
Suara musik menghiasi ballroom hotel berbintang lima dipusat kota. Ruang berdekorasi bunga mawar di atas pelaminan telah berpenghuni ratusan insan. Pada saat itu, suasana hati Sammuel ricuh ketika melihat istrinya yang sedang menangis histeris di sudut ruangan.
"Sayang ... please ngomong kenapa kamu nangis?" Seribu rayuan telah Sammuel berikan hanya untuk mendengar penjelasan dari tangisan yang menggemparkan itu.
Bungkam ... Tara masih menutup rapat mulutnya, hanya isak tangis semakin menggelegar dunia menyahut ucap kata sang suami.
"Sayang ...." Sammuel mendekap erat tubuh istrinya, membawa tungkak kepala itu agar bersandar didadanya. "Apapun yang kamu mau akan aku kasih, tapi berhenti dulu nangisnya, oke. Bilang sama aku mau apa?"
"Aku hiks." Tara menarik wajahnya dari dada itu, agar matanya dapat melihat wajah suaminya. "Mau nikah lagi hiks, sama kamu."
Sammuel menggeleng frustasi dengan permintaan itu. "Kan kita udah nikah, malah udah dua kali," ujarnya disertai kelembutan nada bicara, membuat isak itu terhenti seketika.
"Katanya mau ngasih apapun yang aku mau?" Dalam wajahnya yang masih mendongkak, Tara menatap suaminya penuh emosi.
"Iya apapun!" ucap Sammuel sebisa mungkin tidak menyinggung perasaan istrinya. "Tapi masa mau nikah lagi, sih?"
"Kamu lupa kalau kita nikah ga ada orang tua aku yang jadi saksi?" Tara tertunduk, membuat Sammuel melirih di sana.
Benar!
Meskipun pernikahan sudah dilakukan sebanyak dua kali, namun ia kehilangan hal penting yang seharusnya ada di sana.
"Art, Sam." Suara Jackson memecah suasana tegang, membuat Sammuel tersenyum lega seraya melepas dekapannya. "Kalian di cari mami sama papi."
"Tuh sayang, denger 'kan?" Sammuel merajuk sendu, akan tetapi terabaikan istrinya. Karenanya Tara masih berpusat pandangan pada wajah Jackson.
"Jack, aku baru sadar kamu ganteng juga pake baju gini." Senyum merekah dibalik wajah Tara, sorot mata berbinar membubuhkan rasa kagum pada pria yang mengenakan pakaian serba putih itu. "Sam, ayo kita nikah lagi." Ia kembali merengek membuat Sammuel kian frustasi.
"Gimana caranya sayang? Kan harus ada persiapan dulu." Sammuel menepis penuh waspada, mencegah air mata itu agar tidak kembali tertumpah ruah.
"Aku cuma mau difoto di pelaminan sama orang tua aku," pinta Tara penuh rajukan disertai nada bicara yang manja, membuat suaminya mencubit gemas pipinya.
Sedang Jackson hanya menggeleng di sana. Sungguh dirinya merasa beruntung saat merawat ibu anak angkatnya dahulu kala tidak seekstrim kelakuan wanita di hadapan yang kini perutnya telah membuncit besar itu.
"Bajunya gini aja?" tanya Sammuel sambil menatap tubuh istrinya yang sudah terbalut gaun panjang berwarna merah.
"Ada baju pengantin cadangan, Sam." Jackson menyahut, berbalas tatapan murka dari adiknya.
"Lo oon apa? Baju pengantin cadangan ukurannya pasti ga muat buat dia." Telunjuk Sammuel melenting menunjuk pada perut istrinya.
Jackson melenguh, begitu pun dengan Tara yang mendesis. Mereka melupakan jika usia kandungan Tara sudah menginjak minggu ke dua puluh. Bukan itu yang dipermasalahkan, jika usia kandungan Fiona pun tidak jauh dari usia kandungan Tara.
