Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 08


__ADS_3

Vara adalah identitas palsu Tara saat ia bekerja di dalam tempat hiburan itu, tidak ada alasan khusus di baliknya untuk mengganti namanya, hanya saja, ia ingin terlihat keren seperti wanita-wanita penghibur lainnya.


Saat ini, malam menjelang.


Vara memburu langkahnya, menuruni anak tangga yang terdapat di dalam sebuah karaoke tempatnya mencari nafkah. Suasana begitu riuh seperti pada biasanya, malam memabukan penuh gelora.


Samar-samar terdengar suara langkah kaki dari belakangnya, ia pun reflek menolehkan sejenak wajahnya ke sana tanpa menghentikan langkahnya.


Tepat saat itu, tubuhnya terpental ringan yang hampir saja membuatnya terjatuh ke belakang, jika saja seseorang tidak menahan pergelangan tangannya, mungkin tempurung otaknya sudah pecah terbentur ujung anak tangga itu. Rupanya ia telah menabrak seseorang di sana.


Segera ia menatap ke arah depannya yang di sambut dengan pemandangan indah di hadapannya.


Seorang pria tampan berdiri gagah dengan seringai halus tersirat dari wajahnya. "Ga apa-apa?" tanya sang pria cemas.


Tara membeku dalam bayangannya, ia mengira pria itu adalah seseorang yang begitu dikenalinya, bahkan telah menjadi adik angkatnya. Namun, atas ucapan sang pria yang terlontar beberapa saat lalu, ia menerka jika pria --yang masih menggenggam pergelangan tangannya-- itu bukan yang di maksudkan apa yang ada dalam pikirannya.


Tara meruntuk dalam batinnya, jika sang pria bukan orang yang dimaksudkannya, jika menilik dari bahasa yang terlontar hanya sepenggal itu. Ia mengangguk mempertegas terkaannya jika pria itu bukanlah Devand Ron Alfarez.


Begitu serupa hingga membuat bibirnya sulit mengucap katanya. "A … aku …. " Ucapannya terbata-bata saat sang pikiran masih mempertanyakan, apakah pria itu adalah orang yang dimaksudkan hatinya atau bukan.


Suara langkah kaki dari belakangnya semakin terasa jelas menusuk indra pendengarannya. Ia yakin seseorang yang membuat langkah kakinya memburu saat lalu telah berhasil mengejarnya.


Tidak ada cara lain baginya, biarkan ia meminta bantuan pada pria di hadapannya tanpa pamit terlebih dahulu.


Ia menarik leher pria itu dengan kedua tangannya. Tergesa wajahnya merekatkan jarak pada wajah pria itu. Berhasil rupanya ia melekatkan bibirnya pada bibir pria itu membuat sang pria terentak dalam kejutannya hingga membuat kelopak matanya terbuka lebar. Namun tetap saja, sang pria membiarkan bibir wanita itu bertengger santai di atas bibirnya.


"Ra, itu lo kan?" Suara seorang pria di belakang wanita yang masih meresapi kegiatan mesranya membuat wanita itu terperangah, namun ia mengabaikannya dengan hanya melanjutkan kegiatan cumbuannya, meski tidak mendapat balasan dari sang pria yang hanya meresapi cumbuan amburadulnya.


"Vara!" ulang sang pria kembali memanggilnya setelah panggilan pertamanya terabaikan.


Namun, saat ini pun, Tara masih mengabaikan panggilan itu, ia masih bepusat pada kegiatan cumbuannya. Memberikan cumbuan entah-berantah itu pada pria yang sama sekali tidak diketahuinya siapakah dia. Bagi wanita yang bekerja sebagai penghibur dan sebagai wanita malam, mencumbu pria yang tak dikenal mungkin sudah biasa, tapi yang ini? ….


Sang pria yang masih menerima cumbuan itu mulai memahami keadaannya. Ia menerka jika wanita yang kini tengah mencumbunya itu ingin menghindari kekasihnya, sosok pria yang berdiri di belakangnya itu.


