Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 171


__ADS_3

Hening berpadu dalam kegelapan malam. Hawa dingin menerpa, merangkul kesunyian suasana di dalam ruang kendaraan mewah milik Sammuel. Dendam masih melekat tanpa bisa di toleransi olehnya, ketika bayangan wajah wanita telah membuatnya cemburu beberapa saat lalu kian menjelma dalam ingatan.


Lenguhan demi lenguhan berseru tanpa bisa di cegah, mengingat sang hati di landa dilema yang mendalam.


Sesekali Tara melirik ke arah kanan, ketika napas rancu itu menelusup indra pendengaran. Tidak ada yang mampu ia lakukan, selain menyaksikan wajah lusuh yang berpusat pada jalanan.


Suara dering ponsel saling bersahutan, memecah suasana risau seketika. Sammuel serta Tara bersamaan menyahut panggilan masing-masing, setelah meraih benda itu dari tempat penyimpanan. Diri saling berpusat pada perbincangan jarak jauh itu, sehingga tiada yang dapat menyimak satu sama lain.


Sammuel lebih awal mengakhiri panggilan, tersisa sang istri yang tengah melenguh di sana.


“Ya udah terserah mama, aku ga akan ikut campur. Cuma, kalau ada apa-apa jangan libatkan aku!” ucap Tara bernada ketus, di saat menjawab ucapan sang ibu di sebrang sana.


Percikan pedih merasuk ke dalam angan, mendengar sang ibu akan segera meresmikan status hubungan dengan pria yang begitu dibencinya.


“Mama!” Emosi merangkak menyentuh ubun-ubun, membuat Tara membentak tanpa di sengaja. Sehingga panggilan di akhirinya begitu saja.


Sontak, Sammuel melirik sejenak ke arah sang istri berada, ketika rasa kejut menghampiri yang tercipta dari lentingan suara itu. Dilema kian menggugah jiwa, menyadari jika istrinya telah mendapat risalah dalam keluarganya. Akan tetapi, dendam masih membara, membuatnya tidak sudi mempertanyakan sedikit pun. Embusan napas kasar menusuk telinga hingga jantungnya, di saat ujung matanya melihat tetesan air payau membasahi pipi istrinya.


Sesungguhnya, air mata itu terjatuh akibat rasa sesal yang terpendam. Tara menyadari jika tindakan kepada ibunya terlalu berlebihan, sehingga ia berpasrah diri mengemban dosa atas tingkahnya.


Kecewa datang menghampiri, mengusik ketenangan batin yang tidak dapat di pungkiri. Tara berpikir untuk kembali menghubungi ibunya, bermaksud mengungkap permintaan maaf sesegera mungkin. Akan tetapi, niatnya urung begitu saja, ketika kendaraan berhenti tanpa aba-aba.


“Turun!” ujar Sammuel berseru tegas, setegas sorotan mata memandang wajah janggal di sampingnya.


“Kenapa–"


“TURUN!” Tidak ingin memberikan penjelasan, Sammuel menimpali beriring pekikan suaranya.


Tara tidak menyahut dengan ucapan, ia melihat ke arah jalanan. Nampak sunyi seolah tiada penghuni, begitu pun jarak tempuh untuk menggapai tujuan masih terlampau jauh. Memikirkan hal itu, Tara menatap harap wajah suaminya. Niat hati ia ingin bernegosiasi dengannya, akan tetapi aura kelam terpancar dari tatapan sang suami membuatnya terpaksa menyerah.


Tara beranjak keluar dari dalam ruang yang hanya mampu menumpu dua orang saja itu, keraguan menyertai gerakannya, berharap Sammuel memberikan belas kasih meski hanya secercah saja.


Kekecewaan ia dapatkan, Sammuel tidak sedikit pun mencegah kepergian dirinya. Bukan ia takut menghadapi kesunyian di tengah jalanan, akan tetapi sikap dingin yang datang tiba-tiba itu membuahkan beribu pertanyaan di dalam angan.


Baru saja keinginan ia dapatkan di hari kemarin, kini dengan mudahnya semua sirna tanpa penyebab yang pasti. Duka kian melanda jiwa, ketika kendaraan itu melaju tanpa meninggalkan ucap perpisahan.


*******


Deru napas memburu, secepat kakinya melangkah untuk menggapai tujuan yang di janjikan sang ayah beberapa saat lalu di balik panggilannya. Rasa penasaran menyentuh angan, sehingga tanpa permisi ia masuk ke dalam ruang resmi yang terletak di dalam kediaman ayahnya.


Tidak ingin menyia-nyiakan waktu, Sammuel bergegas menghadap sang ayah yang sudah duduk gagah di atas kursi khusus untuknya melakukan pekerjaan. Tiada sambutan dari sang pemilik ruangan, di kala empunya berpusat perhatian pada lembaran kertas yang berada di dalam genggaman.