Hanya saja, perut Tara terlihat lebih besar dari ukuran normal wanita hamil pada usia kandungan itu. Bagaimana tidak terlihat demikian jika isi dalam rahimnya itu ada tiga nyawa? Itulah penyebab ia melenguh yang tidak dapat mengatasi situasi.
"So?" tanya Jackson pada wanita yang telah tertunduk kaku di hadapannya.
"Suamiku ...." Akhirnya Tara mendongkak, mempersembahkan senyuman nakal kepada suaminya. "Kamu harus janji, anniversary nanti harus bikin pesta kaya gini."
__ADS_1
"Of course!" Secepat cahaya Sammuel menyahut ucapan itu. Tak ayal perasaan lega bersemayam di dalam jiwanya. Seharusnya ini adalah akhir dari drama sang istri di hari ini.
"Ya udah ... kita ke pelaminan lagi, oke?" bujuk Jackson disambut secara langsung oleh anggukan dari Tara.
Tanpa banyak cerita, merekapun melangkahkan kaki untuk menggapai tujuannya.
"Woy, Jack." Di tengah perjalanan, seseorang berteriak membuat langkah mereka terhenti begitu saja. "Congratulation," ucap Daniel.
"Akhirnya ... kamu nikah juga." Tiada lain Natalie mengucap sapa, dibalas Jackson dengan tawa kecilnya.
"Pelaminan ade gue masih di aula sini, 'kan?" tanya Daniel.
"Ga, mereka di aula ke dua," jawab Jackson terabaikan oleh kehadiran Maxson.
"Kalian keterlaluan, bisa-bisanya ngelangkahin kakak kalian," ujar Maxson, seharusnya sebagai sapaan pada Tara juga Sammuel yang telah meninggalkan waktu setempat sejak pengucapan janji suci sore tadi.
"Itu nasib lo, Max." Jackson menepuk bahu kakaknya, menyertakan tawa kecil pelengkap senda gurau.
"Kapan lo nyusul, Max?" tanya Daniel.
"Sebulan lagi kayanya," jawab Maxson disertai helaan napasnya.
Mengingat sebuah risalah masih belum terpecahkan, Maxson terpaksa menunda waktu pernikahan. Sonia Maretta tak kunjung lepas dari tuduhan, sehingga mempersulit diri untuk mendapatkan kembali perusahaan milik calon istrinya. Maka dari itu, persyaratan untuk menyandang Jasmeen menuju pelaminan belum jua ia penuhi.
"Penyidikan si Sonia masih belum kelar?" Tanya Sammuel geram membuat kepalanya mendapat pukulan dari tangan Jackson.
"Soal dia, udah dihukum dua belas tahun penjara," jawab Maxson.
"Lah terus, nunggu apa lagi? Persiapan udah lo lakuin dari tiga bulan kemarin." Jackson menyahut tanpa acuh, berbuah pasang mata melihat senyuman sadis dari kakaknya.
Kemudian Maxson mendaratkan pandangan pada wajah Tara. "Maaf Art, aku masih butuh waktu buat kembaliin perusahaan ayah kamu."
"Ga!" Tara memenggal ucapan dengan tegasnya. "Suami aku udah urus itu semua, perusahaan itu sekarang udah di warisin sama adik-adik aku. Jadi, kamu ga usah nunggu apapun lagi. " Ia menjelaskan keadaan, tanpa sengaja membuat suaminya tersenyum riang mendapat pujian itu.
"Kamu lupa sama perusahaan maminya Alev?" ucap Maxson untuk mengingatkan persyaratan pernikahan.
"Ah iya ... Jas Interior udah kembali sama dia ya?"
"Belum sepenuhnya." Maxson melenguh di penghujung kalimat.
"Kata siapa?" Suara Erick berseru di sela langkah kaki menghampiri kerumunan insan di sana. "Aku sudah bawa surat izin pengembalian nama pemiliknya kemarin."
Maxson tersenyum menatap wajah ayah tirinya. Lagi dan lagi ia dapat bangkit atas bantuan pria itu. "Kau memang yang terhebat, Erick."
