
Dering seluller berkumandang menyerukan pengingat waktu yang tengah di atur oleh Tara di balik layar alat media itu menunjukan ia harus sudah kembali dari alam mimpinya. Lantaran benda pengingat waktu itu terletak menjauh darinya, Tara tidak kunjung membuka matanya.
Hingga pukul tujuh pagi, Tara baru melepas rekatan kelopak matanya, jiwanya terkumpul tanpa jeda setelah melihat posisi tidurnya masih seperti semula di mana ia duduk di atas pangkuan suaminya.
Perlahan dan tajam ia menarik wajahnya, menatap lekat wajah tampan yang berada di hadapannya, menyemburkan rasa kagum dari sorotan mata indahnya hingga membuatnya enggan mengakhiri tatapan penuh bunga itu.
Ia tersenyum, mengungkap rasa terima kasihnya pada yang kuasa telah memberikan kesempatan untuknya menyandang seorang pria yang kini tengah melenguh nikmat di bawahnya.
Sammuel terbangun, bahkan sesuatu turut terbangun di dalam sana yang telah menyerukan keinginan hasratnya untuk melepasnya dalam gerakannya.
Seruan kenikmatan meluncur lantang dari bibir tipis Sammuel membuat istrinya memejamkan matanya meresapi sesuatu yang bergerak di dalam pembendung kenikmatannya.
Sammuel risau dengan cahaya di balik jendela yang telah menelusup masuk menyilaukan matanya. Ia menerka hari sudah tidak lagi dini, ia menatap jam yang melekat pada dinding di hadapannya, benar apa yang di risaukannya jika istrinya akan terlambat datang ke tempat kerjanya.
Namun, gairah sudah mengepul di dalam asmanya yang tersulut dari gerakan istrinya.
Setelah mengucap keinginannya semalam tadi, dengan teguh hati Sammuel membubuhkan keinginannya untuk melepas hasratnya. Segera ia membantu gerakan tubuh istrinya dengan gerakan tangannya.
__ADS_1
Sepuluh menit sudah Sammuel meresapi kenikmatannya yang di rasanya sudah cukup untuknya hingga ia menghentak dalam gerakannya itu membuat pelepasan terjadi pada keduanya.
Akhirnya meski belum puas, Sammuel mengakhirinya, membawa tubuh istrinya menuju tempat membersihkan dirinya.
Di depan wastafel Sammuel melepas pangkuan pada tubuh istrinya. "Art lo bisa ga jangan goda gue terus?" Ia meremas keras rambut hitam legamnya menyumpah rasa frustasinya.
Tara tertegun meresapi keadaan yang membuatnya melirih itu. Wajahnya tertunduk kaku, memaparkan janggalan dalam benaknya. Jika suaminya selalu menyesalinya, namun mengapa selalu menyambutnya?
Sammuel menatap wajah istrinya yang sudah tertunduk itu, mungkinkah ia tengah menyakiti hati istrinya, iapun sadar dengan itu. "Lo tau ga sekarang jam berapa?" Ucapnya melerai lirihan itu.
"Jam 7 lewat 10." Sambung Sammuel sejenak menghentikan kegiatannya.
"Hah?!" Pekikan suara Tara seolah menyayat telinga Sammuel hingga Sammuel menggelengkan kepalanya gemas. "Kok ga ngomong?" Ia beranjak menuju ruang yang di kelilingi dinding kaca di sekitar.
Sammuel hanya menggeleng menyikapinya, bagaimana wanita itu tidak menyadari waktunya dengan keadaan mentari yang sempat membuat keringat di tubuhnya meluncur dengan derasnya. Ia melupakan jika peluh-peluh itu bercucuran meluapkan gairah yang tercurah dengan lantangnya.
Bungkamnya Sammuel, membuat Tara bergegas membersihkan dirinya meski tampak tidak sempurna ia masih menyelesaikannya.
__ADS_1
Akhirnya Tara tengah siap dengan pakaian seragamnya. Di sekitarnya Sammuel tengah mengucek rambutnya dengan handuk kecilnya.
Beruntung Tara tengah merancu dengan waktu. Jika tidak, Sammuel akan kembali mendapat godaan dari istrinya yang akan menatapnya penuh gairah dengan keadaan tubuhnya yang masih menyisakan tetesan air di sana.
"Sam sorry aku ga bisa siapin sarapan." Ungkap Tara seraya memakai heelsnya tanpa melihat ke arah suaminya.
Sammuel menggeleng dalam gerutu batinnya yang lagi ia merasa bersalah atas istrinya. Andai saja mereka yang berada di dalam perusahaannya mengetahui siapa Tara sebenarnya, mungkin kejadian hari ini tidak akan terjadi padanya.
Sammuel berharap, kakak keduanya cepat bertindak agar Tara menjadi wanita specialnya hingga tidak akan menyulitkan Tara dalam perusahaannya di kemudian hari.
•
•
•
Tbc
__ADS_1