Tidak sudi ia terjerumus ke dalam urusan pribadi orang lain yang bahkan tidak dikenalinya sama sekali, ia pun mengempas keras kedua tangan yang mengalung pada lehernya, tak lupa juga ia melepas cumbuan itu dengan kasarnya.


"Lo, kalo punya masalah jangan bawa-bawa orang lain," tutur sang pria membuat rahang Tara mengerat, kedua tangannya mengepal di samping tubuhnya, ia menyembunyikan rasa malunya atas penolakan keras dari pria itu.


"Tak maukah orang ini menbantuku? Bahkan aku tidak meminta hal lain selain menghindari orang itu." Tara membatin kesal.


"Dia cewe lo, Sam?" sapa Lucas, pria yang saat tadi mengejar wanita yang masih berusaha memendam emosinya di hadapannya.


Pria itu menggeleng keras membalas pertanyaan Lucas, dalam tatapannya yang tajam menuju wajah anggun yang telah emosi di hadapannya. "Cewe gue apaan? Kenal aja engga!" tegurnya keras, ia menyangkal hingga tanpa pamit ia mengayunkan kakinya, melewati wanita itu dengan senggolan ringan lengannya pada lengan sang wanita.


Lucas menyeringai, tersenyum penuh cibiran. Sedikit banyak ia mengerti jika wanita yang menjadi buruan langkah kakinya hanya meminta bantuan pada pria hebat --adik dari rekannya itu-- “Ra, apa maksud …." ucapannya terpenggal saat ia mendapati kehadiran seorang pria berwajah garang berdiri di sampingnya.


Bukan hanya ungkapan Lucas yang terpenggal atas kehadiran orang itu, seseorang yang telah menghindari mereka pun menghentikan langkah lambannya.

__ADS_1


"Art Tara Biancasandra," sapa sang pria tua itu, ia memanggil nama lengkap wanita yang --telah mengepalkan kedua tangannya-- membuat seseorang yang masih berjalan tidak jauh darinya memaparkan senyum iblisnya.


Tara melunglai, sudah tidak mampu ia menghindar dari hadapan lelaki tua itu. Lelaki yang benar-benar tak ingin dia temui, bahkan dalam mimpi dan imanjinasi liarnya sekalipun, tapi tampaknya takdir memaksa dirinya untuk berhadapan dengannya, seseorang yang bahkan jika ia adalah pria terakhir di dunia, ia tak akan sudi melihatnya, apalagi berinteraksi dengannya, sudah cukup hal itu terjadi di masa lalu.


"Jadi inikah alasanmu lari dari rumahku? Untuk melacur di sini?" imbuh si pria tua, nadanya benar-benar menyindir dengan senyuman sarkastik yang selalu didapati Tara selama 4 tahun itu. Ia tak berubah sama sekali.


Namun setelah 25 bulan sirna, kini ia kembali melihatnya membuat emosinya tersulut dari dalam asmanya saat mendengar perkataan lawan bicaranya, perkataan yang telah mengingatkan atas kejadian memilukan saat dahulu hidup bersamanya. "Maaf Mr. Guo, saya lebih nyaman melacur di sini dari pada berada di rumah anda," ucapnya tegas diiringi siratan senyuman kejinya untuk menyembunyikan emosinya.


"Kamu anggap hidup denganku sama seperti melacur?!" ujar Guo Ming Shen menekankan nada dari setiap katanya, hal itu untuk memperlihatkan emosinya yang sebiasanya mampu mengintimidasi rasa takut mantan simpanannya.


Ucapan si pria tua kali ini berhasil menarik perhatian seseorang di belakang sana, ia melirikkan sejenak pandangannya ke arah belakang meski tidak ada yang membalas lirikan itu. Langkahnya masih mengayun lamban, sengaja memperlambat menggapai tujuannya hanya sekadar untuk menguping perbincangan di belakangnya.


"Hidup satu atap tanpa ikatan resmi bukannya sama aja dengan melacur?" balas Tara menepis ucapan itu dengan nada bengisnya, seolah ia melampiaskan emosi.


