
Jackson kian yakin dengan keinginan yang sulit tercurah dengan kata-kata itu, ia mengambil inisiatifnya dengan menebar cinta pada pandangan yang telah membalasnya terlebih dahulu.
Tatapan harapan akan keinginannya terwujud itu begitu terlihat jelas oleh pasang matanya. Hingga pada akhirnya, ia melepas hasratnya dengan menarik tungkak kepala yang masih berada dalam genggamannya itu.
Sejenak Tara membisu, meresapi tatapannya yang membuat jantungnya berdegup tidak karuan. "Oke aku kasih kesempatan sama kamu, tapi harus ngimbang sama yang kamu lakuin sama calon istri kamu." Akhirnya ia menepis pandangannya ke sampingnya, ia sudah tidak mampu menahan pesona itu.
Jackson menarik tubuhnya agar jarak wajahnya menjauhi wajah Tara. "Apaan sih maksudnya?"
"Kamu, kalo mau nyium aku kamu juga harus nyium dia." Tara mulai bimbang menentukan hatinya akibat tatapan penuh rayuan itu berlangsung kembali menyorot matanya.
Jackson mencerna ucapan itu untuk mengulur waktunya dengan hanya menatap mata yang telah mencuri-curi pandang itu.
"Kesannya malah jadi kaya poligami." Jackson tertawa kecil di akhir kalimatnya menyertai ucapannya.
"Emang iya kan?" Tara kian kebingungan hingga ucapannya sudah tidak beraturan.
"Lah kamu mau emangnya?" Kedua mata Jackson memicing, mengharap sang target masuk dalam perangkapnya setelah ia berniat untuk mengabulkan ikrar yang sempat terucap dari wanita itu saat lalu.
Tidak di pungkirinya, demi mendapat sebuah ciuman dari sang pujaan hati, ia rela melakukan apapun sekalipun harus menyentuh wanita yang tidak di cintainya sama sekali.
"Jack aku serius!" Akhirnya Tara tersadar dari tindakannya.
"Yah aku juga serius, masa tiap aku ciuman sama si Fiona, aku rekam terus kasih liat kamu gitu?" Jackson tersenyum simpul saat wajahnya kembali merekatkan jaraknya pada sang wanita.
"Ga usah kaya gitu kali, aku bisa nanya si Fiona juga." Tara merebahkan punggungnya pada penyandar kursinya, menjauhi wajah itu yang akan mengikis jaraknya kembali.
"Oke setuju!"
"Kalo suami aku ga ada itu juga, kalo ada maaf aja aku ga bisa nyakitin dia." Lagi dan lagi Tara mencuri pandangannya pada wajah yang masih setia berada di hadapan wajahnya.
"Kamu ga nyakitin dia, tapi kamu udah nyakitin aku Art, dua taun lebih kamu nyiksa aku." Jackson memberanikan diri mengungkap isi hatinya membuat nada bicaranya begitu terdengar memilukan.
Baru kini Tara mendengar lirihan suara yang menyayat hatinya itu, selama mengenal Jackson ia hanya mengetahui sikap periang dari pria itu.
"Ya salah kamu kali bukan salah aku."
Jackson menggeleng dalam tawa kecil penuh ledekannya. Kesempatan datang menghampirinya untuk mengungkap sesuatu yang selalu tersembunyi selama hidupnya. Ia melipat tangannya di dadanya, mempertegas mimiknya agar keseriusannya terlihat oleh lawan bicaranya.
"Mau bilang aku ga cepet bertindak kaya si Sam?" Jackson merunduk masih dalam tangannya yang melipat di dada. "Kamu tau kenapa aku ga mau gitu? Aku ga mau maksain kamu, aku yakin ada alesan di baliknya." Sudut bibirnya terangkat, menyiratkan senyuman penyenggal kepedihan hatinya. Dan senyuman itu membuat Tara terintimidasi. "Sekarang aku tanya sama kamu, kamu harus jawab jujur. Seandainya harus milih antara aku sama si Sam, kamu mau milih siapa?" Ia menilik mata itu semakin dalam, mencari jawaban kesungguhan di sana, ataupun menarik simpati dari dalamnya.
Sejenak memang Tara melihat luka hati dari sorotan mata itu yang membuatnya iba terhadapnya.
"Kamu! Aku milih kamu." Tangannya mengepal dalam lipatannya menepis penyesalan atas ucapan kejujuran yang tidak ingin di ungkapkannya sedikitpun. "Jangan ngomong sama si Sam."
