
Triana serta Tara sudah berdiri di depan pintu apartement Laseason kamar ruang no 2202, tempat yang sudah mereka janjikan saat lalu untuknya melakukan pertemuannya.
Triana tertegun menatap angka yang tersirat di balik pintu ruang itu, ia berusaha mengingat-ingat barisan nomor yang di rasanya menjadi kenangan untuknya.
Beberapa saat kemudian, setelah Tara berhasil membuka gaitan pintu itu, Triana tak kunjung mendapat ingatannya tentang angka keramat yang tersirat di sana. Ia pun mengabaikannya tanpa ingin mengetahui lebih lanjut karena sang sahabat telah masuk ke dalam ruang.
"Ini punya lo Ra?" Triana mengedarkan pandangannya di sela langkah kakinya yang melaju lamban di belakang sahabatnya.
"Bukan punya gue, tapi punya laki gue," balas Tara tanpa menghentikan langkah kakinya yang berjalan menuju tempat di mana minuman dingin tersedia.
Triana tersenyum penuh makna saat ia menyibak sesuatu dari balik keadaan yang kini di lihatnya. "Pantes lo kesengsem sama dia, dia tajir juga."
Tara mendengus penuh rasa sebal mendengar pernyataan itu hingga membuat langkah kakinya terhenti lalu memutar tubuhnya agar dapat melihat wajah sahabatnya dengan sorotan tatapan kejamnya.
Triana hanya tersenyum membalas dendam yang terpancar dari pandangan itu membuat Tara melanjutkan kembali langkahnya hingga berdiri di balik kulkas yang tersedia.
"Si Jack lebih tajir kali, gue ga liat dia dari duitnya," ujar Tara menimpal ucapan lawan bicaranya saat lalu.
Mendengar sebuah nama yang terucap dari mulut Tara mengingatkan Triana pada kelalaian yang membuat hatinya hancur berkeping-keping. Sesungguhnya Triana masih menyimpan rasa cinta untuk pria itu, namun keadaan mengenaskan telah mengubah jalan hidupnya yang mengharuskannya melupakan rasa sayang terhadap pria itu.
"Berarti cinta lo lihat dari fisik ya?" tanya Triana meledek di sertai tawa kecil di akhir kalimatnya.
"Dari sikapnya lah!" Tara menimpal tegas saat menyadari sindiran yang begitu menelusup batinnya. Ia tidak dapat memungkiri jika rasa cintanya terhadap seseorang berasal dari fisik yang di sebutkan sahabatnya.
Triana faham betul dengan senggalan kalimat penuh dusta itu, namun ia hanya tertawa kecil menyikapi gerakan kikuk sahabatnya yang kini telah membuka pintu kulkas di sana.
"Eh lo mau minum apa?" tawar Tara ketika membungkuk di depan kulkas itu.
"Ada apa aja?" Triana pun ikut membungkuk mengintip isi di balik kulkas itu.
"Ada lemon tea kaleng kesukaan lo nih." Tara meraih sesuatu sesuai apa yang di katakannya.
"Ya udah ini aja." Triana merebutnya dari tangan sahabatnya.
Sedang Tara meraih minuman lain untuk dirinya sendiri. "Sorry kayanya cemilannya ga ada." Tara menyeringai malu, ia melupakan untuk menyediakan jamuan terhadap tamunya.
Sudah berbulan-bulan tempat itu tidak berpenghuni hingga persediaan makananpun telah berkurang.
"Ga apa-apa lah gue juga lagi males makan," ucap Triana menepis rasa bersalah sahabatnya, ia kembali mengikuti langkah sahabatnya.
__ADS_1
"Ada masalah apa sih sebenernya?" Sudah tidak mampu menahan rasa penasarannya, Tara mempertanyakan di kala kakinya masih melangkah untuk menuju ruang tamu yang tersedia.
"Si Hans, dia yang bunuh nyokap gue."
"HAH?!" Tara mendapat kejutan hebat hingga berucap dengan suara yang melengking nyaring bahkan hingga menghentikan langkahnya. "Ga mungkin kan?"
"Entahlah." Tak acuh Triana melanjutkan langkahnya meninggalkan Tara yang masih tertegun di tempat.
Rasa tidak percaya begitu kuat menembus batas asa Tara, ia menyangkal ucapan lawan bicaranya dengan pekat. Diamnya ia rupanya memikirkan alasan di baliknya untuk dapat memberikan jawaban pada dirinya sendiri.
Hingga beberapa menit kemudian rasa frustasi menggerogotinya saat ia tak kunjung mendapat jawabannya. Pasrah sudah Tara di buatnya, akhirnya ia kembali melangkahkan kakinya hingga menepi di hadapan sofa ruang tamu di mana sang sahabat sudah duduk manis di atasnya.
Tepat saat Tara berhasil duduk di atas sofa yang terletak di ruang tamu itu, ia tidak sungkan mengungkap kejanggalannya.
"Lo percaya si Hans kaya gitu?" Tara memicingkan matanya, ia menerka jika Triana pun tidak akan mempercayainya.
