Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 74


__ADS_3

Di sana, Erick Liu sang kepala keluarga melihat Tara berjalan menghampirinya, ia masih terperangah dengan sosok itu, mengingatkannya pada seseorang di syurga sana. Enggan membuat kesalah fahaman terhadap istrinya yang sekarang telah menatapnya heran, ia menyiratkan senyum lebarnya.


"Art, Queena ga mau makan kalau bukan kamu yang suapin." Ucap Erick menyapa wanita yang masih berjalan menghampirinya beriringan dengan anak sulungnya.


"Uh manjanyaaa, sama kaya bapaknya." Balas Tara melirik sejenak wajah Jackson lantas menepisnya pada kursi yang tersedia untuknya, berlanjut menariknya lalu mendaratkan bokongnya di sana tepat di samping si gadis cilik yang telah meminta pangkuan kepadanya.


"Lebih manja kakeknya." Sahut Celia membuat Erick serta Jackson terkekeh.


Sedang Tara menyibukkan dirinya dengan menyuapi si gadis cilik yang sudah berada dalam pangkuannya.


"Tara hari ini mau ga anter aku shooping?" Tanya Celia penuh harap hingga wajahnya memberengut agar menantunya iba terhadapnya.


"Maaf mih aku ga bisa, aku harus ke Bandung, ada urusan yang ga bisa aku tinggalin di sana." Tolak Tara membuat wajah Celia kian mengkerut.


Sungguh panggilan Tara terhadap Celia membuat Jackson salah memahaminya. Ia mengira Tara memang benar menganggapnya sebagai kekasihnya dan Celia adalah mertuanya.


Celia mengerucutkan bibirnya membuat Erick mencomot bibir itu. "Ya udah lah mau gimana lagi." Ungkapnya berpasrah diri.


"Mami kan masih punya menantu yang suka shooping." Ledek Tara, mengingatkan Celia pada seseorang yang sangat enggan ia temui.


"Ga tau kenapa aku males pergi sama dia, padahal dia baik." Balas Celia dalam lirihannya, tidak seharusnya ia membedakan para menantunya itu. Namun tetap saja, hanya menantu yang duduk besebrangan dengannya yang mampu mengambil hatinya.


"Celia, jangan membeda-bedakan menantu." Protes Erick yang hanya di balas decakan oleh Celia lantaran sebelumnyapun Celia telah memikirkan hal itu.


Sedang keadaan Jackson yang melihat kegiatan Tara yang masih bersibuk diri dengan menyuapi anaknya hingga membuatnya melupakan untuk mengisi perutnya sendiri. Jackson berinisiatif, ia mengambil piring cream soup milik Tara, menyiduknya dengan sendok lantas menyuapkannya pada mulut Tara yang langsung di sambut Tara dengan melahapnya.


"Iya mih, jangan gitu, dia juga menantu mami." Ungkap Tara menyambut perbincangan mertuanya.


"Tara kamu belum pernah punya menantu, jadi kamu ga tau rasanya gimana." Cibir Celia sebal hingga menyodokkan sendoknya dengan kasarnya membuat ketiga penghuni ruang itu menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Di usianya yang sudah hampir berkepala empat, bagaimana Celia masih berperilaku layaknya anak remaja yang baru menginjak dewasa.


"Kamu gila? Mau nyuruh Queena cepet-cepet punya pacar apa?" Protes Jackson membuat amarah Celia mereda hingga sudi melontarkan senyum ciri khas nya.


"Jack, aku lihat Queena seneng banget ada Art Tara di sini, apa sebaiknya Art tinggal di sini aja mulai sekarang?" Pinta Erick tanpa dosa yang membuat Tara menganga tidak percaya hingga menghentikan kegiatan menyuapi serta di suapinya.


"Pih, aku__"


"Jangan bilang belum siap, kamu ga sadar sama perlakuan kalian di depan mertuamu ini?" Tanya Erick, matanya menatap ledek wajah Tara.


Tara membeku pasalnya ia melupakan keadaan sekitar yang hanya dengan tergesa menerima suapan dari Jackson lantaran perutnya yang sudah sangat membutuhkan asupan.


