Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 124


__ADS_3

Pagi itu, perlahan Tara melepas rekatan kelopak matanya, di kerjapkannya beberapa kali untuk memperjelas pandangannya. Kini mata itu mengedar pada tiap poros ruang yang begitu asing dalam penglihatannya, rupanya ia baru tersadar bahwa dirinya berada di tempat lain selain kediaman mertua serta apartementnya.


Ia menghentikan edaran pandangannya, tubuhnya menyamping melihat arah di mana suaminya masih tertidur dengan pulasnya di sana.


Lantas ia mengulurkan tangannya, mengelus pipi oval berkulit putih itu demi memberikan saapan pagi terhadap suaminya.


"Gimana aku jelasin sama papi kalo aku ga pulang semalem?" runtuknya masih menatap telik wajah suaminya.


"Jelasin sama papi apa sama cowo lo?" Meski matanya terpejam, Sammuel membalas kalimat istrinya.


"Dua duanya kali ya?" ucap Tara menggoda hingga dengan mudahnya menghempas tangannya dari wajah suaminya, membuat suaminya membuka lebar matanya.


"Ya tinggal ngomong lo tidur di rumah gue." Kini Sammuel mendekap tubuh istrinya dengan sebelah tangannya bermaksud meminta istrinya agar tidak pergi begitu saja.


"Kamu mau bikin aku miskin apa?" ucap Tara bersungut-sungut mengingat perjanjian pernikahannya yang tertera dahulu kala.


Gerakannya membuat sang suami menatapnya penuh gemas hingga suaminya mengecup bibirnya berkali-kali.


"Udah gue tawarin robek kertasnya, lo sendiri yang ga mau." Kini Sammuel membenamkan wajahnya pada dada istrinya yang terekspose jelas lantaran mereka tertidur dalam keadaan tubuh yang tidak terbalut satu helai benangpun.


"Aku takut Sam, kamu itu licik, kalo ga ada perjanjian kebebasan aku bisa terancam." Tara berucap penuh lirihan hinga ia mengelus puncak kepala suaminya, melepas perasaan takut akan kehilangannya.


"Pikiran buruk lo yang nyelakain lo tuh, mana ada gue kepikiran ke sana, lo mau pergi ya tinggal pergi aja," ujar Sammuel tak sarat kala hatinya berkata lain jika dirinya enggan kehilangan istrinya.


Namun semua telah terucap tanpa di sadarinya karna ia berpusat perhatian pada kegiatan bibirnya yang telah berhasil menyusuri tubuh istrinya.


"Yakin kamu ga takut aku lari?" tanya Tara.


"Ngapain takut, tinggal gue talak lo." Gemas sudah Sammuel dengan ucapan istrinya hingga ia menggigit keras sesuatu di balik dada istrinya itu.


"Akhhhh!!! Sial*n kamu, sakit tau!" ringis Tara memekik hingga memukul keras kepala suaminya.


"Sakit ininya apa hati lo?" tanya Sammuel memancing. Ia mendongkak menatap istrinya agar dapat melihat kesungguhan ucapan dari sorot mata istrinya.


"Terserah kamu deh, mau bakar kertasnya juga aku no comment." Tara pasrah hingga bibirnya mulai mengerucut kusut.


"Kaya gini bikin gue pengen gigit dia tambah kenceng," ucap Sammuel dalam angannya yang telah gemas di buat istrinya hingga ia menepuk manja bibir istrinya itu.


"Mesum sih mesum aja." Tara malu, ia menepis tangan itu seraya melingkarkan sebelah kakinya pada pinggang suaminya.


Panggilan Tara rupanya membuat Sammuel membayang pada kejadian di mana mereka awal bertemu, membuatnya semakin gemas hingga melampiaskannya pada dada istrinya yang di permainkannya dengan lihainya.


"Akhhhh." Ini bukan ringisan atau desahan, Tara terkejut ketika sesuatu di bawah sana menerobos masuk tanpa pamit.


"Sarapan pagi gue." Tanpa tau malu, Sammuel melanjutkan aksinya, membawa istrinya dalam dekapannya yang kian melekat.


"Mentang-mentang sarapan, kamu ga kasih pemanasan dulu." Tara pasrah, terhanyut gairah hingga kedua matanya tertutup rapat seolah menyambut apa yang di lakukan suaminya.


"Dia masih ga bisa beradaptasi ya?"


"Lumayan masih perih dikit." Tangan penumpu kepalanya melunglai, kini mengalung pada leher suaminya.


