
Kontrakan.
Tara sudah berada di dalam kamar tidurnya, tentu saja dia tak sendirian, saat ini ia sedang ditemani sahabatnya yang duduk di atas tikar, posisi mereka saling bersampingan menyandar pada ranjang tidur yang berada di ruang tersebut.
Dua minuman soda kemasan kaleng, menjadi pelengkap perbincangan mereka.
"Ra, gue harus seneng apa sedih?" Triana membuka suara dengan nada yang lirih, seolah mengungkap penyesalannya. Ia menyandarkan kepalanya pada bahu sahabatnya untuk menenangkan batinnya, perasaan yang terombang-ambing oleh pilihan hidupnya.
"Kenapa emangnya?" tanya Tara heran, menepis lirihan yang begitu menyayat itu, hingga sang sahabat sudi memaparkan senyuman manisnya.
"Bokap gue maksa gue tunangan sama cowo cakep." Kembali Triana melirih namun membuat Tara terkekeh gemas atas ucapan anehnya. Apa masalahnya dengan itu? Kenapa sahabatnya tampak tersiksa, menderita dan teraniaya dengan hal semacam itu?
Seharusnya bukan menjadi lirihannya, melainkan menjadi sebuah kebahagiaannya yang telah mendapatkan sesuatu kembali setelah hilang bertahun-tahun silam.
"Lah tinggal terima kalo lo mau!" seru Tara yang seenaknya mengusulkan, mulut sahabatnya tertutup kaleng minuman yang telah di teguk isinya untuk melerai kegelisahannya.
"Masalahnya gue punya cowo lain," sahut Triana terlontar setelah usai mengempas kaleng itu dari mulutnya. Oh oke, jadi itu ternyata masalahnya, tampaknya Triana bukan sedih, menderita atau apa, saat ini ia tengah mengalami dilema hebat.
"Siapa? Lo ga pernah ngomong sama gue kalau lo udah punya cowo!" Tara menyahut dengan heran, sebiasanya sahabatnya akan selalu mengatakan seluruh kisah hidupnya kepadanya, namun kini ia merasa Triana menyembunyikan sesuatu darinya. Ia merasa dikhianati karena ini.
"Guenya yang demen sama dia sih, ga tau juga dianya demen apa kagak sama gue," balasnya diiringi senyumannya saat sang ingatan membayang pada wajah seseorang yang selalu dinanti sang hati.
"Sinting lo!" cibir Tara disertai tepukan ringannya pada kening sahabatnya, tentu hal tersebut membuat empunya segera menghapus jejaknya dengan mengusapkan telapak tangannya.
"Sakit tau," balas Triana berprotes sebal. "Jadi maksud lo gue harus terima aja?” imbuhnya, ia melanjutkan perbincangannya yang sempat terpenggal.
"Tar dulu!" Tara tegas saat sang kepala bergelut mencarikan solusi untuk sahabatnya. "Lo di jodoin biar apa sih?" tanyanya, ia membahas ke tujuan topik ini.
"Bisnis!" jawab Triana singkat disambut anggukan ringan oleh sahabatnya. "Cowo itu tajir, bokap gue pengen sahamnya dari perusahaan tuh cowo, ancaman parahnya kalo gue ga mau dijodohin, nyokap gue ga dapet biaya buat pengobatan," jelas Triana, ia menjabarkan keluh kesahnya membuat sang sahabat tertegun dan kembali memutar isi kepalanya.
Sepertinya ini urusan yang tak akan mudah untuk diselesaikan dan ditemukan jalan keluarnya.
"Udah setaun ya nyokap lo sakit jantung?" Tara kembali mengajukan pertanyaan.
"Hmmm," balas Triana melirih membuat sang sahabat meruntuk dalam benaknya.
Tidak terlalu jauh situasi ia dan sahabatnya, nasib sahabatnya pun terlalu mengenaskan baginya.
Sesaat suasana hening mengambil alih kala Tara bergelut dengan isi kepalanya untuk mencari solusi akurat bagi sahabatnya. Beberapa detik berlalu dalam keheningan.
"Yang bokap lo butuhin cuma saham 'kan?" tanya Tara lagi, setelah mendapat gagasannya yang dibalas sang sahabat dengan anggukan kepalanya.
"Ga usah tunangan kali, asal lo bisa dapet saham dari sana mungkin ga jadi masalah." Tara menyeruka gagasannya, namun belum mampu dicerna lawan bicaranya dengan baik, apalagi kini ia tengah mengerutkan dahinya di sampingnya. Tak paham dan tak mengerti bagaimana caranya.
__ADS_1
"Caranya?" tanyanya.
