Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 152


__ADS_3

Setelah akhir pekan berganti, hari dari awalnya hari yang selalu menjadi penjemput aktifitas para insan yang hidup di atas permukaan bumi itu telah tiba. Aktifitas Tara pun berlangsung seperti sedia kala di mana pagi ini ia telah bersiap diri untuk berangkat menuju tempatnya mencari nafkah.


Di tengah halaman luas yang terdapat di sekitar kediaman mewah milik Sammuel, Tara sudah berdiri emosi menyambut senyuman seorang pria yang baru saja tiba menghampirnya.


Jackson sengaja mencari kesempatannya untuk dapat selalu berada di samping Tara saat suaminya hendak pergi keluar kota.


"Jack ngapain lagi kamu ke sini?" tanya Tara di sertai nada emosinya.


Jackson tersenyum simpul membalas ucapan yang telah mengores hatinya itu. "Jemput kamu sayang, suami kamu kan ke luar kota hari ini." Tak acuh ia merayu sang wanita di hadapan suaminya.


"Aku bisa pergi sendiri kali," tolak Tara setegas mungkin agar pria itu menerimanya lantaran ia menerka jika perlakuan itu akan membuat suaminya murka.


"Udah jadi tugas aku anter jemput kamu kan?" Jackson masih berusaha meski ucapannya berbalas tatapan keji dari Tara.


Sammuel yang membungkam diri sejak mereka berbincang, kini ia menganggukan kepalanya pertanda persetujuan di berikannya untuk sang istri.


Tara tidak terima dengan anggukan ragu itu hingga tatapan kejinya beralih pada wajah suaminya. "Sam.."


"Gue lebih tenang kalo lo ke mana-mana bareng dia," Sammuel menunjuk Jackson hanya dengan dagunya lantaran kedua tangannya merogoh saku celananya untuk menyembunyikan kepalan penahan amarahnya.


Sammuel belum dapat merelakan sang istri sepenuhnya kepada kakaknya, ucapannya saat lalu merupakan pertimbangan beratnya.


Sementara Jackson tersenyum penuh kemenangan meski ia dapat merasakan batin adiknya yang enggan menyerahkan istrinya terhadapnya, terlihat dari dengusan keras sang adik yang menusuk indra pendengarannya.


Tanpa menunggu waktu lama, Jackson segera menarik pergelangan tangan Tara hingga menjauh dari suaminya tak lain untuk menuntunnya masuk kedalam kendaraan roda empat miliknya.


Hingga pada akhirnya, setelah tiba di dalam bangunan perusahaan raksasa itu, Tara serta Jackson terpisah tujuan di mana Tara menuju ruang kebangsaan milik suaminya, Jackson sendiri menuju ruang kebangsaannya.


Selama di perjalanan saat lalu mereka membungkam diri tanpa ada satu patah katapun yang terucap lantaran dari masing-masingnya saling memendam rasa bersalahnya.


Di dalam ruang itu, tidak banyak yang Tara lakukan selain menatap lembar demi lembar kertas yang selalu menjemput hari-harinya untuk melakukan tugasnya.


Kursi kerja di balik meja yang terletak bersampingan dengan tempat kebesaran suaminya itu selalu menjadi tempat khususnya untuk menumpukan tubuhnya selama delapan jam setiap harinya.


Di tengah kesibukannya, Jackson kembali menampakkan diri di hadapannya yang membuatrasa sebal itu menjadi alasan untuknya menatap kesal wajah tampan yang telah tersenyum kepadanya itu.

__ADS_1


"Jack kamu ga ada kerjaan apa? Malah nongkrong di sini." protes Tara berseru emosi yang terpampang dari matanya yang mendelik tajam.


"Kerjaan aku ya di sini." Jackson melengos dengan datarnya di sertai lontaran senyuman sensualnya yang akan selalu menggugah hasrat kaum hawa, namun tidak untuk Tara kali ini.


"Mau ngacak-ngacak kerjaan suami aku apa?" Tara bangkit berdiri, ia berjalan menjauhi meja kerjanya untuk menuju di mana tempat minuman tersedia.


"Mau ngacak-ngacak istrinya," balas Jackson bergurau riang tat kala sang hati merestui keinginannya.


Tara berdecak sebal seraya mendelik kesal tanpa mampu membalas ucapan itu dengan kaimatnya.


Setelah berhasil membuat secangkir kopi untuk jamuan tamunya, Tara kembali melangkahkan kakinya menuju meja kerjanya, tidak lupa memberikan jamuan itu terlebih dahulu kepada tamunha. Di raihnya kembali lembaran kertas itu yang tidak akan ada habisnya untuk menjadi bahan pembelajaran barunya.


Di tengah kegiatannya, Tara memijat lembut keningnya membuat Jackson yang berdiri di hadpannya terkekeh gemas. Jackson meraih cangkir kopinya, di bawanya dalam genggamannya menuju meja kerja Tara.