Sammuel menggeleng, sudah terlanjur ia terlelap dalam asmaranya, setiap kali menatap istrinya hasrat itu merangkak tanpa bisa di cegahnya. Hingga pada akhirnya, tanpa memikirkan hal lain, ia menggapai keinginannya.


"Sorry, gue ga tahan!" ujar Sammuel.


"Aku juga," balas Tara seraya membuka kelopak matanya, menatap wajah suaminya. "Mau!" ucapnya malu-malu, tak lantas melekatkan kembali kelopak matanya.


Sammuel tersenyum, membalas ucapan istrinya dengan aksinya yang semakin liar. Memberikan jamuan paginya untuk istrinya, bahkan mengambil jatah sambutan awal harinya.


Belum, mereka belum menyadarinya satu sama lain, bahkan mereka masih belum merasakan arti kegiatan mereka yang masih belum di taburi rasa sayang dari keduanya.


Mereka hanya saling melampiaskan, melampiaskan sesuatu yang belum pernah mereka dapatkan sebelumnya.


Terbukti saat detik terakhir, saat kegiatan berakhir, mereka saling menghempaskan kepalanya bahkan segera meraih puing-puing udara yang tertinggal dari paru-parunya.


"Kamu udah puas?" Tara mengusap puncak kepala suaminya yang sudah terbenam dalam ceruk lehernya seraya mengatur napasnya yang masih tersenggal.


"Lo masih sanggup?" Sammuel mengangkat wajahnya, menatap mata sayu istrinya.


Tak lain dengan istrinya, iapun berusaha mengatur napasnya yang sudah berserakan dari dalam paru-parunya.


Tara mengangguk ragu membalas pertanyaan suaminya yang jelas di tebak suaminya bahwa ia enggan melakukannya.


Sammuel merunduk menuju lipatan kaki istrinya, melihat sesuatu di balik sana untuk mencari kesungguhan atas tingkah yang akan di lakukannya kemudian.


Ia terkejut kala melihat segores luka dengan bercak darah yang terdapat di sela pangkal paha istrinya.


"Lo sinting! Masih sakit juga bilang sanggup?" ujar Sammuel memekik lantang. Lantas beranjak dengan kasarnya dari atas tempat tidur itu.


Ia bergegas menuju meja yang tersedia di sudut ruangan untuk mengambil satu pack tisyu yang tersimpan di atasnya.


"Waktu lagi ngelakuinnya sih ga sakit, sakitnya cuma udahnya," ucap Tara malu-malu hingga membuat pandangannya bergerak kikuk kala melihat suaminya telah kembali melangkahkan kakinya menuju tempat tidurnya.

__ADS_1


Sammuel mengabaikan ucapan istrinya, setelah ia berada di atas ranjang itu ia segera membantu istrinya menghapus darah yang telah menetes dari luka itu.


Inilah wujud dari cinta kasih yang belum tersebar pada setiap masing-masingnya, menampakkan luka untuk Tara, membuahkan penyesalan bagi Sammuel.


Tara tertegun mendapat perlakuan suaminya yang lain dari biasanya itu, namun hatinya berseru riang tiada terkira hingga menyambut suaminya yang telah merebah di sampingnya dengan memeluknya.


Sementara Sammuel dengan nakalnya menggoda istrinya, tangannya kembali terulur mempermainkan dada istrinya membuat sang istri merengek kembali meminta sesuatu kepadanya.


"Jangan bandel,” ucap Sammuel tak lantas menarik kembali tangannya.


Tara mengerucutkan bibirnya tidak terima jika keinginannya di tolak mentah-mentah oleh suaminya.


Sammuel terkekeh, mengabaikan permintaan itu, lantas ia meraih bungkusan rokok serta kricket yang tergeletak di atas nakas tepat di samping ranjang itu.


Ia beringsut hingga duduk menyandar pada kepala ranjang di sana. "Baju lo udah ga ada di apartement kan?" Dan menyulut batang rokok yang sudah terambil dari bungkusnya sebelumnya.


Tara beringsut, membiarkan kepalanya terbenam di atas perut suaminya. "Masih ada sih, baju santai doang."


"Ada baju renang ga di sana?" sahut Sammuel berbalas tatapan picingan dari istrinya.


"Ga tau juga, harus liat dulu." Tara mendongkak menatap wajah suaminya penuh heran. "Mau renang emangnya?"