Erick hanya tersenyum membalasnya ketika ujung mata menangkap bayangan istrinya pada jarak tujuh meter dari keadaannha kini. Wanita itu sedang meneguk minuman beralkohol tinggi. Dengan sigap ia memburu langkahnya untuk menghampiri istrinya.
"Dasar abege tua." Bukan berpamitan kepada kakaknya, Sammuel berucap malah menggeleng melihat kelakuan ayahnya. "Jack, gue ke aula dua dulu," ucapnya yang dibalas Jackson dengan anggukan saja.
__ADS_1
Bruk ... Tubuh Alev terpental oleh tubuh ibunya yang membuat Jackson dan Sammuel menatap murka wajah tampannya. Setelah itu, Sammuel berbegas meraih tubuh sang istri agar tidak terkapar di atas lantai.
"Alev, bisa ga jangan lari-lari? Kalau mama kamu jatuh tadi gimana sama calon adik kamu?" Jackson bersungut-sungut kesal. Namun, dibalas sang anak dengan seringai cibiran.
"Betul itu Alev, kamu kenapa?" tanya Sammuel.
"Queena sama Fraser hilang." Alev menyahut penuh penyesalan, begitu membuat Natalie terkejut bahkan terpapar langsung dari kelopak mata yang terbuka lebar.
"Tadi bukannya kalian main bersama?" tanya Natalie.
"Iya, sebelumnya memang begitu, tapi ... waktu aku cari makanan, mereka ga ikuti aku," ucap Alev penuh penyesalan, tak lantas wajahnya terdunduk layu. "Aku janji, akan cari sampai ketemu."
"Itu harus!" ujar Jackson berseru tegas, akan tetapi ia menyembunyikan senyuman kagum untuk tingkah anaknya yang bertanggung jawab itu. "Papa ga bisa cari mereka, Daddy Sam harus jaga mama kamu, om Hans juga ga bisa," imbuh kata membuat kepala anaknya kian tertunduk.
"Alev, ayo sama Aunty carinya." Natalie menawarkan diri. Tanpa ada penolakan, Alev menyahut dengan anggukan kepala. Lekaslah mereka beranjak meninggalkan insan yang tersisa di sana.
Seperginya mereka yang sudah sangat menjauh dari hadapan. Keyla, Aldi dan Velika datang menghampiri membawa para bocah cilik dalam pangkuan.
"Kalian bawa Queena sama Fraser tanpa ngomong sama Alev?" Tanpa menyapa terlebih dahulu, Tara menghujam adiknya dengan pertanyaan. Akibat kepanikan sesaat datang menyerbu situasi, ia melupakan kesedihannya saat lalu.
"Ga kok, mereka sendiri yang nyamperin Zoya," balas Aldi tak acuh menyertakan nada datar di sela ucap katanya. Dagunya bergerak, menunjuk anaknya yang berada dalam pangkuan sang istri.
"Oke udah cukup! Mama sama papa di mana?" tanya Tara kepada seluruh adiknya.
"Di aula dua," jawab Keyla.
"Oke kita samperin mereka dulu."
Lekaslah Tara beranjak, membawa seluruh insan yang berada di sekitannya dalam tuntunan langkah kakinya.
Begitulah akhir dari kisah cinta rumit tiga bersaudara itu, mereka membawa kembali tulang rusuk ke dalam hatinya. Pernikahan Jackson dengan Hanson di lakukan bersamaan, karenanya menentukan segalanya pada hati itu.
•
•
•
END
Thanks for reading.
Setelah sekian lama merangkai kisah cinta rumit ini, akhirnya author mencapai tahap akhir. Mohon maaf apabila tidak memenuhi keinginan para pembaca sekalian.
Saya ucapkan terima kasih untuk segalanya, sekali lagi mohon maaf apabila ada kesalahan baik dalam penulisan atau penyampaian.
Untuk mengetahui karya author yang lain, silahkan follow akun IG author : Rhasetia88
__ADS_1
Terima kasih 💋