Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 126


__ADS_3

Hanson berjalan dengan semangatnya di dalam sebuah mall untuk menuju tempat makan ala Italia di mana ia akan membeli santapan siangnya di sana.


Di tengah perjalanan ia melihat pemandangan menakjubkan kala kakak tercinta tengah berayun di atas komedi putar dengan sang buah hati dalam pangkuannya.


Pemandangan menakjubkan itu berubah menjadi keji setelah nelihat Fiona duduk manis dia atas kursi yang terdapat di sekitar komedi putar itu.


Tanpa ajakan ataupun perintah, Hanson menghampiri wanita yang sedang tersenyum menatap ayah serta anak yang masih asik bermain di atas komedi putar itu.


"Lo nyari mangsa baru?" ucap Hanson kala berhasil berdiri di hadapan Fiona.


Fiona mendongkak menatap wajah tampan yang telah di rindukannya semalam tadi. Sejenak ia mengunci tatapannya untuk mencurahkan rasa rindunya di sana.


"Apanya yang mangsa?" ujar Fiona.


"Abang gue, ngapain di sini sama lo? Biasanya juga sama cewenya si Tara." Hanson geram dengan tatapan itu hingga nada bicaranya melenting ketus.


"Ga tau juga, abang lo yang ngajak."


Teg!


Hati Hanson berdenyut nyeri mendengar bahasa panggilan tunangannya yang biasanya lemah lembut kini berubah menjadi liar bak preman jalanan.


Namun itu membuatnya bahagia karna ia mengira jika sang tunangan telah bersungguh melupakannya hingga memutuskan tali pertunangannya.


"Cara busuk apa yang udah lo lakuin sama abang gue?" ujar Hanson menyindir penuh cibiran.


"Sama kaya yang gue lakuin sama lo." Fiona menyahut ketus.


Hanson kian geram dengan nada bicara itu, ia merundukkan tubuhnya merekatkan jarak wajahnya pada wajah Fiona. "Lo jadi liar, gue demen itu biar cepet kelarin urusan kita."


Fiona membalas tatapan itu yang tidak kalah bengisnya. "Tenang aja, besok gue bawa surat pisahnya."


Usai sudah perasaan iba itu, lantas Hanson kembali berdiri tegak, kedua tangannya merogoh saku kiri kanannya menyembunyikan kepalan tangannya.


Seharusnya ia lega mendengar pernyataan tunangannya itu, namun hatinya malah menggundah bahkan merancu membuat deru napasnya terombang-ambing menahan amarahnya. "Sadar juga akhirnya, gue kembaliin saham lo besok sekalian biaya konpensasinya."


"Ga usah, gue ga butuh itu." Fiona melirih pedih, membuat wajahnya tertunduk kaku.


"Lo mau ngehina gue?"


"Soal itu lo tanya bokap gue aja, dia yang atur itu." Lantas kembali menatap wajah tampan itu, menyiratkan senyuman palsunya.


Emosi itu kembali menggerogoti benak Hanson, kini ia mengulurkan tangannya menjepit dagu lancip itu dengan dua jemari tangannya. "Otak busuk lo udah ga akan mempan sama gue, jangan pikir gue bakal berubah pikiran kalo lo ga cabut saham itu dari nama gue," ucapnya kian melenting sadis membuat lidah Fiona kelu tidak mampu menimpali ucapannya.

__ADS_1


Fiona telah kehilangan kendali diri, ia merasa bingung untuk apa yang harus di lakukannya terhadap pria yang masih menatapnya penuh emosi, yang ia lakukan kini hanya menghindari tatapan itu.


Beruntung Jackson hadir tepat waktu kala air payau telah mendesak bendungan mata indahnya.


"Hans, ngapain lo di sini?" sapa Jackson yang telah berdiri di belakang Hanson membuat adiknya meliriknya seraya melepas cepat jepitan pada dagu Fiona.


"Harusnya gue yang nanya, lo kemakan iblis ini?" Telunjuk Hanson mengacung ke arah Fiona, namun tatapannya masih tertuju ke arah kakaknya.


Jackson menghembuskan napas kasarnya, ini salahnya hingga Hanson sedemikian membeci wanita lugu itu. "Hans sebe_"


"Jack, dia bener, lo harusnya tau busuknya gue." Fiona memotong ucapan Jackson, ia bangkit dari duduknya tak lantas melangkahkan kakinya hingga menepi di hadapan Jackson.


Jackson menatap tidak percaya wajah cantik yang sudah berdiri di hadapannya itu. "Fiona lo ta_"


"Jack, urusan gue sama dia udah kelar, Queena pasti cape, balik aja yuk," Ajak Fiona tak ayal mengulurkan tangannya untuk mengambil alih si gadis cilik dari tangan ayahnya. Namun naas, si gadis cilik menepisnya bahkan merekatkan dekapannya pada leher ayahnya.