Tara tersenyum simpul mengira jika tebakannya benar adanya setelah mendapat balasan anggukan pekat dari suaminya.


Sammuel membalas senyuman itu di sertai rangkulan tangannya pada pinggang istrinya.


"Hari ini kita ke Garut, bukannya lo mau kencan di sana?" balas Sammuel tak lantas menatap istrinya penuh pancingan.


Senyum Tara yang lebar itu membuat Sammuel kian merasa gemas. "Jam berapa kita berangkat?"


Akhirnya, setelah menunggu berhari lamanya Tara mendapat kesempatan itu, waktu untuk berkencan dengan suaminya adalah waktu yang selalu di nantinya.


"Beres lo mandi!" jawab Sammuel.


Segera, dengan tergesa Tara beranjak dari tempat tidurnya tanpa menghiraukan rasa sakit dari pangkal pahanya hingga ia beranjak dengan kasarnya.


"Oke aku mandi dulu, kamu udah ambil sarapan pagi kamu," ucap Tara di sela kakinya yang telah mengayun tegas.


Namun langkahnya terhenti seketika hingga ia memutar kembali tubuhnya untuk menatap suaminya.


"Di sini ada koki oneng, ga usah lo repot-repot nyiapin sarapan,” ujar Sammuel menerka yang terabaikan istrinya dengan bungkaman mulutnya. "Kenapa? Lo yang mau siapin sarapannya?"


"Kamar mandinya di mana?"


"Gue lupa lo baru gue bawa ke sini."


"Apa sih? Di mana kamar mandinya?"


"Sana." Tunjuk Sammuel dengan telunjuknya pada pintu berlapis cermin yang terletak di sudut ruang itu.


Tarapun kembali mengayunkan kakinya menuju tempat yang di tunjukan Sammuel tanpa berkata apapun lagi.


Setelah ia membuka pintu itu, matanya membelalak, mulutnya terbuka lebar melihat kamar mandi luas itu bahkan terdapat kolam kecil di sana.


Untuk ruang tidur yang menjadi saksi kegiatan panasnya tadi, tidak begitu membuatnya terkagum meski ruang itu memiliki luas tiga kali lipat dari ruang membersihkan diri itu.


Namun untuk sebuah kamar mandi dengan luas yang demikian, sungguh membuatnya heran.


Rasa herannya sirna saat ia mulai melanjutka kegiatan yang menjadi tujuan awalnya.


**********


Sammuel menghempas keras tubuhnya di atas tempat tidur yang terdapat di dalam bangunan Villa di tempat yang berhawa sejuk siang itu.


Ia menggeliatkan tubuhnya, meregangkang otot-ototnya yang kaku setelah menempuh perjalanan enam jam menuju Villa tersebut.


"Lumayan jauh juga, baliknya nanti lo yang nyetir lah," ujarnya dengan lantangnya meminta kepada istrinya.


"Siap!" balas Tara singkat


Bersusah payah Tara menyeret koper yang berisikan pakaiannya serta pakaian suaminya tanpa bantuan dari suaminya yang masih setia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur yang tersedia.


Setelah koper itu tersimpan di hadapan lemari yang tersedia di sana, ia baru tersadar jika suaminya begitu tega membiarkannya menanggung beban berat sorang diri.


Namun tidak di hiraukannya setelah ia memikirkan jika suaminya lebih menderita di bandingkan dengan dirinya, saat perjalanan yang lalu suaminya lah yang mengendalikan kendaraan roda empatnya.


"Ga usah di tata ke lemari lah ya? Besok juga udah balik kan?” ujar Tara.


"Tergantung beresnya."


"Beres apaan?" tanya Tara di sela langkah kakinya yang mengayun untuk menghampiri suaminya.


"Transaksi pembelian tanah buat buka lahan villa di sini," jawab Sammuel membuat Tara mengerti akan sesuatu.

__ADS_1


Tara mulai berdesir sebal mendengar jawaban itu, ia menerka jika kepergiannya menuju kota dodol itu untuk perjalanan bisnis semata bukan untuk berkencan seperti apa yang di katakan suaminya.


"Jadi ke sini mau ngurusin tender itu?" ucap Tara kala ia duduk di samping suaminya.


Sammuel menyambut kehadiran istrinya dengan memeluknya.


"Iya lah, sekalian kencan bukan?" ucap Sammuel, kini ia berhasil mengusap puncak kepala istrinya.


Sejenak Sammuel meresapi kegiatan romantisnya, baru kali ini ia melakukannya dengan kesungguhan hatinya tanpa menghiraukan rasa gengsinya.