"Apaan ini?" tanya Jackson seraya menarik selembar kertas dari genggaman Tara. Beberapa menit kemudian, setelah ia membaca isi di balik lembar kertas itu, ia menggelengkan kepalanya. "Bukannya pelajari prospek Tender Premium malah ngurusin CC Film."


"Mami percayain sama aku!" ucap Tara bernada ketus seraya merebut paksa kertas itu dari tangan Jackson.


Jackson mengabaikan itu, ia melangkahkan kakinya hingga menghadap Tara, di sandarkannya tubuhnya pada tepi meja agar dapat menghadap Tara. Tangannya kini melipat di dadanya seolah tengah meninjau kinerja wanita itu. "Dia lagi nawarin filmnya ke studio Start?"


"Tar aku yang urus ke si Josep aja," tawar Jackson berkeras hati yang berbuah dari tatapan nyalang dari wanita yang mendongkak di bawahnya.


"Kamu dari pada ngurusin yang aneh-aneh mending ngurusin calon istri kamu aja sana."


"Ogah ah, dia yang maunya bebas, aku sih ngikutin maunya dia doang."


"Jack.." Tara menimpal penuh lirihan saat rasa iba terhadap sahabatnya telah mekar dari dalam asanya. "Kalo kamu mau ngikutin maunya dia, kamu coba bikin dia lupa sama si Hans, aku prihatin sama dia Jack." Lirihan itu berganti sebuah emosi hingga pena yang berada dalam genggamannya menunjuk kasar menuju arah dada Jackson.


"Aku juga sama, tapi susah juga kalo si Hansnya ga dukung." Jackson meraih kopinya di belakangnya kemudian menyeruput isinya untuk meredakan nyeri di jantungnya akibat perkataan Tara sebelumnya seolah menolak keras untuk membuka hati padanya.


Selalu saja Tara menawarkan wanita lain kepadanya, bukan baru sekali ini Tara melakukannya melainkan semenjak ia bertemu kembali dengan ayah dari anaknya itu tiga tahun silam.


"Kamu coba deh komporin si Hans depan dia, cium tuh cewe biar tau baiknya si Fiona kaya gimana," ucap Tara dengan datarnya mengabaikan tatapan penolakan dari empunya.


Jackson mulai geram, namun sebisa mungkin ia meredam amaranya agar tidak meluap. Ia hanya mampu mengumpat di dalam benaknya.

__ADS_1


"Ah dodol kamu, ga ada hubungannya kali."


"Ada lah, bikin dia cemburu."


"Orang si Hansnya ga suka mana bisa cemburu?"


"Banyak alesan kamu, apa susahnya lakuin aja?" ucap Tara memaksa hingga membuat bibirnya mengerucut tajam.


Jackson terkekeh melihat kerucutan bibir dari wajah yang memberengut kesal itu. "Mending nyium kamu dari pada nyium si Fiona."


Jackson sengaja berniat menggoda wanita di hadapannya hingga ia merunduk mengikis jarak wajahnya dengan wajah wanita itu. Sontak Tara terkejut hingga kelopak matanya membelalak lebar.


"Jack, ka-kamu mau ngapain?" Tara menatap risih mata itu penuh dusta. Hampir ia terjerat dalam tatapan maut itu saat sorot matanya sulit berpaling darinya.


Jackson menyadari tatapan yang terkunci pada wajahnya itu, dengan sengaja ia kian merekatkan jarak wajahnya pada wajah jelita yang telah memerah itu. "Tara.. Please.." ujarnya memohon penuh lirihan yang membuat Tara menghela napas rancunya."


Tatapan penuh kasih yang tercurah dari sorotan tajamnya itu berhasil membuat Tara kehilangan kendali diri, ia terpaku meresapinya, membuahkan perasaan cinta yang terbalaskan.


Pesona dari wajah yang begitu menggiurkan itu membayang di hadapannya. Perlahan dan pasti wajah itu bergerak maju seolah mencari ancang-ancang untuk melakukan sesuatu.


Batin Tara meronta ingin berpaling darinya, namun gerakan tubuhnya tak mampu menahan dustanya. Ia membisu, membungkam rapat mulutnya kala sebelah tangan pria di hadapannya mendarat pada tungkak kepalanya, meraihnya dengan lembutnya agar terdiam di tempat tanpa bergerak sedikitpun.


Jackson kian yakin dengan keinginan yang sulit tercurah dengan kata-kata itu, ia mengambil inisiatifnya dengan menebar cinta pada pandangan yang telah membalasnya terlebih dahulu.


Tatapan harapan akan keinginannya terwujud itu begitu terlihat jelas oleh pasang matanya. Hingga pada akhirnya, ia melepas hasratnya dengan menarik tungkak kepala yang masih berada dalam genggamannya itu.


Selebihnya.....





Tbc

__ADS_1


__ADS_2