Sammuel terdiam membisu, menunggu ayahnya mengatakan sesuatu. Namun, melihat pena yang berputar di atas jemari sang ayah, di sambut seringai manis olehnya. Ia menerka jika ayahnya sedang memilah kalimat tepat untuk ungkapan tujuannya.


“Kenapa nyari aku?” Sammuel terpaksa menyerah, mengacau kegiatan ayahnya di sana. Akan tetapi, tetap tiada balasan darinya, ketika pasang mata itu masih berpusat pada lembaran kertas.

__ADS_1


“Duduk dulu, aku harus bereskan pekerjaanku dulu,” sahut Erick tanpa sedikitpun berniat menatap wajah kesal di hadapannya.


Dengusan sebal terlontar dari Sammuel, akan tetapi ia menyambut titah itu. Tanpa suara, ia duduk pada kursi yang besebrangan dengan ayahnya. Demi tidak menunggu terlalu lama, Sammuel memantapkan niat untuk membantu sang ayah.


Sepasang matanya mengedar pada tiap lembar kertas yang berserakan di atas meja, rasa heran tiba menghampiri bayangan, ketika melihat isi di balik kertas-kertas itu. Tidak perlu bertanya, ia pun memahami jika yang terdapat di sana adalah data diri seseorang. Rasa heran berganti penasaran, melihat beberapa gambar wajah pria yang nampak asing baginya.


Gerak-gerik tanpa di sengaja itu, membuat Erick mengintipnya di balik kaca mata yang melorot. Ujung matanya berpusat pada wajah yang mengerut itu, menggiring pikiran menerka kejanggalan yang tersirat di sana.


“Siapa mereka?” tanya Sammuel mengungkap kejanggalan, menunjuk kan objek yang di bicarakan dengan meraih satu lembar kertas itu.


“Orang-orang yang di bantu kakak kedua mu.” Erick menyahut tanpa dosa, mengabaikan wajah yang kian menjanggal di sana. “Bikin kerjaanku tambah banyak aja.” Seolah berprotes ia berucap, nyatanya ia memancing anaknya agar dapat menyambut ucap tujuan yang sesungguhnya saat nanti.


“Buat apa juga dia bantu mereka?” Sammuel kian merasa janggal, akan tetapi benaknya tidak ingin memikirkan terlalu dalam. Sehingga, ia menghempas kertas yang berada dalam genggaman menuju tempat semula.


“Buat bikin adik-adiknya jadi manusia sungguhan.”


Sammuel menyahut dengan tawa gelinya, mengira ungkapan itu hanyalah lelucon semata. “Emangnya kita wayang apa?”


“Aku serius!” sahut Erick bertegas hati, memulai perbincangan penuh kesungguhan. Tatapan lekat tertuju pada wajah tampan yang telah memucat di hadapannya.


“A–apa yang–" sahut Sammuel terbata-bata, di saat sang hati terperosok dalam ketakutan akan wibawa yang terpancar dari gelagat ayahnya.


Erick menjeda kegiatannya, memberikan kesan serius untuk menyambut perbincangan selanjutnya. Jemari dari kedua tangannya saling menyatu, menumpukan di atas meja yang berada di hadapannya.


“Sam, kakakmu sudah terlalu banyak mengorbankan diri untuk adik-adiknya. Sebaiknya sekarang waktunya kalian berhenti menyusahkannya,” tutur Erick berbalas picingan mata di sana.


“Terus, aku harus balas budi gitu?”


“Sayangnya, dia ga menginginkan semua itu. Keinginannya hanya satu, yaitu–" Erick memenggal suaranya, melanjutkan ucapan hanya dengan isyarat dari matanya.


“Apa itu?” Sungguh Sammuel tidak dapat menerka maksud hati sang ayah, sehingga kernyitan dahi nampak lekat terpandang lawan bicaranya.


Erick melenguh rancu, akan tetapi semangat untuk memberikan pancingan kian berkobar membentuk picingan matanya.


“Lupakan!” tutur Erick berpasrah diri, ia melupakan jika anak yang berada di hadapannya tidak akan mudah termakan umpannya.


Rangkaian siasat berputar di dalam isi kepalanya, mencari celah agar ia dapat mengendalikan si cerdik itu. Akan tetapi, perangkap tercipta tanpa di sengaja, di saat Sammuel membuka mulutnya.


“Emangnya kau tau apa aja yang dilakukan dia buat kita?” tanya Sammuel penuh keteguhan hati, berharap jawaban pasti memuaskan sang diri.


“Pasti, sangat jelas tau!” jawab Erick beserta lengkungan bibirnya, membubuhkan kemenangan di baliknya. “Salah satunya, dia yang berani menikahi wanita pemeras itu demi mendapatkan ZhanaZ untuk kalian.”


