
Mata Triana membelalak nyalang, melihat ayahnya sudah duduk manis di atas sofa yang terdapat di dalam ruang tamu bertajuk langit. Ia mengalihkan arah pandang menuju mertuanya yang duduk besebrangan dengan sang ayah.
"Apa yang membawa kalian datang kemari saat jam kerja?" Erick menyapa sepasang insan yang masih berdiri di hadapan.
Tiada sahutan berupa ucap kata. Triana masih merasa heran dengan pemandangan manis di sana. Mengapa ayah dan mertuanya berbincang dalam keceriaan? Karenanya ia mengetahui jika mereka tidak pernah akur sekali pun.
"Apa kamu kecewa karna ayahmu ini ga dapat pembalasan?" tutur Edwin seolah tau tujuan kedatangan anaknya ke dalam kediaman besannya. "Kamu mengharap ayahmu di penjara?" Tak acuh Edwin menyeruput kopinya, mengabaikan kejutan yang terpampang dibalik wajah cantik itu.
Kerancuan menghujam batin Triana, menerka jika sang ayah mengunjungi tempat itu untuk membawa kabar duka. Ia takut perjanjian perjodohan diri dengan Sammuel masih berlaku.
"Sayang ... kita duduk dulu," ajak Jackson tak lantas menyeret lembut tubuh itu. "Kita tanya baik-baik apa yang terjadi, oke."
Tanpa ingin menyahut dengan kata, renungan akan pencarian sebuah jawaban membuat Triana melakukan perintah Jackson diluar batas kesadaran.
Edwin memicingkan matanya, menatap heran menuju tangan Jackson yang mendekap erat pinggang anaknya. "Apa kita salah mengatur pasangan Erick?" tanyanya berseru santai, akan tetapi membuat Triana kian merasa janggal.
Sudah di luar batas otaknya jika harus menebak-nebak. Maka selanjutnya ia hanya menyaksikan perbincangan dari para orang tua itu saja. Sementara sambil menunggu kerancuan sirna.
"Bukankah ini lebih baik dibandingkan anakmu bersuami dengan seorang general manager saja?" balas Erick tak kalah santainya.
"Kau benar, hidup bersamamu setidaknya aku bisa menghisap sedikit keberuntunganmu," tutur Edwin menyahut ucap misteri yang belum terpecahkan oleh anaknya.
Sedang Jackson masih menunggu ucapan-ucapan teka-teki itu agar mendapat jawaban dari kejanggalan.
"Setidaknya perusahaanku bertahan meskipun tidak berkembang pesat seperti ZhanaZ sekarang ini," ujar Edwin penuh lirihan. Ingatannya melambung pada kejadian silam tatkala ia melepas ibu dari Triana begitu saja.
Semua yang dialami diri dan juga Triana adalah hasil karya seorang wanita. Wanita iblis itu kehabisan akal untuk melepaskan hubungan, sehingga perempuan itu membuat siasat seolah ia berkhianat dengan memiliki seorang anak dari mantan pacarnya. Nyatanya, sang wanita itulah yang berkhianat lebih awal darinya.
"Kalau saja mantan istriku tidak membawa anak sulungku, mungkin aku sudah terbebas dari beban itu." Edwin melepas curahan hati, selagi kesempatan datang menghampiri.
Lirih kepedihan itu di balas Erick dengan tawa kecil, lantas ia menatap arah sampingnya dimana Triana masih termenung di sana. "Itulah kenapa kau bersikeras melepas hubungan anakmu ini dengan anak keduaku Hanson?"
"Hmm." Sejenak Edwin menahan kalimat untuk menghisap batang rokoknya, jua ketika kejadian nahas dahulu kala masih membayang dalam ingatan. "Jika dia bersama Hanson, maka rencana kita untuk mendorong wanita iblis itu tidak akan mudah."
Edwin sengaja menjodohkan anaknya dengan Sammuel hanya membutuhkan jabatan semata. Ia yakin dengan jabatan seorang general manager pada perusahaan nomor satu dalam negri itu, dapat menggulingkan seorang wanita yang telah memeras kedamaian hidupnya.
Pada awalnya mereka ingin menjodohkan Triana dengan Jackson. Namun nahas, pria itu masih bersikeras mengejar cinta seorang wanita bernama Art Tara Biancasandra. Mereka tidak berani mengusiknya lantaran mengetahui jika kejadian nahas yang menimpa pada Tara dan Jackson adalah ulah wanita yang selalu menjadi musuh mereka.
