Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 59


__ADS_3

Madrid, kota legenda itu kini Sammuel berada di sana. Di dalam sebuah bangunan mewah milik neneknya.


Pada saat yang sama ketika Celia mengunjungi istrinya, di waktu serta tempat yang berbeda, Sammuel tengah meremas frustasi kepalanya.


Sofa yang terletak di kamar tidur kediaman neneknya di kota Madrid negara Spanyol itu, berdecit menyerukan suara dari gerakan tubuhnya yang terhempas keras di atasnya.


Batang demi batang rokok tengah lenyap terhisapnya, sisa batang terakhir ini yang akan menjadi rekan kegundahannya.


Jantungnya masih berdenyut nyeri mengiringi rasa frustasinya. Bagaimana tidak demikian, sekeras mungkin ia mencoba menghindari ingatannya tentang istrinya hingga membuatnya pergi tanpa pamit terhadap istrinya lantaran enggan memendam rasa khawatirnya.


Namun kini bukan rasa khawatir saja yang menggores hatinya, rasa rindu yang enggan di akuinyapun tengah menjalar di dalam sanubarinya.


Beberapa jam yang lalu, Hanson sang kakak yang mendapat tugas darinya untuk selalu meninjau pergerakan istrinya, dengan sengaja Hanson mengirimkan sebuah rekaman pada pesan medianya di mana Tara berada di baliknya.


Rasa rindu itu semakin menjadi setelah melihat sosok istrinya dari balik layar sellulernya, ia berusaha menepisnya dengan memutar ingatannya kala ia menghabiskan waktunya bersama istrinya.


Namun, bukannya menipis rasa rindu itu melainkan semakin membuncah hingga memanjat angan-angannya menginginkan istrinya berada dalam pelukannya saat ini.


Senggalan demi senggalan ia lontarkan, tidak mungkin ia jatuh cinta pada istrinya yang awalnya akan di jadikannya kambing hitam saja.

__ADS_1


Atau mungkin ia hanya menginginkan tubuhnya. Ya ini alasan yang paling tepat, tidak ada wanita yang mampu membuatnya puas selain istrinya yang memiliki sesuatu yang sempit di sana.


Dengan itu, ingin rasanya ia cepat kembali ke negaranya, namun sang nenek rupanya berhasil menahan kepulangannya dengan dalih apa yang akan di ambilnya tengah mendapat kesulitan.


Dan lagi, sang nenek mengutarakan keinginannya untuk bersama cucu tercinta dalam waktu lebih lama lantaran jarak yang memisahkan mereka, membuat mereka jarang sekali bertemu.


Jelas ia tidak akan mampu menolaknya, namun yang menjadi kekhawatirannya yakni entah sampai kapan sang nenek akan menahannya.


Inilah yang membuatnya meneguk minuman beralkohol tinggi di dalam kamar tidurnya untuk melenyapkan hasratnya yang selalu bergejolak.


Bisa saja ia mencari wanita lain untuk melampiaskannya, namun ia merasa akan sia-sia saja, sudah terbukti selama dua kali saat lalu itu ia tidak pernah merasa terpuaskan bahkan kian membuatnya memendam amarah lantaran tidak menemukan yang sebanding dengan istrinya.


"Lo gila Art Taraaa, berani-beraninya bikin gue ngerasain apa itu kangen. Liat aja gue balik, jangan harap lo bisa tidur nyenyak." Dalam nada melamban dan melemah layaknya orang mabuk, Sammuel bermonolog meluapkan rasa frustasinya.


Sebuah botol Hennesy yang sudah kehilangan isinya menjadi tatapannya kini. Ia menganggap bahwa botol itu adalah istrinya, memberinya persamaan dari bentuknya yang indah.


"Model lo cantik juga, sama kaya body dia. Andai dia kaya lo, gue bisa gampang bawa lo ke sini. Tinggal sempilin di bagasi." Kembali ia bermonolog.


“Art Taraaaaaa.”

__ADS_1


Hanya beberapa saat, ia kembali berteriak memanggil nama istrinya seraya meremas keras rambut hitamnya. Lantas merebahkan tubuhnya di atas sofa itu untuk mengusir segala kegundahan batinnya.


Suara pekikan teriakan itu rupanya membuat seorang anak pria berusia 7 tahun menghampirinya.


“Uncle, kau kenapa?” Tanya bocah itu kala melihat tubuh paman ketiganya terbaring kasar di atas sofa kamar tidurnya.


“Fraser.” Sapa Sammuel menatap wajah bocah itu dalam matanya yang tinggal separuhnya terbuka. “Bawakan aku wanita itu kemari.” Ia mulai kehilangan akal sehatnya.


“Siapa yang kau maksud?” Fraser menjanggal, bahkan seharusnya ia tidak melihat keadaan memilukan di hadapannya.


“Sudahlah, kau tidak akan tau.” Lengos Sammuel kian frustasi hingga ia beranjak dari sofa untuk menuju kasur yang tersedia di sana.


Namun, di tengah langkahnya kakinya tersandung kaki meja hingga membuat tubuhnya ambruk menelungkup di atas lantai berbalut marmer itu.


Fraser yang sedari tadi hanya memperhatikannya, ia segera bergegas untuk meminta bantuan. Meski usianya masih belia, namun ia mengetahui jika pria yang di sebut paman ketiganya itu telah mabuk oleh minuman beralkohol yang di ketahuinya dari sebuah botol Hennesy yang tergeletak di atas meja.



__ADS_1



Tbc


__ADS_2