Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 197


__ADS_3

Ruang tamu bertajuk langit itu kini mendapat kehangatan suasana, hari sebelumnya Jackson berjanji kepada sang ayah untuk membawa Alev menemuinya.


Erick telah duduk seorang diri, tanpa ada sang istri menemani. Ia tersenyum menyambut tiga insan yang berjalan menghampiri, kemudian tatap ceria menyorot wajah yang berseri.


"Papi." Alev berteriak kegirangan di sela langkahnya yang memburu, lantas ia duduk di samping kakeknya.


Tara terkesan heran, mendengar panggilan anaknya terhadap pria yang telah mengusap kasih puncak kepala pria remaja itu.


"Alev, apa kamu tau siapa beliau?" tanya Tara.


Alev menyahut dengan anggukan tanpa bersuara, ia kebingungan memberi alasan pertemuan awal dengan sang kakek terhadap ibunya.


"Sebaiknya kalian duduk dulu, aku akan menjelaskannya nanti," tutur Erick kepada sepasang insan yang masih berdiri di hadapan.


Tara terlebih dahulu mendaratkan tubuh di atas sofa besebrangan dengan Erick, sementara Jackson tidak sedikit pun bergerak, mempertahankan tubuh dalam posisi berdiri.


"Kau tau itu dari awal, 'kan?" tanya Jackson saat sorotan mata menatap wajah ayahnya.


"Hanya tau dia anakmu, tapi ga tau siapa ibunya." Erick menyahut di sertai helaan napas, ia pun tidak mengira jika ibu dari anak itu adalah wanita yang ingin di jodohkan dengan anak sulungnya.


Ungkap kata yang terucap dari mulut Erick, berbuah kernyitan dahi dari satu-satunya wanita di dalam ruang itu.


"Enam bulan yang lalu, aku menerima tawaran Celia untuk menelusuri jati diri anak ini. Sayang sekali, aku ga pernah melihatnya bersamamu, Tara." Erick segera menjawab tatapan-tatapan janggal di sana setelah menyibak arti dari perasaan heran yang terpampang dari wajah mereka.


Jackson menyeringai puas, kemudian ia beranjak meninggalkam ruang tanpa menyahut ucap kata itu.


"Maafkan aku, pih." Tara berucap penuh penyesalan, akan tetapi ia tidak ingin membeberkan alasan di balik itu, ia yakin jika ayah mertua telah memahami keadaan.


"Sudahlah ... sekarang kalian tinggal memanen hasil jerih payah kalian."


Mendengar kalimat yang terucap dari mulut mertuanya, Tara merasa tidak enak hati. Ia pun menyadari jika apa yang di lakukan selama ini telah membuahkan kepedihan bagi orang-orang yang terlibat. Sudah tidak mampu diri mengucap kata maaf, yang ia lakukan kini hanya menundukan wajah.


Si cerdas penyemangat jiwa sang ibunda, melenguh pilu melihat wajah yang tertunduk di sana. Lantas ....


"Mama melakukan itu demi kita semua, aku bersyukur punya ibu sepertimu." Alev berusaha menghibur hati, mendapat sambutan dari sang ibu yang kembali mengangkat wajahnya.


Wajah berseri menghadap mertua, Tara menatap pemandangan indah di hadapan. Di mana ayah mertua tak urung mengusap puncak kepala anaknya.

__ADS_1


"Kamu memang cerdas, Alev." Erick memuji seteguh hati, bahkan senyuman kagum mengakhiri kalimat.


"Sama seperti ayahku bukan?" Alev menyahut percaya diri, akan tetapi ia segera menghadang ucapannya sendiri. "Oh tidak, aku lebih dari dia."


Imbuh kata terucap mengundang gelak tawa dua insan di sekitar, dan terhenti ketika Jackson kembali menghampiri.


Dalam genggam tangan, Jackson membawa empat minuman dalam kemasan. Terutama ia memberikan kepada Tara, di sambut hangat oleh wanita itu dengan segera meraihnya. Setelah tubuh mendapat posisi nyaman dalam duduk, Jackson menyerahkan sisa minuman kepada dua pria yang duduk besebrangan dengannya.


"Benarkah kamu lebih pintar dariku?" tanya Jackson menyambut ucapan sang anak saat lalu.


"Kau akan tau nanti," sahut Alev di sertai seringai cibiran di penghujung kalimat, berbalas gelengan kepala dari sang ayah tercinta.


Erick mengembangkan senyuman, telah lama ia menanti suasana itu terjadi. Kali ini, ia tidak akan menyia-nyiakan sehingga menyambut senda gurau dengan tawa ceria.