Di sana, pria itu memutar kembali arah pandangnya ke depan untuk menyembunyikan senyumannya, suatu ungkapan reaksi sebagai persetujuan atas apa yang dikatakan wanita itu, kata-kata yang terdengar begitu mengesankan baginya. Baru kali ini ia mengetahui jika pria berwajah bengis itu memiliki wanita simpanan.


"Baiklah, sesuai keinginanmu. Saya akan membelimu malam ini!" tawar Guo Ming Shen kembali tersenyum sarkastik, senyum yang menyimpan ribuan makna di sana membuat wanita di hadapannya berdecak keras.


"Maaf Mister, saya tidak menjual diri di luar tempat ini," tolak Tara halus namun terasa pekat oleh si pria tua hingga membuat emosinya tersulut begitu saja. Sebisanya Tara memperlihatkan reaksi dan ekspresi yang tegar dan kuat, meski itu tetap sulit dilakukan, amarahnya ingin segera ia keluarkan, sayangnya ia tak bisa melakukannya.


Sedangkan Lucas menatap lirih wajah anggun yang sudah memerah menahan emosi itu, tanpa ada yang meminta, ia berniat membantu sang wanita. "Benar itu Sir, dia hanya bekerja sebagai pendamping di room saja," ujarnya, perkataannya membuat si pria tua mengangguk dalam kekehan penuh maknanya.


Sementara Tara merasa lega saat mendapati seseorang mendukungnya. Lain dengan pria yang masih menguping perbincangan mereka, ia telah terperangah mendapat kejutannya.


Seorang wanita penghibur enggan menerima sebuah tawaran yang akan menghasilkan banyak upah? Tidak masuk akal baginya, ia segera berdiri di tempat untuk mendengar percakapan selanjutnya yang sudah menarik perhatiannya itu.


"Silakan anda bertanya kepada pemimpin di sini, Mister," balas Tara dalam senyuman lembutnya yang terpapar hanya untuk sindiran semata.


Sang pria yang telah menguping perbincangan itu kini memburu langkahnya setelah mendapati kepuasan jawaban atas rasa penasarannya.


Sedang si pria tua itu kembali menyiratkan senyuman iblisnya, memaparkannya dalam aura sengitnya. "Apa ini yang kamu hindari dari kehidupanku?"


"Benar!" sahut Tara tegas setegas tatapannya menatap mantannya, namun nadanya melirih membuat sang mantan tersenyum penuh kemenangan.


Begitulah sifat wanita mantan simpanannya, ia selalu tidak mampu menerima ucapan sarkasme. Ia mengetahui jika wanita itu begitu lemah hati hingga tidak pernah menimpali sedikitpun dengan apa yang dilakukannya.


"Menurutmu hidupmu sangat suci?" tanya Guo Ming Shen, ia mencoba mengintimidasi hati wanita yang sudah menciut itu.


"Andalah yang membuatku terjatuh ke dalam lembah dosa ini Mister," balas Tara ketus membuat si pria tua terperangah. Tidak biasanya wanita itu menimpali ucapannya.


"Jaga bicaramu, Tara!" bentak si pria tua disertai telunjuk besarnya yang mengacung tepat di hadapan hidung mungil wanita itu, hal tersebut membuat Lucas menatap wajahnya penuh emosi.


"Maafkan saya jika saya salah mengatakannya, tapi memang kenyataannya seperti demikian." Sudah tidak mampu menahan emosinya, Tara melangkahkan kakinya, tanpa permisi ia meninggalkan dua pria yang masih emosi di sana.


Guo Ming Shen hanya menatap laknat punggung Tara yang berjalan semakin menjauhinya, begitu pula dengan Lucas setelah mendengar percakapan yang membuatnya mengerti dengan keadaannya, ia pun membiarkan kepergian Tara begitu saja.


***

__ADS_1


Di sanalah, langkah Tara menepi di dalam ruang bising dengan lantunan musik yang masih berada satu atap dengan Karaoke tempatnya bekerja.


