
Cahaya mentari menelusup masuk dari celahan gorden kamar tidur Tara, membuat rekatan kelopak matanya terpisah begitu saja.
Ia mengusap matanya menjernihkan pandangannya. Di lihatnya arah samping kanannya yang menampakkan wajah tampan itu masih pulas dalam tidurnya.
Ia mengabaikannya meski hatinya melirih, entah mengapa hatinya selalu terluka saat mengingat bahwa suaminya tidak mencintainya.
Mungkinkah ia merindukan apa yang namanya cinta itu. Ataukah hanya untuk melampiaskan kasih sayangnya semata.
Kendati demikian, lamunannya tidak menyenggal kegiatannya di mana kini ia beranjak menuju ruang tempatnya membersihkan dirinya.
Seusainya, iapun menuju suatu ruang untuk mempersiapkan santapan pagi dirinya serta suaminya.
Masih seperti sebelumnya, tepat saat kudapan hasil kerajinan tangannya terhidang di atas meja makan, Sammuel datang menunjukan batang hidungnya.
Sejenak Tara menahan pandangannya pada tubuh suaminya yang terbalut kaos putih berlengan panjang serta celana selutunya membuat penampilannya lebih menarik dari sebiasanya.
Sammuel sengaja mengabaikan tatapan itu dengan menarik salah satu kursi itu lalu mendaratkan bokongnya di sana. "Sejak kapan ada makanan beginian di sini?"
"Sejak kamu ngilang seminggu." Jawab Tara melengos seraya melepas celemek dari tubuhnya.
Sammuel terkekeh seraya menatap suram wajah istrinya. "Art, gue udah bilang jangan ngarep hati gue kan di perjanjian?" Rancunya menyikapi bahwa perkataan istrinya tertuju untuk sindirannya.
"Aku inget kok." Balas Tara kini mendaratkan bokongnya pada kursi yang besebrangan dengan suaminya. "Ga usah takut lah, lagian kapan juga aku ngomong kalau aku suka sama kamu?"
Sammuel mengabaikan perkataan istrinya, enggan merusak suasana awal harinya. "Lumayan enak." Lengosnya di sela menyiduk hidangannya lantas memasukannya ke dalam mulutnya.
"Beli jadi bukan aku yang bikin." Balas Tara di sela memendam asanya yang rupanya menikmati hidangannya seraya menatap wajah tampan yang berada tepat di hadapannya.
Sammuel membisu lantaran sibuk dengan santapannya. Begitupula dengan Tara yang meresapi suapannya. Hingga sesaat suasana hening mengambil alih.
__ADS_1
"Aku hari ini mau beresin urusan sama rentenir." Ujar Tara memecah suasana hening, ia menatap ragu wajah suaminya, takut-takut suaminya akan melarangnya.
"Oke." Balas Sammuel di sela menelan suapan terakhirnya.
Tara meneguk minumannya hingga habis tak bersisa dari dalam cangkirnya menenangkan batinya yang selalu melirih jika mendapat ucapan dingin dari suaminya.
"Lo pikir itu minuman racikan gue apa? Minum kaya onta gitu." Sammuel terkekeh mengalihkan lirihan istrinya. Sesungguhnya ia perduli dengan lirihan itu, hanya saja tidak menampakkannya.
"Kangen juga minuman racikan kamu." Tara menyiratkan senyuman manisnya yang penuh harapan di dalamnya.
"Ngarep lo gue bawa lo ke karaoke?" Cibir Sammuel seraya meraih bungkusan rokoknya yang sudah tergeletak di atas meja makan itu. "Kangenin siapa lo di sana?"
Tara mendelik tajam, mengumpat suaminya dengan pergerakannya. "Ga usah minum di karaoke juga bisa kali."
"Oke tar gue beliin dulu bahannya." Sambut Sammuel seraya menyulut rokok itu hanya sekedar untuk memalingkan arah pandangnya yang enggan menatap wajah jelita yang sudah merona itu.
"Ada si Nicky kan?" Lengos Sammuel lantas menghisap rokoknya seraya memperhatikan istrinya yang sedang menyulut batang rokoknya. "Lo bisa ga berhenti ngerokok?"
"Bisa aja." Tara menghempas asap yang tertahan sejenak dalam mulutnya akibat perkataannya. "Kalau aku udah mulai kerja."
"Baguslah." Lega Sammuel dalam senyuman menawannya membuat istrinya menahan tatapannya pada bibir itu.
"Kamu sendiri ga bisa berhenti?"
"Gue cowo, ga gagah kalo ga ngerokok."
"Kamu bos nya deh." Tara terkekeh di akhir kalimatnya enggan memperpanjang debat paginya.
Sammuel menghisap rokoknya untuk terakhir kalinya lalu memadamkan baranya di atas asbak seraya bangkit dari duduknya. "Gue harus pergi sekarang."
__ADS_1
"Kamu libur kerja kan?" Penggal Tara ikut bangkit setelah menghempas rokoknya dari tangannya.
"Emangnya gue pergi buat gawe doang?" Ujar Sammuel seraya beranjak menghampiri istrinya. "Lo masih kangen ya sama gue?" Lantas mengelus pipi itu.
"Sembarang kangen." Kali ini Tara membiarkan elusan itu yang memang selalu di harapkannya.
Sammuel terkekeh seraya melepas tangannya dari pipi itu beralih menuju tungkak kepala istrinya, di tariknya tungkak itu lantas mendaratkan kecupan pada keningnya. "Moga kencan lo lancar." Entah mengapa, batinnya tersiksa mengucap kata itu hingga membuatnya enggan membayangkannya.
"Idih deketin cowo bukan berarti harus pacaran kan?"
Benar juga apa yang di katakan istrinya, tidak pernah terpikir sebelumnya olehnya hingga ia menahan senyum bahagianya. "Lo atur aja baiknya gimana." Lantas melambaikan tangannya dalam serengehannya.
"Oke aku tau harus ngapain asal jangan ada yang ngamuk ga jelas lagi aja."
"Gue ngamuk jelas ada maksudnya oon, lo ingkar janji terus."
"Lah jadi maksud kamu, aku yang salah?"
"Emang." Balas Sammuel datar, ia segera memutar tubuhnya membelakangi istrinya yang selalu saja menatap wajahnya penuh harapan itu. Lantas melangkahkan kakinya menghindari tatapan yang telah menggugah hatinya. "Happy fun." Pekiknya dalam langkahnya.
"Oke thank you." Tidak kalah memekiknya nada Tara berucap membalas ledekan suaminya.
•
•
•
Tbc
__ADS_1