Sementara wanita dalam dekapan sebelah tangan Jackson tiada sedikit pun mencermati keadaan, ia berpusat diri pada minuman dalam genggaman. Namun, ketika kemasan itu menyentuh bibirnya, Jackson merebut dengan paksaan tanpa berbicara.


"Kenapa?" tanya Tara sesaat tatap heran meluncur menuju wajah tampan dari pria yang duduk di sampingnya.


"Lihat dulu, aku takut minuman ini ga bisa di konsumsi ibu hamil." Jackson menyahut jujur, akan tetapi berbuah tatapan murka dari sampingnya.


Tiada kata menyahut pertanyaan Erick, Tara tertegun kaku tidak ingin memberi jawaban sedikit pun.


"Ya." Kesempatan bagi Jackson untuk mengungkap keadaan kepada sang ayah, sehingga ia menjawab tanpa keraguan.


"Apakah aku akan punya adik?" tanya Alev berbuah tatapan ganas dari kedua orang tuanya.


Belum sempat terjawab, kalimat itu terbengkalai akibat langkah Devand yang menepi di hadapan Alev. Ia tidak menyapa seisi ruang, ketika manik mata menilik tajam wajah pria remaja di sana. Berulang kali ia mengerjapkan mata, seolah melampiaskan rasa tidak percaya. Setelah puas mengumbar rasa kejut pada wajah itu, tatapan beralih menuju pria yang duduk di samping Tara.


"Dia ... mirip banget sama lo, Jack," ucap Devand.


"Itu pasti, orang dia anak gue," sahut Jackson tanpa berbasa-basi, bahkan wajah datar terpampang seolah sedang mengumbar candaan. Pada kenyataannya, ia ingin memperkenalkan si buah hati pada seluruh anggota keluarga.


"An—"


"Hallo om, om pasti adik papaku." Alev berkata menyendat kalimat yang akan di ucapkan Devand.


Devand mengangguk sebagai tanda memahami, kemudian ia duduk pada sofa di sana. "Jangan panggil aku om, panggil aku uncle, oke."

__ADS_1


"Baiklah, uncle."


Percakapan kembali terlerai oleh kehadiran Celia beserta dua anak tirinya. Seperti apa yang terjadi pada pandangan pertama Devand, wajah Alev kembali menjadi bahan kejutan.


Sementara Alev berpusat pandang pada wajah imut yang berada dalam pangkuan Celia, sepertinya ia ingin mempertanyakan. Namun kata tertahan di dalam angan, menilik situasi tidak memungkinkan.


"Benar-benar mirip lo, Jack." kata Sammuel setelah bola mata menangkap wajah Alev. "Lihat dari wajah dia ... pasti udah ketauan kalau anak ini anak kandung lo."


"Anak kandung kamu?" Celia mengarahkan pandang pada wajah Jackson, pertanda ucapan tertuju untuk sang empunya.


"Yes mom, anak aku dari Tara." Jackson menyahut penuh keceriaan, akan tetapi membuat air mata haru menetes membasahi pipi Celia.


Tak kuasa memendam rasa bahagia, Celia menyerahkan Queena kepada Tara. Lantas, ia bergegas meraih tubuh Alev dalam dekapan, memberi usapan sayang pada puncak kepalanya. Tatap haru terkunci pada wajah tampan itu, senyum gembira pun turut menceriakan suasana.


Dibalik suasana itu, Sammuel memendam kekhawatiran. Pasang mata tak lepas memandang perut wanita di sampingnya, ia cemas pada keadaan gadis cilik yang berada di atas pangkuan Tara.


"Queen ... sini duduknya sama uncle." Sammuel merajuk dalam nada rayuan, agar si gadis cilik sudi menerima tawaran.


Nahas, Queena menggelengkan kepala, bahkan ia berdiri lalu mendekap erat leher Tara. Kedua kaki menumpu di atas perut itu, membuat rasa cemas Sammuel kian merangkak menembus ubun-ubun.


"Queena!" Sammuel membentak di luar kendali, tak ayal merebut paksa tubuh mungil itu dari tangan sang istri.


Suara memekik mengumandangkan emosi itu membuat para penghuni ruang menatap ke arahnya.


"Sam, lo kenapa?" tanya Hanson.


Sammuel membungkam diri, mengingat jika keadaan bakal anaknya ingin di sembunyikan sang istri. Ia tidak ingin memberikan alasan konyol, sehingga meninggalkan ruang agar perbincangan terlerai.


Seperti apa yang di inginkan Sammuel, seluruh insan melepas kepergian pria itu tanpa mempertanyakan alasan. Hingga pada akhirnya, suasana hangat berakhir ketika Jackson membawa calon istri serta anaknya kembali ke rumahnya.





Tbc

__ADS_1


__ADS_2