
Sammuel memejamkan kedua matanya, ingin sekali ia menghempas tubuh istrinya dari sampingnya yang akan selalu menggugah hasratnya, namun ia takut istrinya akan semakin menggodanya hingga ia membiarkan kegiatan istrinya itu berlangsung begitu saja.
*******
"Sam perusahaan kamu gerak di bidang property juga?" Tara mengucap katanya setelah mencerna isi dari balik layar alat media yang masih setia di pandangi suaminya. Tatapannya kembali menuju wajah suaminya meski tidak mendapat balasan.
"Bukan cuma property tapi juga perbelanjaan, transportasi, perhotelan. Yang paling gede penghasilan dari pertambangan mas sama berlian." Jawab Sammuel dalam tatapan yang masih lurus menghadap layar itu. Sesungguhnya ia masih berusaha menghindari pandangan pada wajah yang sudah berpeluh kecil itu yang akan membuat keinginan untuk menghujam tubuh molek itu merangkak dari dalam asmanya.
"Apa aku boleh ikut campur soal property?"
Sammuel mengarahkan pandangannya pada istrinya yang masih setia menatapnya. Lagi, hasrat itu sudah tidak mampu di bendungnya.
Kini tangannya bergerak meraih tubuh istrinya hingga larut dalam pangkuannya di mana tungkak kepala istrinya berada di samping kirinya, sedang kakinya berada di samping kanannya.
Lepas kendali dari pergerakan suaminya, Tara segera mengalungkan kedua tangannya pada leher suaminya seolah menyambut hasrat suaminya.
"Apa lo punya ide?" Tanya Sammuel di balas anggukan ringan oleh istrinya.
"Bukan ide tapi keinginan aku dulu, andai aku punya uang banyak, aku mau bikin satu perumahan dengan 120 rumah 4 tipe mulai dari tipe 36, 40, 50 sama 60." Balas Tara meski nada bicaranya datar, namun berhasil membuat hasrat Sammuel kian merangkak akibat suara parau yang begitu sensual terdengarnya.
"Emang itu yang lagi perusahaan gue kerjain sekarang, tapi buka lahannya di pelosok yang mulai rame penduduk." Sammuel mengatur napasnya yang berserakan tak lantas menakup jantungnya yang berdenyut kencang.
"Bukan itu yang aku maksud, aku akan buka perumahan itu bukan buat di jual tapi buat di sewain. Kamu pikir aja kalo di jual terlalu banyak saingan, coba kalo di sewain selain kita ga kehilangan rumahnya, kita bisa ngisi perut dari penghasilan itu." Ucap Tara membuat Sammuel terkagum-kagum.
__ADS_1
Sammuel menatap lekat wajah istrinya, ia kini meyakini kepintaran istrinya. "Otak lo bisa nyampe sana juga?" Ia meledek, namun mengapa membuat istrinya menatapnya penuh gairah.
"Awalnya aku lihat dari diri sendiri yang hidup susah karna ga punya rumah, mama aku banyak gaya tapi aku ga mampu buat ngasih sewa rumah yang mahal." Kini Tara yang mengatur napasnya setelah beberapa saat menatap mata suaminya yang sudah memendam sejuta keinginan di sana.
Sammuel kian melekatkan pandangan kagumnya yang membuat Tara kian belingsatan.
Tara memalingkan arah wajahnya, sudah tidak mampu membalas tatapan lekat suaminya yang selalu membuat jantungnya melompat-lompat di dalam sana. "Aku pikir kalo aku punya modal mau buka perumahan buat di sewain itu dengan harga sedikit di bawah pasaran biar laku keras, pasti laku buat orang-orang yang banyak gaya tapi dana pas pasan."
Sammuel menarik dagu itu dengan telunjuknya agar kembali menatapnya, ia memperdalam tatapan kagum terhadap istrinya meski kini tidak mendapat balasan. "Sayangnya lo ga lanjut sekolah dulu, andai dari dulu lo kuliah, mungkin sekarang udah punya perusahaan." Cetusnya asal.
"Hei bung sekolah cuma buat orang bodoh yang ngasah otaknya, aku udah pinter gini ga perlu sekolah bukan?" Di luar kendalinya ketika menatap wajah yang menerah itu, Tara mengecup sekilas pipi suaminya.
Sammuel terkekeh gemas seraya meresapi kecupan istrinya. "Lo bener, harusnya gue ga daftarin kuliah lo, ngabisin duit aja tau." Gemas Sammuel menyentil manja kening istrinya.
"Udah terlanjur kan?" Tara mengelus keningnya menghapus jejak sentilan itu. "Soal kuliah, aku ga ada ijazah, kenapa bisa kamu daftarin aku?"
Kembali Tara menghapus jejak itu dengan mengelus hidungnya membuat Sammuel kian tergoda untuk kembali menyentuhnya.
Benar adanya Sammuel mencumbu istrinya dengan mesranya, kali ini Tarapun kehilangan kendalinya.
Ia faham betul atas penolakan suaminya, namun tidak di pungkirinya ia selalu mendamba perlakuan manis suaminya seperti saat pertama mereka bertemu itu terjadi lagi.
Tanpa menunggu waktu, Sammuel melepas angannya, melepas gairahnya dengan kegiatan panasnya.
__ADS_1
Kini Tara mengatur napasnya yang terengah, meraup puing-puing udara sebanyak-banyaknya setelah pergaulan panasnya selama satu jam kebelakang itu.
Kini tubuhnya berada di atas pangkuan suaminya yang duduk saling. Wajahnya menelusup masuk ke dalam ceruk leher suaminya membuat Sammuel mengulurkan tangannya untuk mengelusnya.
Sammuel membatin seraya mengelus puncak kepala istrinya dalam tatapan lirihannya. Ia merasa jika istrinya tengah memberikan pilihan hidup yang begitu menyulitkan baginya. Ia berharap istrinya akan membalas perlakuannya kepada kedua kakaknya yang tertera namanya dalam perjanjian pernikahannya.
Ia bergumam dalam benaknya untuk menghibur dirinya yang larut dalam penyesalannya, menyatakan jika kakak keduanya pantas mendapatkan apa yang menjadi bekasnya mengingat status kakak pertamanya yang sudah menjadi duda beranak satu.
Tidak! Bukan Jackson yang mendapat sisanya, melainkan dirinyalah. Pikiran itu membuatnya menggeleng dalam kekehan gelinya.
Ya Jackson menyandang status duda, Sammuelpun menyadari bahwa wanita yang di gaulinya adalah istri resminya. Tidak ada salahnya ia menyentuhnya, tidak ada salahnya ia memberikan sesuatu bekas dirinya kepada kakaknya.
Inilah yang terbersit dalam pikirannya agar dapat dengan mudah melepas hasratnya kembali di lain hari.
Lamunannya buyar kala Tara melepas wajahnya dari ceruk lehernya, ia menatap janggal wajah suaminya yang masih memerah dengan rahang yang mengerat. "Samppp__"
Sammuel mengecup bibir istrinya sebagai tanda terimakasih telah memberikan kepuasan terhadap dirinya. Lantas menyiratkan senyuman andalannya yang membuat Tara kembali menelusupkan wajahnya dalam ceruk lehernya.
Lelah yang di rasakan Tara membuatnya terlelap dalam pangkuan suaminya. Begitupun dengan Sammuel yang menyusul Tara menuju alam mimpinya tanpa merubah posisi duduknya.
•
•
__ADS_1
•
Tbc