Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 149


__ADS_3

Gelisah tak kunjung sirna, kecewa selalu menyertai perasaannya. Malam demi malam yang di lalui Triana selalu penuh dengan perasaan khawatirnya.


Hingga kini, tak nampak sedikitpun kemajuan untuk kepulihan sang ibunda tercinta yang masih terbaring tidak berdaya di atas tempat tidur yang terdapat di dalam kediaman kekasihnya.


Triana membatin pedih kala terbersit pikiran buruk akan kelangsungan hidup ibunya yang tidak akan bertahan lama hingga membuatnya menepuk keras keningnya.


“Apa yang kamu pikirin Tri,” gumanya bermonolog kala tiada satu orangpun yang dapat membalas ucapannya di sana.


Ia melepas tubuhnya dari keadaan berdiri itu untuk duduk di samping ibunya. Tatapannya mengarah lekat menuju wajah sang ibu. Sudut bibirnya terangkat manis meski tersirat kepedihan di baliknya kala ia melihat keceriaan nampak di balik wajah yang berseri ibunya.


Wajah yang nampak terlihat tenang itu lain dari biasanya, Triana menerka jika jiwa sang ibu telah bermain di sekitarnya.


“Mama lagi bahagia kah?” tanya Triana pada raga yang membisu itu, ia mengetahui jika ucapannya tidak akan berbalas, namun tetap saja ia menyampaikan kalimatnya untuk memberikan penenang batinnya.


Di raihnya tangan kanan sang ibu untuk di kecupnya sebagai tanda mencurahkan kasih sayangnya, meski terhalang selang infus yang masih tertanam di balik punggung tangan itu, Triana tak acuh mengabaikannya.


Cukup memuaskan baginya kala bibir sang ibu menyiratkan senyumannya meski terlihat samar olehnya, namun ia yakin jika batin sang ibu mengatakan bahwa ia baik-baik saja hingga ia membalasnya dengan senyuman cerianya.


Suasana haru itu tercabik kala suara langkah dari arah pintu ruang bergema menusuk indra pendengarannya. Nampak Hanson di baliknya melangkahkan kakinya perlahan untuk menghampiri dua wanita di sana.


"Tri lo bisa urusin kasus pembunuhan ga?" tanya Hanson seolah tak acuh mengganggu anak serta ibu yang sedang mencurahkan rasa rindunya di sana.


Rasa kejut menyentuh angan Triana hingga melepas tangan ibunya dari genggamannya dengan tergesa. "Kasus pembunuhan siapa?"


"Dokter yang ngurus mama kamu,” balas Hanson di sertai lenguhannya yang terdengar begitu jelas oleh wanita di sana saat ia berhasil menepikan langkahnya di hadapan wanita itu.


Kembali Triana terkejut mendengar pernyataan itu. "Di bunuh?” tanyanya berseru lantang saat rasa tidak percaya berdesir dari balik pikirannya.


"Belum tau juga di bunuh apa bunuh diri, makanya kita perlu selidiki dulu.”


Triana membisu tidak membalas ucapan kekasihnya saat ia berpikir keras akan apa yang harus menjadi bahan jawabannya. Ia merasa tidak sepantasnya mengendalikan kasus yang begitu besar lantaran dirinya baru saja bergabung dengan perusahaan milik ibu kekasihnya.


Tittttttttt..


Alat pendeteksi detak jantung yang terpasang untuk wanita paruh baya di dalam ruang tidur itu berbunyi panjang menandakan pasien kehilangan detak jantungnya membuat Triana serta Hanson saling menatap menyerukan maksudnya dengan hanya bahasa tubuhnya.


Hanson yang menyadarinya terlebih dahulu, ia segera meraih pergelangan tangan calon mertuanua untuk mengontrol nadinya. Ia terkejut saat denyutan nadi tidak terasa oleh jemarinya.


Belum cukup puas untuk memastikannya, ia mengarahkan punggung telunjuknya pada hidung wanita itu. Rasa tidak percaya menyelimuti angannya kala ia tidak mendapatkan sapuan udara dari hidung itu pada telunjuk tangannya.


Gundah sudah batinnya setelah menyadari jika calon mertuanya telah kehilangan nyawanya. Ia tertegun dengan memejamkan kedua matanya menahan rasa pedih yang teramat dalam hingga membuat bendungan air matanya retak seketika.


"Dia.. udah pulang,” ucap Hanson penuh keraguan hingga nada bicaranya melemah tanpa arah.