Jackson tertawa kecil penuh kemenangan seraya melirik dengan ujung matanya ke arah lampu berkelip warna merah yang terletak di ujung lemari buku di sana. "Oke aku puas dengernya, aku juga ga akan maksain kamu. Aku udah relain kamu buat si Sam asal kamu seneng, tapi aku minta sama kamu, jangan larang aku buat tetep cinta sama kamu, sampe kapanpun aku ga bisa lupain itu." Lagi lirihan itu terpancar dari tatapan matanya.
"Kenapa?" Kembali Tara meresapi tatapan itu.
Jackson kian merengkuh memberi jarak wajahnya hanya sejengkal dengan wajah Tara. "Karna aku tulus, aku ngerti apa yang kamu mau. Aku cinta kamu bukan karna pelampiasan kaya si Hans ke si Triana, atau karna sesuatu pertukaran kaya kamu sama si Sam." Mulai tatapan itu memancarkan aura cintanya.
Sepasang mata Tara kini menatap lekat mata itu, menangkap aura kasih yang terpancar dari sana. "Tapi aku cinta sama dia bukan karna yang lain."
Jackson mendengus saat menerima kekalahannya yang tertungkap dari binir tipis sang wanita. Ia jengah hingga tangannya terlepas dari dadanya, sebelahnya kini menjepit dagu Tara. "Kamu bohong Art, kamu cinta sama dia karna dia orang pertama yang ngajak kamu nikah meski cuma sirih." Ia menarik dagu itu ke depannya, namun ia memundurkan tubuhnya hingga jarak itu masih seperti semula. "Kamu tanya hati kamu, awal ketemu dia sebelum kamu nikah sama dia apa kamu cinta sama dia, apa kamu pernah ngerasain sakit hati sama dia?"
Tara hanya tertegun meresapi pertanyaan itu, tidak di pungkirinya jika apa yang di katakan Jackson benar adanya.
__ADS_1
"Apa kamu pernah mikir panjang soal hubungan kamu?" imbuh Jackson berceloteh kembali kala mulut lawan bicaranya masih terbungkam rapat. Hingga kini tangannya masih setia menjepit dagu Tara.
Tara merasakan memang semua itu berbeda, kala ia mencintai Jackson, sekuat tenaga ia memikirkan masa depannya yang enggan menyakiti hatinya, bahkan ia sering merasakan hatinya terluka akibat rasa cemburunya. Lain terhadap suaminya yang hanya meluapkan emosinya serta rasa khawatirnya, tidak ada ketulusan cinta yang menyertai di dalamnya.
Batin Tara bersemayam dalam ingatan masa lalunya hingga membuat belah bibirnya terbungkam rapat. Jackson mendapat ancang-ancangnya untuk kembali menelusupkan wejangan pada batin Tara, ia meyakini jika ucapannya akan mendapat resti dari hati yang telah terbuka pintunya itu.
"Kamu cuma baper sama dia Art, karna dia orang pertama yang bisa ngeluarin kamu dari lingkaran sesat hidup kamu. Tanpa kamu mikir dua kali, kamu tanggung akibatnya semua, kamu korbanin perasaan sama status kamu, bahkan kamu bohongin keluarga kamu cuma karna kamu mau balas dendam sama mereka." Tangan Jackson terlepas, kini mengelus pipi Tara penuh kasih untuk sekedar merayunya.
Tara membeku pasrah, ia tidak dapat menyangkal seluruh perkataan Jackson yang membuat bulir bening mendesak ujung matanya.
Jackson menyadari tangisan yang tertahan itu akibat Tara telah meresapi perkataannya hingga ia berceloteh tanpa jeda mengambil kesempatannya membuka mata hati sang wanita.
"Asal kamu tau kenapa aku ga cepet bertindak sama kamu. Aku ngajarin kamu biar kamu bisa ngikutin kata hati kamu, biar kamu bisa dapetin kebebasan kamu." Tatapan itu semakin lekat yang mendapat balasan air mata dari Tara yang menetes perlahan. "Bukan gini caranya Art, bukan nikah rahasia malah sampe ada bayaran sama perjanjian segala." Tangan itu terlepas dari elusannya, menggantikannya menghapus air mata itu.