"Bujuk aja tuh cowo, bilang keadaannya yang sebenernya. Gue yakin tuh cowo juga ogah tunangan sama cewe nakal kaya lo," jawab Tara diiringi leluconnya di akhir kalimatnya untuk menghibur sahabatnya.
Triana menyiratkan senyuman lebarnya mendapati sebuah gagasan dari sahabat yang memiliki otak cerdiknya, kenapa ia tak terpikirkan hal semacam itu? Begitu sederhananya. “Bener juga. Kenapa ga kepikiran sama gue ya?" ujarnya bergembira hingga ia mendekap erat leher sang sahabat, meluapkan rasa bahagianya di sana.
Tara jelas akan meringis, namun membiarkan sahabatnya melepas kebahagiaannya dengan sebuah rangkulan terhadap dirinya. "Sakit, ****!" serunya hanya untuk menyahut ucapan sahabatnya namun membuat sang sahabat melepas rangkulannya tanpa pelantara.
"Sorry deh sorry." Triana ia tersenyum polos dan mengatakan kalimat penyesalan dalam gurauannya, hal itu dibalas tawa kecil oleh sahabatnya. "Pasti aja lo punya seribu cara buat ngadepin masalah," pujinya, membuat sang sahabat terkekeh geli mendapat pujian itu.
"Sekarang lo tinggal pikirin caranya dapet saham itu, kalo perlu kejar sampai ke atas ranjangnya!" seru Tara meledek, mengingat jika dirinya mengetahui sahabatnya belum pernah memiliki kekasih sama sekali seumur hidupnya.
"Sama aja gue harus kawin sama dia, ****!" Triana memprotes, hal itu tentu saja membuat Tara tertawa riang membalasnya.
Akhirnya perbincangan tegang berubah menjadi sebuah kehangatan seperti sedia kala di mana mereka bertemu maka tawa rianglah yang melengkapi waktu mereka.
***
Angin berembus lantang mengempas obak di atas permukaan laut. Sebuah kapal pelayaran nasional menjadi tempat persinggahan Jackson sore itu.
Kini ia telah duduk gagah di atas sofa yang terdapat dalam kabin kapal pelayaran itu, ia di dampingi seorang pria yang berusia sebaya dengannya.
"Ada apa sama hari ini? Kenapa kabar buruk datangnya sekarang semua?" tanya Kelvin dengan gelisah, namun ia merebahkan punggungnya pada penyandar sofa, membuat pria di sampingnya menatapnya dalam tatapan penasaran atas jawaban dari ucapannya sendiri.
"Soal ade lo si Hans, soal anak lo Queena, soal ade lo si Sam, dan … satu lagi soal pemegang saham," sahut Kelvin menjawab lantang disertai dengusan kesalnya, diakhir kalimatnya membuat pria di sampingnya mengangguk mengerti.
"Kasih dokumen lengkapnya besok," titah Jackson tak bersyarat ketika nada bicaranya tidak begitu tegas.
"Oke." Apalagi yang harus dikatakan Kelvin jika mendapat titah mutlak dari atasannya. "Soal si Sam, si Edwin mau jodohin anaknya si Triana sama ade lo itu," imbuhnya yang dibalas tawa kecil oleh sang atasan.
"Kasih data dirinya sekarang." Selalu bernada tegas jika Jackson memberikan perintahnya, namun sang penerima titah sudah terbiasa dengan hal itu hingga sang hati mampu menerimanya.
"Oke." Sahut Kelvin tanpa menyela ia segera meraih alat medianya yang sudah tersimpan di sampingnya sedari tadi untuk mengabulkan perintah atasannya. "Kapan lo balik ke perusahaan? Udah 3 bulan lo keliaran terus," imbuhnya dalam ledekannya.
Memang benar yang dikatakan Kelvin, sudah tiga bulan ini Jackson tidak menginjakan kaki di dalam perusahaannya. Selalu saja ia menghindari berpapasan dengan karyawan setempat, hingga ia menyediakan ruang khusus di dalam bagunan pencakar langit itu hanya untuk persembunyiannya saja.
Namun harus bagaimana lagi, langkahnya sudah terlalu jauh untuk mengatasi seluruh keluhan perusahaannya. Bahkan ia masih berjuang untuk menjadikan perusahaan itu berdiri dengan kukuhnya, untuk menunjang kehidupan kelak seluruh keluarganya.
Disela renungannya Jackson kembali menghisap rokoknya lantas mengembuskannya dengan kasarnya mewakili rasa frustasinya. "Udah biasa, bukan kerjaan gue di luar perusahaan?" Ia mendalih merancu, ucapannya dibalas decakan ledek oleh asistennya.
"Lebih bagus lo ngungkap siapa lo sebenernya sekarang, Jack. Apa lagi sekarang banyak masalah." Kelvin berujar untuk ke sekian kalinya, namun tetap tidak membuahkan hasil lantaran sang atasan masih berteguh hati pada pemikirannya.