“Buat kita?” Tawa geli tersirat di akhir kalimat Sammuel, mengungkap olokan akan ucapan yang di rasanya jauh dari kemungkinan. “Dia pemegang saham terbesar pih.. mana–"


“Saham dia adalah milikku.”

__ADS_1


“Apa?!” Lentingan suara Sammuel, menandakan keterkejutan atas ketidak percayaan pada jawaban ayahnya. Ia menyangkalnya tanpa ucapan, tidak mungkin Jackson sudi bekerja tanpa ada upah sedikit pun yang didapatkan.


“Benar itu, dia kasih semua sahamnya untukku,” ujar Erick mengulang ucapan, untuk meyakinkan kejutan batin yang dapat dirasakannya.


“Kau terima sahamnya?”


“Aku ga bisa menolaknya,” jawab Erick tanpa dosa, mengabaikan gelengan kepala dalam senyum cibiran dari anaknya.


“Kau begitu sadis Erick,” ujar Sammuel mencibir dalam gurauan, berbalas senyum wibawa dari ayahnya.


“Aku ga pernah memakainya, aku simpan saham itu untuk anak-anaknya kelak. Tapi, sampai sekarang hidupnya masih aja serampangan, bagaimana dia bisa punya istri?” Erick menjabarkan alasan, di sambut anggukan paham di sana.


Akan tetapi, ia belum cukup puas menerimanya, sebelum perangkap menerkam umpannya. Tujuan utamanya belum tersampaikan, ia masih mempertimbangkan keputusan yang akan membuahkan amarah dari lawan bicaranya.


Tiada kata terucap dari mulut Sammuel, dikala otaknya berpikir keras untuk mencari jawaban dari ucapan teka-teki ayahnya. Picingan mata sang ayah mempermudah terkaannya, sehingga ia mulai sadar akan apa yang di sampaikan.


Keyakinan hati memperkokoh, ia menyibak jika sang ayah memanggilnya untuk membicarakan nasib sang kakak.


“Bukannya dia mau nikah bentar lagi?” ujar Sammuel.


“Benar dia mau nikah, tapi belum tau akan punya anak atau engga.” Erick memantapkan hati, menyahutnya dengan jawaban pasti. “Mau jadi apa dia, kalau terus mengurus kalian sampai ga punya keturunan?” Erick menggeleng, seolah mengajak anaknya bergurau. Nyatanya, picingan mata yang begitu tajam, berhasil menembus pengertian Sammuel.


Sammuel kian memahami, jika ayahnya menginginkan dirinya untuk menyerahkan sang istri kepada pria itu. Keputusan tidak mudah diraihnya, di kala sang hati belum mampu melepas tanpa mendapat pengganti.


Sammuel bersikeras mempertimbangkan pilihan, sehingga suasana hening tiba menerpa isi di dalam ruang. Lantas, tidak mampu ia menahan, Sammuel bangkit berdiri di hadapan sang tuan rumah.


“Oke aku ngerti, cuma ini kan yang mau kau bicarakan?”


Erick terdiam seribu bahasa, menyahut pertanyaan hanya dengan isyarat kepalanya dalam anggukan.


Bungkamnya mulut Erick, membuat Sammuel kian yakin akan persetujuan jawaban untuk pertanyaannya. Emosi menerpa tanpa jeda, menerima permintaan yang begitu menyulitkan.


Akan tetapi, amarah sirna seketika, dikala harapan bantuan terpampang di hadapannya. Keberuntungan menyambutnya, saat memikirkan bahwa sang hati telah memiliki cadangan untuk pelampiasan cintanya.


Seringai penuh kemenangan terukir jelas tanpa bisa di sembunyikan, mendapat keputusan yang akan membuahkan hasil memuaskan. Keputusan di raihnya, ia berniat mencabangkan sang hati demi mengabulkan keinginan sang ayah beserta dirinya.


Lantas, ia membawa dendam itu dalam langkah kakinya. Meninggalkan ruang resmi milik sang ayah dalam pikiran yang masih melayang, sehingga ia terlupa untuk berpamitan.


Setelah Sammuel hilang dari pandangan, Erick menghela napas panjang. Menyerukan kegundahan yang telah lama terpendam. Hanya ini lah satu-satunya cara untuk dapat menyingkirkan akar masalah yang menerpa kisah Asmara Jajar Genjang itu.


Ia menerka jika Sammuel belum sepenuh hati mencintai sang istri, lantas ia memberikan kesempatan kepada Jackson untuk mendapat cinta kasih dari wanita yang begitu dicintainya. Begitupun keinginan Fiona akan terkabulkan, jika anak keduanya menerima wanita itu, maka tiada akan ada pertentangan hati. Dengan demikian, ia dapat memberikan kebahagiaan kepada seluruh anaknya, serta mengembalikan tulang rusuk pada tempatnya.



__ADS_1



Tbc


__ADS_2