Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 78


__ADS_3

Siang ini nampaknya langit berawan kelam, namun tidak melerai langkah Sammuel yang berjalan menyusuri lantai marmer pada bangunan apartement bergengsi di tengah kota itu.


Langkahnya memburu meski sebuah koper tertenteng di tangannya tidak akan mampu menepis langkahnya hingga menepi pada sebuah ruang tidur.


Pemandangan indah nampak di hadapannya kala ia melihat sang istri terbaring di atas tempat tidurnya dengan hanya mengenakan pakaian kemeja besarnya membuat sebagian kulit putih istrinya terekspose begitu saja di hadapannya.


Namun pandangannya terhenti pada sebuah bingkai yang tergeletak menungkup di samping istrinya.


Di raihnya bingkai itu hingga terlihat olehnya wajah dirinya yang berada di balik bingkai tersebut.


Senyuman lebar tersirat dari wajahnya, namun sekilas menghilang kala pikirannya menjanggal dari mana istrinya mendapatkan foto dirinya itu?


Ia mengabaikan kejanggalannya dengan menaruh bingkai itu di atas nakas yang tersedia. Lantas segera membaringkan tubuhnya di samping istrinya hingga tangannya berhasil mendekap erat tubuh istrinya.


Beberapa saat kemudian, Tara melepas rekatan kelopak matanya dalam jiwanya yang masih tertinggal separuhnya di dalam alam mimpinya.


Kala itu, wajah seorang yang di rindukannya nampak di hadapannya membuat jiwanya terkumpul sepenuhnya tanpa jeda yang menghambatnya.


Di usapnya wajah itu dengan kedua telapak tangannya meski batinnya masih menggumam masih tidak mempercayai jika sang suami telah kembali.


"Jangan ngelus terus, tar wajah ganteng gue lecet lagi." Meski berkata, Sammuel masih memejamkan matanya membuat istrinya merasakan jika kehadirannya hanyalah sebuah mimpi belaka.


"Sam, kamu udah pulang?" Tanya Tara tidak percaya hingga membuat matanya mengerjap berulang kali.


"Kalo belum, terus siapa yang sekarang meluk lo ini hm?" Balas Sammuel membuka matanya lantas menyiratkan senyuman andalannya membuat sang istri membalasnya dengan senyuman berbunganya. "Lo anggap gue hantu apa?"


Senyuman kian melebar dari bibir Tara, segera ia mendekap erat tubuh suaminya, tatapannya terkunci pada wajah tampan yang telah menghilang tiga bulan lamanya. Ia mencurahkan rasa rindunya dengan dekapan yang kian mengerat bahkan matanya enggan berpaling sedikitpun pada wajah itu.


"Kangen hmm?" Balas Sammuel membubuhkan keinginan hatinya yang tak lain iapun memendam rasa rindu pada istrinya. Hingga ia membalas dekapan istrinya di sertai mengecup puncak kepala istrinya.

__ADS_1


Tara mengangguk keras menyahut pertanyaan itu, lalu menelusupkan kepalanya pada dada suaminya yang lantas di tepis Sammuel membuatnya menatap suaminya tidak percaya.


Sammuel segera meraih wajah istrinya dengan sebelah tangannya agar menatapnya. Kedua pasang mata itu kini saling menatap lurus membuat jantung Tara mendebarkan hasratnya.


Dapat di rasakan oleh Sammuel debaran keras jantung istrinya dengan dadanya yang berdendang riang di dalam sana. Sesungguhnya, napas Sammuel yang menyapu wajah Taralah yang membuat jantungnya melompat kegirangan itu.


Rasa rindu yang telah terpendam selama tiga bulan ke belakang itu, kini tercurah sudah. Sammuel lah yang lebih menderita memendam hasratnya selama itu. Kini, sang istri telah berada di dalam dekapannya, ia melepas hasratnya mulai dari mengecup bibir istrinya.