"Kamu inget mimpi kamu yang selalu mau jalanin hidup normal? Apa kamu ga tau kalo aku nahan perasaan aku sama kamu cuma karna mau bikin kamu jalan sendirinya ngeraih mimpi kamu itu?" Nada bicaranya mulai merajuk, bahkan kesungguhan menyertainya. "Pernah ga kamu sadar sama niat awal dia, pernah ga kamu sadar sama niat awal kamu?"
"Mungkin aku udah terlanjur masuk ke zona nyaman sampe lupa sama semua." Dalam mata yang masih saling menatap, Tara berucap menimpal untuk mengalihkan bahan perbincangan semata. "Tapi kamu tau, bener yang kamu bilang, aku cepet baper karna aku butuh itu. Butuh kasih sayang!"
Sudah tidak mampu Tara menahan air matanya hingga mengalir dengan derasnya membuat suaranya menjadi parau.
"Itu lah Art yang bikin kamu makin jauh dari kebebasan, kamu gampang di manfaatin, aku ga mau itu, demi Tuhan ga ada sedikitpun aku kaya gitu." Jackson menundukan wajahnya untuk menyembunyikan pejamanan matanya yang membuat Tara merasa kehilangan atasnya. "Cinta juga butuh perhitungan Art, butuh siasat biar ga nyakitin semua orang, biar ga ada pengorbanan di baliknya."
"Oke aku percaya, jadi stop!" ujar Tara menepis nyaring hingga nada tegas menyertai ucapannya.
Jackson mengangkat kembali wajahnya mendapat ungkapan ketus itu. Tanpa sengaja ia melihat pasang mata yang telah menjadi sembab membuat rasa sesal serta prihatin berseru tanpa jeda.
Tanpa perintah Jackson meraih tungkak kepala wanitanya, membenamkannya pada dadanya. "Sorry, aku cuma tenangin hati aku, seengganya aku lega sekarang."
Jebol sudah bendungan air mata Tara yang telah mengalir begitu derasnya membasahi jas navy yang di kenakan Jackson.
Apapun yang Tara rasakan kini, Jackson pun turut merasakannya bahkan bersusah payah ia menahan air matanya agar tidak terjatuh sedikitpun.
Sementara Jackson meresapi dekapannya yang begitu hangat di rasanya, meski ia terlihat egois untuk merasakan kehangatan di sela kepedihan wanita itu. Tara sendiri tersadar akan hatinya. Ia luluh, namun ia enggan mengakuinya, ia terlalu setia untuk memikirkan cintanya terhadap suaminya.
Beberapa menit berlalu, jarum pendek alat pengukur waktu bergeser, beringsut setengah angka. Tara melepas wajahnya dari dada Jackson, menatapnya penuh kepedihan.
Jackson meraih wajah itu dengan kedua telapak tangannya, menakupnya di dalamnya. "Ini yang aku ga mau, ga mau bikin kamu nangis." Dan, kembali menghapus air mata itu dengan telapak kedua ibu jarinya.
"Kamu ga sadar hiks, kamu yang udah bikin hiks, aku nangis." Isakan itu masih tersisa tanpa air matanya hingga ucapannya terpenggal-penggal tanpa bisa di cegahnya.
"Oke sorry,” balas Jackson penuh penyesalan yang membuahkan nada bicaranya yang melemah.
Tara menepis kedua tangan itu dari wajahnya.
"Kamu janji mau bantuin hiks, film ke Start hiks, kan?"
Jackson terkekeh mendengar sisa isakan itu dari wajah datarnya. "Asal kamu ngasih imbalan."
"Berapa?" balas Tara secepat cahaya.
"Aku ga butuh uang dari kamu, yang aku butuh ini." Jackson menyomot gemas bibir berlapis lipbalm itu.
"Jangan hiks, keterlaluan Jack." Tara protes, namun matanya menatap harap wajah tampan itu seolah menyetujui dengan apa yang menjadi permintaan pria di hadapannya.
Jackson tersenyum menanggapi isyarat mata itu, dengan sigapnya ia meraih bibir itu dengan bibirnya, membuat gerakan spontan dari Tara yang melekatkan kedua telapak tangannya pada dada Jackson untuk mendorongnya. Namun nihil, tenaga Jackson yang lebih kuat mampu membuat kedua bibir itu masih saling melekat.
__ADS_1
Terlihat olehnya mata itu telah menutup, Jackson semakin memperlancar kegiatannya, menelusup batin sang wanita agar larut dalam buaian penuh kemesraannya.