Dapat di pastikannya jika ucapannya akan membuat kekasihnya kehilangan kendali diri atas rasa sakit pada hatinya karna kehilangan seseorang yang begitu di sayanginya. Ia meraih tubuh sang kekasih, di dekapnya dengan eratnya meski tidak mendapat balasan karna sang empunya mematung di sana.

__ADS_1


"A-apa maksud kamu udah pulang?" Triana melepas kasar dekapan itu agar dapat melekatkan kupingnya pada dada ibunya. "Ga mungkin kan?"


Bulir bening mulai berderai dari sudut mata Triana membawa duka yang begitu menusuk batinnya kala ia tidak merasakan detakan jantung di balik dada ibunya. Ia menggeleng keras menyangkal keadaan yang telah menimpanya.


“Hans..” ujar Triana tidak tersalurkan dengan tuntas saat napasnya mulai terengah akibat menahan isak tangisnya. Hanya tatapan lirihannya yang terlontar pada wajah tampan yang tak kalah melirihnya di sana.


"Triana.." Hanson merunduk, ia mengusap punggung Triana, menenangkannya dari kejutan hebatnya. "Beliau udah tiada."


Triana menggelengkan kepalanya menanggapi ucapan itu, batinnya masih bergumam tidak percaya. Namun guncangan rasa pedih yang begitu hebat, mengharuskannya menerima takdir yang seharusnya menimpanya.


Tatapan Triana berpaling kembali menuju wajah sang ibu, belum puas ia meresapi rasa tidak percayanya setelah menginggat beberapa menit yang lalu sang ibu masih tersenyum kepadanya.


Senyuman pengakhir kehidupan itu seolah salam perpisahan darinya, wajah ceria yang nampak saat lalu itu seolah mewakili kalimatnya agar sang anak tidak bersedih hati atas kepergiannya.


"Ma-mama, bukannya mama bilang kalo sembuh mau ajak Tri ke Korea?" Triana berusaha tegar dengan berucap penuh ketegasan diri meski air matanya telah mengalir dengan derasnya hingga membasahi seluruh permukaan kulit wajahnya. "Ma, jangan gini dong, becandanya keterlaluan." Ia mengguncang tubuh ibunya tanpa perasaan saat harapan terpaut darinya jika sebuah kesalahan telah terjadi.


"Triana_" Hanson mendengus keras, ia kesulitan menenangkan kekasihnya yang sudah terisak di sana membuatnya sulit untuk terlihat lebih tegar di bandingkan wanita itu.


"Hans dia becanda kan?" Triana mendongkak menatap wajah Hanson dengan wajah serta hidungnya yang sudah memerah membuat rasa pilu merangkak dari asma sang pria.


"Tri dia_" Tersenggal sudah kalimat Hanson kala ia melihat wajah anggun itu telah memucat. Kelopak matanya terbuka lebar mewakili rasa kejutnya hingga menbuatnya segera mengusap pipi sang wanita yang telah di lumuri air matanya.


"Ayolah, baru kemaren dia bisa buka matanya." Triana masih tidak ingin menerima kenyataan pahitnya hingga ia berucap seolah menentang takdir yang Maha Kuasa.


"TRIANA!" Hanson membentak tanpa perasaan hanya untuk menyadarkan sang kekasih yang masih belum mampu menerima nasib dirinya.


"Hans, mama udah pergi, a-aku harus gimana?" Kedua tangan Triana melunglai tak mampu membalas dekapan itu saat batinnya ingin berontak namun ketidak berdayaan membuatnya berpasrah diri. "Buat apa aku hidup kalo dia ga ada?"


"Buat aku!" ujar Hanson berseru tegas, ia melepas dekapannya namun masih memegang kedua lengan Triana dengan kedua tangannya.


"Ga Hans, aku ga sanggup." Triana tertunduk kaku membuat Hanson kian khawatir dengan keadaannya.


"Triana, semua udah takdir dari-Nya, kamu harus kuat."


Triana mengangguk dalam wajahnya yang masih tertunduk. Mendengar ucapan Hanson ia teringat dengan wejangan sahabatnya, benar adanya ia harus kuat dalam menghadapi segala risalah hidupnya. Kata mutiara yang masih terbingkai di dalam ingatannya itu menjadi pemicu semangatnya.


Bagi manusia yang tengah di uji dengan sebuah penyakit hanya memiliki dua harapan, jika bukan kesembuhan maka itu adalah kematian.


Akhirnya Triana berusaha menegarkan diri dengan menghentikan paksa tangisannya. Ia kembali mengangkat wajahnya, menatap wajah Hanson yang sudah memerah. Ia tersenyum memberikan hiburan untuk wajah itu membuat Hanson menghela napas leganya. Hanson menerka jika sang kekasih dapat tersenyum kembali meski tersirat kepalsuan di baliknya.


