
Setelah panggilan berakhir, keheningan melanda ruangan itu, sayangnya itu tak berselang lama.
Beberapa saat kemudian, suara pintu terbuka tiba-tiba menghiasi pendengaran serta hati Tara, lantaran ia mengetahui siapa yang akan mengunjungi kediamannya selain suaminya.
Bahagia ia rasakan tatkala mengingat sebelumnya, ketika suaminya mengatakan bahwa pada malam ini ia tidak akan mendapati kehadirannya.
Ia pun segera menyambutnya dengan senyuman menyeringai dari wajah cantiknya.
Ketika ia berada di hadapan orang yang disambutnya, matanya terbuka lebar seolah akan mengeluarkan bolanya, tamu yang datang tentu bukan seseorang yang diharapkannya sama sekali. Bibirnya menganga, matanya terbelalak penuh kejut ketika pasang matanya melihat seorang perempuan cantik nan tinggi berdiri di sana.
Penampilannya yang elegan dalam balutan sebuah dress kasual berwarna peach serta wangi chypre dari tubuhnya, ia menebak bahwa sang wanita adalah seorang berharga bagi suaminya. Yang datang ternyata memang bukan Sammuel.
"Dasar kelakuan anak itu," tutur sang wanita dengan suara lemahnya, hingga Tara tidak dapat mendengarnya dengan jeli. Matanya mengedar mencari keberadaan sang pemilik rumah meski tidak membuahkan hasil sedikit pun.
Tara masih tertegun, aliran darah dalam jantungnya memompa begitu kencangnya merasakan hawa dari istri pertama yang akan melabrak istri simpanannya. Keduanya sudah saling berhadapan, sehingga mustahil bagi Tara untuk menghindar dan melarikan diri.
"Hai, saya ibu dari pemilik tempat ini," sapa Celia mengulurkan tangannya menepis wajah yang sudah tertunduk kaku itu.
Benar saja, Tara terperanjat hingga mengerjapkan matanya, lantas menyambut uluran tangan itu di sertai senyuman risaunya. "S … sa … sa … saya Tara."
"Kamu siapanya dia?" Celia memaparkan senyuman manis yang memperlihatkan lesung pipit pada pipi kanannya. Pertanyaan yang benar-benar tak mau ia dengar malah dilontarkan dan dibahas pada awal percakapan mereka.
"Saya …," ucap Tara ragu-ragu, harus bagaimanakah ia menjelaskan tentang hubungannya? Apakah harus jujur? Tapi ia tak sanggup menerima konsekuensi yang akan diterimanya setelah kejujurannya. Apakah harus berbohong? Tapi, biasanya kebohongan itu adalah awal dari rentetan kebohongan yang akan terus ia ucapkan.
"Istrinya? Tunangannya? Atau simpanannya?" tanya Celia dalam ledekannya seolah paham dengan apa yang dirisaukan wanita yang berdiri kikuk di hadapannya.
Tara membisu, pasalnya mengingat perjanjian pernikahannya, namun ia enggan menimbulkan kesalahpahaman bagi orangtua suaminya --yang seharusnya merupakan mertuanya sendiri. Selain itu, ia terkejut atas penjelasan sang wanita yang menyatakan ibunda dari suaminya.
Wajah yang masih terlihat muda itu tidak mungkin berusia lebih dari 50 tahun, terlihat dari kulitnya yang tidak berkerut sedikit pun. Meski era sudah modern, namun perbedaan kulit yang mendapat perawatan untuk keriputnya sangatlah dipahami oleh Tara.
Tara menebak bahwa usia sang wanita tidak mencapai 40 tahun. Hal inilah yang membuat Tara memperpanjang renungannya.
Jika sang ibu berusia 40 tahun, maka ia menghitung usia suaminya tidak lebih dari 23 tahun. Usia mereka terpaut cukup jauh ternyata, jika berdasarkan perkiraannya. Jika ditelaah, agak aneh memang rasanya, bagaimana bisa seorang istri sama sekali tak tahu usia suaminya sendiri, tapi itu jika dilihat dari rumah tangga orang lain, bukan dirinya.
Sementara Tara sibuk dengan renungannya, Celia menatap telik Tara dari atas rambut hingga ujung kakinya dan berakhir pada wajah cantik jelita itu. Sepasang iris bening itu tampak sedang memberikan penilaian.
__ADS_1
Pergerakan dari wanita cantik itu membuat Tara tersadar dari lamunannya. "Nyonya, sebaiknya Anda duduk dulu," ajaknya sesopan mungkin, berusaha mencari topik pembicaraan.
Celia pun mengangguk menyambut ajakan Tara, ia segera beranjak menuju sofa yang terdapat di ruang tamu bangunan itu, sedang Tara segera mempersiapkan segelas teh untuk jamuan tamunya.
Beberapa saat kemudian, Tara menghidangkan jamuannya dengan meletakkannya di atas meja yang berada di hadapan Celia.
"Sejak kapan kamu tinggal di sini?" tanya Celia dengan santainya, namun membuat Tara menciut kaku.
"Sekitar setengah bulan yang lalu," jelas Tara menjawab pertanyaan sejujur mungkin.
Celia membisu, namun bergumam dalam benaknya meluapkan ribuan kata umpatan untuk Sammuel.
Sedang Tara memutar isi kepalanya untuk segera menepis situasi canggung itu. Berani tidak berani ia mengungkap kejujuran kisahnya untuk menutup kesalahpahaman dari mertuanya.
