinya dalam sekali tegukan.


Devand mengerjapkan matanya tidak percaya, baru pertama kali melihat wanita itu menkonsumsi minuman beralkohol. Dan, begitukah kebiasaannya, "kamu jago minum juga."


"Bukannya cara minumnya gitu?"


"Ga juga tuh." Devand berseru menepis, namun ia terhentak di akhir kalimatnya mencari tahu dari mana wanita itu mengetahui cara meminumnya. “Kamu tau dari si Jack?" imbuhnya yang segera terabaikan karena sang wanita membungkam rapat mulutnya.


Tara membisu melupakan jika ia telah memberikan sebuah kecurigaan pada adik angkatnya. Sesungguhnya, ia enggan jika sang adik angkat mengetahui jika dirinya mengenal sosok lain yang begitu serupa dengannya.


Devand mengabaikan bungkaman mulut itu yang sudah dapat dipastikannya jika ucapannya di benarkan oleh wanita di sampingnya, terkadang diam juga bisa berarti sebagai jawaban iya. Tanpa disadarinya jika dirinya yang kini mengungkap sesuatu rahasia kepada wanita itu. Yakni, hubungannya dengan Jackson yang disebutkan dari racikan minumannya ciri khas keluarganya.


Tanpa dosa ia kembali mengentakkan gelas racikan keduanya, lantas menyeruput isinya perlahan membuat sang wanita kian emosi di sana.


Sial*n! Tara membatin, baru menyadari jika pria yang selalu membuatnya emosi itu telah mengerjainya.


"Dev, kamu pesen sebotol gitu emang bisa habis sekarang?" Tara memecah keheningan tak lantas menunjuk botol Tequilla itu dengan dagunya.

__ADS_1


"Ga lah, kamu bisa ambil sisanya." Devand menyahut, mulai bosan dengan hanya basa-basinya. "Mom kamu mau duit 1 juta buat nyium aku ga?"


"Hah?!"


"Ayolah mom, aku punya kok duitnya, ga usah takut." Devand mengempas gelasnya dari tangannya ke atas meja agar mampu merangkul kedua lengan wanita di sampingnya. "Aku kaya kok." Lantas menatap lekat dan dalam wajah yang sudah memerah itu.


"Ah gila!” Tara menolak tegas membuat angan sang pria terempas begitu saja seperti kedua tangannya yang terempas dari bahunya. “Bukan masalah kamu kaya apa engganya."


"Sekali ini aja." Devand memaksakan hati dengan ucapan tegasnya.


Tara kehabisan akalnya, tiba-tiba saja jantungnya berdegup kencang saat membayang wajah pria itu dalam ingatannya. Bukan membayang, ia merasa bahwa pria yang berada di hadapannya adalah orang itu.


"Art Tara." Panggil Devand membuat Tara kian terkejut dengan sapaan namanya.


"Dev kammppp...." Terbungkam sudah mulut itu dengan mulut si pria. Mencumbunya dengan kasarnya seolah melampiaskan emosinya di sana. Tara sontak terkejut hingga menapakkan kedua telapak tangannya di atas dada sang pria, membuat sang pria segara melepas cumbuannya ketika merasakan wanita itu berusaha mendorong kasar tubuhnya.


Plak! Tara mendaratkan tamparan telapak tangan kanannya pada pipi kiri pria di sampingnya membuat sang empunya mendapat kejutan hebat.


"Sorry! Aku ga maksud …." Devand melirih penuh penyesalan, lantas ia bangkit dari duduknya menutupi rasa kecewanya dengan menghindarkan tatapannya pada wanita itu.


"Aku izinin kamu di sini, asal jangan kaya tadi." Tara berseru merajuk, meraih tangan sang pria hingga larut dalam genggamannya seolah mencegah kepergiannya. "Kalo mau curhat aku siap denger," imbuhnya melirih membuat sang pria tersenyum gemas menyahut rajukan manja itu.


"Ga usah lah, aku ga bisa curhat sama kamu masalah ini." Namun, ia kembali duduk di tempat semula. "Aku cuma butuh hiburan dari kamu aja."


Tara mendengus, bagaimana caranya mencegah ucapan adik angkatnya yang sesungguhnya ia ingin sekali melakukannya.


"So?" tanya Devan memecah lamunan wanita yang kini menatapnya dalam senyuman.


Tara mengangguk, biarkanlah ia melepas penatnya bersama pria yang lebih muda darinya untuk sekali ini saja. Sebiasanya, ia selalu menyumpahi dirinya untuk tidak memiliki ketertarikan sedikitpun pada seorang pria yang lebih muda darinya, akibat ia sering mengumpat ibu kandungnya yang telah memiliki kekasih berusia jauh lebih muda dari ibunya.


Begitulah malam yang dingin pun memanas dengan perbincangan hangat mereka, yang berakhir setelah satu jam dalam sebuah kegiatan romantis dilengkapi cumbuan mesra dari keduanya.


Detik terakhir, menunjukan satu jam sudah mereka berada di sana. Devand mengecup sekilas bibir wanita itu, lantas mengusap puncak kepalanya sebagai tanda terima kasihnya.


"Thanks." Devand berucap senang tak ayal kembali ia mengecup sekilas bibir tipis itu membubuhkan kesungguhan atas rasa syukurnya. "And, Sorry." Ia melirih membuat wanita di sampingnya menggeleng di sana.


"Udah kewajiban aku sebagai penghiburpp …." Mulutnya kembali terbungkam oleh mulut berbau cigarette itu. Sang pria enggan mendengar pengakuan yang menyakitkan batinnya itu.


"Udah sejam." Devand melirik alat pengukur waktu yang melingkar pada pergelangan tangan kirinya setelah melepas cumbuannya. "Aku pulang." Pamitnya ragu-ragu, pasalnya sang hati masih menginginkan berasama wanita itu.


Tara tersenyum, begitulah sikap pria di hadapannya yang selalu menepati janjinya. "Moga kamu ga stress lagi."


"Ga akan, malah aku pasti mimpi indah sama kamu." Devand berseru penuh pujian yang terpampang dari senyum menawannya. Lantas ia bangkit berdiri, menghadap wanita yang turut bangkit di hadapannya. "Aku yakin aku udah kena racun kamu tadi."


Tara terkekeh geli yang terhenti ketika Devand kembali mengusap puncak kepalanya. "Oke kamu balik sana," usirnya dalam guarauan tatkala angan berusaha keras agar tidak terhanyut dalam perasaannya sendiri.


Devand merogoh saku celananya, meraih dompet dari dalam sana membuat sang wanita menatapnya penuh emosi.


"Kamu mau hina aku sama bayaran kamu?!" Tara melenting berseru emosi membuat sang pria menghentikan aksinya untuk menatap heran wajahnya. “Kamu dari tadi di sini ga bayar aku tau ga? Aku yang minta sama Alina," imbuhnya memperjelas maksudnya.


Devand tersenyum malu, kembali ia menyimpan dompet itu pada tempat semula. "Oke thanks." Dan mengecup kening itu membuat wajah empunya merona seketika.


Tanpa kata kembali terucap, Devand meninggalkan Tara tanpa pamit. Setelah ia menepi di balik pintu, ia mengusap keras dadanya menenangkan jantungnya yang berdenyut tidak karuan.



__ADS_1



Tbc


__ADS_2