Godaan setan ini yang membuat Tara hanya mampu berpasrah diri hingga membuat Jackson tersenyum dalam kegiatannya. Memang bukan untuk yang pertama kalinya, namun untuk yang perdana mereka melakukan dengan hatinya.
Hanya beberapa menit, Jackson melepas cumbuan itu. Kini ia mengusap sisa cumbuannya pada bibir Tara, sementara sebelah tangan lainnya masih mendekap tubuh Tara.
"Kamu tinggalin urusan CC, mending kamu pelajari Tender Premium." Jackson melepas rangkulan itu, bangkit hingga beranjak menjauhi wanita yang telah tertegun di tempat.
Ia menghentikan langkahnya di depan meja kerja Tara, meraih cangkir kopi yang tersedia di sana, lalu meneguk isinya dalam sekali tegukan hingga habis tak bersisa untuk menenangkan jiwanya yang sudah kalang kabut di dalam sana.
Tanpa kata serta berpamitan ia kembali melangkahkan kakinya menuju luar ruang itu. Meraih kepingan udara yang terpecah beberapa saat lalu atas kegiatannya, meredakan denyutan nadi yang berdendang tanpa aturan.
Setelah tubuhnya berada di luar ruangan, di balik pintu ruang itu sejenak ia berdiam diri di sana, menyampingkan kepalanya ke belakangnya seraya mengusap dadanya lantas tersenyum penuh kemenangan.
Nicky yang awalnya berniat melerai percakapan yang terlihat dan terdengar di balik layar alat medianya, kini setelah melihat Jackson berada di balik pintu itu, ia hanya berdiri di hadapan Jackson, menggelengkan kepalanya lalu kembali menuju ruangnya di sebelah ruang General Manager itu.
Sementara keadaan Tara, kini ia tertegun untuk meresapi ingatannya menuju kejadian romantis sesaat tadi. Ia menggeleng menyenggal kata hatinya yang menginginkan kegiatan itu lebih lama di lakukannya.
Merasa tidak percaya diri, ia mencari hiburan untuk melerai imajinasi liarnya dengan meraih alat panggilan jarak jauhnya.
Dan..
Kabar berita dari balik layar alat media miliknya semakin membuat hatinya merasa gundah.
Klarifikasi dari tuan Nate (judul dalam berita itu)
"Saya sudah beristri, tolong jangan membuat hubungan rumah tangga saya berantakan jika kalian masih ingin hidup tenang." Suara Sammuel yang terdengar di balik layar phone cellnya itu, menggundam kepedihan di hatinya.
Dapat di pastikan Tara jika ungkapan suaminya itu berbumbu sebuah kesungguhan hati atas pengakuannya. Tara kian merasa gundah saat hatinya tidak dapat menentukan siapa yang harus menjadi pelampiasan cintanya.
"Apa Maudy mengetahui anda sudah beristri?" tanya seorang awak media yang terdengar Tara di balik layar alat medianya.
"Tidak ada yang mengetahui istri saya karna kami menikah secara diam-diam,” jawab Sammuel penuh ketegasan membuat Tara tertunduk untuk meresapi kerancuannya.
Kejujuran ini sungguh membuat hati Tara teriris pedih. Tidak cukup puas baginya jika hanya di akui sang suami sebagai istri rahasia saja.
"Apa alasan anda menikah dengan cara itu?"
"Bisnis." Benar atau tidak, Sammuel hanya mencoba menjawab pertanyaan awak media itu. Selebihnya ia merasakan jika karna cinta itu tak nyata.
"Boleh tau siapa istri anda untuk meyakinkan kami?"
"Kalian cari tau sendiri ke KUA."
Balasan Sammuel yang terdengar Tara untuk terakhir kalinya itu, di tanggapinya sebagai alasan belaka. Ia mengetahui jika pernikahan sirih tidak akan terdaftar di dalam catatan sipil.
Hanya itu yang di lihatnya setelah sebuah acara yang merangkum kisah suaminya itu berakhir durasinya.
Atas apa yang telah di simaknya itu membuatnya sadar diri jika sang suami kini telah jatuh hati terhadap dirinya. Terbukti dengan pengakuan status hubungannya meski tidak tuntas menyebutkan bahwa dirinyalah wanita yang menjadi istrinya.
Kecewa yang di rasakannya menjadikan rasa penasaran yang menggerogoti angannya untuk segera mempertanyakannya kepada suaminya.
•
•
__ADS_1
•
Tbc