Dari arah jam duanya ia melihat si pria yang sudah dicumbunya beberapa saat lalu sudah duduk dengan gagahnya, tepat di hadapan meja melengkung panjang di mana bartender bekerja di baliknya.


Ia memburu langkahnya hingga menepi di samping pria itu. Dilihatnya sebuah gelas berisikan minuman beralkohol tinggi di sana, tanpa dosa ia segera meraihnya, segera meneguk isinya dalam sekali tegukan tanpa meminta pamit pada sang empunya.


Sesungguhnya ia hanya ingin melepas rasa takut yang menjalar ke seluruh anggota tubuhnya, ketakutan yang membuat tubuhnya bergetar, peluh pun berhamburan di atas permukaan kulit dahinya akibat sudah berani melawan seorang pria tua kejam sesaat lalu. Sesuatu yang amat jarang, bahkan mungkin ia merasa inilah kali pertamanya ia lakukan.


"Buat bayaran ciuman tadi," seru Tara menepis tatapan kejutan dari pria yang duduk di sampingnya telah menggelengkan kepalanya menyikapi kekonyolan yang dilakukan wanita di sampingnya.


"Lo yang nyosor, masa gue yang harus bayar?" Pria itu protes bersungut gurau membuat wanita di sampingnya berdecak menyembunyikan rasa malunya.


Tara memang mengetahuinya jika dirinya yang telah berdosa pada pria itu. Namun tetap saja, tidak pernah ada cerita wanita yang akan memberikan pelayanan tanpa bayaran. “Kamu ga tau di sini ciuman aku harus dibayar?" kilahnya bersembunyi dari rasa malu kala wajahnya tertunduk untuk menaruh gelas bekas penopang minuman yang telah habis di teguknya ke atas meja yang tersedia.


"Sinting!” Sang pria mencibir dalam kekehannya menganggap tingkah wanita itu begitu menggemaskan baginya. “Lo ga tau ciuman gue lebih mahal dari ciuman lo?" ketusnya dalam nada bengis yang memancarkan aura iblisnya membuat wanita di sampingnya sejenak terpaku, kembali rasa takutnya menyeruak hingga menggetarkan angannya.


"E … emangnya kamu ******* kaya aku?" sahut Tara penuh rasa takut. Namun, sang mata telah menahan tatapannya pada wajah pria yang menyeringai itu, memberikan kesan takutnya atas nada sengit yang lebih sadis dari mantannya.


Sang pria berdesis, namun sesungguhnya ia ingin tersenyum membalas tatapan takut wanita itu.


Dari percakapan yang sudah menarik perhatiannya sesaat tadi, sang pria telah memiliki ketertarikan pada wanita yang kini berada di sampingnya itu.


Apakah ia menyukainya?


Tidak! Tidak mudah baginya untuk mencintai seorang wanita. Ia hanya ingin memastikan sesuatu tentang sang pria tua yang menjadi target pengawasannya.


"Kok diem? Aku bener?" seru Tara berucap setelah berdetik tidak ada suara kembali terlontar dari sang pria yang kini telah menatapnya penuh ledekan.


"Gue ngelacur ga di tempat sampah kaya gini," tegas dan berwibawa, bahkan aura kelam yang mencekam selalu tersirat dari nada bicaranya membuat wanita di sampingnya kian menciut.


"A … apa …." Tara sudah tak mampu membalas tatapan itu hingga berpaling dengan tergesa menyembunyikan wajah kejutnya.


Sang pria mulai gemas, ia mengulurkan tangannya, meraih wajah itu, menjepit dagunya dengan jemari tangan kanannya.


Namun,


Getaran alat media sang pria dari dalam saku celananya membuatnya melepas jepitan jemarinya pada dagu lancip itu menggantikannya untuk meraih benda tersebut.


Dilihatnya pesan masuk dari baliknya, lantas tanpa berpamitan ia berlalu begitu saja dari hadapan wanita --yang masih terpaku meresapi rasa takutnya-- itu.





__ADS_1


Tbc


__ADS_2