Sedang Jackson terkekeh gemas melihat wajah anggun yang sudah belingsatan itu, tangannya masih setia mengulurkan sendok berisikan cream soup pada mulut Tara tidak terhempas sama sekali.


Lain dengan Jackson, Celia menatap lirih wajah Tara yang masih larut dalam kejutannya. "Lao gong, Tara pasti ga siap kalau liat kelakuan anak sulungmu itu." Senggal Celia menepis kejutan Tara yang dapat di terkanya jika menantunya tidak sudi meninggalkan suaminya.


Erick menggelengkan kepala menyikapi pernyataan menantunya itu yang di rasa bertolak dengan hatinya. Terbukti dari tingkah mereka yang telah mengabaikan sindirannya. "Coba ubah sikapmu dulu Jack, biar menantu papi ini bisa buka hatinya dikit." Paksa Erick menunjuk Tara dengan dagunya.


Jackson mengacungkan jempol tangannya mengungkap persetujuannya. "Siap, asal mommynya Queena ini mau terima hasilnya aja." Imbuhnya menatap cinta wajah Tara membuat wajah putih itu memaparkan ronanya.


Tara jengah yang tidak mampu menepis perlakuan lembut kekasihnya itu hingga mengalihkan bahan perbincangannya dengan melihat jam tipis yang melekat pada pergelangan tangan kirinya. "Sorry mih, pih, aku harus pergi sekarang." Pamitnya tergesa.


"Kamu mau pergi sendiri? Ga mau Jackson anter?" Khawatir Celia jika saja perjalanan jauh itu akan membuat menantunya kelelahan.


"Ga usah!” Tolak Tara penuh ketegasan. “Ada urusan pribadi yang ga mau orang lain tau." Lantas bangkit seraya mengusap kepala si gadis cilik sebagai ucapan perpisahannya. "Sayang mommy pergi dulu ya."


Queena mendongkak, menatap Tara yang berdiri di sampingnya. "Nanti mommy tidul di sini lagi sama daddy?"


"Lagi?" Pekik Tara yang di balas anggukan oleh keras oleh si gadis cilik membuat emosinya tersulut begitu saja.

__ADS_1


"Kaya malam tadi." Queena berucap seolah menjawab janggalan Tara membuat Tara menatap kejam wajah Jackson yang sudah belingsatan di sana.


Astaga, Jackson sudah mengelabuinya.


"Jack jadi semalem kamu tidur sama aku?" Ia meraih daun telinga Jackson, menjewarnya dengan kerasnya.


"Ahhh ahhh." Ringis lemah Jackson seraya memegang tangan Tara yang menjewer telinganya namun tidak menepisnya sama sekali. Ia menganggap hantaman pada daun telinganya sebagai ucapan penyesalannya. "Cuma tidur doang kok, itu juga kepisah sama gadis cilik ini."


"Tetep aja di luar batas normal bego!" Tara menghentak ucapannya untuk mengusir rasa malu hingga melampiaskan pada tangannya yang semakin mengencangkan hantamannya.


"Art." Lirih Jackson kini mencoba menepis tangan itu. "Ampun. Aku ga bakal gitu lagi."


Kegiatan mereka rupanya membuat Celia serta Erick tersenyum sendiri mengingat cerita lama tentang mereka yang tak lain serupa seperti yang tengah di lihatnya saat ini. Bukan hanya cerita lama, hingga kinipun kemesraan itu masih terpampang dari keduanya.


Akhirnya Tara melepaskan tangannya dari daun telinga itu. "Lain kali bukan cuma aku jewer, mending sekarang aku lagi berbaik hati."


"Iya nyonya Jordan aku ngerti, ga akan ada lain kali." Rajuk Jackson penuh pengampunan.


Tara mengabaikan wajah merajuk itu, ia melirik ke hadapannya, menatap Erick serta Celia bergantian. "Aku pergi sekarang." Iapun memburu langkahnya tergesa menyembunyikan rasa malunya.


Sedang ke tiga orang dewasa si sana hanya tersenyum menyikapi emosi wanita yang di sebut sebut sebagai ibu Queena itu.





Tbc

__ADS_1


__ADS_2