Janjinya untuk tidak menyentuh tubuh calon kakak iparnya di langgarnya sudah. Persetan dengan semua itu setelah ia mendapati penyiksaan batin selama dua bulan ke belakang dengan bayangan wajah istrinya yang selalu menghantuinya hingga membuat gairahnya menelusup angannya.


Kini ia meresapi bibir istrinya dengan rakusnya seolah takut seseorang akan merebutnya.


Tara hanya mampu memejamkan matanya, meresapi sentuhan itu meski terasa kasar namun tidak menyakitkan baginya.


"I miss you honey." Suara paraunya menghiasi indra pendengaran Tara hingga membuat jantungnya berdenyut hebat.


Sammuel tersenyum mendapatkan pengakuan dari nada bicara istrinya. Semakin menggugah hasratnya untuk melampiaskan gairahnya. Iapun menaikan level permainannya menuju kegiatan yang lebih membuat istrinya menerobos pintu syurga dunianya.


"Sam." Sejenak Tara melepas rekatan kelopak matanya, menatap wajah suaminya yang mendapat balasan senyuman nikmat dari suaminya.


"Suka hmm?"


Tara hanya mengangguk mewakili jawabannya lantas kembali merekatkan kelopak matanya, tak ayal membuat Sammuel kian memberikan pelayanannya untuk istrinya. Membawanya dalam dunia indahnya yang hanya di miliki mereka berdua.


Sammuel mencurahkan rasa rindunya dengan apa yang di lakukannya kini. Memberikan cintanya dari gerakan-gerakan penggoda hasrat istrinya.


Ruang sejuk dengan pendingin itu, kini memanas sudah, suara ranjang yang bergoyang seolah decitan paling merdu di dunia.


Peluh-peluh bercucuran turut meresapi apa yang tengah mereka dambakan selama ini. Meluapkan curahan rindunya pada kegiatannya saat ini.

__ADS_1


Deru napas tersendat saling menyambut dalam tatapan mata yang saling terpaut. Mengunci kisah romantisnya yang menenggelamkan jiwanya dalam lautan angannya.


"Sammuel__." Bersusah payah Tara mengucapnya seraya melepaskan batas akhir permainannya. "I love you." Akhirnya, kata yang selalu terpendam dalam palung hatinya, kini terucap sudah.


Sammuel menghempas tubuhnya dari atas tubuh istrinya, ia terbaring di atas tempat tidurnya seraya meresapi perkataan istrinya di akhir permainan panasnya tadi. Benarkah calon kakak iparnya telah menyerahkan hati kepadanya?


Mustahil! Batinnya menyenggal keras.


Akhirnya, rasa rindu yang terpendam itu telah tercurah. Meski Sammuel menyenggalnya namun iapun mendapat hatinya yang melega.


Dalam tubuhnya yang terbaring menatap langit-langit, di sampingnya, istrinya tengah merangkulnya seraya menumpukan kepalanya pada bahunya.


"Sam." Panggilnya ragu-ragu.


"Hmm?" Sahut Sammuel mengelus lengan istrinya dengan tangannya yang menjadi penopang kepala istrinya, memberikan ucapan sayangnya di pengakhir kegiatannya.


Detik kemudian Tara masih membisu, hanya merekatkan dekapannya. Ia ragu untuk mengatakan tentang ibunya, pasalnya ia enggan keburukan ibunya semakin di ketahui suaminya yang sudah di cintainya. Namun tidak di pungkirinya hanyalah suaminya yang mampu membantu dirinya.


"Kenapa?" Heran Sammuel menolehkan arah pandangnya pada wajah istrinya yang sudah tertunduk kaku itu.


"Aku udah jadian sama Jackson." Akhirnya, ia mengungkap kata dustanya yang malah membuat Sammuel merancu. Ia mendongkak menengok wajah tampan itu yang tengah menepiskan kembali arah pandangnya.





Tbc

__ADS_1


__ADS_2