"Kamu tunggu di sini dulu, biar aku urus yang lainnya." Tanpa berpamit Hanson melangkahkan kakinya menuju luar ruangan meninggalkan Triana seorang.


Setelah Hanson hilang di balik pintu ruang yang menjadi saksi kepedihannya itu, Triana membeku, tubuhnya melunglai hingga bersimpuh di tempat dalam isak tangisnya yang tertahan.


Ia termenung tajam kala bayangannya mengingat kejadian masa silam bersama ibunya saat beliau dalam keadaan sehat.

__ADS_1


Bercanda bersama, saling menghibur, saling menyayangi, saling bertukar curahan kasih, bersenandung bersama dalam langkah yang di kelilingi bunga-bunga di taman.


Terbersit seluruh wejangan dari ibunya saat lalu ketika beliau baru mengetahui penyakitnya.


"Triana, kamu anak manis, kamu anak kuat. Ga peduli orang membicarakan tentangmu seperti apa, kamu harus kuat menghadapinya.”


Salah satu kalimat samg ibu yang masih terukir di dalam ingatannya, kini berseru pilu membawa rasa haru menyertainya.


“Kamu memang terlahir di luar pernikahan, tapi semua itu salah mama sepenuhnya. Kamu gadis lugu yang tegar, kamu bisa melupakan penghinaan teman-temanmu. Mama yakin kamupun akan mampu melewati kehidupan pahitmu.”


Tiada kata yang mampu membuat semangatnya tetap berkobar selain petuah dari wanita yang begitu di kasihinya.


Jeritan hati Triana menggema dalam sanubarinya, mengetuk pintu hatinya yang terdalam, membuka kesadarannya yang sudah berpikir untuk mengakhiri hidupnya saja jika satu-satunya orang yang dapat memberikan kehidupannya kini telah kembali kepada-Nya.


Ingatannya kembali membayang pada saat lalu bersama ibunya, saat melewati masa sulit namun terasa bahagia oleh mereka. Yah hanya berdua, mereka melangsungkan kehidupan pahit di dalam sebuah rumah sederhana hanya berdua saja.


Saat-saat indah itu kini musnah sudah, begitupun dengan harapan dan impian tingginya yang sudah terjatuh begitu sakitnya membuat hatinya pecah berkeping-keping.


Air mata itu berhenti mengalir bukan karna merelakannya, melainkan untuk memberikan semangat bagi dirinya sendiri agar tidak terlalu terpuruk yang akan banyak menyusahkan orang lain.


Berjam-jam kemudian Hanson kembali menghampirinya, tubuhnya masih merengkuh di sana dalam tatapan kosongnya.


Melihat keadaan memilukan itu, Hanson memburu langkahnya untuk menghampiri wanita itu. Setelah ia menghadpanya, ia segera meraih tubuh itu dalam pangkuannya, di dudukkannya di atas sofa, kemudian ia memberikan minuman yang tersedia di atas meja.


Triana hanya mampu meneguk minuman itu tanpa kata, matanya masih terbuka dalam tatapan kosongnya meski air matanya terbendung di sana tak mampu meluncur setetespun dari sudutnya.


“Relain dia Tri,” ujar Hanson penuh kelembutan dalam nada bicaranya, namun membuat wanita itu menatapnya penuh kepedihan.


Triana membisu, tidak mampu ia menyahutnya kala hatinya ingin berkata jujur jika ia belum dapat merelakannya. Hanya sebuah tatapan sebagai wakil dari kalimatnya yang terontar kepada kekasihnya.


Hanson membalas tatapan itu, ia menguncinya di sana namun membuat air matanya menetes membasahi pipi lesungnya tanpa bisa di cegahnya.


“Maaf, harusnya aku bisa hibur kamu?” seru Hanson berucap penuh penyesalan.


Seharusnya ia menghibur kekasihnya, namun kini yang terjadi sebaliknya di mana sang kekasih mengusap air matanya dengan jemari lentiknya.


Masih saja Triana membisu, tidak mampu mengucap satu patah kalimatpun kala lidahnya terasa membeku, namun sudut bibirnya terangkat menyiratkan sebuah senyuman yang tersimpan kepedihan di baliknya.


Hanson sudah tidak mampu menatap wajah anggun yang selalu terlihat ceria itu kini melirih penuh kepedihan, ia beranjak kembali meninggalkan sang kekasih di sana.




__ADS_1


Tbc


__ADS_2