"Tunggu sampai si Edwin berlutut ngasih sahamnya dulu lah," balas Jackson dengan alasan yang selalu sama.
__ADS_1
Itulah alasan mengapa Jackson menyembunyikan jati dirinya sejak 8 tahun silam mulai dari ia mendapat jabatan dalam perusahaannya.
Sebelum ia mendapat jabatannya pada perusahaannya itu, ia telah mengetahui masalah internal yang menimpa perusahaannya.
Hingga ia mencari tahunya dengan menyembunyikan dirinya untuk dapat menepis seluruh keluhan itu. Menyamar menjadi sekutu musuhnya, bahkan menyusup menjadi sahabat dari anak-anak mereka yang dicurigai sebagai musuh terbesarnya.
Sementara Kelvin menggelengkan kepalanya mewakili sikap jengah terhadap sahabatnya yang memang bersikeras pada keputusannya. "Jadi lo mau korbanin si Sam sama anaknya si Edwin?"
"Ga juga, liat aja gue acak-acak dulu anaknya sebelum dia dapet saham dari perusahaan gue," sahut Jackson menepis bahkan menyiratkan senyum iblisnya, pertanda buruk akan terjadi. "Gue juga yakin si Sam punya rencananya sendiri."
Lagi dan lagi Kelvin mengembuskan napas kasarnya yang tidak mampu menolak kecerdasan atasannya itu. "Oke soal itu gue ga mau tau, yang bikin gue penasaran dari mana si Guo Ming Shen tau lo Presdir di perusahaan?"
"Jelas si Raymond lah," jawabnya, ia melengos membuat pria di sampingnya mendengus membenarkan perkataannya.
"Gue lupa sama tuh bocah, dia anak kandung si Edwin dari bini pertamanya kan? Yang sempet jadi anak tirinya si Guo Ming Shen?!" seru Kelvin menjabarkan namun dibalas delikan pekat sahabatnya.
"Lo yang ngasih tau itu, kadal. Malah nanya sama gue lagi," sungut Jackson mengingatkan, jika selama ini seorang yang mengemban tugas menyelidiki seluruh yang dicurigainya adalah sahabatnya itu.
Kelvin membahakkan tawanya sebelum mengucap kembali katanya menyikapi perkataan penuh cibiran saat laku. "Untungnya si Edwin masih belom tau siapa lo, sebelum lo acak-acak anaknya," ujarnya saat gelak tawanya terlah terhenti.
"Gue rasa … anaknya ga berdosa, gue malah mau jadiin dia pion buat huancurin si Edwin," sahut Jackson, kembali membuat sahabatnya mengembuskan napas kasarnya, kembali membenarkan apa yang dikatakannya.
"Lo bisa atur itu semua, Jack. Tapi inget, lo jangan korbanin diri lagi." Telunjuk jenjangnya mengacung di hadapan dada Jackson mewakili ancamannya.
"Lo ga usah repot ingetin gue, yang jadi korban gue bukan lo kan?" balas Jackson dalam kekehannya, itu membuat sang sahabat kembali menggeleng membalas kekehan itu, lantas ia melirik jam tangan yang melingkar pada pergelangan tangan kirinya.
"Okelah udah waktunya gue beraksi, gue ga boleh terlambat di seminar ini. Tunjukin sama si Edwin sebesar apa kekuatan ZhanaZ Group," ucap Kelvin berpamit tak lantas menutup layar alat medianya dan membawanya dalam genggamannya.
"Dokumennya … "
"Udah gue kirim ke e-mail lo," jawab Kelvin memotong tatkala sang tubuh telah beranjak dari duduknya.
"Oke.” Sahut Jackson mengangguk mengerti. “Jaga sikap selama lo pake data sebagai pengganti Presdir perusahaan gue," imbuhnya dengan mewanti-wanti, hingga mempertegasnya dengan menepuk pundak sahabatnya, memberikan wejangan pekat yang harus selalu di ingat oleh sang sahabat.
Kelvin hanya tersenyum membalasnya, lantas bangkit lalu berranjak menjauhi Jackson untuk memulai aksinya, seperti sedia kala yang akan selalu menggantikan kehadiran sang Presiden Direktur pada perusahaan raksasa milik ibu kandung sahabatnya itu.
Sedang Jackson hanya membiarkan kepergian sahabatnya yang akan berjuang menjalankan siasatnya. Ia berteguh diri untuk selalu mendukung sahabatnya, tidak ada kata curiga terhadap asisstannya yang sudah 10 tahun menjadi pengabdi di sampingnya.
•
•
•
__ADS_1
Tbc