"Anak kecil aja tau lo busuk!" ketus Hanson di sela senyum sinisnya.


Fiona hanya tersenyum menanggapinya, sedang Jackson kembali menghembuskan napas kasarnya. "Hans sebener_" ucap Jackson.


"Jack gue mau balik sekarang!" Fiona mulai jengah hingga ia mengayunkan kakinya tanpa berpamitan pada tunangannya yang baru di putuskan hubungannya beberapa detik lalu.


"Oke." Jackson pun membuntuti langkah pendek wanita itu membawa kerancuan hatinya atas penyesalannya.


Akhirnya mereka menepi di mana tempat kendaraan Jackson terparkir di sana. Kali ini Queena menengadah meminta pangkuan pada Fiona, dengan senang hati Fionapun menyambutnya. Akhirnya merekapun memasuki Ferrari Portofino marun itu.


"Fi, lo ga mau jelasin sama ade gue cerita sebenernya?" ucap Jackson tanpa menatap Fiona lantaran pusat pandangannya menuju jalanan.


"Udah susah, mana mau dia percaya," ujar Fiona melirih seraya mengusap puncak kepala si gadis cilik yang bersandar pada dadanya.


"Kalo gue yang ngomong kan ga tau juga?"


"Udahlah gue ga mau bahas soal itu lagi," putus Fiona menatap lirih wajah Jackson meski tidak mendapat balasan dari pria yang masih sibuk mengendalikan kendaraannya.


"Lo udah kebal sama dia ya?" hibur Jackson dengan lelucon ringannya.


"Jack udah ihhh, rese juga lo."


Jackson si penghibur malah dia yang terkekeh gemas dengan nada kesal yang tertutur dari Fiona serta kerucutan bibir yang terlihat sekilas olehnya.


Fiona mulai membisu, ia merebahkan kepalanya pada penyandar jok itu, bersamaan dengan si gadis cilik ia melelapkan tidurnya di dalam kendaraan mewah itu.


Sesungguhnya, ia ingin melupakan kejadian saat lalu yang membuat batinnya sulit melepas rasa sakit yang di dapati dari tunangannya.

__ADS_1


Hingga tepat saat kendaraan Jackson mendarat di dalam area parkir kediamannya, Fiona membuka matanya.


Segera iapun keluar dari dalam sana, lantas menyerahkan Queena yang masih tertidur pulas kepada ayahnya yang sudah menghampirinya.


Ia merogoh tas selempangnya, meraih kunci kendaraannya yang terparkir di samping Ferrari portofino marun itu.


Sejenak ia menatap nomor dari Ferrari itu membuat sudut bibirnya terangkat manis, ia menerka jika sang pria yang kini berdiri di sampingnya memiliki sipat setia yang tiada bisa tertandingi.


Terbukti dari nomor kendaraan pribadinya yang berinisial nama wanita pujaannya.


Sejenak ia tertegun, ia berharap jika dirinya mendapat perlakuan itu dari seseorang yang telah membencinya.


"Gue balik, besok lo harus udah beresin surat tunangan gue," ucap Fiona berpamitan lantas ia menekan tombol benda itu membuka kunci kendaraannya.


"Lo nyusahin banget, gimana gue bawa nih bocah ke rumah neneknya?" protes Jackson menunjuk anaknya dengan dagunya.


"Ada cewe lo bukan?" Fiona tersenyum penuh lirihan tidak menerima kenyataan jika Jackson adalah milik seseorang.


"Kalo libur dia ga ada di Jakarta."


"Hei, lo mau nahan gue biar gue ga balik apa?" ucap Fiona di sela tawa kecilnya.


"Ah sialan lo, ya udah balik lah sana!" usir Jackson membalas tawa kecil itu dengan senyum menawannya.


Fiona terkekeh menanggapinya, lantas mencium puncak kepala si gadis cilik yang berada di atas dada ayahnya membuat Jackson menatap puncak kepala yang berada di bawah dagunya.


Cup!


Di luar kendalinya, Jackson mendaratkan kecupan pada puncak kepala Fiona membuat sang empunya menatapnya penuh kejutan.


"S-sorry kebiasaan sama cewe gue," ungkap Jackson terbata-bata. Segera ia menepis kesalah fahamannya yang sesungguhnya ia tidak pernah melakukan itu terhadap kekasihnya.


"Oke bye, moga makin langgeng lo sama dia," pamit Fiona tak lantas memutar tubuhnya membelakangi Jackson. "Soal tawaran gue lo lupain aja." Bulir bening mulai mendesak mata indahnya, menepis pedih hatinya, meratapi nasib dirinya.


"Gue pikirin lagi lah demi saham lo."


Lumayan menghibur, Fiona menyiratkan senyumannya meski air matanya sudah berhasil menetes membasahi pipinya.


Hingga pada akhirnya mereka terpisah dalam keadaan hati yang gundah.



__ADS_1



Tbc


__ADS_2