Hanya satu wanita saja yang berhasil mengobrak-abrik kehidupan mereka, membuat mereka menggeleng tidak percaya jika wanita bodoh dapat dengan mudah mengelabui mereka. Tidak mereka ketahui jika dukungan dari ambisi serta hawa nafsunya lah yang memperkuat tekad kejahatannya.
Baris kata yang terucap dari mulut Edwin itu, berbalas anggukan paham dari Triana. Ia mulai memahami jika dahulu kala ayahnya menuduh Hanson sebagai pembunuh ibunya hanya untuk melepaskan hubungan mereka semata.
__ADS_1
"Apa ini—"
"Kalian keterlaluan." ucap Jackson memenggal kata Triana. Bahasa keras itu ia lontarkan sebagai gurauan. Karenanya ia tertawa di penghujung kalimat. "Kalian bersekongkol mengerjai anak-anak kalian?" imbuhnya membuat Erick menepuk bahunya.
"Jack, jika kita tidak berpura-pura saling bermusuhan, wanita iblis itu akan semakin merajalela," tutur Erick membuat Triana kembali mendapat pemahaman jika yang menjadi objek panggilan kasar itu adalah mantan ibu tirinya. "Dia masih belum puas mengeruk kepingan-kepingan harta dari setiap orang yang jadi incarannya."
"Hanya saja ... dia masih terlalu bodoh, selalu menggunakan cara yang sama," tutur Edwin menyambung ucapan. Rupa-ruapanya mengingatkan Erick pada beberapa kejadian silam yang membuatnya mengenal seorang wanita bernama Celia Carissa Vamella.
"Pah, bisa ga kalian bicaranya lebih diperjelas?" ujar Triana mengeluh kesal. Ia sudah tidak mampu menyerap maksud dari perbincangan ayahnya.
"Meninggalnya ibumu itu karna ulahnya, dia menuduhku sebagai pembunuhnya. Dan lagi, dia mengambil Cakra sahabatku untuk menjadi partner melancarkan rencana-rencana busuknya," sahut Edwin memberi penjabaran alasan, membuat dendam Triana kian bergejolak.
"Jack, kejadian dua belas tahun silam pun karena hasil kerja kerasnya," tutur Erick seraya menatap anaknya meski tidak mendapat balasan, karenanya Jackson masih berusaha menenangkan hati calon istrinya yang sudah tertunduk kaku di sana.
"Buat itu ... aku tau." Arah pandang Jackson menuju wajah Erwin, pertanda ucapan tertuju pada objek buruan matanya. "Aku akan menagih seluruh hutangnya."
"Biarkan kakakmu yang mengurusnya, Jack," tutur Erick berseru penuh penekanan. "Mereka sudah sampai pada tahap akhir, kamu jangan mengacau," imbuhnya dalam ancaman ringannya.
Jackson melenguh, ia membenarkan kata-kata yang terucap dari mulut ayahnya. Jika sesungguhnya yang akan lebih mudah membanting wanita itu adalah Maxson pemilik hubungan khusus dengan seorang wanita bernama Jasmeen Shanaya.
Sesaat keheningan membaur di dalam ruang itu, menyambut renungan para penghuninya. Hanya Jackson yang berpusat pandang pada wajah jelita di sampingnya. Perbedaan ia dapatkan kini, wajah itu telah terangkat memberikan senyum kepadanya.
"Kamu udah tenang?" tanya Jackson kepada calon istrinya.
"Kamu udah berhasil nak, jagalah hubungan kalian, segeralah beri kami keturu—"
"Om, hmm maaf, Pah." Jackson memenggal ucap kata yang akan menyinggung Triana, ia mendekap erat pinggang itu. Membubuhkan penghiburan di balik kelembutan. "Kita masih ada urusan." Tanpa banyak membuang waktu ia segera bangkit, menarik tangan calon istrinya agar turut meninggalkan waktu setempat. Kekhawatiran mendalam itu, membuat Jackson melupakan untuk berpamitan kepada ayahnya.