"Percaya ga percaya sih, bukti ada semua di sini." Triana merogoh tasnya dalam keadaan yang masih berdiri di hadapan sofa.
"Ada buktinya rupanya?"
"Nih." Triana menyerahkan foto serta lembaran kertas yang di dapat dari ayahnya itu.
Sementara itu Triana meraih sebuah USB yang di berikan ayahnya dari dalam tasnya.
Beberapa menit kemudian, Tara mengangkat wajahnya, mengalihkan pandangannya dari kertas yang berada pada genggamannya menuju wajah Triana.
"Ada bukti lain ga?" tanya Tara.
"Nih." Triana pun menyerahkan USB yang telah di persiapkannya saat lalu.
Tara menaruh kaleng minumannya ke atas meja untuk meraih benda dari sahabatnya itu, kemudian ia meraih alat media yang tersimpan di dalam saku celananya, berlanjut memasangkan USB itu pada alat media itu. Di lihatnya sebuah rekaman yang menampakkan Hanson keluar dari ruang rahasia sebuah rumah sakit serta menyuntikkan sesuatu pada infusan ibunda sahabatnya dan juga perbincangan antara Hanson dengan bodyguardnya berakhir saat sang bodyguard membunuh seorang dokter yang bertugas sebagai ahli medis sewaan Hanson untuk ibunda Triana.
"Potassium ya?" ungkap Tara di sela anggukan kepalanya, matanya menatap kosong arah depannya saat pikirannya melayang untuk mencari makna dari apa yang telah terjadi di balik rekaman itu.
"Lo bener-bener pinter Ra, cuma liat tulisan bisa tau maksudnya."
"Gue cocok jadi jaksa ga?" ucap Tara menghibur di sertai tawa kecil penuh ledekannya.
Triana terkekeh membalasnya. "Lo percaya?"
__ADS_1
"Buat sekarang percaya ga percaya sih, yang jelas gue mau tau apa rencana lo selanjutnya?" tanya Tara berbalas bungkaman mulut sahabatnya.
Triana belum dapat memastikan apa yang akan di lakukannya nanti, namun siasat busuk untuk menggapai hati sang tunangan telah di dapatkannya.
"Lo bilang gini maksudnya lo percaya kalo si Hanson pelakunya?" seru Triana di sertai rasa herannya. Ia kebingungan sendiri, pasalnya sebelumnya ia sangat mempercayai jika sang kekasih telah melakukan perbuatan keji itu. Namun kini hatinya berkata lain.
"Gue ga bisa jamin juga, tapi buktinya kaya nyata banget." Tara kembali menyeruput minumannya dalam otaknya yang masih bergelut mencari kepastian tentang tebakannya.
"Kalo emang bener sih rencana gue_" Triana menyeringai membuat ucapannya terpenggal sejenak. "Gue ga akan putusin status tunangan gue, gue mau bikin dia nyesel. Lo inget dosanya sama para cewe, biar dia dapet karmanya juga dari cewe lagi."
"Lo mau bikin dia menderita?" ucap Tara menimpal dengan tegasnya.
"Setidaknya dia bisa ngerasain gimana jadi si Fiona." Triana menatap mata Tara dengan tatapan sejuta makna membuat empunya menggangguk sempurna dalam tawa penuh siasatnya.
"Bagus juga ide lo. Tapi si Hans ga salah apa-apa tuh sama si Fiona."
Triana merebahkan punggungnya pada penyandar sofa merasa lega dengan keputusan yang telah di dapatkannya. Napasnya berhembus kencang mengingat yang di katakan sahabatnya tidak demikian adanya. "Lo ga tau aja, si Fiona selama ini cuma ngikutin intruksi si Jack, jadi secara ga langsung si Jack yang salah."
"Hah! Si Jack?" seru Tara bernada nyaring dalam tepukan pada keningnya sendiri. "Kok jadi rumit gini sih?"
"Tanggung rumit gue bikin rumit aja sekalian. Menurut lo gimana rencana gue?" Senyuman licik itu tersirat dari bibir Triana membuat sahabatnya menatapnya penuh rasa takut. Pasang matanya menyorot tajam mata Tara seolah memaksa agar wanita itu menyetujuinya.
"Lo lakuin semau lo dulu deh, gue pikirin lagi ke depannya."
Pandangan itu menerobos pikirannya untuk mencari sesuatu jalan keluar tanpa ingin menuruti dengan mudahnya, Tara yakin jika ia akan mendapat sesuatu yang lebih menarik.
"Oke, lo emang sahabat paling pinter."
"Apaan sih geli banget."
Dari sinilah tawa Triana mulai terlihat lagi oleh Tara setelah kejadian naas menimpanya beberapa hari lalu di mana kepergian ibunya menjadi bulanan kepedihan setiap harinya.
Perbincangan itu berlanjut dalam canda cerianya setelah melepas penat risalah yang menimpa Triana.
•
•
•
__ADS_1
Tbc