Sementara Tara menghempas lembut tangan yang melingkar pada pinggangnya, setelahnya ia bangkit berdiri tak lantas mengayunkan kakinya menuju tempat di mana sebuah lemari berdiri di sana.


"Ya udah kalo gitu aku beresin baju dulu,” ucap Tara di sambut anggukan oleh sang suami.


“Oke.”


"Kapan ngurusin tanahnya?" ujar Tara tanpa menoleh kepada suaminya kala ia mulai menyibukkan diri menata pakaiannya ke dalam lemari.


"Besok pagi jam sepuluh pemilik tanahnya baru bisa ketemu kita,” ucap Sammuel.


Sammuel beranjak dari tempat tidurnya, ia berdiri di belakang istrinya hingga mulai menggoda istrinya dengan mengulurkan tangannya menyusuri setiap lekuk tubuh istrinya.


"Berarti hari ini bebas tugas kan?" Tara menengok sejenak arah suaminya, meresapu kegiatan tangan itu.


"Ga lah, tugas lo layanin gue hari ini."


Apalah daya Tara yang selalu menerima perlakuan suaminya hingga ia tidak mampu menepis tangan itu dari tubuhnya.


"Itu_ aku masih ga sanggup," tolak Tara ragu-ragu, pasalnya ia enggan jika suaminya akan marah atas penolakannya itu.


Akhirnya tangan Sammuel terlepas dari tubuhnya membuat sang istri kembali menyibukkan dirinya menata pakaian itu seolah mengabaikan permintaan suaminya.


"Lo mau bales dendam hmm?" Sammuel gemas hingga menyingkap rambut panjang terurai istrinya agar tidak menghalangi pundaknya.


"Bales dendam apaan, kenyataannya gitu kok!” sahut Tara bersungut kala mulut suaminya berhasil menyusuri leharnya.


"Oke, awas lo kalo entar manjat ke atas perut gue,” ucap Sammuel menyindir.


"Ga bisa aku jamin juga,” ujar tara dalam serengehannya.


"Setan licik!" Sammuel mulai meraih kemenangannya menanggapi ucapan istrinya.


Ia yakin sang istri tidak akan mampu menolak permintaannya, terbukti kini sang istri yang memutar tubuhnya untuk menghadapnya.


Namun rupanya, Tara menatap jengah wajah suaminya membuat sang suami tertawa kecil menyikapinya.


"Kecuali kamu mau tidur di sofa!” ucap Tara mengancam dengan mengacungkan telunjuknya di hadapan hidung suaminya.


"Iblis picik!" Kini kedua tangan Sammuel mencengkram keras dada itu seolah melampiaskan nafsunya di sana.


"Akhhhh, sakit bego!" Tara menepuk keras tangan itu lantas menepisnya dari dadanya.


Sammuel membiarkan tangannya terhempas dari dada itu kala melihat wajah istrinya yang telah memerah, yakinlah ia jika sang istri marah terhadapnya akibat perbuatannya saat lalu.


"Renang yuk," ajak Tara mengalihkan bahan serbincangan. Sesungguhnya, ia ketakutan sendiri atas apa yang di lakukannya.


"Oke!” sahut Sammuel secepat angin.


Tanpa kata, merekapun bergegas mempersiapkan diri memakai pakaian renangnya.


Ketika Tara berhasil memakai hotpants serta thank top hitamnya, Sammuel membelalakan bola matanya menatap dendam wajah istrinya.


"Lo mau renang pake beginian?" sewot Sammuel bernada ketus.


"Di apartement ga ada baju renang, jd yang ada aja,” jawab Tara.


Sammuel geram hingga melepas paksa thanktop itu. "Ganti pake kaos kek."


"Kenapa sih, ga mau badan aku keliatan orang lain apa?" ucap Tara agak berteriak, namun membiarkan suaminya melepas thank top itu hingga meninggalkan tubuhnya.


"Lo ga sadar dada lo kemana-mana pake thank top tadi?"


Tara tidak berkata, ia hanya mengerucutkan bibirnya menyembunyikan rasa riangnya atas sikap cemburu suaminya.


Lantas tanpa kata, ia pun mencari bahan lain untuk di kenakan tubuhnya saat berenang nanti.


Hingga pada akhirnya mereka bergegas menggapai tujuannya setelah Tara berhasil mengganti pakaiannya.




__ADS_1


Tbc


__ADS_2