Sejenak Erick menatap janggal punggung sepasang insan yang berjalan kian menjauhi. Bukan si cerdas namanya jika tidak mendapat jawaban atas tingkah kikuk anaknya sesaat tadi. Ia pun memikirkan untuknya mencari tau alasan di balik tindak tanduk itu.
***
Hanson memusatkan pandangan pada layar laptop yang terletak di atas meja kebangsaannya. Ia mencerna isi dari sebuah berita dalam saluran media kabar di sana.
Berhasil sudah ia membuat musuhnya yang bernama Cakra itu terkurung di dalam ruang tahanan. Hanya saja ... yang menjadi lirihan kali ini sang musuh menyeret seorang pengusaha property bernama Rizal Prayuda di dalamnya.
Beruntung seluruh bukti yang mengarah pada ayah seorang wanita yang sempat menjadi pengisi hatinya itu telah tertimbun begitu rapat, sehingga Rizal tidak turut menjadi penghuni ruang tahanan dengan alasan kekurangan bahan bukti.
Sedang rasa frustasi menyeruak ketika tokoh utama antagonis dari kisah hidupnya bernama Sonia Maretta itu tidak sedikitpun terseret ke dalamnya.
"Terlalu rapih bukan?" ujar Maxson saat tubuh menumpu di atas kursi besebrangan denga Hanson.
__ADS_1
"Terlalu picik!" ujar Hanson memperbaiki ucapan kakaknya. "Cewe macam apa dia ini? Sampai susah dibikin ancur."
"Lo selidiki aja yang gue suruh, sisanya biar gue yang urus."
"Lo yakin mau urus sendiri?" tanya Hanson memastikan dengan picingan matanya. Sesungguhnya ia ingin membantu, akan tetapi berulang kali Maxson mencegahnya.
"Yakin." Setegas tatapan lekat ia berucap, manakala keteguhan hati menyatakan jika ia akan menggapai keberhasilan. "Gue punya kartu As nya."
Hanson menyeringai membalas ucapan itu. "Tapi dia punya jokernya, lo jangan lupa dia punya seribu cara buat ngeraih keinginan gilanya."
"Dia punya seribu cara, gue punya satu neraka."
Perbincangan terlerai oleh kehadiran Fiona yang datang menemui mereka dengan buruan langkahnya. "Hans, antar aku ke rumah sakit." Akibat berlari, suara tersendat napasnya yang terengah. Seraya menyentuh perutnya dengan telapak tangan, tubuh nembungkuk membuat Hanson salah mengira di sana.
"Kandungan kamu ga apa-apa 'kan, sayang?" Hanson bergegas menghampiri wanita yang masih berdiam diri di dekat pintu. Kemudian mengusap perut calon istrinya beserta rasa cemas menjemput gerakan tubuh.
"Si Tara yang masuk rumah sakit, dia pingsan waktu penyidikan ibunya tadi."
Hanson mengusap dada, merasa lega karenanya bakal anak di dalam rahim wanita itu aman terkendali. Namun, hanya sesaat kelegaan berganti rasa kejut.
"Kandungannya gimana?" tanya Hanson.
"Aku ga tau. Pokoknya antar aku sekarang juga kesana!" pinta Fiona berseru tegas enggan mendapat penolakan.
"Oke ... oke." Meski restu Hanson berikan, aka tetapi ia belum cukup menghempas kerancuan. Sehingga tanpa berkata ia membawa tubuh Fiona dalam pangkuan.
"Hans jangan gila!" Fiona berontak disertai gerakan tubuh.
"Udah diam aja, aku takut kamu jatuh, sayang." Di sela langkah yang memburu itu Hanson masih mengkhawatirkan keadaan calon istrinya.
"Kamu sinting, justru aku takut kamu yang jatuh." Fiona bersungut-sungut kesal, sekujur tubuh terasa ngilu membayangkan jika mereka terkapar di atas lantai. "Kalau kamu ga bawa aku 'kan kamu bisa jatuh sendiri."
"Ga!"
Sesungguhnya Fiona tidak ingin mendapat perlakukan itu sebab tatapan iri dari pasang mata yang menatapnya saat berpapasan itu. Namun, rupanya Hanson tidak memperdulikan untuk itu yang membuatnya tetap bersikeras pada keinginannya. Membawa tubuh itu dalam pangkuan hingga menepi pada tempat di mana kendaraannya terparkir di sana.
•
•
•
__ADS_1
Tbc