"Nyonya, maaf sebenarnya saya istri dari anak Nyonya." Tara tertunduk kaku dalam jantungnya yang berdegup tanpa arahan. "Tapi saya menikah dengan anak Nyonya secara sirih karena ingin dirahasiakan. Entah alasannya apa saya ga tau, hanya saja pernikahan ini terjalin atas dasar saling membutuhkan." Ia mengakhiri perkataannya untuk menarik napas dalamnya, kedua tangannya mencekam erat ujung kemeja over sizenya, wajahnya masih tertunduk kaku mewakili rasa gelisahnya, menunggu reaksi semacam apa yang akan diberikan oleh wanita itu setelah apa yang dia utarakan.
Sedang Celia dengan santainya melihat wajah yang tertunduk di hadapannya itu. Tak langsung memberi respons apa-apa, maka Tara segera melanjutkan.
"Jika Nyonya ingin marah, maka silakan lampiaskan sama saya aja, semua salah saya." Mau bagaimanapun juga, darah lebih kental dari air, itulah tujuan Tara menyalahkan dirinya agar sang penyelamat hidupnya tidak tertimpa masalah atas kehadiran dirinya.
"Iya, Nyonya." Tara mengangkat ragu wajahnya menatap wajah Celia takut-takut.
Dengan santainya Celia meneguk teh yang tengah disediakan oleh Tara sebelum membuka suaranya kembali. "Luar biasa, wanginya pas, takaran airnya sempurna, tingkat panasnya menambah aroma wanginya."
Ungkapan Celia ini tidak mampu dicerna Tara hingga ia hanya membisu dalam tatapan herannya. Kenapa wanita ini malah mengomentari teh buatannya? Kalimat yang sebelumnya terabaikan begitu saja?
"Belajar di mana kamu bikin teh?" tanyanya, mengabaikan ekspresi lawan bicaranya.
"Saya ga belajar, Nyonya, cuma sering minum teh aja," jawab Tara asal. Padahal sesungguhnya, ia pun sering menghidangkan itu untuk ayahnya dahulu kala.
"Tara, kamu udah jadi menantuku, bisakah kamu panggil aku dengan sebutan Mami?" tutur Lembut Celia seraya menatap wajah Tara penuh harapan.
Meski merasa lega dengan pengakuan itu, namun Tara merasa bingung atas sikap mertuanya yang kembali membuatnya membisu. Ia tak menyangka sikap wanita itu akan seperti ini, dan dari perkataannya, apakah wanita ini mengakui dirinya sebagai menantu?
"Kalau suamimu ga mau pernikahannya diketahui bahkan oleh keluarganya sendiri, kamu harusnya bisa menjaga rahasianya." Kembali Celia berucap, melihat wanita di hadapannya hanya membisu dalam kegelisahan yang terpampang dari wajahnya.
__ADS_1
"Maaf, Nyonya eh, Mami. Saya cuma ga mau ada kesalahpahaman antara ibu dan anak." Tara menjelaskan dengan apa yang dirasakan hatinya saat ini.
"Kalau gitu kamu lanjutkan sandiwaramu, anggap saja aku ga pernah tau soal hubungan kalian. Begitu juga kamu jangan mengatakannya pada suamimu."
"Bukan itu yang …."
"Kamu bilang aja sama suamimu kalau kita berteman, aku yakin umurmu sekitar 30 tahun." Seolah tahu kegelisahan Tara, Celia menjawabnya tanpa pertanyaan.
"Itu benar. Umurku 30 tahun bentar lagi," balasnya yang mengonfirmasi, jawaban Tara membuat Celia tersenyum manis di sana.
"Umurku 37 tahun, masih bisa dimaklumi kalau kita bilang kita berteman bukan?" Kembali Celia menyiratkan senyuman ciri khasnya, melerai wajah gelisah di hadapannya.
Tara menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali. Jika sang ibu berusia 37 tahun, maka ia sudah tidak sanggup memperhitungkan berapa usia suaminya.
Jika memang jauh lebih muda darinya, maka ia mengutuk dirinya yang telah mendapatkan karmanya akibat selalu mengumpat ibunya yang menyukai daun muda, sementara dirinya sendiri mengikuti jejaknya. Apakah ini bisa disebut bakat turunan? Atau warisan? Sebutan mana pun, rasanya tak enak.
"Baiklah, aku harus kembali kalau dia ga ada di rumah, sebaiknya kamu ga usah bilang kalau aku datang ke sini." Celia bangkit hingga melangkahkan kakinya menuju pintu ruang tersebut. Tara mengangguk patuh sebagai balasan. Itu adalah akhir dari percakapan mereka.
Tara hanya membuntuti langkah kaki Celia untuk mengantarkan kepergian mertuanya tanpa berucap satu patah kata pun.
Setelah Celia hilang dari hadapannya, bukan rasa lega yang di dapatinya. Ia termenung mengingat apa yang telah terjadi sesaat tadi. Bagaimana bisa mertuanya membiarkan hubungan rumit yang terjadi pada anaknya?
Hanya beberapa saat, setelah ia menyadarkan dirinya, ia baru mengingat kembali atas permintaan sahabatnya. Akhirnya Tara segera mengirim pesan kepada suaminya untuk meminta izin kepergiannya bersama sahabatnya esok hari.
Persetujuan rupanya di dapatinya dari balasan pesan Sammuel, meskipun hanya dengan satu kata saja yang membuat hatinya kembali mendapat goresan kecil atas dinginnya sikap lelaki itu terhadapnya.
Yang ia harapkan bahwa suaminya mempertanyakan panjang lebar atas kepergiannya, bukan bersikap acuh tak acuh dan masa bodoh dengan apa yang dilakukannya.
Memang terdengar bodoh, namun itulah yang membuatnya nyaman dan itulah yang diinginkan hatinya, mendapat perhatian dari seorang pria yang berstatus sebagai suaminya.
•
•
•
__ADS_1
Tbc